Mojtaba Khamenei: Kekalahan Trump Tak Akhiri Permusuhan AS

A A

Warga Iran membawa poster anti-AS dan potret Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dalam unjuk rasa di depan bekas Kedutaan Besar AS di Teheran, Rabu (4/11/2026). [Foto: Atta Kenare/AFP via Al Jazeera]

  • Mojtaba Khamenei menyebut siapa pun yang berharap kebijakan AS terhadap Iran berubah keliru besar.
  • Khamenei memperingatkan serangan baru AS akan dibalas dengan dimensi yang jauh lebih luas.
  • Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut rakyat Amerika berkata tidak untuk perang.
  • Analis Trita Parsi menilai dua bulan ke depan menjadi periode yang sangat berbahaya.

Cekricek.id — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan siapa pun yang berharap kebijakan Amerika Serikat terhadap negaranya berubah “keliru besar”. Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah pemilu sela memukul Presiden Donald Trump.

“Mereka yang masih menyimpan sedikit saja harapan bahwa perilaku sistem hegemonik dapat berubah melalui pergeseran partai atau faksi, atau yang membayangkan bahwa memberi konsesi kepada Amerika Serikat dapat menghentikan permusuhannya terhadap bangsa Iran, keliru besar,” kata Khamenei dalam pernyataan tertulis di situs webnya, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (4/11/2026).

Khamenei, yang belum tampil di depan publik sejak ayah sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, dibunuh dalam serangan AS-Israel ke kantornya pada Februari, menyebut kendali Iran atas Selat Hormuz telah meruntuhkan “mitos ketakterkalahan Amerika”.

“Jika pelanggaran terulang, hal itu akan mengambil dimensi yang jauh lebih luas,” ujarnya. Pernyataan itu keluar bertepatan dengan peringatan penyitaan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979.

Trump mengakui perang yang dimulai pada Februari kemungkinan berpengaruh pada kekalahan Republik, tetapi menyebut pemilih bereaksi pada harga bensin, bukan pada perang itu sendiri. “Saya rasa bukan karena perang. Saya rasa karena harga bensin,” katanya kepada Fox News.

Trump juga membuka kemungkinan serangan besar baru terhadap Iran. “Banyak orang ingin melakukan pukulan berat. Banyak juga yang tidak,” ujarnya.

Ketua parlemen sekaligus juru runding utama Iran dengan Washington Mohammad Bagher Ghalibaf bernada lebih lunak. “Entah karena hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika berkata TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini,” tulisnya di X.

Penasihat pemimpin tertinggi Mohammad Mokhber menyebut Trump telah “ditampar oleh rakyatnya sendiri”.

Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft Trita Parsi memperingatkan kemenangan Demokrat dapat meningkatkan risiko Trump melakukan eskalasi dalam jangka pendek. “Ia menunjukkan pola, saat menghadapi penghinaan dan kekalahan, ia menjadi lebih nekat,” kata Parsi.

“Kombinasi antara waktunya yang makin habis dan sikapnya yang makin nekat akibat kekalahan menciptakan periode yang sangat berbahaya selama dua bulan ke depan,” ujarnya, merujuk periode sebelum Demokrat menguasai Kongres pada Januari.

Trump menyatakan AS siap bertindak, tetapi menyiratkan serangan baru mungkin tidak diperlukan. “Saya siap, kami siap. Kami sudah siaga penuh jika memang harus bergerak, tetapi mungkin tidak ada alasan untuk itu,” katanya kepada Financial Times.

Bagikan

Baca Juga

Suriah dan Saudi Teken Kerja Sama Pertahanan, Pinjaman 403 Juta
Russell Brand Dinyatakan Bersalah atas Pemerkosaan di London
Bukele Pamerkan Patroli Tentara El Salvador Lawan Geng Haiti
JD Vance: Republik Kalah Pemilu Sela karena Perang Iran
Biaya Stroke di Iran Capai 1,42 Miliar Dolar dalam Setahun
Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka