- Stres keuangan berkaitan kuat dengan kesehatan jiwa yang lebih buruk, dengan koefisien beta 0,668.
- Setelah stres keuangan dan faktor lain diperhitungkan, pendapatan tidak menjelaskan perbedaan kesehatan jiwa.
- Dukungan sosial memoderasi hubungan stres keuangan dan kesehatan jiwa, tetapi pengaruhnya tidak bermakna secara statistik.
- Mahasiswa yang mencari bantuan lebih memilih pasangan, orang tua, dan tenaga profesional kesehatan jiwa daripada dosen.
Daftar Isi
Selama empat minggu, tautan kuesioner beredar di grup WhatsApp kelas pascasarjana University of Ghana. Ketika tautan itu ditutup, 261 mahasiswa bisnis telah mengisinya. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja, dan lebih dari separuhnya punya anak. Jawaban mereka bercerita tentang tekanan keuangan dan kesehatan jiwa.
Hasilnya dilaporkan Godfred Mathew Yaw Owusu dari University of Ghana Business School dan rekan dari University of Ghana. Laporan mereka berjudul Financial Stress, Mental Health and Help-seeking among Postgraduate Business Students in Ghana: The Moderating Role of Social Support. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026.
Temuan utamanya singkat. Mahasiswa yang lebih tertekan soal keuangan cenderung punya kesehatan jiwa lebih buruk, sementara pendapatan bulanan tidak menjelaskan perbedaan kesehatan jiwa mereka. Dukungan dari keluarga, teman, dan orang terdekat pun tidak cukup kuat untuk meredam hubungan itu secara bermakna. Lelaki dan mahasiswa yang lebih tua tampak lebih rentan, sedangkan sikap terhadap mencari pengobatan tidak menjelaskan kesehatan jiwa mereka.
Sebelum Kuliah Dimulai
Persoalannya sudah ada sebelum mahasiswa duduk di kelas. Di Ghana, Students Loan Trust Fund hanya membiayai mahasiswa sarjana. Mahasiswa pascasarjana harus mengandalkan uang sendiri atau pinjaman komersial. Para peneliti menyebut biaya pendidikan pascasarjana terus naik di banyak negara. Pada saat yang sama, dukungan pemerintah menyusut, dan banyak sistem beralih dari hibah ke pinjaman. Mahasiswa dari negara berkembang, tulis mereka, menghadapi tantangan lebih berat karena pilihan pendanaannya terbatas.
Kajian tentang stres keuangan dan kesehatan jiwa mahasiswa selama ini lebih banyak dari negara maju. Penelitian serupa pada mahasiswa Afrika, menurut tim, masih jarang. Tim lalu meneliti mahasiswa pascasarjana bisnis di sebuah universitas negeri besar di Ghana.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Saat Kuesioner Terkumpul
Dari 261 responden, 251 orang mahasiswa magister dan 10 orang mahasiswa doktoral. Tim semula mengharapkan 300 kuesioner kembali, sehingga tingkat pengembaliannya 87 persen. Rata-rata pendapatan bulanan responden tercatat GH₵7.123.
Perempuan berjumlah 149 orang atau 57,1 persen, sedangkan lelaki 112 orang atau 42,9 persen. Kelompok usia terbesar adalah 31 sampai 39 tahun dengan 42,9 persen. Sebanyak 27,2 persen berusia 25 sampai 30 tahun, 23 persen di atas 40 tahun, dan hanya 6,9 persen di bawah 25 tahun.
Sebanyak 88,9 persen responden bekerja. Sebanyak 56,3 persen sudah punya anak, dan 47,9 persen menikah. Mayoritas beragama Kristen dengan 90,8 persen, disusul Muslim 7,7 persen. Pendapatan bulanannya beragam. Sebanyak 37,5 persen berpenghasilan GH₵2.500 sampai 5.000, dan 30,6 persen di atas GH₵10.000. Kelompok GH₵5.001 sampai 10.000 mencakup 23,8 persen, sedangkan 8 persen berpenghasilan di bawah GH₵2.500.
Tim membaca profil ini sebagai kelompok yang aktif secara keuangan dan memikul banyak tanggung jawab. Menurut mereka, para responden kemungkinan menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan kuliah sekaligus. Kondisi semacam itu, tulis tim, dapat memperberat stres keuangan dan kerentanan kesehatan jiwa.
Di Tengah Masa Studi
Rata-rata skor stres keuangan responden 3,37. Tim menggolongkannya sebagai stres sedang, dengan ketegangan emosional yang menonjol berupa rasa cemas dan letih. Skor kesehatan jiwa rata-rata 3,15, yang dibaca sebagai tekanan psikologis sedang.
Keluhan yang paling terlihat pada kesehatan jiwa adalah masalah tidur dan ketegangan yang terus-menerus. Diskusi naskah menambahkan bahwa responden merasa sangat cemas dan terkuras secara emosional bila memikirkan keadaan keuangan mereka.
Sikap terhadap pertolongan cenderung positif. Skor keterbukaan mencari pengobatan rata-rata 3,81, sementara nilai pengobatan sendiri hanya 2,74. Menurut tim, angka itu menunjukkan mahasiswa lebih memilih dukungan dari luar daripada mengatasi masalahnya sendiri. Skor dukungan sosial yang dirasakan paling tinggi, yaitu 4,82. Tim menyebutnya tanda jaringan dukungan yang kuat. Mereka juga mencatat bahwa dukungan itu tidak serta-merta mengurangi dampak stres.
Ketika Tekanan Berlanjut
Hubungan yang kuat muncul antara stres keuangan dan kesehatan jiwa, dengan koefisien beta 0,668. Menurut tim, mahasiswa yang tertekan secara keuangan mengalami kesehatan jiwa lebih buruk. Model tim menjelaskan sekitar 51 persen variasi kesehatan jiwa responden.
Pendapatan bulanan ikut dimasukkan sebagai variabel kontrol untuk memperhitungkan pengaruhnya. Setelah stres keuangan dan faktor lain diperhitungkan, pendapatan tidak menjelaskan perbedaan kesehatan jiwa. Menurut tim, kesehatan jiwa mungkin lebih dipengaruhi cara mahasiswa menilai beban keuangannya daripada besarnya penghasilan.
Tim menambahkan konteks Ghana. Tuntutan keluarga dan ketidakpastian ekonomi dapat membuat penghasilan bulanan justru terasa menekan, karena penerimanya memikirkan cara membaginya. Mereka juga menduga ketergantungan pada dana pribadi atau pinjaman berbunga tinggi menimbulkan stres kronis selama masa studi yang panjang.
Dua faktor lain ikut bermakna. Jenis kelamin, dengan kode lelaki nol dan perempuan satu, punya koefisien minus 0,340, sehingga lelaki tampak lebih rentan. Usia punya koefisien minus 0,146, dan tim menulis bahwa mahasiswa yang lebih tua menghadapi tantangan lebih besar.
Untuk lelaki, tim merujuk penelitian tentang keengganan mencari bantuan karena norma maskulin yang menekankan kemandirian dan menahan emosi. Untuk mahasiswa yang lebih tua, mereka menduga tekanan yang menumpuk. Mahasiswa senior sering memikul pekerjaan, keluarga, dan kuliah sekaligus.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Pertolongan yang Belum Sampai
Sikap terhadap mencari pengobatan tidak memprediksi kesehatan jiwa. Keterbukaan mencari pengobatan dan nilai pengobatan sendiri sama-sama tidak bermakna. Menurut tim, di Ghana sikap positif belum tentu berujung pada tindakan, karena ada stigma dan akses layanan yang terbatas.
Mahasiswa yang mencari bantuan lebih memilih pasangan, orang tua, dan tenaga profesional kesehatan jiwa daripada dosen. Tim membaca pola ini sebagai tanda bahwa dukungan lewat fakultas mungkin kurang dimanfaatkan atau dianggap tidak tersedia. Menurut mereka, temuan ini penting bagi cara kampus menyusun dukungan untuk mahasiswa yang bermasalah dengan kesehatan jiwa.
Dukungan sosial memang memoderasi hubungan stres keuangan dan kesehatan jiwa, tetapi pengaruhnya tidak bermakna secara statistik. Koefisien interaksinya minus 0,083. Arah hubungan berubah dari positif menjadi negatif pada tingkat dukungan tinggi, tetapi perubahan itu pun tidak bermakna.
Tim menawarkan tiga tafsir. Pertama, stres keuangan mungkin terlalu berat untuk diredam dukungan sekuat apa pun. Kedua, dukungan yang diukur bersifat emosional dan informasi, sedangkan stres keuangan butuh bantuan nyata berupa uang. Teman dan keluarga bisa memberi semangat, tetapi belum tentu punya dana untuk membantu biaya kuliah.
“Dukungan sosial mungkin memberi penghiburan emosional, tetapi tidak dapat secara langsung menyelesaikan masalah keuangan yang mendasarinya,” tulis Owusu dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Tafsir ketiga menyangkut budaya, yakni rasa malu, gengsi, atau keinginan untuk tidak membebani orang lain.
Sesudah Penelitian
Saran pertama tim menyasar sumber masalahnya. Mereka mengusulkan hibah, beasiswa, pinjaman bersubsidi, atau skema cicilan berdasarkan pendapatan bagi mahasiswa pascasarjana. Pembuat kebijakan di Ghana juga diminta memperluas Students Loan Trust Fund ke jenjang pascasarjana atau membuat skema khusus.
Kampus diminta memperkuat layanan kesehatan jiwa agar lebih mudah dijangkau dan dikenal, terutama oleh mahasiswa lelaki. Kampanye antistigma, program literasi kesehatan jiwa, dan konseling rahasia disebut dapat mendorong mahasiswa mencari bantuan. Untuk mahasiswa lelaki, tim mengusulkan psikoedukasi bahwa mencari bantuan adalah kekuatan, bukan kelemahan, serta layanan yang ramah lelaki.
Tim juga menyarankan kelompok dukungan sebaya, program literasi keuangan, dan lokakarya pengelolaan stres. Kampus bisa menyiapkan dana darurat atau kerja paruh waktu yang tidak mengganggu kuliah. Keterlibatan dosen dalam menjaga kesehatan jiwa mahasiswa pun perlu ditambah.
“Melindungi kesehatan jiwa mahasiswa pascasarjana bukan sekadar urusan kesejahteraan pribadi, melainkan investasi nasional yang strategis,” tulis tim dalam simpulan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka menekankan bahwa layanan kesehatan jiwa saja tidak cukup tanpa menyentuh akar persoalan keuangan.
Dari sisi teori, tim menyimpulkan bahwa dukungan sosial memang meningkatkan kesejahteraan, tetapi tidak selalu menjadi penyangga bagi tekanan yang berakar struktural seperti kesulitan keuangan. Tidak semua sumber daya untuk mengatasi stres sama efektifnya, tulis mereka, terutama bila pemicunya bersifat materi, bukan emosional.
Baca juga Lansia Ghana yang Terjerat Biaya Berobat Lebih Kerap Kurang Makan
Tim mengakui sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, dan sampel dari satu institusi membatasi penerapan hasil ke tempat lain. Jawaban yang dilaporkan sendiri juga bisa bias. Faktor budaya yang membentuk pengalaman stres keuangan, pandangan tentang kesehatan jiwa, dan kebiasaan mencari bantuan menurut tim perlu digali lebih dalam lewat penelitian kualitatif.
Untuk penelitian berikutnya, tim menyarankan pengamatan jangka panjang serta gabungan survei dan wawancara mendalam. Dalam survei empat minggu itu, stres keuangan berkaitan kuat dengan kesehatan jiwa 261 mahasiswa pascasarjana bisnis di University of Ghana, sementara dukungan orang dekat tidak meredam kaitan itu secara bermakna.















