Lansia Rentan Thailand Mengumpul di Timur Laut, Cahaya di Tengah

A A

Pedagang lansia menata jajanan berdaun pisang di pasar malam Chon Buri, Thailand [Foto: PattayaPatrol/Wikimedia Commons CC BY-SA 4.0]

  • Skrining 2024 mencatat sembilan risiko lansia di 77 provinsi Thailand, dilebur jadi satu indeks kerentanan
  • Klaster kerentanan tinggi mengumpul di timur laut seperti Khon Kaen, klaster cahaya malam di dua belas provinsi tengah
  • Moran I bivariat minus 0,174: provinsi rentan cenderung bertetangga dengan provinsi redup
  • Abstrak menyebut sembilan provinsi tengah rentan, bagian hasil tidak memuat angka itu
Daftar Isi
  1. Cahaya di langit malam Thailand tengah
  2. Gigi dan kandung kemih lansia timur laut
  3. Yang sama: keduanya mengumpul, bukan menyebar
  4. Yang beda: mengumpul di tempat yang berlawanan
  5. Sisi cahaya: tetangga terang belum tentu menolong
  6. Sisi skrining: angka yang belum penuh

Lampu yang menyala sepanjang malam di Pathum Thani dan gigi lansia yang sulit mengunyah di Khon Kaen ternyata masuk ke dalam satu peta yang sama. Yang pertama direkam satelit dari langit, yang kedua dicatat relawan kesehatan desa dari rumah ke rumah. Dua data yang tidak saling mengenal itu, ketika ditumpuk di atas 77 provinsi Thailand, memperlihatkan pola yang saling berlawanan arah.

Pola itu dilaporkan Chalobon Treesak dan Sayambhu Saita dalam Spatial Health Inequities among Older Adults in Thailand: A Composite Vulnerability Index and Relationship with Local Development, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1361, tahun 2026. Keduanya berasal dari Faculty of Public Health, Thammasat University. Naskahnya berbahasa Inggris, dan semua kutipan di sini diterjemahkan dari bahasa itu.

Di satu sisi ada cahaya malam, yang mereka pakai sebagai pengganti angka pembangunan daerah. Di sisi lain ada sembilan risiko kesehatan lansia dari skrining nasional 2024. Treesak dan Saita menyandingkan keduanya untuk melihat apakah provinsi yang terang di malam hari juga provinsi tempat lansianya paling sehat. Jawabannya, secara nasional, adalah tidak.

Cahaya di langit malam Thailand tengah

Sisi pertama adalah cahaya. Treesak dan Saita mengambil citra satelit VIIRS tahun 2024 dengan resolusi sekitar 500 meter, lalu merata-ratakan terang cahaya per kilometer persegi di tiap provinsi. Cahaya paling kuat, menurut mereka, terpusat di Bangkok dan provinsi-provinsi di sekelilingnya. Angka Moran I global untuk cahaya malam adalah 0,414, artinya provinsi terang cenderung bertetangga dengan provinsi terang.

Klaster tinggi-tinggi cahaya malam, yakni provinsi terang yang dikelilingi provinsi terang, terdiri dari dua belas nama. Semuanya di tengah: Bangkok, Samut Prakan, Nonthaburi, Pathum Thani, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Ang Thong, Sing Buri, Saraburi, Chon Buri, Nakhon Pathom, Samut Sakhon, dan Samut Songkhram. Klaster rendah-rendah muncul di utara, yaitu Chiang Mai, Phrae, Sukhothai, dan Kamphaeng Phet.

Ada pula empat provinsi yang redup tetapi bertetangga dengan yang terang: Suphan Buri, Ratchaburi, Nakhon Nayok, dan Chachoengsao. Treesak dan Saita menyebut pola ini cerminan sentralisasi infrastruktur dan kegiatan ekonomi Thailand yang sudah lama berlangsung. Cahaya, dalam paper ini, adalah bayangan dari jalan, pabrik, dan permukiman yang menumpuk di sekitar ibu kota.

Gigi dan kandung kemih lansia timur laut

Sisi kedua adalah tubuh lansia. Sepanjang 2024, relawan kesehatan desa memeriksa lansia di 77 provinsi lewat aplikasi Smart Oa So Mo, mencatat sembilan hal: gangguan kognitif, keterbatasan mobilitas, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, inkontinensia urin, keterbatasan aktivitas harian, masalah kesehatan mulut, risiko malnutrisi, dan risiko depresi. Cakupan skrining per provinsi berkisar dari 63,61 persen sampai 100 persen.

Gangguan penglihatan paling lazim, dengan median 18,04 persen lansia per provinsi dan angka tertinggi 55,10 persen di satu provinsi. Masalah mulut menyusul dengan median 16,91 persen, lalu keterbatasan mobilitas 12,83 persen. Risiko depresi paling jarang dilaporkan, median 2,51 persen. Risiko lainnya berkisar antara 5,73 dan 7,82 persen, dengan rentang antarprovinsi yang relatif sempit.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Sembilan angka itu dilebur Treesak dan Saita menjadi satu indeks kerentanan komposit, disingkat CHVI. Komponen pertama analisisnya menjelaskan 74,83 persen keragaman antarprovinsi, dan kesembilan risiko menyumbang searah dengan bobot 0,77 sampai 0,92. Provinsi dengan CHVI tinggi berarti banyak risiko naik bersamaan, bukan hanya satu penyakit yang menonjol.

Peta CHVI menunjukkan klaster tinggi-tinggi di timur laut, di antaranya Nong Bua Lam Phu, Khon Kaen, dan Buri Ram. Klaster rendah-rendah berada di utara dan tengah: Phrae, Sukhothai, Kamphaeng Phet, Ratchaburi, dan Samut Sakhon. Bangkok, Samut Songkhram, dan Rayong tercatat sebagai pencilan tinggi-rendah, provinsi rentan yang dikelilingi provinsi tidak rentan.

Dua wajah Thailand dalam peta lansia 2024Klaster kerentanan lansia tinggi mengumpul di timur laut, klaster cahaya malam tinggi mengumpul di tengah sekitar Bangkok.Dua wajah Thailand dalam peta lansia 2024Klaster LISA kerentanan dan cahaya malam, 77 provinsiTimur LautTengahTinggi-tinggiRendah-rendahKerentanan lansiaTidak berklasterTinggi-tinggiCahaya malamKhon KaenPathum ThaniContoh provinsiAdaTidak adaTitik panas mulutPDRB terendahPusat investasiEkonomiKerentanan dan pembangunan berkorelasi spasial negatif (Moranbivariat -0,174). Bangkok datanya tidak lengkap.
Sumber: Chalobon Treesak dan Sayambhu Saita, Spatial Health Inequities among Older Adults in Thailand: A Composite Vulnerability Index and Relationship with Local Development, BMC Public Health, 26(1361), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang sama: keduanya mengumpul, bukan menyebar

Cahaya dan kerentanan punya satu sifat yang sama: keduanya tidak tersebar acak. CHVI mencatat Moran I 0,261, cahaya malam 0,414, dan keduanya signifikan secara statistik. Provinsi rentan bertetangga dengan provinsi rentan, provinsi terang bertetangga dengan provinsi terang. Bagi Treesak dan Saita, inilah bukti bahwa ketimpangan kesehatan lansia bersifat kewilayahan, bukan sekadar urusan rumah tangga per rumah tangga.

Kesamaan itu tampak lebih tajam pada tiap risiko. Masalah mulut paling kuat mengumpul dengan Moran I 0,547, disusul inkontinensia urin 0,473 dan risiko malnutrisi 0,466. Klaster tinggi-tinggi untuk mulut dan inkontinensia terkonsentrasi di beberapa provinsi timur laut. Di sisi lain, gangguan penglihatan dan gangguan kognitif tersebar tanpa pola yang bermakna, meski penglihatan justru risiko paling lazim.

Seberapa mengumpul tiap risiko lansia antarprovinsiKesehatan mulut: Moran I global +0,547; Inkontinensia urin: Moran I global +0,473; Risiko malnutrisi: Moran I global +0,466; Risiko depresi: Moran I global +0,340; Keterbatasan mobilitas: Moran I global +0,328; Gangguan pendengaran: Moran I global +0,296; Keterbatasan ADL: Moran I global +0,269; Gangguan kognitif: Moran I global +0,153; Gangguan penglihatan: Moran I global +0,111.Seberapa mengumpul tiap risiko lansiaantarprovinsiNilai Moran I global per indikator; makin besar, makin berkelompok0,20,40,60Kesehatan mulut0,547Inkontinensia urin0,473Risiko malnutrisi0,466Risiko depresi0,340Keterbatasan mobilitas0,328Gangguan pendengaran0,296Keterbatasan ADL0,269Gangguan kognitif0,153Gangguan penglihatan0,111Hanya gangguan penglihatan yang tidak signifikan (p 0,085). Indekskomposit CHVI: 0,261.
Sumber: Chalobon Treesak dan Sayambhu Saita, Spatial Health Inequities among Older Adults in Thailand: A Composite Vulnerability Index and Relationship with Local Development, BMC Public Health, 26(1361), 2026. Grafik: Cekricek.id

Yang beda: mengumpul di tempat yang berlawanan

Perbedaannya ada pada lokasi. Klaster kerentanan menumpuk di timur laut, klaster cahaya menumpuk di tengah. Ketika keduanya diuji bersama, Moran I bivariat bernilai negatif, minus 0,174, dan signifikan. Artinya provinsi dengan kerentanan tinggi cenderung bertetangga dengan provinsi yang redup, dan sebaliknya. Ini bukan kebetulan satu dua provinsi, melainkan pola nasional.

Treesak dan Saita merumuskannya dalam satu kalimat. “Pola ini mencerminkan pola ketidakcocokan spasial atau kebalikan spasial, bukan pengelompokan nilai-nilai serupa di tingkat nasional,” tulis keduanya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Kalimat ini menjadi poros paper: pembangunan dan kerentanan lansia tidak berjalan di tempat yang sama.

Pada sisi timur laut, paper mengutip sejumlah riset terdahulu untuk menjelaskan mengapa wilayah itu rentan: produk regional bruto per kapita terendah di negeri itu, beban utang rumah tangga tinggi, tingkat pendidikan lebih rendah, serta angka kematian tinggi akibat kanker hati, diabetes, dan penyakit ginjal. Kerentanan lansia, menurut Treesak dan Saita, adalah tumpukan kerugian sepanjang hayat.

Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus

Sisi cahaya: tetangga terang belum tentu menolong

Pertanyaan yang tersisa: apakah provinsi yang dekat dengan pusat cahaya ikut terangkat? Peta bivariat Treesak dan Saita menjawab dengan hati-hati. Hanya sedikit provinsi tengah yang rentan sekaligus bertetangga dengan provinsi maju. Lebih banyak provinsi di sekitar Bangkok yang kerentanannya rendah dan tetangganya terang, yang oleh paper disebut kemungkinan efek limpahan atau perlindungan dari kedekatan.

Namun secara nasional, kedekatan tidak otomatis menyehatkan. “Pola seperti ini menunjukkan satu bentuk ketimpangan spasial yang kritis, di mana kedekatan dengan wilayah yang sangat maju tidak serta-merta berubah menjadi hasil kesehatan yang lebih baik di provinsi-provinsi sebelahnya,” tulis Treesak dan Saita. Mereka menawarkan empat dugaan mekanisme: tenaga kesehatan yang menumpuk di kota, hambatan transportasi, kerugian sosial-ekonomi sepanjang hidup, dan bias perkotaan dalam investasi publik.

Ada satu tambahan yang mereka sebut dari riset lain: akses internet rumah tangga yang rendah berkaitan dengan berkurangnya pemanfaatan layanan kesehatan lansia di Thailand. Di provinsi yang secara struktural tertinggal, telemedisin dan informasi kesehatan bisa jadi tidak sampai. Cahaya di langit tetangga, dengan kata lain, tidak menerangi ruang periksa di provinsi sebelah.

Sisi skrining: angka yang belum penuh

Pada sisi data lansia, Treesak dan Saita mengakui sejumlah batas. Data skrining dikumpulkan relawan desa lewat proses administratif rutin, sehingga perbedaan pelatihan dan kepatuhan protokol antarprovinsi bisa memengaruhi angka. Cakupan skrining tidak merata, dan data Bangkok tidak lengkap karena inkonsistensi pelaporan. Karena penyebutnya hanya lansia yang diperiksa, bias partisipasi mungkin terjadi bila cakupan berkaitan dengan risiko kesehatan itu sendiri.

Cahaya malam pun punya batasnya sendiri. Ia menangkap infrastruktur fisik dan kegiatan ekonomi, tetapi tidak menangkap mutu layanan, modal sosial, atau pemerataan sumber daya. Data agregat provinsi juga bisa menutupi perbedaan tajam antara kota dan desa di dalam satu provinsi. Sebagai studi ekologis, kata keduanya, hasilnya adalah asosiasi spasial, bukan hubungan sebab-akibat.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Pembaca yang membandingkan abstrak dengan bagian hasil akan menemukan satu ketidaksesuaian. Abstrak menyebut sembilan provinsi tengah di sekitar Bangkok memiliki CHVI tinggi yang bertetangga dengan cahaya rendah. Bagian hasil untuk peta bivariat justru menyebut sedikit klaster tinggi-tinggi di tengah dan klaster rendah-tinggi di sekitar Bangkok, tanpa angka sembilan provinsi itu muncul sama sekali.

Kejanggalan lain lebih kecil tetapi bisa dicek. Bangkok diakui datanya tidak lengkap, namun tetap tampil sebagai pencilan tinggi-rendah pada peta CHVI. Tabel deskriptif diberi judul prevalensi, sementara bagian pembatasan menegaskan angka itu hanya proporsi dari yang diskrining. Metode juga menjanjikan kelas “sangat rentan” untuk provinsi di atas dua simpangan baku, tetapi hasil tidak menyebut satu provinsi pun yang masuk kelas itu.

Cahaya satelit dan catatan relawan desa akhirnya bertemu pada satu kesimpulan yang tidak memenangkan siapa pun. Provinsi terang di tengah tidak dengan sendirinya sehat, dan provinsi redup di timur laut tidak dengan sendirinya dibiarkan. Treesak dan Saita hanya menunjukkan bahwa kedua peta itu saling membelakangi, dan bahwa jarak di antara keduanya, bagi lansia Thailand, diukur bukan dalam kilometer melainkan dalam gigi yang tanggal dan tetangga yang tidak menolong.

Bagikan

Baca Juga

Lokakarya Limbah Kelapa Koto Baru Terbentur Minat Warga
Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun
Perkawinan Anak Penentu Utama Kelahiran Remaja di 34 Provinsi
Ibu-ibu PKK Cupak Mengubah Jelantah dan Beras Solok Jadi Sabun
Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Sekolah Filipina Tutup 29 Bulan, Murid Lupa Wajah Teman Sekelas