- Sebanyak 240.036 kematian penyakit jantung dan pembuluh darah tercatat di Kazakhstan antara 2014 dan 2022.
- Jumlah kematian naik dari 21.937 pada 2019 menjadi 40.740 pada 2021, lalu turun menjadi 29.142 pada 2022.
- Pada 2022 rata-rata kematian bulanan 2.428, di bawah perkiraan model sebesar 2.939.
- Porsi penyakit jantung inflamasi naik dari 6,04 persen pada 2014 menjadi 14,46 persen pada 2022.
Daftar Isi
Setiap kematian di Kazakhstan meninggalkan satu baris di Sistem Layanan Kesehatan Elektronik Terpadu Nasional: nomor registrasi penduduk, jenis kelamin, tanggal lahir, tempat tinggal saat meninggal, umur, tanggal meninggal, dan penyebabnya. Penyebab itu tertaut pada akta kematian dan ditulis dengan kode Klasifikasi Penyakit Internasional revisi ke-10. Antara 2014 dan 2022, sebanyak 240.036 baris di sana menunjuk penyakit jantung dan pembuluh darah.
Baris-baris itu tidak bertambah dengan irama yang sama setiap tahun. Pada 2019 tercatat 21.937 kematian, lalu 29.441 pada 2020, dan 40.740 pada 2021. Pada 2022, tahun ketiga pandemi Covid-19, jumlahnya turun menjadi 29.142. Rata-rata kematian bulanan tahun itu 2.428, sementara model yang dilatih dengan data tahun-tahun sebelumnya memperkirakan 2.939.
Angka-angka tersebut dihimpun Ruslan Akhmedullin dan rekan dari Departemen Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Nazarbayev di Astana, bersama peneliti Departemen Akademik Klinis Kardiologi di Pusat Riset Nasional Bedah Jantung, Astana. Laporan mereka berjudul Trends in cardiovascular disease mortality in Kazakhstan and the impact of the COVID-19 pandemic: a national health data analysis dan terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Arsip Satu Juta Kematian
Sebelum dipilah, arsip yang dibuka tim Universitas Nazarbayev berisi 1.073.228 catatan pasien yang meninggal, tanpa satu pun data yang hilang. Dari arsip itu mereka mengambil kode penyakit jantung dan pembuluh darah, lalu menyusunnya menjadi deret jumlah kematian bulanan dari Januari 2014 sampai Desember 2022. Data penduduk diambil dari Biro Statistik Nasional Kazakhstan.
Kode-kode itu dikelompokkan menjadi tujuh golongan mengikuti metode Perkiraan Kesehatan Global Organisasi Kesehatan Dunia, dan orang yang meninggal dibagi ke dalam enam kelompok umur. Deret Januari 2014 sampai Desember 2021 dipakai untuk melatih model, sehingga model dapat memperkirakan pola kematian 2022 seandainya tren lama berlanjut.
Kazakhstan adalah negara terbesar di Asia Tengah dan masuk kelompok pendapatan tertinggi di kawasan berpenduduk lebih dari 70 juta jiwa itu. Para penulis menulis bahwa 2022 merupakan babak tersendiri pandemi: kekebalan penduduk meningkat, pembatasan kesehatan masyarakat makin jarang dipakai, dan fasilitas layanan kesehatan pulih. Karena itu, tahun tersebut dipilih untuk melihat apakah perubahan awal pandemi hanya sementara atau menetap.
Baca juga Kekuatan Genggaman yang Menurun dan Risiko Jantung
Pembuluh Darah Otak dan Jantung
Dari 240.036 kematian itu, penyakit serebrovaskular, yakni penyakit pembuluh darah otak, menjadi penyebab terbanyak dengan 90.938 kematian atau 37,89 persen. Di belakangnya ada penyakit jantung iskemik dengan 83.076 kematian atau 34,61 persen. Penyakit jantung inflamasi berada di urutan ketiga dengan 22.959 kematian atau 9,56 persen.
Empat golongan lain jauh lebih kecil. Penyakit sirkulasi lain mencatat 21.899 kematian (9,12 persen), penyakit sirkulasi tak jelas 13.287 (5,54 persen), penyakit jantung hipertensi 6.330 (2,64 persen), dan penyakit jantung rematik 1.547 (0,64 persen).
Kedua golongan terbesar bergerak ke arah berbeda. Angka penyakit serebrovaskular mulai turun pada 2017 dan mencapai titik terendah pada 2020, sedangkan angka penyakit jantung iskemik mulai naik pada 2019 dan meningkat bermakna pada 2020. Bila dihitung per kelompok umur, angka kematian kedua penyakit sama-sama naik pada 2019 dan memuncak pada 2021.
Pada 2021, jumlah kematian penyakit jantung iskemik mencapai 16.175, atau 39,70 persen dari kematian penyakit jantung dan pembuluh darah tahun itu. Penyakit serebrovaskular mencatat 12.786 kematian atau 31,38 persen. Pada 2022, jantung iskemik tercatat 10.298 kematian dan serebrovaskular 9.845 kematian.
Usia 60 sampai 74 Tahun
Laki-laki sedikit lebih banyak di antara yang meninggal. Selama sembilan tahun, tercatat 133.151 laki-laki atau 55,47 persen dan 106.885 perempuan atau 44,53 persen. Pada 2022, porsi laki-laki tercatat 59,27 persen, dengan 17.272 kematian, sementara perempuan 11.870 kematian.
Kelompok umur 60 sampai 74 tahun paling banyak menyumbang kematian, yakni 91.259 orang atau 38,05 persen. Berikutnya kelompok 75 sampai 90 tahun dengan 74.435 orang (31,01 persen) dan kelompok 45 sampai 59 tahun dengan 50.827 orang (21,17 persen). Kelompok termuda, di bawah 18 tahun, punya porsi terkecil, 1.628 orang atau 0,68 persen.
Di antara kedua ujung itu terdapat kelompok 18 sampai 44 tahun dengan 15.058 kematian (6,27 persen) dan kelompok 90 tahun ke atas dengan 6.829 kematian (2,84 persen). Pada 2021, kelompok 60 sampai 74 tahun sendirian mencatat 17.219 kematian, atau 42,27 persen dari kematian tahun itu.
Para penulis menilai pola umur tersebut wajar, sebab angkanya naik pada orang dewasa yang lebih tua dan lansia yang memang berisiko tinggi mengalami komplikasi jantung dan pembuluh darah. Mereka juga mencatat bahwa pola kematian yang mereka temukan sejalan dengan perkiraan Institute for Health Metrics and Evaluation serta Kementerian Kesehatan setempat.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Garis Putus-putus pada 2022
Pada grafik utama laporan itu, sebuah garis putus-putus tegak berdiri di batas akhir 2021. Di kirinya terbentang data yang dipakai melatih model, sedangkan di kanannya terletak 2022, tahun yang angkanya dibandingkan dengan perkiraan. Selisih antara angka teramati dan angka model tergambar bulan demi bulan.
Jalan menuju garis itu dimulai pada Maret 2020, ketika kasus Covid-19 pertama dipastikan di Kazakhstan, kota-kota besar ditutup, dan karantina diberlakukan di setiap wilayah. Gelombang pertama datang pada pertengahan 2020 dan gelombang kedua pada akhir tahun itu. Gelombang ketiga dan keempat menyusul pada April dan Juni 2021, membebani kapasitas rumah sakit.
Mulai 2020, jumlah kematian penyakit jantung dan pembuluh darah naik 47 persen. Pada tahun ketiga pandemi, trennya turun 17 persen, dengan interval kepercayaan 95 persen antara minus 26 dan minus 4 persen. Rata-rata 2.428 kematian sebulan pada 2022 berada di bawah perkiraan 2.939, yang rentang kepercayaannya 2.581 sampai 3.354.
Mengapa angka itu turun, data mereka tidak menjawabnya. “Meskipun kami tidak memiliki data pendukung untuk ini, kami menduga bahwa inisiatif sebelumnya, termasuk identifikasi penyakit kardiovaskular yang lebih baik, pengelolaan risiko kardiometabolik yang lebih baik, dan penggunaan terapi antidiabetes yang lebih baru dengan efek pelindung jantung, mungkin telah berkontribusi pada berkurangnya perkiraan kematian,” tulis Akhmedullin dan rekan, dalam terjemahan dari bahasa Inggris.
Mereka menegaskan tidak dapat memastikan peran faktor-faktor itu karena tidak memiliki data tingkat individu, sehingga dugaan tersebut perlu diuji dalam studi berikutnya. Mereka juga mengingatkan bahwa, meski penurunan pada tahun ketiga pandemi menggembirakan, tren nasional menunjukkan beban penyakit jantung dan pembuluh darah serta faktor risikonya terus meningkat.
Keterlambatan pencatatan kematian dinilai kecil kemungkinannya memengaruhi hasil, karena data diambil pada 2024 sementara tahun terakhir yang diperiksa adalah 2022. Namun, pergeseran cara mengode bisa ikut berperan. Porsi penyakit serebrovaskular turun dari 40,39 persen pada 2014 menjadi 33,38 persen pada 2022.
Riset sebelumnya yang dirujuk para penulis menemukan bahwa kematian yang dulu dikode sebagai stroke atau penyakit serebrovaskular makin sering dikode sebagai gangguan otak lainnya. Karena itu, penurunan kematian stroke dan penyakit jantung dan pembuluh darah sebagian bisa mencerminkan perubahan kode, bukan penurunan kematian yang sebenarnya.
Jantung yang Meradang
Satu golongan menunjukkan pola tersendiri. Porsi penyakit jantung inflamasi naik bertahap dari 6,04 persen pada 2014 menjadi 14,46 persen pada 2022, sementara jumlahnya naik dari 1.226 menjadi 4.213 kematian. Berbeda dengan golongan lain, kenaikannya terjadi baik pada jumlah mutlak maupun pada porsinya.
Menurut para penulis, hal itu berarti kenaikan tersebut tidak dapat dijelaskan oleh pergeseran porsi akibat berubahnya penyebab lain. Namun, data mereka tidak memungkinkan untuk menentukan apakah kenaikan itu perubahan epidemiologis yang nyata, masalah pengodean, perubahan praktik penerbitan akta kematian selama pandemi, atau komplikasi radang jantung yang terkait Covid-19.
Porsi golongan lain juga bergeser. Porsi penyakit sirkulasi tak jelas turun dari 9,47 persen menjadi 4,73 persen, penyakit jantung hipertensi dari 3,03 menjadi 2,73 persen, dan penyakit jantung rematik dari 0,94 menjadi 0,33 persen. Penyakit sirkulasi lain bergeser dari 9,25 menjadi 8,63 persen.
Para penulis juga menulis bahwa cukup banyak orang mungkin masih membawa berbagai gejala Covid-19 jangka menengah dan panjang yang bisa memengaruhi kesehatan mereka. Pemahaman tentang dampak efek lanjutan Covid-19 terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah dinilai masih terbatas, sehingga penyelidikan lanjutan diperlukan.
Baca juga Covid-19 Berat Bangunkan Virus Tidur, Satu Terkait Long Covid
Penjara dan Militer di Luar Catatan
Tidak semua kematian sampai ke arsip itu. Kematian yang terjadi di dalam sistem pemasyarakatan dan militer tidak tercakup dalam basis data, sehingga jumlah kematian dalam data mereka bisa sampai 8 persen lebih rendah daripada yang dicatat Biro Statistik Nasional Kazakhstan.
Di luar soal penjara dan militer, keterbatasan lain menyertai. Penyakit yang tidak terdiagnosis dan ketiadaan autopsi pada orang yang meninggal membuat data bisa kurang tepat. Para penulis juga tidak dapat memperhitungkan perbedaan akses layanan kesehatan, beban penyakit penyerta, atau perubahan sosial ekonomi dari waktu ke waktu.
Sebagian kematian akibat Covid-19 mungkin keliru tercatat sebagai penyakit jantung dan pembuluh darah, terutama pada awal pandemi ketika fasilitas layanan kesehatan terbatas. Penulis menyebut kajian mereka deskriptif dan temuannya bersifat penjajakan yang perlu dikonfirmasi. Dalam simpulannya, mereka menegaskan temuan itu tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat karena rancangannya berupa pengamatan.
Akta kematian yang membuka cerita ini kembali menjadi titik akhirnya. Para penulis menulis bahwa kajian mereka bertumpu pada akta kematian dan kode penyakit, yang bisa salah menggolongkan penyebab kematian, sehingga rancangan studi yang lebih rinci diperlukan untuk memperjelas temuan mereka.















