- Pengabdian Universitas Andalas dan Ekasakti di Aula PKK Nagari Cupak, Solok, 21 Januari 2026
- Dua sabun dipraktikkan: dari jelantah dan dari beras Solok, keduanya jadi batang padat
- Minyak kelapa tradisional dan VCO hanya dijelaskan karena alat dan waktu terbatas
- Sebagian batang sabun beras retak pada percobaan pertama; tidak ada angka peserta di naskah
Daftar Isi
Bau minyak goreng bekas memenuhi Aula PKK Nagari Cupak pada 21 Januari 2026. Sebagian ibu yang duduk di sana merasa tidak nyaman. Jelantah itu baru saja dikeluarkan dari wadahnya, belum disaring, belum dicampur apa pun. Di ujung sesi, di aula yang sama, minyak yang sama sudah menjadi batang sabun padat dengan aroma yang menurut catatan tim pendamping dapat diterima.
Hari itu direkam oleh Wellyalina, Eddwina Aidila Fitria, Wawan Sumarno, Muhammad Faruqi Aidi, dan Hannisha Nanda Gussry dalam Innovation in Waste Cooking Oil, Coconut, and Rice-Based Products through Outreach Activities in Nagari Cupak, artikel di Andalasian International Journal of Social and Entrepreneurial Development volume 6 nomor 1, tahun 2026. Mereka bekerja di Universitas Andalas dan Universitas Ekasakti, Padang.
Nagari Cupak berada di lereng Gunung Talang, Kabupaten Solok. Dua komoditas yang paling melimpah di sana adalah beras Solok dan kelapa. Menurut paper, keduanya selama ini habis untuk dimakan sendiri atau dijual sebagai bahan mentah, sehingga nilai ekonominya rendah. Di dapur-dapur rumah tangga dan warung kecil, minyak jelantah menumpuk tanpa dikelola dan menjadi risiko bagi lingkungan.
Aula PKK
Yang duduk di aula itu adalah anggota kelompok perempuan PKK Nagari Cupak. Paper tidak menyebut jumlah mereka. Tim datang dengan empat bahan ajar: minyak kelapa tradisional yang dibuat dengan memanaskan santan, Virgin Coconut Oil atau VCO yang diperas tanpa pemanasan, sabun dari jelantah, dan sabun padat dari beras. Ditambah satu perbincangan soal nilai tambah dan peluang usaha lokal.
Susunannya sederhana. Materi disampaikan lebih dulu, lalu diskusi, lalu praktik terbimbing. Tim menyebutnya pendekatan partisipatif, menempatkan ibu-ibu PKK sebagai pelaku aktif, bukan pendengar. Sepanjang kegiatan, pendampingan diberikan intensif agar peserta memahami sisi teknis sekaligus menilai sendiri apakah produk itu layak dikembangkan di skala rumah tangga.
Namun tidak semua bahan ajar sampai ke tangan. Dua yang pertama, minyak kelapa tradisional dan VCO, berhenti di penjelasan. Alasannya ditulis terang: pembuatan keduanya memerlukan waktu lebih panjang dan peralatan tambahan yang tidak tersedia di aula hari itu. Yang benar-benar dipraktikkan hanya dua sabun.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Santan dan VCO
Sesi kelapa berjalan tanpa peragaan. Meski begitu, tim mencatat peserta dapat mengikuti penjelasan dengan jelas dan mengajukan beberapa pertanyaan. Yang ditanyakan adalah umur simpan, mutu minyak, dan potensi pasar. Tiga pertanyaan itu, kalau dibaca bersama, adalah pertanyaan orang yang sudah membayangkan menjual, bukan sekadar membuat untuk dapur sendiri.
Paper memberi latar mengapa VCO dianggap paling berharga di antara olahan kelapa. Kadar air dan asam lemak bebasnya rendah, warnanya jernih, aromanya enak, dan umur simpannya lebih dari satu tahun. Bagian pendahuluan juga mengurai betapa hampir semua bagian kelapa bisa dipakai, dari air yang jadi nata de coco sampai tempurung yang jadi arang aktif.
Semua itu tinggal di papan penjelasan. Di aula, tidak ada santan yang dipanaskan dan tidak ada kelapa yang diperas. Peserta pulang dengan pengetahuan baru tentang dua cara mengolah kelapa, tetapi tanpa pernah melihat prosesnya berjalan di depan mata. Tim mencatatnya sebagai kendala pertama dari empat kendala kegiatan.
Jelantah di Meja Praktik
Praktik dimulai dengan minyak bekas itu. Peserta menyaringnya, mencampur bahan, lalu menuang ke cetakan. Menurut paper, setiap langkah berhasil diikuti. Bau yang tadinya kuat berkurang jauh setelah minyak disaring dan dicampur. Yang tercatat sebagai temuan bukan soal teknik, melainkan soal pengetahuan yang baru datang.
“Pengamatan menunjukkan banyak peserta baru saja mengetahui bahwa minyak goreng bekas dapat diolah menjadi produk pembersih rumah tangga yang aman dan berguna,” tulis Wellyalina dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Beberapa peserta menyebut mengubah jelantah menjadi sabun sebagai keterampilan rumah tangga yang baru dan berharga bagi mereka.
Antusiasme, menurut catatan tim, justru naik pada sesi praktik. Alasannya dua: prosesnya sederhana dan hasilnya terlihat. Sabun jelantah keluar dari cetakan sebagai batang padat yang terbentuk baik. Sesudah sesi, peserta disebut percaya diri dan mampu mengulang prosesnya sendiri, tanpa pendamping.
Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan
Beras Solok
Meja berikutnya memakai beras. Paper menekankan pemakaian beras lokal, khususnya beras Solok, menambah keunikan produk dan menaikkan minat peserta. Pencampurannya mudah dan cukup dengan alat rumah tangga biasa. Tekstur sabun beras yang dihasilkan dicatat baik, batangnya padat, aromanya dapat diterima.
Latar yang dibawa tim untuk sabun beras berasal dari pustaka yang mereka kutip. Radikal bebas disebut merusak sel dan memicu penuaan kulit. Beras dianggap salah satu bahan alami yang membantu menjaga kesehatan kulit, dan sabun dari ekstrak beras muda disebut mengandung senyawa yang mendukung regenerasi sel kulit yang rusak.
Di meja beras itulah kesulitan terbanyak muncul. Menghaluskan beras sampai jadi bubuk halus ternyata tidak mudah. Cetakan yang tersedia terbatas, dan tekanan tangan yang tidak merata membuat sebagian batang retak, tidak sempurna, atau bentuknya tidak beraturan. Masalah ini terutama terjadi pada percobaan pertama.
“Masalah ini terutama terjadi pada percobaan pertama ketika campuran mulai mengeras sebelum semua peserta selesai mencetak,” tulis tim dalam naskah aslinya. Dengan bimbingan dan penyesuaian teknik, hasilnya membaik. Berapa kali percobaan diulang sampai batang yang rapi keluar, paper tidak menyebutkan.
Pertanyaan yang Tersisa
Menjelang akhir, pertanyaan peserta bergeser dari cara membuat ke cara menjual. Mereka menanyakan peluang usaha rumahan berbasis sabun beras dan VCO. Bagi tim, ini tanda bahwa yang tumbuh bukan hanya keterampilan teknis, melainkan gagasan wirausaha dari sumber daya yang ada di nagari sendiri. Sebagian ingin mencoba di rumah karena bahannya mudah didapat.
Pertanyaan itu tidak sempat dijawab tuntas. “Waktu yang tersedia tidak cukup untuk membahas topik lanjutan seperti pengemasan, standardisasi produk, dan peluang wirausaha yang lebih luas,” tulis Wellyalina dan rekan-rekannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Ini kendala keempat, dan tim mencatatnya sebagai keterbatasan program, bukan keberhasilan.
Kesimpulan paper tetap tegas. Bahan sederhana yang mudah diakses bisa diubah jadi produk rumah tangga dengan nilai ekonomi potensial. Kesadaran soal pengelolaan limbah, teknik olahan produk lokal, dan peluang usaha skala kecil disebut meningkat. Keterampilannya diharapkan dipakai mandiri oleh anggota PKK dan warga yang lebih luas.
Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta
Yang Tidak Ada di Naskah
Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca pada naskah pendek ini. Judulnya menjanjikan inovasi produk kelapa, tetapi bagian hasil mengakui minyak kelapa dan VCO hanya dijelaskan, tanpa praktik dan tanpa peragaan. Inovasi kelapa yang dimaksud, pada hari itu, adalah pengetahuan yang dipindahkan lewat ceramah dan tanya jawab.
Kesimpulan menyebut respons positif datang dari peserta dan pejabat setempat. Pada bagian hasil dan pembahasan, pejabat setempat tidak pernah disebut hadir, apalagi memberi tanggapan. Klaim peningkatan pemahaman juga tidak disertai satu angka pun: tidak ada jumlah peserta, tidak ada pengukuran sebelum dan sesudah, tidak ada takaran bahan sabun.
Abstrak menyebut sabun beras bertekstur dapat diterima, sementara bagian kendala menyebut kesulitan mendapat bubuk halus dan batang yang retak. Keduanya bisa sama-sama benar hanya bila retak itu terjadi pada percobaan pertama dan batang yang dinilai adalah hasil akhirnya. Naskah tidak menyebut berapa percobaan dilakukan, jadi pembaca tidak bisa memastikannya.
Keterbatasan yang diakui tim sendiri ada dua. Dua produk kelapa tidak dipraktikkan karena alat dan waktu. Sesi terlalu pendek untuk kemasan dan standardisasi. Di luar itu, apa yang terjadi setelah 21 Januari, apakah ada satu pun sabun dibuat lagi di rumah, tidak dicatat, karena paper berhenti di aula.
Di aula itu, bau jelantah yang tadinya membuat sebagian ibu tidak nyaman sudah tidak sekuat di awal. Yang tersisa di meja adalah batang sabun dari minyak bekas dan batang sabun dari beras Solok, sebagian rapi, sebagian retak dari percobaan pertama. Sabun dari beras yang biasanya hanya dimakan dan dijual mentah, sabun dari minyak yang biasanya dibuang.















