- Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela disebabkan perang Iran.
- Vance menantang pihak yang menilai perang itu sepadan dengan hilangnya Senat selama enam tahun.
- Mantan anggota Kongres Nick Rahall menilai Vance sedang menjaga jarak dari Trump.
- Trump mengaku tidak menyesal memulai perang dan akan melakukannya lagi.
Cekricek.id — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyalahkan perang terhadap Iran atas kekalahan telak partainya dalam pemilu sela, dan menyiratkan bahwa konflik itu mungkin tidak sepadan dengan lepasnya kendali Kongres AS ke tangan Partai Demokrat.
“Alasan kami kalah adalah perang. Presiden sendiri mengatakannya tadi malam,” tulis Vance dalam unggahan panjang di X, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (4/11/2026). “Jika Anda ingin berargumen bahwa itu sepadan, bahwa kehilangan Senat selama enam tahun ke depan itu sepadan, silakan.”
“Semua orang tahu mengapa kami kalah. Dan setiap pembicaraan jujur tentang ke mana kita melangkah dari sini harus dimulai dari sana,” tulisnya.
Mark Pfeifle, mantan wakil penasihat keamanan nasional di era Presiden George W Bush, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Vance sedang mengakui kegagalan politik yang dibuat pemerintahannya sendiri. “Kalau salah, akui saja!” katanya.
Vance, calon kuat presiden 2028 dan pewaris gerakan Make America Great Again (MAGA) milik Presiden Donald Trump, menjadi salah satu juru runding utama saat AS dan Iran mencari jalan keluar dari konflik delapan bulan yang memukul ekonomi kedua negara dan mendorong harga bahan bakar global.
Pernyataannya soal Teheran lebih lunak dibanding tokoh kunci pemerintahan lainnya, dan catatan pascapemilu itu tampaknya menjadi titik terdekat ia berbeda sikap secara terbuka dengan Trump.
“Vance jelas berusaha menjaga jarak dari Trump, seperti yang akan dilakukan banyak tokoh Republik terhormat lainnya dalam beberapa pekan dan bulan ke depan,” kata mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat Nick Rahall. “Rakyat sudah bersuara.”
Mengutip seorang penyurvei, Vance mengatakan mengakhiri perang Iran dan “mengubah hubungan kita dengan Israel” termasuk empat jawaban teratas dari warga yang memilih Trump pada 2024 tetapi berencana memilih Demokrat pada pemilu sela 2026.
Sebaliknya, Trump mengatakan tidak menyesal memulai konflik itu. “Saya melakukan hal yang benar. Saya akan melakukannya lagi,” katanya kepada Wall Street Journal.















