Murid di Sentani Belajar Bahasa Daerah Sambil Mengaduk Papeda

A A

Ilustrasi papeda diaduk dengan tongkat kayu di mangkuk besar, anak-anak menonton dari belakang [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Tujuh belas murid jenjang SD dan SMP mengolah sagu sambil menyebut kosakata bahasa daerah itu.
  • Kelima aspek kegiatan mendapat rerata di atas 3,5 pada skala empat poin.
  • Kini bahasa Sentani makin jarang dipakai anak usia sekolah, baik di keluarga maupun di ruang publik.
  • Tim pengabdian dan PKBM menandatangani kerja sama di bidang literasi bahasa ibu, khususnya bahasa Sentani.
  • Dampak kegiatan terhadap peningkatan kemampuan berbahasa belum dapat diukur dari waktu ke waktu.
Daftar Isi
  1. Bahasa yang Makin Jarang
  2. Ruang Belajar di Kemiri
  3. Hari Mengolah Papeda
  4. Makan Bersama, Lalu Refleksi
  5. Lima Nilai Angket
  6. Kerja Sama yang Diteken
  7. Yang Belum Terukur
  8. Rencana Setelah November

Papeda dipakai untuk mengajarkan bahasa Sentani kepada anak-anak. Itulah yang berlangsung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rotehbu di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Tujuh belas murid jenjang SD dan SMP mengolah sagu sambil menyebut kosakata bahasa daerah itu.

Kegiatan itu dilaporkan Bernard Labobar, Yustinus Wangguway, Evelien F. Ugadje, Christina A. Jeujanan, Riski Tasijawa, dan Krislina Pattipeiluhu dari Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani. Artikel mereka, Community empowerment for Sentani language preservation and cultural strengthening in Papua, terbit di Jurnal Abmas volume 26 nomor 1 tahun 2026.

Hasilnya terbaca dari angket peserta. Kelima aspek kegiatan mendapat rerata di atas 3,5 pada skala empat poin. Semuanya masuk kategori sangat baik, dan praktik mengolah papeda menempati nilai tertinggi.

Bahasa yang Makin Jarang

Bahasa Sentani juga disebut Bhuyakha. Menurut para penulis, bahasa ini secara historis menjadi bahasa komunikasi utama dan medium ekspresi budaya masyarakat adat. Kini bahasa Sentani makin jarang dipakai anak usia sekolah, baik di keluarga maupun di ruang publik.

Sebabnya disebut terang. Bahasa Indonesia dominan di lingkungan sekolah dan dalam aktivitas sosial generasi muda. Penelitian yang dirujuk para penulis mencatat penurunan kemampuan dan frekuensi penggunaan bahasa Sentani pada generasi muda.

Akibatnya muncul kesenjangan pewarisan bahasa antargenerasi. Peran keluarga dan lembaga pendidikan dinilai belum optimal menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Tanpa intervensi yang terarah, tulis para penulis, bahasa Sentani berpotensi makin terpinggirkan dan nilai budaya lokal ikut memudar.

Baca juga Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani

Ruang Belajar di Kemiri

PKBM Rotehbu beralamat di Jalan Raya Kemiri, Hinekombe, Kecamatan Sentani. Pengamatan awal tim menunjukkan bahasa Sentani dan praktik budaya lokal belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran di sana. Program belajarnya cenderung mengarah pada penguatan akademik umum.

Muatan lokal berbasis bahasa dan budaya Sentani belum dirancang secara sistematis. Padahal para penulis memandang pendidikan nonformal sebagai ruang belajar yang lebih fleksibel, partisipatif, dan kontekstual dibanding pendidikan formal. Di ruang itulah mereka menaruh programnya.

Tim pelaksana terdiri atas enam dosen Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini STAKPN Sentani dan tiga mahasiswa. Mereka bertindak sebagai fasilitator dan pendamping. Anak-anak ditempatkan sebagai peserta aktif, baik dalam pembelajaran bahasa Sentani maupun dalam praktik budaya lokal.

Penguatan bahasa Sentani berjalan bertahap sejak Juli 2025. Jadwalnya mengikuti kalender semester pendidikan nonformal di PKBM. Dua dosen dan tiga mahasiswa mendampingi langsung para murid mempelajari bahasa itu melalui pendekatan komunikatif dan interaktif.

Isinya sederhana. Murid dikenalkan pada kosakata dasar, ungkapan sehari-hari, dan percakapan pendek yang dekat dengan kehidupan mereka. Pembelajaran dilakukan berulang untuk membangun pemahaman dasar dan kepercayaan diri memakai bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari.

Belajar bahasa Sentani di PKBM RotehbuBelajar bahasa Sentani di PKBM RotehbuBelajar bahasa Sentani di PKBM RotehbuKegiatan pengabdian di Sentani, Kabupaten Jayapura, 202517muridjenjang SD danSMP6dosentim pelaksana3mahasiswafasilitator3,77skor papedatertinggi darilimaJalan risetnyaBelajar bahasa sejak Juli2025Mengolah papeda 29NovemberMakan bersama danrefleksi
Sumber: Bernard Labobar, Yustinus Wangguway, Evelien F. Ugadje, Christina A. Jeujanan, Riski Tasijawa, dan Krislina Pattipeiluhu, Community empowerment for Sentani language preservation and cultural strengthening in Papua, Jurnal Abmas, 26(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Hari Mengolah Papeda

Puncak program jatuh pada 29 November 2025. Hari itu seluruh dosen dan mahasiswa mendampingi murid mengolah papeda, makanan tradisional berbahan sagu. Murid mengikuti semua tahap, dari mengenali bahan, mengolah, sampai menyajikan.

Bahasa Sentani dipakai sepanjang proses. Fasilitator menjelaskan bahan, alat, dan tahapan pengolahan, lalu memperkenalkan kosakata bahasa Sentani yang berkaitan dengannya. Mereka juga mendorong murid memakai kosakata itu saat berinteraksi selama kegiatan.

Para penulis mencatat antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Murid bekerja berkelompok, ikut mengaduk dan menyajikan papeda, serta saling berinteraksi dengan ungkapan sederhana bahasa Sentani yang sudah dipelajari sebelumnya. Keterlibatan langsung itu, tulis mereka, membuat peserta mengalami proses belajar secara konkret sekaligus memahami makna budaya di dalamnya.

Papeda dipilih dengan alasan. Menurut para penulis, makanan ini bukan sekadar produk kuliner. Ia merepresentasikan identitas budaya, pengetahuan ekologis lokal, dan nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pengolahannya melibatkan kerja bersama dan pewarisan keterampilan antargenerasi. Di dalamnya dipakai pula istilah-istilah lokal yang sarat makna budaya. Karena itu papeda dinilai berpotensi besar menjadi perantara belajar bahasa dan budaya sekaligus.

Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat

Makan Bersama, Lalu Refleksi

Sesudah papeda tersaji, kegiatan berlanjut dengan makan bersama. Sesi ini dimaksudkan sebagai ruang interaksi sosial dan pemberdayaan. Nilai yang hendak dikuatkan ialah kebersamaan, gotong royong, dan saling menghargai antarpeserta.

Rangkaian ditutup dengan dokumentasi dan refleksi bersama yang diikuti semua peserta dan fasilitator. Mereka menilai jalannya kegiatan dan dinamika partisipasi. Mereka juga memperdalam makna pelestarian bahasa dan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Dari refleksi itu, tulis para penulis, muncul kesadaran peserta akan pentingnya melestarikan bahasa ibu dan praktik budaya lokal. Pengamatan selama kegiatan juga memperlihatkan keterlibatan aktif peserta di setiap tahap. Keterlibatan itu tampak dalam penggunaan bahasa Sentani, proses pengolahan papeda, dan interaksi sosial yang terbangun.

Lima Nilai Angket

Angket memberi angka pada kesan itu. Pelaksanaan kegiatan mendapat rerata 3,62, pembelajaran bahasa Sentani 3,55, pengolahan papeda 3,77, pemberdayaan dan penguatan budaya 3,72, serta kepuasan keseluruhan 3,52. Menurut para penulis, hasil itu menunjukkan tujuan menciptakan pembelajaran yang partisipatif, kontekstual, dan bermakna telah tercapai.

Lima nilai dari angket pesertaPengolahan papeda: Rerata skor +3,77; Pemberdayaan dan penguatan budaya: Rerata skor +3,72; Pelaksanaan kegiatan: Rerata skor +3,62; Pembelajaran bahasa Sentani: Rerata skor +3,55; Kepuasan keseluruhan: Rerata skor +3,52.Lima nilai dari angket pesertaRerata pada skala empat poin, semuanya berkategori sangat baik12340Pengolahan papeda3,77Pemberdayaan dan penguatan budaya3,72Pelaksanaan kegiatan3,62Pembelajaran bahasa Sentani3,55Kepuasan keseluruhan3,52
Sumber: Bernard Labobar, Yustinus Wangguway, Evelien F. Ugadje, Christina A. Jeujanan, Riski Tasijawa, dan Krislina Pattipeiluhu, Community empowerment for Sentani language preservation and cultural strengthening in Papua, Jurnal Abmas, 26(1), 2026. Grafik: Cekricek.id

Nilai tertinggi ada pada pengolahan papeda. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa praktik budaya yang langsung, kolaboratif, dan berbasis pengalaman punya daya tarik dan daya libat yang kuat bagi peserta. Pengolahan papeda, tulis mereka, bukan hanya kegiatan memasak, melainkan ruang belajar budaya yang memuat nilai kebersamaan dan kerja sama.

Papeda di sini tidak ditempatkan sebagai urusan ekonomi. Para penulis membandingkannya dengan kegiatan pengabdian berbasis ekonomi sagu. “Integrasi tersebut menjadi pembeda utama kegiatan, karena praktik budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi dialami sebagai proses belajar kolektif,” tulis Bernard Labobar dan rekan-rekannya, para dosen STAKPN Sentani, dalam naskah itu.

Kedudukan bahasa pun bergeser. Bahasa Sentani tidak lagi diposisikan sebagai materi linguistik yang terpisah, melainkan dipakai secara fungsional untuk berkomunikasi selama kegiatan. Pola itu, menurut para penulis, mendorong murid mempraktikkan kosakata dan ungkapan sederhana secara spontan.

Kerja Sama yang Diteken

Kegiatan ini juga menghasilkan kemitraan. Tim pengabdian dan PKBM menandatangani kerja sama di bidang literasi bahasa ibu, khususnya bahasa Sentani. Para penulis menyebut PKBM berpotensi strategis sebagai ruang pelestarian bahasa dan budaya lokal.

Pihak yang terlibat meliputi pengelola PKBM, murid, dosen, dan mahasiswa. Dukungan juga datang dari lingkungan keluarga dan komunitas sekitar. Komunitas, tulis para penulis, tidak diposisikan sebagai penerima, tetapi sebagai mitra pengembang kegiatan.

Keunggulan program disebut terletak pada pendekatannya yang memadukan bahasa, budaya, dan pembelajaran kontekstual dalam satu rangkaian. Program ini juga relatif mudah diterapkan karena bertumpu pada potensi lokal. Teknologi dan biaya tinggi tidak diperlukan, sehingga sesuai dengan kondisi PKBM dan komunitas setempat.

Baca juga Noken Anggrek Suku Mee Dirajut Lelaki, Jadi dalam Enam Bulan

Yang Belum Terukur

Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Pelaksanaan kegiatan masih berjangka pendek. Dampak kegiatan terhadap peningkatan kemampuan berbahasa belum dapat diukur dari waktu ke waktu.

Usia peserta juga beragam. Keragaman itu menuntut strategi pembelajaran yang dibedakan secara lebih sistematis agar semua peserta memperoleh pengalaman belajar yang optimal. Keberlanjutan program masih bergantung pada kehadiran fasilitator dan belum sepenuhnya menyatu dengan program rutin PKBM.

Di lapangan ada tiga kendala. Tim menghadapi kesulitan mengelola waktu, menyesuaikan penggunaan bahasa dengan tingkat kemampuan peserta, dan mengoordinasikan logistik praktik pengolahan papeda. Kendala itu mereka sebut memberi ruang refleksi untuk menyempurnakan rancangan program berikutnya.

Rencana Setelah November

Tindak lanjutnya sudah dirumuskan. Program diarahkan masuk ke kegiatan rutin PKBM sebagai muatan lokal berbasis bahasa dan budaya. Pengembangan modul pembelajaran sederhana termasuk di dalamnya, agar dapat dipakai secara berkelanjutan oleh pengelola dan fasilitator setempat.

Para penulis melihat peluang mengulang kegiatan ini di komunitas adat lain. Syaratnya, bentuknya disesuaikan dengan karakteristik budaya setempat. Mereka juga menyebut perlunya variasi praktik budaya sebagai media belajar dan keterlibatan pemangku kepentingan yang lebih luas.

Simpulan mereka, memadukan bahasa Sentani dengan pengolahan papeda efektif meningkatkan keterlibatan peserta dan menumbuhkan kesadaran akan identitas budaya lokal. Dampak jangka panjangnya terhadap penggunaan bahasa daerah, menurut para penulis, perlu dikaji dalam pengabdian selanjutnya.

Bagikan

Baca Juga

Makin Pekat Debu Halus, Makin Tinggi Tensi Dewasa Muda Asia Timur
Coretax Bikin Lapor Pajak Lebih Efisien, Relawan Tak Memperkuat
Sintuvu, Gotong Royong Orang Kaili yang Diawali Musyawarah
Tiga dari Empat Keluarga Suku di Nagpur India Urung Berobat
Suku Anak Dalam Selalu Menyisakan Madu dan Buah untuk Satwa Hutan
Hutan Adat Talang Mamak Jadi Taman Nasional, Hak Kelola Terbatas