Orang Dewasa di Mansoura Paham Rokok, Kurang Kenal Tanda Kanker

A A

Ilustrasi deretan gedung apartemen bertingkat dan jalan kota di Mansoura, Dakahlia, Mesir [Foto: Callmemisterradar/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 90,2 persen dari 399 peserta di Mansoura tahu pemeriksaan kesehatan rutin membantu mendeteksi kanker sejak dini.
  • Hanya 33,3 persen peserta yang mengenali luka yang tak kunjung sembuh sebagai tanda peringatan kanker.
  • Merokok dikenali sebagai faktor risiko oleh 89,5 persen peserta, disusul polusi udara 75,4 persen.
  • Lulusan universitas dan pegawai bidang medis meraih median skor total 34 dari 52, tertinggi di antara kelompoknya.
Daftar Isi
  1. Kamal dan Eid Menyiapkan Kuesioner 52 Poin
  2. Tanda Peringatan yang Luput dari Catatan Kamal
  3. Basma Kamel Menghitung Dua Belas Faktor Risiko
  4. Internet Jadi Rujukan Utama Peserta Eid
  5. Basma Kamel Menimbang Pendidikan dan Bidang Medis
  6. Eid dan Kamal Menandai Batas Temuan

Abeer M. Kamal dan Ahmed M. Eid membawa kuesioner kertas berbahasa Arab ke lima fasilitas layanan kesehatan primer di Distrik Mansoura, Mesir, antara Juni dan Agustus 2025. Mereka ingin tahu seberapa jauh orang dewasa yang datang ke tempat itu mengenal tanda awal kanker dan hal-hal yang memperbesar risikonya. Sebanyak 399 orang mengisi kuesioner itu sampai tuntas.

Jawaban yang dikumpulkan Kamal dan Eid membentuk gambaran yang timpang. Sembilan dari sepuluh peserta tahu pemeriksaan kesehatan rutin membantu menemukan kanker lebih awal, dan 89,5 persen menyebut rokok sebagai faktor risiko. Namun, hanya 33,3 persen yang mengenali luka yang tak kunjung sembuh sebagai tanda peringatan kanker, dan 35,1 persen yang mengenali batuk atau suara serak yang menetap.

Eid dan Kamal tercatat sebagai penulis pertama bersama dengan kontribusi setara. Keduanya berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Mansoura dan menulis bersama sembilan peneliti lain serta sebuah tim kolaborasi, termasuk Yasmeen A. State dari Fakultas Kedokteran Horus University di New Damietta. Laporan mereka berjudul Awareness level of cancer risk factors and warning signs among adults in Mansoura District, Egypt dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Kamal dan Eid Menyiapkan Kuesioner 52 Poin

Gagasan penelitian ini, menurut catatan kontribusi penulis, datang dari Eid, Kamal, dan Basma Kamel. Mereka memakai kuesioner berbahasa Arab yang sudah tervalidasi dari penelitian terdahulu, lalu memeriksanya agar setiap butir jelas dan cocok untuk konteks Mesir. Uji coba lebih dulu dijalankan pada 30 orang dewasa, yang kemudian tidak diikutkan dalam analisis akhir.

Kuesioner yang dibawa Kamal dan timnya memuat tiga bagian pengetahuan: lima butir pengetahuan umum tentang kanker, sembilan butir tanda peringatan, dan sederet butir faktor risiko. Setiap jawaban benar bernilai dua poin, sedangkan jawaban salah dan jawaban tidak tahu bernilai nol. Skor totalnya berkisar dari 0 sampai 52, dan makin tinggi skor, makin baik pengetahuan seseorang tentang kanker.

Semua penulis, dibantu tim pengumpul data mahasiswa sukarelawan, turun mengumpulkan jawaban. Eid dan rekan memilih lima dari 51 fasilitas layanan kesehatan primer di Mansoura yang ramai pengunjung, dua di wilayah kota dan tiga di wilayah desa. Dari 399 peserta, 60,7 persen perempuan, 58,1 persen berusia 18 sampai 35 tahun, dan 67,9 persen tinggal di desa.

Bagian pengetahuan umum kuesioner memberi Eid dan Kamal kabar yang cukup baik. Sebanyak 360 peserta, atau 90,2 persen, tahu bahwa pemeriksaan kesehatan rutin membantu mendeteksi kanker sejak dini. Sebanyak 77,4 persen paham bahwa pemeriksaan payudara sendiri termasuk cara terbaik mendeteksi kanker payudara, dan 73,9 persen menjawab benar ketika ditanya apakah kanker termasuk penyakit menular.

Dua butir pengetahuan umum lainnya sedikit lebih rendah dalam tabel yang disusun Kamel dan Eid. Sebanyak 73,4 persen peserta tahu bahwa pola makan seimbang menurunkan risiko kanker. Sementara itu, 64,2 persen peserta tahu bahwa olahraga yang dilakukan terus-menerus ikut menurunkan risiko terkena kanker, angka terendah di bagian pengetahuan umum ini.

Tanda Peringatan yang Luput dari Catatan Kamal

Benjolan paling dikenal, luka tak sembuh paling jarangBenjolan payudara/organ 71,2%; Berat badan turun 58,9%; Perdarahan/cairan tak biasa 52,4%; Perubahan pola buang air 52,1%; Kutil/tahi lalat berubah 39,3%; Sulit menelan 37,8%; Batuk atau serak menetap 35,1%; Luka tak kunjung sembuh 33,3%.Benjolan paling dikenal, luka tak sembuhpaling jarangPersen peserta yang menjawab benar, tanda peringatankanker, 399 orang dewasa0%20%40%60%80%Benjolan payudara/organ71,2%Berat badan turun58,9%Perdarahan/cairan tak biasa52,4%Perubahan pola buang air52,1%Kutil/tahi lalat berubah39,3%Sulit menelan37,8%Batuk atau serak menetap35,1%Luka tak kunjung sembuh33,3%Tidak ditampilkan: gangguan pencernaan (35,3%). Jingga: dua tandapaling jarang dikenali
Sumber: Ahmed M. Eid dan rekan, Awareness level of cancer risk factors and warning signs among adults in Mansoura District, Egypt, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gambaran berubah ketika Kamal dan timnya beralih ke sembilan tanda peringatan kanker. Tanda yang paling dikenal adalah penebalan atau benjolan di payudara atau organ lain, yang dijawab benar oleh 284 peserta atau 71,2 persen. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas menempati urutan kedua dengan 58,9 persen, atau sekitar enam dari sepuluh peserta.

Eid mencatat dua tanda berikutnya hanya dikenal sekitar separuh peserta: perdarahan atau keluarnya cairan yang tidak biasa (52,4 persen) serta perubahan kebiasaan buang air besar atau buang air kecil (52,1 persen). Di bawahnya, angkanya turun ke bawah 40 persen. Perubahan pada kutil atau tahi lalat dikenali 39,3 persen peserta, sulit menelan 37,8 persen, dan gangguan pencernaan 35,3 persen.

Dua tanda berada di dasar daftar Kamal. Batuk atau suara serak yang menetap dikenali 140 peserta, atau 35,1 persen. Luka yang tak kunjung sembuh hanya dikenali 133 peserta, atau 33,3 persen, sehingga menurut Eid dan rekan baru sekitar sepertiga peserta yang tahu bahwa luka semacam itu termasuk tanda peringatan kanker.

Median skor total para peserta, menurut hitungan Eid dan Kamal, adalah 28 dari 52. Menurut para penulis, pengetahuan umum peserta relatif tinggi, tetapi kesadaran tentang tanda peringatan dan faktor risiko kanker masih terbatas. “Hal ini menunjukkan bahwa meskipun peserta umumnya akrab dengan kanker, mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan spesifik yang diperlukan untuk deteksi dini dan pencegahan,” tulis Kamal dan rekan di bagian diskusi (terjemahan Cekricek.id).

Baca juga Kanker di Laos Sebagian Besar Tak Pernah Tercatat Rumah Sakit

Basma Kamel Menghitung Dua Belas Faktor Risiko

Tabel yang disusun Basma Kamel dan Eid memuat dua belas faktor risiko kanker. Merokok berada di puncak, dikenali 357 peserta atau 89,5 persen. Polusi udara menyusul dengan 75,4 persen, lalu minum alkohol dengan 71,7 persen. Faktor genetik dan keturunan dikenali 61,2 persen peserta, atau sedikit di atas enam dari sepuluh orang.

Di bagian tengah tabel Kamel, angkanya berkisar di sekitar separuh peserta. Pola makan tidak seimbang, yakni kurang sayur dan buah, dikenali 55,1 persen; kurang aktivitas fisik 54,9 persen; paparan radiasi pengion seperti dari rontgen gigi atau CT scan 49,1 persen; infeksi virus hepatitis B 47,1 persen; serta kelebihan berat badan atau obesitas 45,4 persen.

Di luar butir makanan rekayasa genetika, faktor yang paling jarang dikenali dalam catatan Kamel adalah bertambahnya usia (39,6 persen) dan paparan sinar ultraviolet dari matahari (38,8 persen). Pada butir makanan hasil rekayasa genetika, hanya 13,5 persen peserta yang menjawab benar. Eid dan rekan menjelaskan bahwa butir itu dimasukkan dalam instrumen untuk menguji anggapan keliru yang beredar luas, dan konsensus ilmiah saat ini menggolongkan keyakinan tersebut sebagai mitos, bukan faktor risiko yang sudah terbukti.

Karena itu, menurut Eid dan Kamal, rendahnya jawaban benar pada butir tersebut menunjukkan banyak peserta memegang mitos itu, bukan kekurangan dalam mengenali risiko kesehatan yang sudah terbukti. Mereka menyarankan instrumen kesadaran kanker di masa depan membedakan dengan cermat faktor risiko yang terbukti dari mitos yang beredar di tengah masyarakat.

Internet Jadi Rujukan Utama Peserta Eid

Eid dan Kamal juga bertanya dari mana para peserta mendapat informasi tentang kanker, dan satu orang boleh memilih lebih dari satu sumber. Internet dan media sosial berada di urutan teratas, dipilih 215 orang atau 53,9 persen. Teman dan kerabat dipilih 31,3 persen, program penyuluhan 28,3 persen, serta televisi atau surat kabar 25,3 persen.

Kamal dan rekan menilai temuan ini menunjukkan internet berperan penting dalam kesadaran tentang kanker. Namun, mengingat keandalan informasi daring yang beragam, mereka menulis bahwa “ada kebutuhan yang jelas untuk memperkuat komunikasi antara dokter dan pasien serta mendidik masyarakat agar mampu mengenali sumber medis yang tepercaya di internet” (terjemahan Cekricek.id).

Baca juga Kanker Mulut di Assam Surut di Kota, Diam-diam Naik di Desa

Basma Kamel Menimbang Pendidikan dan Bidang Medis

Skor tertinggi pada lulusan universitas dan pegawai medisTidak berpendidikan: Median skor total 29; SMA atau diploma: Median skor total 28; Universitas: Median skor total 34; Tidak terkait bidang medis: Median skor total 28; Mahasiswa bidang medis: Median skor total 32; Pegawai bidang medis: Median skor total 34.Skor tertinggi pada lulusan universitas danpegawai medisMedian skor pengetahuan kanker total (skala 0-52), menurutpendidikan dan keterkaitan dengan bidang medis10203040500Tidak berpendidikan29SMA atau diploma28Universitas34Tidak terkait bidang medis28Mahasiswa bidang medis32Pegawai bidang medis34Perbedaan bermakna pada kedua kelompok (p<0,001)
Sumber: Ahmed M. Eid dan rekan, Awareness level of cancer risk factors and warning signs among adults in Mansoura District, Egypt, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Analisis Kamel dan Eid menemukan dua hal yang berkaitan bermakna dengan skor pengetahuan di semua bagian, yaitu tingkat pendidikan dan keterkaitan dengan bidang medis. Untuk skor total, nilai p keduanya di bawah 0,001. Peserta lulusan universitas meraih median skor total 34, peserta berpendidikan SMA atau diploma 28, dan peserta tidak berpendidikan 29.

Pola serupa muncul pada keterkaitan dengan bidang medis. Menurut tabel Kamel, peserta yang bekerja sebagai pegawai di bidang medis atau kesehatan meraih median skor total 34, mahasiswa bidang itu 32, dan peserta tanpa keterkaitan dengan bidang medis 28. Kelompok terakhir ini adalah yang terbesar, mencakup 301 peserta atau 75,4 persen.

Pendapatan keluarga juga berkaitan dengan skor total, dengan nilai p 0,027. Median skornya 28 pada keluarga berpendapatan tidak cukup, 30 pada yang pas-pasan, dan 32 pada yang lebih dari cukup. Sebaliknya, Eid dan rekan tidak menemukan perbedaan bermakna menurut jenis kelamin maupun tempat tinggal: laki-laki 28 dan perempuan 30, peserta desa 28 dan kota 29.

Dalam diskusinya, Eid dan Kamal juga mencatat bahwa usia tidak berpengaruh bermakna pada bagian pengetahuan mana pun. Memiliki penyakit kronis pun tidak berkaitan dengan pengetahuan tentang tanda peringatan maupun faktor risiko kanker.

Baca juga Tes Feses di Rumah Pangkas Kematian Kanker Usus 43%

Eid dan Kamal Menandai Batas Temuan

Eid dan Kamal mengakui temuan mereka tidak sepenuhnya bisa digeneralisasi ke seluruh penduduk, karena penelitian dilakukan di fasilitas kesehatan, bukan di tengah masyarakat, dan pesertanya diambil dari orang yang mudah dijangkau. Peserta yang datang ke layanan kesehatan primer bisa jadi lebih sadar kesehatan atau lebih sering terpapar informasi kesehatan dibanding orang dewasa lain di Mansoura.

Dari situ Kamal dan rekan menarik peringatan bagi pembaca angka mereka. “Tingkat kesadaran yang dilaporkan di sini sebaiknya ditafsirkan sebagai perkiraan batas atas, dan kesadaran sebenarnya di tingkat populasi mungkin lebih rendah,” tulis mereka (terjemahan Cekricek.id).

Kamal dan rekan juga mencatat bahwa data berasal dari jawaban peserta sendiri, sehingga bisa terpengaruh ingatan dan keinginan memberi jawaban yang dianggap baik. Desain potong lintang membuat hubungan yang ditemukan Eid dan timnya tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Penelitian ini juga tidak menilai apakah pengetahuan itu mendorong perilaku pencegahan, seperti ikut skrining atau mengubah gaya hidup.

Dalam simpulannya, Eid, Kamal, dan rekan menyebut program penyuluhan tentang tanda peringatan, faktor risiko gaya hidup, dan strategi pencegahan sangat dibutuhkan, terutama bagi orang berpendidikan lebih rendah dan mereka yang tidak berlatar medis. Pada kuesioner yang mereka bawa ke lima fasilitas di Mansoura, luka yang tak kunjung sembuh tetap hanya ditandai sepertiga peserta.

Bagikan

Baca Juga

Tensi Tinggi Lebih Kerap pada Pelajar Mesir yang Jarang Bergerak
Air Keran Berkapur di Inggris Berkaitan dengan Kematian Kanker
Kelelahan Kerja Menimpa 84 Persen Dokter Residen di Mesir
Hampir Separuh Pengguna Vape di Negara Arab Pernah Coba Berhenti
Kasus Kanker Ovarium di Asia Bisa Tembus 265 Ribu pada 2050
Separuh Lebih Perempuan Delta Tengah Mesir Makan Kurang Beragam