Guinea-Bissau Hentikan Uji Vaksin Hepatitis B Dana AS pada Bayi

A A

Dok. Kotak vaksin hepatitis B dipajang di sebuah apotek di Miami, Florida, AS, 9 September 2025. [Foto: Rebecca Blackwell/AP via Al Jazeera]

  • Guinea-Bissau dilaporkan menghentikan uji vaksin hepatitis B yang didanai CDC AS.
  • Uji itu akan menunda vaksin bagi separuh dari sekitar 14.000 bayi hingga enam minggu setelah lahir.
  • WHO menyebut uji tersebut tidak etis, dan polisi menyita batch vaksin pada Oktober.
  • Mantan Menkes Guinea-Bissau Magda Robalo menilai peneliti memanfaatkan lemahnya kapasitas riset negara itu.

Cekricek.id — Guinea-Bissau dilaporkan menghentikan uji coba vaksin hepatitis B (HBV) yang didanai Amerika Serikat dan menuai sorotan global setelah para ahli menyebut uji itu menahan suntikan penyelamat nyawa dari ribuan bayi.

Uji coba itu gagal mendapatkan persetujuan pemerintah, kata seorang peneliti yang terlibat, yang menyebut berakhirnya uji itu sebagai “kemunduran signifikan” bagi sains Afrika, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (5/11/2026). Pejabat setempat belum berkomentar.

Polisi yudisial negara Afrika Barat itu pada pertengahan Oktober menggerebek fasilitas kelompok peneliti yang memimpin proyek di ibu kota Bissau dan menyita batch vaksin.

Uji itu dirancang untuk menilai dampak vaksin HBV yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada dua kelompok bayi. Satu kelompok menerima vaksin saat lahir, sedangkan kelompok lain yang dipilih acak baru menerimanya enam minggu kemudian. Sekitar 14.000 bayi direncanakan terlibat.

Proyek itu mendapat 1,6 juta dolar AS dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) di bawah Menteri Kesehatan Robert F Kennedy, yang dikenal dengan pandangan antivaksinnya. Pengumuman uji itu pada Desember tahun lalu memicu kemarahan luas, dan pemerintah Guinea-Bissau menghentikan sementara proyek itu pada Januari.

Guinea-Bissau lalu meluncurkan penyelidikan atas uji itu bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) dan WHO. Uji itu direncanakan Bandim Health Project di Bissau, bagian dari University of Southern Denmark, yang dipimpin pasangan ilmuwan Christine Stabell Benn dan Peter Aaby.

WHO menyebut uji itu “tidak etis”. Bayi paling berisiko terinfeksi hepatitis B secara kronis, umumnya tertular dari ibu. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan dapat merusak hati dalam jangka panjang hingga memicu kanker. Sekitar seperlima dari 2,2 juta penduduk Guinea-Bissau hidup dengan hepatitis B.

“[Para peneliti] memanfaatkan fakta bahwa Guinea-Bissau tidak memiliki kapasitas riset yang sangat kuat,” kata mantan Menteri Kesehatan Guinea-Bissau Magda Robalo kepada Al Jazeera.

“Tidak etis menolak memberi anak-anak intervensi yang kita tahu berhasil, yang akan membantu memperbaiki hidup mereka dan menyelamatkan mereka dari penyakit yang kemungkinan besar akan mereka derita,” tambahnya.

Benn dan Aaby menyatakan mereka tidak menguji apakah vaksin HBV mencegah penyakit, melainkan apakah pencegahan itu “datang dengan harga yang terlalu mahal” seperti kematian dan dampak kesehatan lain.

“Kini jelas bahwa uji hepatitis B-NSE tidak akan berlanjut di Guinea-Bissau. Kami tidak mendapat persetujuan pemerintah yang diperlukan,” tulis peneliti Bandim Frederik Schaltz-Buchholzer di LinkedIn.

Bagikan

Baca Juga

Mojtaba Khamenei: Kekalahan Trump Tak Akhiri Permusuhan AS
Suriah dan Saudi Teken Kerja Sama Pertahanan, Pinjaman 403 Juta
Russell Brand Dinyatakan Bersalah atas Pemerkosaan di London
Bukele Pamerkan Patroli Tentara El Salvador Lawan Geng Haiti
JD Vance: Republik Kalah Pemilu Sela karena Perang Iran
Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka