Daftar Isi
Cekricek.id — Tanah bata di Kecamatan Harau layak menjadi bahan gerabah.
Kandungan liatnya mencapai 51,74 persen. Di Kecamatan Lareh Sago Halaban, masih di kabupaten yang sama, angka itu hanya 3,84 persen. Dua wilayah tersebut sama-sama punya perajin batu bata merah yang menggali tanah setiap hari. Perbedaan itu muncul dari uji laboratorium, bukan dari perkiraan di lapangan.
Angka itu datang dari penelitian Wisnu Prastawa, Sriyanto, Selvi Kasman, dan Ahmad Akmal dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Laporan mereka berjudul Eksplorasi Tanah Liat Luhak Limo Puluh sebagai Bahan Baku Gerabah Tradisional. Artikel itu terbit di jurnal ARTCHIVE: Indonesia Journal of Visual Art and Design Volume 6 Nomor 2 tahun 2025.
Luhak Limo Puluh adalah sebutan adat untuk wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota di Sumatera Barat. Luas kabupaten itu 3.354,30 kilometer persegi dengan penduduk 348.555 jiwa. Letaknya di bagian timur provinsi, berbatasan dengan Kabupaten Kampar di Riau pada sisi utara dan timur. Di selatan dan barat wilayahnya berbatasan dengan Tanah Datar, Sijunjung, Agam, dan Pasaman.
Kota Payakumbuh duduk sebagai enklave di tengah kabupaten itu. Hidayat dan kawan-kawan (2021) menyebut posisi penghubung Sumatera Barat dengan Riau berpeluang menjadikannya pusat pertumbuhan wilayah. Selama ini andalan ekonominya masih pertanian dan perkebunan. Latifa (2025) menempatkan perkebunan sebagai komoditas unggulan kabupaten tersebut.
Tanah di kabupaten itu didominasi ordo Ultisol dan Oxisol menurut data spasial yang dipakai tim. Dugaan awal mereka sederhana: tanah dengan sifat begitu memadai untuk dipakai lebih luas daripada sekadar batu bata. Penelitian lapangannya berlangsung Juni sampai Oktober 2024. Bagian pendahuluannya menyebut angka lain, yakni dominasi Inceptisols dengan konsentrasi lempung di atas 36 persen.
Metodenya campuran, memadukan survei lapangan dengan pengujian sampel di laboratorium. Titik pengambilan sampel tidak dipilih secara acak penuh, melainkan menempel pada sentra produksi batu bata yang sudah ada. Alasannya praktis, sebab di sanalah tanah liat sudah rutin digali orang. Wawancara dengan warga setempat dikerjakan memakai kuesioner yang sudah disiapkan.
Dua Angka, Dua Nasib

Pengujian dipusatkan di dua kecamatan, yaitu Harau dan Lareh Sago Halaban. Keduanya dipilih karena ketersediaan tanah liatnya dinilai paling tinggi, sekaligus karena keduanya sentra batu bata yang masih aktif sampai penelitian berlangsung. Hasil uji laboratoriumnya ternyata terpaut sangat jauh.
Tanah Harau memuat 51,74 persen liat, sedangkan tanah Lareh Sago Halaban hanya 3,84 persen. Jarak antara keduanya lebih dari tiga belas kali lipat. Angka 51,74 persen itulah yang kemudian dipakai tim sebagai dasar seluruh usulannya. Selisih sebesar itu menentukan apa yang bisa dan tidak bisa dibuat dari tanah tersebut.
Kandungan liat menentukan kelenturan bahan ketika dibentuk. Tanah dengan liat tinggi lebih mudah dipilin, dicetak, dan diputar, serta lebih kuat setelah keluar dari pembakaran. Tanah dengan liat rendah cenderung retak sebelum sempat kering sempurna. Sifat itu ikut menentukan ketebalan dinding benda yang mungkin dibuat.
Tim tidak menyatakan tanah Lareh Sago Halaban tidak berguna sama sekali. Mereka menyebutnya memerlukan perlakuan teknis tambahan lebih dulu sebelum dipakai sebagai bahan baku seni keramik. Tanpa perlakuan itu, tanah tersebut sulit diandalkan. Laporan itu tidak merinci perlakuan teknis seperti apa yang mereka maksud.
Pengujiannya dikerjakan di dua tempat berbeda. Sisi keramiknya ditangani Studio Keramik Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Padangpanjang. Sisi kimianya ditangani Laboratorium Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Padang. Analisisnya mengacu pada metode ilmu keramik yang dirujuk dari Rangkuti dan kawan-kawan (2018).
Baca juga Sahutan Penonton Ronggeang Jadi Aturan Komposisi
Data plastisitas diperoleh lewat penimbangan, pengukuran, dan pembuatan benda uji atau plat ukur. Angka rinci plastisitas itu tidak ditampilkan dalam artikelnya. Yang dipajang sebagai temuan utama tetap kandungan liat dan warna tanah. Pembaca karena itu tidak bisa membandingkannya dengan tanah dari daerah lain.
Warna yang Nyaris Sama
Dilihat sekilas, tanah dari dua kecamatan itu tampak mirip belaka. Keduanya sama-sama cokelat kekuningan ketika masih basah di tangan. Mata biasa sulit memisahkan mana yang berasal dari Harau dan mana dari Lareh Sago Halaban. Perajin bata pun tidak memisahkan keduanya ketika bekerja setiap hari.
Alat ukur memisahkan keduanya dengan jelas. Memakai Munsell Soil Color Charts, tanah Harau tercatat sebagai 10 YR 7/8 atau kuning oranye, sedangkan tanah Lareh Sago Halaban tercatat 10 YR 5/3 atau cokelat kekuningan kusam. Perbedaan itu tidak terbaca tanpa kartu warna standar.
Warna dalam kerja keramik bukan urusan selera perajin. Ia petunjuk kandungan mineral yang ada di dalam tanah tersebut. Mineral itulah yang menentukan rupa akhir benda setelah keluar dari tungku pembakaran. Karena itu warna dicatat sebagai data, bukan sebagai keterangan tambahan.
Perbandingan serupa pernah dicatat di Jawa. Winarno (2016) menemukan tanah Kasongan mengandung kaolinit dan haloisit, sementara tanah Godean mengandung tambahan smektit. Beda mineral membuat warna dan kecocokan industrinya ikut berbeda. Tanah liat Indonesia memang bervariasi antarwilayah, dan variasi itu langsung memengaruhi mutu produknya.
Di Sumatera Barat sendiri, warna tanah sudah lama punya nilai pakai. Rahmi dan Efi (2025) meneliti tanah liek yang dipakai sebagai pewarna alami batik di provinsi itu. Bahan dasarnya sama, kegunaannya berlainan sama sekali. Di situ tanah menjadi bahan pewarna, bukan bahan yang dibentuk.
Enam Dapur di Sarilamak
Tim juga menghitung industri batu bata yang masih hidup di wilayah penelitian. Di Sarilamak, Kecamatan Harau, tercatat enam usaha yang masih aktif dengan skala kecil sampai menengah. Di Batu Balang, masih di kecamatan yang sama, ada dua usaha. Semua usaha itu masih memasok kebutuhan bahan bangunan setempat.
Di Tanjuang Gadang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, tim menemukan tiga usaha yang masih beroperasi. Kota Payakumbuh punya empat. Nama pemilik usaha itu dicatat dalam tabel penelitian, di antaranya Abdul Razack dan Martalena di Sarilamak serta Dt. Mangkuto di Tanjuang Gadang.
Ukuran batanya sudah seragam di seluruh kabupaten, yaitu 6 x 11 x 20 sentimeter. Susut keringnya nol sampai satu sentimeter setelah satu atau dua hari di suhu ruang. Susut bakarnya satu sampai dua sentimeter. Keseragaman itu memudahkan tim membandingkan susut antarusaha.
Sekali proses menghasilkan sekitar 4.000 batu bata. Bahannya lima muatan mobil pikap tanah liat ditambah empat gerobak pasir, dengan waktu pengerjaan dua sampai tiga hari. Cepat lambatnya bergantung pada jumlah tenaga kerja yang ikut. Hitungan tersebut diperoleh tim lewat wawancara dengan perajin.
Tenaga kerjanya bukan hanya laki-laki. Tim mencatat peran ibu rumah tangga cukup dominan sebagai tenaga kerja utama di sentra-sentra itu. Industri ini karena itu ikut menopang pendapatan rumah tangga di nagari. Pemberdayaan tenaga kerja lokal itu dicatat tim sebagai nilai tambah industrinya.
Baca juga Musik Banyuwangi Berganti Genre Setelah Kekerasan 1965
Cara mengolah tanahnya sudah berubah dalam beberapa dasawarsa terakhir. Dulu tanah diaduk dan dibajak dengan tenaga kerbau sebelum dicetak. Sekarang sebagian besar perajin memakai mesin pencampur, meski tungkunya masih tungku lama. Modernisasi itu datang seiring naiknya kebutuhan produksi.
Usaha semacam ini terbukti tahan guncangan ekonomi. Putra dan Rusdi (2023) mencatat industri batu bata di Nagari Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, bertahan dari berbagai tekanan karena padat karya dan berbasis bahan lokal. Yendri dan Apriyani (2022) menemukan hal serupa di Desa Marga Rahayu, Lubuklinggau, tempat pendapatannya cukup untuk kebutuhan dasar.
Sekam Padi dan Lima Belas Hari
Pembakaran satu tumpukan bata memakan waktu 15 sampai 20 hari. Sekali bakar memuat 15.000 sampai 20.000 batu bata sekaligus. Lamanya sangat bergantung pada bahan bakar yang dipakai perajin. Tungku yang dipakai masih tungku tradisional milik perajin sendiri.
Bahan bakarnya sekam padi, sekitar sepuluh karung untuk sekali pembakaran. Harganya Rp5.000 per karung. Sekam itu pun bukan sekam baru, melainkan limbah alas kandang ayam yang sudah terpakai. Ongkos bahan bakarnya karena itu sekitar lima puluh ribu rupiah sekali bakar.
Angka-angka tersebut menjelaskan satu hal dengan gamblang. Industri ini bertahan karena bahan baku dan energinya sama-sama diambil dari lingkungan terdekat, sehingga ongkos angkutnya nyaris nol. Ketergantungan pada sumber daya lokal itu sekaligus batas pertumbuhannya.
Perbandingan dari luar daerah menunjukkan di mana mutunya berdiri. Nur (2020) mencatat batu bata Bone di Sulawesi Selatan berkekuatan tekan 24,47 kilogram per sentimeter persegi. Mutu itu pun masih perlu dinaikkan lewat suhu dan durasi bakar yang lebih tinggi. Angka kuat tekan serupa untuk batu bata Lima Puluh Kota tidak disebutkan.
Dari Bata ke Gerabah
Nilai jual batu bata rendah dan dihitung per buah. Tanah yang sama, menurut tim peneliti, bisa menghasilkan barang dengan harga jauh lebih tinggi bila diolah sebagai gerabah dan terakota. Di situlah seluruh usulan penelitian ini berdiri. Gerabah dan terakota disebut punya nilai tambah dari sisi ekonomi, estetika, dan fungsi.
Sifat dasar tanah liat sudah lama dikenal perajin di mana pun. Utomo (2010) menyebutnya lentur ketika basah dan mengeras setelah dibakar pada suhu tinggi. Dua sifat itu yang membuatnya cocok menjadi bahan keramik maupun gerabah. Tanah liat juga dipakai sebagai media tanam dan bahan industri lain.
Teknik yang disebut tim ada tiga, yaitu pilin, cetak, dan putar. Bentuk yang mungkin dihasilkan bisa figuratif, bisa pula abstrak. Fungsinya bisa sebagai benda hias, bisa sebagai barang pakai sehari-hari. Ketiga teknik itu dipakai tim dalam kajian penciptaan seninya.
“Konversi tanah liat dari bahan bangunan tradisional menjadi bahan baku kesenian gerabah merupakan strategi berkelanjutan yang relevan,” tulis tim itu di bagian simpulan. Tiga alasan yang mereka ajukan adalah inovasi, pelestarian sumber daya lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Baca juga Dikie Mauluik Kini Tinggal di Satu Korong Pariaman
Prosesnya tidak berhenti pada penggalian tanah. Bahan harus dicuci dan dihaluskan lebih dulu, dan suhu pembakarannya perlu diatur dengan cara berbeda dari membakar batu bata. Penyesuaian teknis itu yang menentukan mutu benda jadinya. Inovasi pengolahan itu dinilai berdampak pada estetika dan desain keramik lokal.
Skalanya masih jauh dari industri besar. Jurdilla dan kawan-kawan (2019) menilai industri keramik nasional punya daya saing internasional berkat pasokan ball clay dan teknologi produksi yang terus maju. Tanah Harau belum masuk dalam hitungan itu. Tanah lokal ini masih diuji sebagai bahan baku, belum sebagai komoditas.
Tim juga mengaitkan usulannya dengan sektor wisata Lima Puluh Kota dan Sumatera Barat. Produk kriya lokal dinilai bisa masuk sebagai cendera mata bagi pengunjung. Pembandingnya ada di provinsi yang sama, yakni tanah Lubuk Alung.
Akbar dan Prastawa (2019) mencatat tanah Lubuk Alung bersifat earthenware dengan plastisitas rendah. Penyusutan keringnya sekitar 10 persen, sehingga harus dicampur tanah yang lebih plastis sebelum dipakai membuat keramik hias. Tanah yang melimpah tidak otomatis tanah yang siap pakai.
Yang Belum Diuji
Penelitian ini tidak menjanjikan lebih dari sebuah peta awal. Tim menyebut sendiri kerjanya sebagai langkah awal dalam memetakan potensi tanah liat lokal. Kelayakan usahanya belum dihitung dan cadangan tanahnya belum ditaksir. Yang ditawarkan baru arah, bukan rencana usaha.
Sebagai pembanding, Nugroho dan Hidayah (2024) menaksir cadangan tanah liat di Trenggalek sebesar 594.803 meter kubik. Angka setara untuk Lima Puluh Kota tidak ada dalam laporan ini. Sampelnya pun diambil secara purposif, menempel pada sentra batu bata yang sudah beroperasi.
Pasarnya juga belum diuji. Laporan itu menyebut peluang cendera mata dan industri kreatif tanpa disertai data permintaan. Harga jual gerabah dari tanah Harau belum pernah dihitung siapa pun. Perbandingan harganya dengan batu bata pun tidak ada.
Yang paling belum ada adalah perajin gerabahnya sendiri. Di Lima Puluh Kota, tanah liat selama ini berhenti sebagai batu bata merah. Keterampilan membentuk, membakar, dan menjual gerabah tidak muncul hanya karena kandungan liatnya tinggi. Tim menempatkan hal itu sebagai pekerjaan lanjutan.
Di Sarilamak, tanah dengan 51,74 persen liat itu pagi ini masih dicetak menjadi batu bata, dan harganya masih dihitung per buah.















