- Hanya sekitar 12 lelaki Suku Mee di Distrik Mapia, Dogiyai, mengkhususkan diri merajut noken anggrek.
- Bahan bakunya sembilan tumbuhan liar dari tujuh famili: tiga anggrek Dendrobium, empat paku, satu perdu Epiho, dan rotan.
- Pembuatan melewati empat tahap, dari tali Doki Kebone sampai toha agiya, dan memakan satu hingga enam bulan.
- Data lapangan dikumpulkan Agustus 2014 di Kampung Bomomani, naskahnya terbit di Biodiversitas 2023.
Daftar Isi
Agustus 2014, tim Universitas Papua tiba di Kampung Bomomani, Dogiyai. Mereka datang mencatat cara lelaki Suku Mee membuat noken anggrek dari tumbuhan hutan. Kampung itu berada di Distrik Mapia, pada ketinggian 1.700 meter, dengan penduduk 2.003 jiwa pada tahun yang sama.
Catatan lapangan itu terbit sebagai The indigenous art of orchid noken making by the Mee Tribe in the highland of Central Mountains, Indonesian Papua di Biodiversitas volume 24 nomor 7, tahun 2023. Penulis utamanya Yubelince Yustenci Runtuboi dari Fakultas Kehutanan Universitas Papua, Manokwari, bersama sembilan rekan.
2012: Noken Masuk Daftar Warisan Dunia
Dua tahun sebelum tim itu berangkat, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan noken sebagai warisan budaya takbenda. Penetapan itu jatuh pada 2012. Paper mencatat noken dipakai orang Papua untuk mengangkut hasil kebun, membawa ternak, menggendong bayi, dan menyimpan perlengkapan upacara selama perjalanan.
Pada umumnya noken dibuat perempuan. Paper menyebut kerajinan ini lazim dikuasai kaum perempuan di berbagai suku Papua, termasuk Suku Mee. Namun di Distrik Mapia ada satu jenis noken yang hanya dibuat lelaki, yaitu noken anggrek. Bahan utamanya anggrek liar dari pegunungan sekitar kampung.
Suku Mee mendiami Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai pada ketinggian 500 sampai 1.700 meter. Dialeknya berbeda antarlembah. Kata noken diucapkan Agiya di Lembah Kamu dan Agiha di Mapia. Kemahiran lelaki Mapia merajut noken anggrek diakui orang Mee di Enarotali dan Moanemani.
Agustus 2014: Delapan Belas Informan di Bomomani
Selama kunjungan itu, tim mewawancarai delapan belas informan kunci. Mereka perajin, penjual noken, tokoh agama dan adat, serta pejabat pemerintah setempat. Sebagian wawancara berlangsung saat perajin sedang merajut, sehingga keterampilannya bisa disaksikan langsung. Beberapa informan lalu mengantar tim ke lokasi tumbuhan dipetik.
Dari wawancara dan pengamatan itu tercatat sembilan jenis tumbuhan liar dari tujuh famili. Semuanya tumbuh alami di hutan pegunungan sekitar pemukiman. Tiga di antaranya anggrek epifit dari marga Dendrobium, yang oleh orang Mee disebut Toha, Hati Toha, dan Bitu.
Empat jenis lainnya paku-pakuan, semuanya disebut Pupu dalam bahasa Mee. Sisanya perdu Pipturus argenteus yang disebut Epiho, dan rotan Calamus sp. yang disebut One. Rotan tumbuh di hutan primer, hutan sekunder, ladang berpindah, dan semak dekat rumah.
Anggrek-anggrek itu makin langka di hutan. Lelaki Mee mengaku jarang melihat bunganya dan tidak bisa menggambarkannya. Karena itu nama ilmiah ketiga anggrek hanya bisa didekatkan, ditandai dengan aff. Selama riset, satu anggrek kedapatan berbunga, berbentuk bintang, berwarna merah muda keputihan.
Jumlah perajinnya sedikit. “Namun, riset lapangan kami menemukan hanya sekitar 12 perajin lelaki yang mengkhususkan diri pada noken anggrek di Distrik Mapia,” tulis Runtuboi dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu. Keahlian itu diturunkan orang tua kepada anak dan kerabat lewat praktik langsung.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Hari Pertama sampai Ketiga: Kulit Batang Dikeringkan
Pekerjaan dimulai dari hutan. Batang anggrek dipilih, dibelah empat, lalu kulitnya dipisahkan dari batang. Kulit itu dikeringkan satu hari, kemudian diikat dan siap dipakai. Kulit anggrek inilah yang memberi warna kuning atau kecokelatan yang bertahan lama pada lapisan luar noken.
Batang paku diperlakukan serupa, tetapi lebih lama. Bagian berduri dibersihkan dulu, batang dibelah empat, lalu dikeringkan dua sampai tiga hari. Serat paku menghasilkan warna gelap hampir hitam. Paper menyebut keempat jenis paku itu melimpah di dekat pemukiman dan bisa saling menggantikan.
Kulit Epiho butuh tahap tambahan. Kulit batang, cabang, dan ranting dikupas sepanjang mungkin, biasanya 15 sampai 30 sentimeter. Kulit dijemur beberapa hari, lalu diasap di atas tungku sampai berwarna setengah gelap. Setelah kering, kulit dibelah kecil-kecil. Rotan cukup dipotong kecil dan dijemur sampai kering.
Di sini ada perbedaan dari suku tetangga. Suku Dani dan Lani mencelup bahan sebelum mengeringkannya, menurut riset Wahyudi dan rekan yang dikutip paper. Orang Mee di Bomomani tidak mencelup. Pewarna mereka adalah kulit anggrek itu sendiri, sehingga urutan kerjanya berbeda.
Hari Keempat: Tali dan Mulut Dirajut
Setelah bahan kering, perajin membuat tali noken, yang disebut Doki Kebone. Serat kayu Epiho dibungkus kulit anggrek atau kulit paku untuk mendapat warna kuning keemasan atau gelap. Serat terbungkus itu dipilin, lalu dirajut dengan jarum khusus. Tali selesai dalam satu sampai dua hari.
Tahap berikutnya mulut noken, atau agiya kebone. Serat yang sudah dipintal dirajut dengan jarum mengikuti ukuran yang diinginkan. Pengerjaannya juga memakan satu sampai dua hari. Noken berukuran besar menuntut waktu lebih lama dan rajutan lebih rumit, catat paper.
Ukuran noken anggrek ada tiga. Yang kecil disebut Ibo, kira-kira 10 kali 15 atau 15 kali 20 sentimeter. Yang sedang disebut Ibo tide muko-muko, sekitar 20 kali 30 atau 30 kali 30 sentimeter. Yang besar disebut Tide, 40 kali 30 kali 5 atau 50 kali 40 kali 5 sentimeter.
Baca juga Tanah Liat Harau 51,74 Persen Layak Jadi Gerabah
Bulan Pertama sampai Keenam: Badan Bermotif Rotan
Badan noken, atau agiya epoo, dimulai dari motif. Kulit rotan yang sudah bersih dan kering dibentuk menjadi motif bulat atau persegi. Benang dari Epiho, paku, dan anggrek dirajut mengikuti bentuk dan warna motif itu. Motif-motif yang jadi lalu dijahit menyatu menjadi satu badan.
Motif dipilih menurut selera perajin. Paper mencatat mereka meyakini desain tertentu lebih memikat calon pembeli. Setelah badan selesai, mulut dan tali dijahit ke badan memakai tali pintalan Epiho dan kulit anggrek. Hasil akhirnya disebut toha agiya, siap dipakai atau dijual.
Seluruh proses memakan satu sampai enam bulan. Lamanya bergantung pada ukuran, kerumitan motif, ketersediaan bahan, dan kemahiran perajin. Perajin berpengalaman menyelesaikan noken besar dalam satu sampai empat bulan. Perajin yang belum terbiasa membutuhkan waktu lebih panjang.
Pembagian tahap ini berbeda dari Wamena. Suku Dani dan Yali membagi pembuatan noken menjadi lima bagian, sedangkan Mee menjadi empat. “Meski tampak sederhana, tahapan pembuatan noken anggrek ini jarang diulas terperinci dalam sejumlah publikasi tentang noken,” tulis Runtuboi dan rekan-rekannya.
Noken anggrek juga barang dagangan. Lelaki Mee menjualnya di pasar setempat dan ke luar daerah, sehingga paper menyebut mereka perajin sekaligus wirausaha. Di Bomomani, sekitar 90 persen penduduk adalah orang Mee asli yang hidup dari kebun talas, ubi, kopi, ternak babi, dan perburuan.
Baca juga Kerah Kebaya Labuh Riau Naik ke Enam Busana Pastel
Juli 2023: Naskah Terbit, Angka Tetap Angka 2014
Sembilan tahun setelah kunjungan, naskah itu terbit pada 2023. Paper tidak menjelaskan jarak waktu tersebut. Angka dua belas perajin, kelangkaan anggrek, dan tiga ukuran noken adalah keadaan pada Agustus 2014. Pembaca yang membandingkannya dengan keadaan kini perlu mengingat tahun itu.
Keterbatasan lain terletak pada identifikasi tumbuhan. Paper sendiri menulis bahwa sebagian anggrek tidak berbunga, sehingga nama ilmiahnya sulit dipastikan. Temuan juga bertumpu pada satu kampung dan delapan belas informan, dengan spesimen yang disimpan di Herbarium Manokwariense, Universitas Papua.
Ada beberapa hal di dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Teks menyebut Mee membagi pembuatan noken menjadi empat bagian, tetapi komponen yang dinamai hanya tiga: mulut, tali, dan badan. Bagian keempat adalah penyatuan ketiganya menjadi toha agiya.
Penamaan dalam keterangan gambar juga tidak selaras. Keterangan Gambar 4 menyebut motif lingkaran sebagai bagian badan noken dengan nama agiya kebone. Pada uraian tahapan, agiya kebone adalah mulut noken, sedangkan badan disebut agiya epoo. Paper juga menulis orang Mapia menyebut noken Agiha, tetapi seluruh nama tahapan memakai bentuk agiya.
Ejaan nama tumbuhan pun berbeda antarbagian. Teks utama menulis Dryopteris hirtipes, sedangkan Tabel 1 dan keterangan Gambar 2 menulis Dryoterips hirtipes. Tabel 3 memakai satuan sentimeter persegi untuk ukuran dua sisi dan sentimeter kubik untuk tiga sisi.
Titik terakhir yang diketahui dari catatan ini tetap Agustus 2014. Saat itu dua belas lelaki di Distrik Mapia masih merajut noken dari tiga anggrek, empat paku, satu perdu, dan satu rotan. Satu noken besar selesai dalam hitungan bulan, lalu dibawa ke pasar.















