Mahasiswa yang Makan Lebih Banyak Madu Cenderung Tidur Lebih Baik

A A

Ilustrasi madu keemasan menetes dari sendok logam ke dalam toples kaca [Foto: Fæ/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Penelitian di empat asrama negara di Turki timur melibatkan 468 mahasiswa berusia 18 sampai 25 tahun.
  • Rerata skor tidur tercatat 44,78 pada yang tidak makan madu dan 66,17 pada kelompok 40 gram.
  • Di antara pemakan madu, kualitas tidur berhubungan negatif kuat dengan skor keluhan dengan koefisien -0,583.
  • Konsumsi madu hanya menjelaskan 6,8 persen keragaman skor aktivitas fisik dan 6,4 persen keragaman skor tidur.
Daftar Isi
  1. Kemasan Sepuluh Gram di Asrama Negara
  2. Skor Tidur Lebih Tinggi, tetapi Tidak Naik Bertangga
  3. Lebih Banyak Bergerak, Lebih Sedikit Keluhan
  4. Gerak, Tidur, dan Keluhan yang Saling Berkaitan
  5. Angka Kecil di Balik Hubungan yang Bermakna
  6. Pertanyaan yang Tersisa dari Kemasan Kecil

Madu dikenal luas sebagai pemanis alami yang dikonsumsi di banyak tempat di dunia. Sebuah penelitian di asrama mahasiswa di Turki bagian timur menyandingkan takaran madu harian anak muda dengan tiga hal, yakni seberapa banyak mereka bergerak dalam seminggu, seberapa baik mereka tidur, dan seberapa banyak keluhan kesehatan yang mereka rasakan. Hasilnya berupa hubungan, dan penulisnya menegaskan hubungan itu bukan bukti sebab-akibat.

Penelitian itu ditulis Fatih Çakar dari Sekolah Vokasi Layanan Kesehatan, Universitas Bingöl, Turki, dengan judul The association between honey consumption amount and physical activity, sleep quality, and Nottingham Health Profile in young adults, dan diterbitkan jurnal BMC Public Health pada 2026. Çakar bertolak dari pandangan bahwa madu, dengan kandungan senyawa fenolik, flavonoid, hingga turunan serotonin dan melatonin, tidak bisa dipandang semata sebagai sumber karbohidrat sederhana, sementara bukti tentang takaran madu dan perilaku sehat anak muda masih terbatas.

Kemasan Sepuluh Gram di Asrama Negara

Tempatnya bukan laboratorium, melainkan empat asrama negara milik Lembaga Kredit dan Asrama (KYK) di sebuah universitas negeri di Turki timur, yang pada Januari 2026 dihuni 2.642 mahasiswa. Dari mereka, 468 orang berusia 18 sampai 25 tahun mengisi kuesioner daring, semuanya tanpa penyakit kronis, bukan atlet aktif, dan tidak memakai rokok, alkohol, ataupun zat psikoaktif. Makanan harian mereka disiapkan penyedia jasa boga yang sama, baik di asrama maupun di kafetaria kampus.

Di asrama-asrama itulah madu tersedia bebas dalam kemasan sekali pakai berisi 10 gram, berupa madu bunga dari peternak lebah Bingöl. Justru kemasan kecil itu yang kemudian menjadi alat ukur, sebab peserta dikelompokkan menurut berapa bungkus yang biasa mereka habiskan sehari, dari tidak sama sekali hingga empat bungkus atau 40 gram, sehingga lahir lima kelompok, yakni bukan pengonsumsi madu serta kelompok 10, 20, 30, dan 40 gram sehari.

Kelompok terbesar ternyata mereka yang tidak menyentuh madu sama sekali, 246 orang atau 52,6 persen dari seluruh peserta, sedangkan empat kelompok lainnya berisi 56, 52, 66, dan 48 orang. Rerata usia di kelima kelompok berkisar 20,00 sampai 20,81 tahun tanpa perbedaan bermakna, dan sebagian besar peserta di semua kelompok memiliki indeks massa tubuh normal, sehingga menurut penulisnya kelompok-kelompok itu secara umum sebanding pada ciri dasar.

Madu Bingöl sendiri, menurut analisis terdahulu yang dirujuk paper ini, kaya senyawa bioaktif, dengan kandungan fenolik total 476,08 hingga 865,22 mg GAE per 100 gram serta flavonoid seperti katekin, kuersetin, dan krisin. Komposisi madu bunga memang berubah menurut asal tanaman, wilayah, musim, dan cara penyimpanan, tetapi madu dari kawasan itu dianggap memiliki profil khas karena keragaman flora dataran tinggi di sana.

Baca juga Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari

Skor Tidur Lebih Tinggi, tetapi Tidak Naik Bertangga

Skor tidur menurut takaran madu harianTidak makan madu 44,78; 10 g per hari 48,35; 20 g per hari 52,17; 30 g per hari 59,09; 40 g per hari 66,17.Skor tidur menurut takaran madu harianRerata skor RCSQ (kuesioner tidur Richards-Campbell),0-100, makin tinggi makin baik0255075100Tidak makan madu44,7810 g per hari48,3520 g per hari52,1730 g per hari59,0940 g per hari66,17Jumlah peserta: 246, 56, 52, 66, dan 48 orang
Sumber: Fatih Çakar, The association between honey consumption amount and physical activity, sleep quality, and Nottingham Health Profile in young adults, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Untuk tidur, kuesioner Richards-Campbell memberi skor 0 sampai 100, dan makin tinggi skornya makin baik kualitas tidurnya. Kelompok yang tidak makan madu mencatat rerata 44,78, terendah di antara kelima kelompok, lalu angkanya bergerak ke 48,35 pada kelompok 10 gram, 52,17 pada 20 gram, 59,09 pada 30 gram, dan 66,17 pada 40 gram, dengan perbedaan antarkelompok yang menurut uji statistik penelitian ini bermakna.

Namun deretan yang tampak menanjak rapi itu tidak dibaca Çakar sebagai anak tangga. Uji lanjutan mencatat perbedaan bermakna pada kelompok 40 gram dan 30 gram bila dibandingkan dengan kelompok yang tidak makan madu, dan penulisnya menegaskan bahwa pola itu tidak menunjukkan kenaikan bertahap atau hubungan dosis yang konsisten, melainkan kecenderungan tidur yang lebih baik pada asupan madu tingkat sedang hingga tinggi.

Lebih Banyak Bergerak, Lebih Sedikit Keluhan

Pola yang serupa, dengan bentuk yang berbeda, muncul pada aktivitas fisik yang diukur dalam satuan MET-menit per minggu. Kelompok yang tidak makan madu mencatat rerata 1.796,85, kelompok 10 gram 1.782,73, dan kelompok 20 gram 1.816,13, lalu angkanya mencapai 2.594,32 pada kelompok 30 gram dan 2.414,41 pada kelompok 40 gram, dua angka yang oleh penulisnya disebut jauh lebih tinggi daripada kelompok lain.

Uji lanjutan memastikan bahwa kelompok 30 gram lebih aktif secara bermakna dibanding kelompok tanpa madu, sedangkan kelompok 40 gram juga lebih tinggi meski besar dan kebermaknaan perbedaannya berubah-ubah antarperbandingan. Karena itu penulisnya menyimpulkan bahwa konsumsi madu tingkat sedang, terutama 30 gram sehari, mungkin berkaitan dengan skor aktivitas fisik yang lebih tinggi, bukan menandakan hubungan dosis yang konsisten di semua tingkat asupan.

Ukuran ketiga, Profil Kesehatan Nottingham, bekerja terbalik, karena skor 0 berarti tanpa masalah dan skor 100 berarti keluhan paling berat pada mobilitas, nyeri, reaksi emosional, energi, keterasingan sosial, dan tidur. Kelompok tanpa madu mencatat rerata 33,96, kelompok 10 gram 32,89, kelompok 20 gram 25,86, kelompok 30 gram 26,00, dan kelompok 40 gram hanya 12,34, angka yang oleh penulisnya disebut jauh lebih rendah.

Uji lanjutan menemukan bahwa kelompok 40, 30, dan 20 gram memiliki skor keluhan yang lebih rendah secara bermakna dibanding mereka yang tidak makan madu. Meski begitu, Çakar kembali mencatat bahwa polanya tidak sepenuhnya lurus di semua tingkat asupan, sehingga yang bisa dikatakan hanyalah bahwa konsumsi madu mungkin berkaitan dengan beban gejala yang lebih ringan dan kualitas hidup terkait kesehatan yang lebih baik.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Gerak, Tidur, dan Keluhan yang Saling Berkaitan

Di titik inilah penelitian ini berbelok dari sekadar membandingkan rerata, karena yang ditimbang kemudian adalah bagaimana ketiga ukuran saling berkaitan di dalam tiap kelompok. Di antara pemakan madu, aktivitas fisik berhubungan positif dengan kualitas tidur dengan koefisien 0,279, berhubungan negatif dengan skor keluhan dengan koefisien −0,265, dan kualitas tidur berhubungan negatif kuat dengan skor keluhan dengan koefisien −0,583, ketiganya bermakna.

Justru sebaliknya pada mereka yang tidak makan madu, sebab hubungan aktivitas fisik dengan tidur bernilai negatif dan tidak bermakna, −0,038, hubungan aktivitas fisik dengan keluhan bernilai positif dan juga tidak bermakna, 0,024, dan hanya tidur yang tetap berkaitan bermakna dengan keluhan, dengan koefisien −0,295. Penulisnya menyebut perbedaan pola antarkelompok itu sebagai ciri khas penelitiannya, sembari mencatat bahwa koefisiennya umumnya berada di rentang lemah hingga sedang.

Hubungan gerak, tidur, dan keluhanIPAQ dan RCSQ: Konsumen madu 0,279, Bukan konsumen madu -0,038; IPAQ dan NHP: Konsumen madu -0,265, Bukan konsumen madu 0,024; RCSQ dan NHP: Konsumen madu -0,583, Bukan konsumen madu -0,295.Hubungan gerak, tidur, dan keluhanKoefisien korelasi Pearson; IPAQ aktivitas fisik, RCSQ tidur,NHP keluhan kesehatanKonsumen maduBukan konsumen madu-0,6-0,4-0,20,20,40IPAQ dan RCSQ0,279-0,038IPAQ dan NHP-0,2650,024RCSQ dan NHP-0,583-0,295Bermakna (p<0,01): ketiganya pada konsumen madu, RCSQ dan NHPpada bukan konsumen
Sumber: Fatih Çakar, The association between honey consumption amount and physical activity, sleep quality, and Nottingham Health Profile in young adults, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Penulisnya berhati-hati membaca pola itu. Çakar menimbang kemungkinan adanya profil “pengguna sehat”, yakni orang yang makan madu barangkali juga lebih rajin menjalankan kebiasaan sehat lainnya, lalu menulis dalam simpulannya, sebagaimana diterjemahkan, bahwa “konsumsi madu mungkin tidak bertindak sebagai penentu tunggal, melainkan sebagai komponen terkait gaya hidup yang muncul bersama perilaku lain yang mendukung kesehatan.”

Ia juga mengakui bahwa penelitian ini tidak menjalankan analisis interaksi atau moderasi, sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa madu berperan mengubah hubungan antara aktivitas fisik, tidur, dan kualitas hidup. Pola makan secara keseluruhan, selera makanan, dan makanan yang dikonsumsi di luar asrama serta kafetaria pun tidak diukur, padahal kebiasaan makan termasuk penentu penting bagi ketiga ukuran kesehatan itu.

Angka Kecil di Balik Hubungan yang Bermakna

Analisis regresi memperlihatkan sisi lain dari temuan yang sama, sisi yang lebih bersahaja. Tingkat konsumsi madu memang berkaitan bermakna dengan ketiga ukuran, tetapi hanya menjelaskan 6,8 persen keragaman skor aktivitas fisik, 6,4 persen keragaman skor tidur, dan 8,2 persen keragaman skor keluhan, porsi yang oleh penulisnya disebut sederhana dan sejalan dengan sifat ketiga ukuran itu yang dipengaruhi banyak faktor.

Setelah usia, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh ikut diperhitungkan, madu tetap bertahan sebagai prediktor yang bermakna bagi ketiganya, dengan koefisien terstandar 0,23 untuk aktivitas fisik, 0,32 untuk tidur, dan −0,25 untuk keluhan. Namun Çakar mengingatkan bahwa konsistensi lintas analisis itu tidak boleh dibaca sebagai bukti sebab-akibat atau daya jelas yang kuat, melainkan tanda bahwa madu mungkin hanya salah satu dari sekian faktor gaya hidup.

Ada pula soal gula yang tidak ingin ia lewatkan. Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan madu ke dalam definisi gula bebas, sehingga menurut Çakar takarannya perlu dipertimbangkan, dan ia menulis, dalam terjemahan, bahwa “temuan penelitian ini tidak boleh ditafsirkan sebagai dukungan untuk meningkatkan konsumsi madu atau mengonsumsinya dalam kadar tinggi.” Konsumsi madu, tulisnya, sebaiknya dipertimbangkan secara moderat sesuai kebutuhan gizi masing-masing dan pola makan secara keseluruhan.

Baca juga Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas

Pertanyaan yang Tersisa dari Kemasan Kecil

Penulisnya menyebut sederet keterbatasan dengan terang. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, jumlah madu hanya dilaporkan sendiri oleh peserta sehingga rawan bias ingatan dan salah kelompok, sementara konsumsi kafein, pola makan rinci, dan faktor gaya hidup lain tidak diukur. Madu yang dibagikan gratis di asrama juga mungkin tidak mencerminkan kebiasaan masyarakat umum, dan pesertanya terbatas pada dewasa muda sehat penghuni asrama negara.

Karena rancangannya potong lintang, Çakar menegaskan bahwa temuan dari 468 mahasiswa ini harus dibaca sebagai hubungan, bukan sebab-akibat. Untuk memperjelas sifat dan arah hubungan antara konsumsi madu, aktivitas fisik, tidur, dan kualitas hidup, ia menyarankan penelitian lanjutan dengan rancangan longitudinal atau eksperimental pada populasi yang lebih beragam.

Bagikan

Baca Juga

Pasien Demam Berdarah Bangladesh Kian Banyak di Luar Dhaka
Promosi Rokok Menumpuk di Instagram, Paling Disambut di TikTok
Tensi Tinggi Lebih Kerap pada Pelajar Mesir yang Jarang Bergerak
Kematian Terkait Polusi di Khorramabad Turun Lebih dari Separuh
Kue Ikan Gabus Apel Bantu Kendalikan Gula Darah Pasien Diabetes
Guru Besar UNAIR Desak UU PMI Atur Kesehatan Saat Kepulangan