- Satu dari empat warga Dhaka (24 persen) melaporkan sakit akibat panas dalam setahun terakhir
- Yang merasa sangat terancam gelombang panas 7,77 kali lebih sering melaporkan sakit
- Keluarga berpenghasilan menengah paling jarang sakit (aOR 0,21) tetapi paling merasa terancam
- Tiap tambahan satu cara adaptasi berpadanan dengan peluang sakit 1,19 kali; arahnya belum bisa dipastikan
Daftar Isi
- Heat-related illness, sakit yang didefinisikan dari gejala
- Adjusted odds ratio, rasio peluang yang sudah disaring
- Risk perception, seberapa berbahaya menurut Anda
- Adaptation behavior, cara mengelak dari panas
- Reverse causation, sebab-akibat yang terbalik
- Self-reported, angka yang dilaporkan sendiri dan yang tertukar
Heat-related illness, sakit akibat panas, adalah nama resmi untuk pusing, mual, dada sesak, dan jantung berdebar yang datang ketika udara terlalu panas untuk ditanggung tubuh. Di Dhaka, Bangladesh, satu dari empat warga yang ditanya mengaku pernah mengalaminya dalam setahun terakhir. Yang mengejutkan bukan angka itu, melainkan siapa yang paling sering merasakannya.
Temuan ini ditulis Md Nazmus Sakib, Nusrat Jahan Mouli, Md Mostafizur Rahman, Md. Tanvir Hossain, dan Edris Alam dalam Self-reported heat-related illness and its association with perception of health risks and adaptation behavior to heat waves in Bangladesh, artikel yang terbit dalam proses cetak di BMC Public Health, 2026. Mereka mewawancarai 491 warga dewasa Dhaka dari enam wilayah kota pada 2024.
Latar panasnya diuraikan sendiri oleh paper. Dhaka mencatat 40,6 derajat Celsius pada 2023, suhu tertinggi dalam 58 tahun. Pada April 2024 suhu melampaui 43 derajat, pemerintah mencatat sedikitnya 15 kematian akibat sengatan panas dan 34 kasus, dan sekolah ditutup secara nasional. Suhu rata-rata tahunan kota itu naik sekitar 0,57 derajat dalam satu dekade terakhir.
Heat-related illness, sakit yang didefinisikan dari gejala
Sakit akibat panas dalam paper ini bukan hanya vonis dokter. Responden dihitung sakit bila pernah didiagnosis dokter, atau bila mengalami gejala seperti pusing, sakit kepala, mual, muntah, dada sesak, jantung berdebar, dan kejang otot saat gelombang panas, selama gejala itu tidak bisa dijelaskan sebab lain seperti infeksi usus. Dengan definisi selonggar itu, 116 dari 491 orang, atau 24 persen, masuk hitungan.
Maksudnya, angka 24 persen adalah gabungan dua hal yang derajat kepastiannya berbeda: diagnosis klinis dan ingatan responden tentang gejalanya sendiri. Paper mengakui gabungan ini bisa menyebabkan salah klasifikasi. Wawancara juga dilakukan pada Oktober sampai November 2024, di luar puncak musim panas, sehingga responden mengingat kembali kejadian beberapa bulan sebelumnya.
Siapa yang paling sering sakit? Usia paling jelas. Dibanding warga 18 sampai 35 tahun, warga 36 sampai 55 tahun berpeluang 2,37 kali lebih besar melaporkan sakit akibat panas, dan warga di atas 55 tahun 4,12 kali. Perempuan lebih sering sakit daripada laki-laki, dan warga Dhaka North City Corporation lebih sering daripada tetangga mereka di Dhaka South.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Adjusted odds ratio, rasio peluang yang sudah disaring
Adjusted odds ratio, disingkat aOR, adalah rasio peluang yang sudah disaring dari pengaruh faktor lain. Contohnya begini. Warga Dhaka Utara mungkin lebih sering sakit sekadar karena lebih banyak di antara mereka berusia tua atau berpenghasilan rendah. Regresi logistik memperhitungkan usia, pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan ukuran keluarga sekaligus, lalu menyisakan pengaruh tempat tinggal itu sendiri.
Setelah disaring, tinggal di Dhaka Utara tetap berpadanan dengan aOR 2,32, dengan selang kepercayaan 95 persen dari 1,19 sampai 4,61. Selang kepercayaan, rentang yang paling mungkin memuat nilai sebenarnya, tidak menyentuh angka 1. Karena itu peneliti menyebutnya bermakna. Sebelum disaring, angkanya 3,21; sebagian perbedaan utara dan selatan ternyata memang berasal dari susunan penduduknya.
Pendapatan memberi hasil yang lebih aneh. Keluarga berpenghasilan 20.000 sampai 50.000 taka per bulan berpeluang sakit hanya 0,21 kali dibanding keluarga di bawah 20.000 taka. Namun keluarga di atas 50.000 taka, yang paling kaya, tidak berbeda bermakna dari yang paling miskin setelah disaring. aOR-nya 0,50 dengan selang 0,19 sampai 1,32, yang melewati angka 1.
Risk perception, seberapa berbahaya menurut Anda
Risk perception, persepsi risiko, diukur dengan satu pertanyaan saja: seberapa berbahaya gelombang panas bagi kesehatan Anda, pada skala 1 sampai 7. Jawaban 1 dan 2 digolongkan rendah, 3 sampai 5 sedang, 6 dan 7 tinggi. Hasilnya, 34 persen responden merasa risikonya rendah, 24 persen sedang, dan 42 persen tinggi.
Bedanya begini. Persepsi risiko bukan ukuran bahaya yang sebenarnya, melainkan ukuran perasaan terancam. Dan perasaan itu berjalan tidak searah dengan sakitnya. Keluarga berpenghasilan 20.000 sampai 50.000 taka, yang paling jarang sakit, justru 2,63 kali lebih mungkin merasa sangat terancam. Keluarga di atas 50.000 taka 4,03 kali. Karyawan, yang tidak lebih jarang sakit daripada pengusaha, merasa terancam hanya 0,47 kali.
Yang paling mencolok adalah hubungan langsung antara keduanya. Responden yang merasa sangat terancam berpeluang 7,77 kali lebih besar melaporkan sakit akibat panas dibanding yang merasa risikonya rendah. Sebaliknya, responden yang pernah sakit berpeluang 4,64 kali lebih besar merasa sangat terancam. Merasa risikonya sedang tidak berbeda dari merasa rendah; aOR-nya 1,05.
Pembaca mudah menyimpulkan bahwa rasa takut membuat orang sakit, atau bahwa sakit membuat orang takut. Paper tidak berani memilih salah satu. “Namun, karena desain potong lintang, urutan waktu antara sakit akibat panas dan persepsi risiko gelombang panas tidak dapat ditentukan,” tulis Sakib dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris. Mereka menambahkan bahwa hubungan itu mungkin bekerja dua arah, sebab orang yang merasa lebih terancam juga lebih peka mengenali dan melaporkan gejala.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Adaptation behavior, cara mengelak dari panas
Adaptation behavior, perilaku adaptasi, adalah apa pun yang dilakukan orang untuk mengelak dari panas. Responden memilih dari sepuluh cara: membuka jendela, minum lebih banyak, memakai pakaian tipis, mandi lebih sering, tinggal di rumah, mengurangi kegiatan, pergi ke tempat umum ber-AC, beristirahat di tempat teduh, memakai AC, dan memakai payung atau topi. Hampir semua, 99,8 persen, memakai setidaknya satu.
Cara yang paling umum adalah yang paling murah: minum lebih banyak, pakaian tipis, mandi, membuka jendela, dan berteduh. Yang paling jarang adalah memakai payung atau topi, mengurangi kegiatan, tinggal di rumah, pergi ke tempat ber-AC, dan memakai AC sendiri. Skor adaptasi seseorang adalah jumlah cara yang ia pakai, tanpa membedakan mana yang murah dan mana yang mahal.
Jumlah cara itu naik bersama pendidikan dan pendapatan. Dibanding sarjana, warga berpendidikan dasar memakai 0,74 kali jumlah cara, warga berpendidikan menengah 0,76 kali. Karyawan memakai 0,84 kali jumlah cara pengusaha. Warga Dhaka Utara memakai 0,92 kali jumlah cara warga Dhaka Selatan, dan orang yang pernah sakit akibat panas memakai 11 persen lebih banyak cara daripada yang belum pernah.
Di sinilah gambaran sederhana tentang mengelak dari panas meleset. Setelah disaring, setiap tambahan satu cara adaptasi berpadanan dengan aOR 1,19 untuk sakit akibat panas, dengan selang 1,02 sampai 1,40. Orang yang lebih banyak beradaptasi justru lebih sering melaporkan sakit. Sebelum disaring, hubungan ini tidak bermakna sama sekali; aOR-nya 1,05.
Reverse causation, sebab-akibat yang terbalik
Reverse causation, sebab-akibat terbalik, adalah kemungkinan bahwa yang disangka akibat sebenarnya adalah sebab. Paper menawarkan tafsir ini untuk hasil adaptasi tadi: orang yang pernah sakit akibat panas mungkin kemudian menambah cara mengelaknya, bukan cara mengelak yang membuat mereka sakit. Peneliti menautkannya dengan Health Belief Model, yang menyatakan perilaku sehat didorong rasa rentan dan rasa parah.
Namun tafsir itu tidak bisa dibuktikan dengan data ini. Survei potong lintang, yang memotret semua variabel pada satu waktu, tidak tahu mana yang terjadi lebih dulu. Peneliti menulis bahwa sebab-akibat terbalik tidak bisa disingkirkan dan studi jangka panjang diperlukan untuk mengetahui arah hubungan serta apakah cara-cara adaptasi itu benar-benar mencegah sakit.
Keterbatasan lain diakui dengan terbuka. Responden dipilih secara kebetulan di lokasi yang diundi, sehingga sampel belum tentu mewakili Dhaka. Kuesionernya memiliki konsistensi internal yang hanya sedang, alpha Cronbach 0,65. Akses AC di rumah tidak ditanyakan, padahal memakai AC dan membuka jendela dihitung sama-sama satu cara. Dan semuanya hanya berlaku untuk Dhaka, bukan seluruh Bangladesh seperti bunyi judulnya.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Self-reported, angka yang dilaporkan sendiri dan yang tertukar
Self-reported, dilaporkan sendiri, adalah kata pertama judul paper ini, dan pembaca sebaiknya membawanya sampai ke abstrak. Abstrak menulis sakit akibat panas lebih tinggi secara bermakna pada laki-laki. Tabel 3 dan teks hasil menyatakan sebaliknya: laki-laki berpeluang 0,42 kali dibanding perempuan. Bagian pembahasan dan kesimpulan pun menyebut perempuan sebagai kelompok yang lebih rentan.
Kekeliruan arah itu tidak sendirian. Bagian pembahasan menyebut kelompok berpenghasilan relatif lebih tinggi memiliki persepsi risiko yang lebih rendah, padahal Tabel 4 menunjukkan kebalikannya, aOR 2,63 dan 4,03. Kesimpulan menyebut risiko lebih tinggi pada warga berpendidikan rendah, padahal pendidikan tidak bermakna untuk sakit maupun persepsi; ia hanya bermakna untuk jumlah cara adaptasi.
Ada pula angka kecil yang tidak cocok. Selang kepercayaan untuk usia 36 sampai 55 tahun pada persepsi risiko ditulis 1,15 sampai 3,38 di teks dan 1,15 sampai 3,28 di tabel. Bagian etika menyebut hampir semua responden memberi persetujuan lisan, sedangkan bagian deklarasi menyebut persetujuan diperoleh dari semua responden. Persentase tiap cara adaptasi hanya ada di gambar, tidak di teks maupun tabel.
Sakit akibat panas dalam paper ini, pada akhirnya, adalah apa yang 491 orang Dhaka ingat dan katakan tentang tubuh mereka beberapa bulan setelah panas berlalu, ditimbang bersama seberapa terancam mereka merasa dan berapa cara mengelak yang mereka sebut. Istilah itu tidak menjangkau lebih jauh dari situ. Ia tidak mengatakan siapa yang benar-benar jatuh sakit, hanya siapa yang mengaku, dan pengakuan itu ternyata paling nyaring dari orang yang paling takut.














