Pekerja Rentan Swedia Lebih Berisiko Gangguan Jiwa, Terutama Ibu

A A

Ilustrasi tiga pekerja melangkah di lorong gudang di antara rak penuh kardus [Foto: Pexels]

  • Pada 2016, sebanyak 8 persen peserta dari 2.509.229 pekerja Swedia tergolong dalam pekerjaan rentan.
  • Sebanyak 69 persen pekerja rentan berada di kuartil pendapatan rumah tangga terendah, dibanding 13 persen pekerja standar.
  • Rasio hazard gangguan jiwa pekerjaan rentan mencapai 1,21 dibanding pekerjaan standar.
  • Pada perempuan, interaksi pekerjaan rentan dengan orang tua tunggal tercatat 1,27.
Daftar Isi
  1. 2005 dan 2016: Siapa yang Masuk Hitungan
  2. Potret Pekerja Tahun 2016
  3. Tiga Tahun Pemantauan, 2017 sampai 2019
  4. Tahun yang Sama, Rumah Tangga Berpendapatan Tinggi
  5. Tahun yang Sama, Para Ibu dan Para Ayah
  6. Sesudah 2019: Yang Belum Tertangkap Register

Pada 31 Desember 2019, pemantauan terhadap 2.509.229 pekerja di Swedia ditutup. Selama tiga tahun, register nasional mencatat siapa di antara mereka yang pertama kali didiagnosis gangguan jiwa. Hasilnya memperlihatkan satu pola. Pekerja dalam pekerjaan rentan lebih berisiko daripada pekerja dalam pekerjaan standar.

Catatan itu disusun Signild Kvart dan rekan dari Unit Kedokteran Okupasi, Institut Kedokteran Lingkungan, Karolinska Institutet, Stockholm. Laporan mereka berjudul Precarious employment and mental health: the moderating role of household income and family type in Sweden. Naskahnya terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Pertanyaan tim tidak berhenti pada jenis pekerjaan. Mereka ingin tahu apakah pendapatan rumah tangga dan susunan keluarga mengubah kaitan antara pekerjaan rentan dan gangguan jiwa. Perbedaan antara perempuan dan laki-laki ikut diperiksa.

2005 dan 2016: Siapa yang Masuk Hitungan

Kisahnya bermula pada 2005. Tahun itu, kohort SWIP mencakup semua orang berusia 16 sampai 64 tahun yang terdaftar di Swedia. Jumlahnya sekitar 5,4 juta orang. Data mereka berasal dari banyak register nasional yang saling ditautkan.

Sebelas tahun kemudian, tim memilih mereka yang bekerja pada 2016 dan berusia 27 sampai 65 tahun. Orang yang sudah didiagnosis gangguan jiwa pada 2015 atau 2016 dikeluarkan. Begitu pula 57.076 orang yang pada 2016 tercatat di alamat orang tuanya.

Pekerjaan tiap orang dinilai dengan ukuran register bernama SWE-ROPE 2.0. Ukuran itu menangkap tiga dimensi: ketidakamanan kerja, pendapatan yang tidak memadai, serta ketiadaan hak dan perlindungan. Hasilnya tiga kategori, yakni pekerjaan rentan, pekerjaan substandar, dan pekerjaan standar.

Potret Pekerja Tahun 2016

Pada 2016, sebanyak 8 persen peserta tergolong dalam pekerjaan rentan. Pekerjaan substandar mencakup 30 persen dan pekerjaan standar 62 persen. Perempuan mengisi 51 persen kelompok rentan, 58 persen kelompok substandar, dan 43 persen kelompok standar.

Pekerja rentan lebih muda, pendapatan rumah tangganya lebih rendahLahir di luar Swedia: Pekerjaan rentan 20%, Pekerjaan standar 10%; Hanya pendidikan dasar: Pekerjaan rentan 15%, Pekerjaan standar 6%; Usia 27-35 tahun: Pekerjaan rentan 37%, Pekerjaan standar 16%; Kuartil pendapatan terendah: Pekerjaan rentan 69%, Pekerjaan standar 13%; Gangguan jiwa 2017-2019: Pekerjaan rentan 8%, Pekerjaan standar 5%.Pekerja rentan lebih muda, pendapatan rumahtangganya lebih rendahPersen per kelompok pekerjaan, Swedia (n = 2.509.229)Pekerjaan rentanPekerjaan standar0%20%40%60%80%20%10%Lahir diluarSwedia15%6%Hanyapendidikandasar37%16%Usia27-35tahun69%13%Kuartilpendapatanterendah8%5%Gangguanjiwa2017-2019Data 2016; gangguan jiwa = diagnosis pertama 2017-2019. Kuartilpendapatan = pendapatan disposabel rumah tangga
Sumber: Signild Kvart dan rekan, Precarious employment and mental health: the moderating role of household income and family type in Sweden, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kelompok rentan berbeda tajam dari kelompok standar. Sebanyak 20 persen pekerja rentan lahir di luar Swedia, dibanding 10 persen pekerja standar. Yang hanya berpendidikan dasar 15 persen, dibanding 6 persen. Median usia mereka 41 tahun, sedangkan pekerja standar 47 tahun.

Usia 27 sampai 35 tahun mencakup 37 persen pekerja rentan. Pada pekerja standar, kelompok usia itu hanya 16 persen. Perbedaan juga tampak pada pendapatan. Sebanyak 69 persen pekerja rentan berada di kuartil pendapatan rumah tangga terendah, dibanding 13 persen pekerja standar.

Susunan keluarga juga berbeda. Pada 2016, 41 persen pekerja rentan hidup lajang dan 40 persen tinggal sebagai pasangan dengan anak. Pada pekerja standar, pasangan dengan anak mencakup 50 persen dan lajang 27 persen. Orang tua tunggal berjumlah 9 persen di kelompok rentan dan 7 persen di kelompok standar.

Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur

Tiga Tahun Pemantauan, 2017 sampai 2019

Pemantauan dimulai 1 Januari 2017. Setiap orang diikuti sampai diagnosis pertama, pindah ke luar negeri, meninggal, atau akhir 2019. Diagnosis diambil dari register rawat inap, rawat jalan spesialis, dan register resep obat nasional.

Yang dihitung sebagai gangguan jiwa antara lain depresi, kecemasan, gangguan reaksi stres, gangguan makan, dan gangguan penggunaan zat. Resep obat antidepresan atau obat antiansietas juga dihitung. Diagnosis utama maupun diagnosis penyerta sama-sama dimasukkan.

Sampai akhir 2019, sebanyak 14.233 pekerja rentan tercatat mengalami gangguan jiwa untuk pertama kali. Jumlah itu setara 8 persen kelompoknya. Pada pekerja standar, angkanya 83.042 orang atau 5 persen. Kelompok substandar juga mencatat 8 persen.

Setelah usia, negara kelahiran, pendidikan, dan jenis kelamin diperhitungkan, rasio hazard pekerjaan rentan mencapai 1,21 dibanding pekerjaan standar. Pada laki-laki angkanya 1,20. Pada perempuan angkanya 1,19. Ketiganya menunjukkan risiko diagnosis gangguan jiwa yang lebih tinggi.

Pekerjaan substandar mencatat rasio hazard yang sama, 1,21, untuk seluruh peserta. Pada model yang sama, perempuan memiliki rasio hazard 1,72 dibanding laki-laki. Pendapatan rumah tangga lebih tinggi, pendidikan lebih tinggi, usia lebih tua, dan lahir di Swedia berkaitan dengan risiko lebih rendah.

Rasio hazard kuartil pendapatan tertinggi tercatat 0,78 dibanding kuartil terendah. Pasangan dengan anak mencatat 0,93 dibanding pasangan tanpa anak. Lajang mencatat 1,14 dan orang tua tunggal 1,29. Menurut tim, seluruh perbedaan itu bermakna secara statistik.

Tahun yang Sama, Rumah Tangga Berpendapatan Tinggi

Tahap berikutnya menguji interaksi. Tim memasukkan dua suku interaksi sekaligus, yakni jenis pekerjaan dengan pendapatan rumah tangga dan jenis pekerjaan dengan tipe keluarga. Kelompok acuannya pekerja standar di kuartil pendapatan terendah dan pekerja standar yang hidup sebagai pasangan tanpa anak.

Pendapatan tinggi pada umumnya berkaitan dengan risiko lebih rendah. Namun, rasio hazard interaksi antara pekerjaan rentan dan kuartil pendapatan tertinggi bernilai 1,22. Pada laki-laki angkanya juga 1,22, pada perempuan 1,25. Menurut tim, efek pelindung pendapatan tinggi berkurang bagi pekerja rentan.

Tim mencatat korelasi yang rendah antara pendapatan individu dan pendapatan rumah tangga. Artinya, pekerja rentan bisa saja tinggal di rumah tangga berpendapatan tinggi. Risiko gangguan jiwa mereka tetap lebih tinggi berapa pun pendapatan rumah tangganya, terutama pada perempuan.

Penjelasan tim mengarah ke dimensi lain dari kerentanan kerja. Di rumah tangga berpendapatan rendah, jalur kebendaan mungkin menjelaskan bagian yang lebih besar. Di rumah tangga berpendapatan tinggi, ketidakamanan kerja dan ketiadaan hak mungkin lebih berperan. Analisis ulang dengan ukuran kerentanan tanpa komponen pendapatan memberi hasil serupa.

Baca juga Kerja Rumah Tak Dibayar di Swedia: Jarak Menyempit, Pria Diam

Tahun yang Sama, Para Ibu dan Para Ayah

Pada semua tipe keluarga, pekerjaan rentan tetap disertai risiko lebih tinggi dibanding pekerjaan standar. Interaksi antara pekerjaan rentan dan pasangan dengan anak tercatat 1,21 untuk seluruh peserta. Di semua jenis pekerjaan, orang tua tunggal mencatat risiko tertinggi.

Di bagian ini, hasil perempuan dan laki-laki berbeda. Pada perempuan dalam pekerjaan rentan, semua tipe keluarga selain pasangan tanpa anak menunjukkan interaksi bermakna. Pada laki-laki, tidak satu pun interaksi menurut tipe keluarga bermakna secara statistik.

Pada perempuan, interaksi terbesar ada pada orang tua tunggalRentan x kuartil 2 1,08; Rentan x kuartil 3 1,11; Rentan x kuartil 4 (tertinggi) 1,25; Rentan x lajang 1,12; Rentan x pasangan beranak 1,23; Rentan x orang tua tunggal 1,27.Pada perempuan, interaksi terbesar ada padaorang tua tunggalRasio hazard suku interaksi pekerjaan rentan denganpendapatan rumah tangga dan tipe keluarga, perempuan1,01,11,21,3Rentan x kuartil 21,08Rentan x kuartil 31,11Rentan x kuartil 4 (tertinggi)1,25Rentan x lajang1,12Rentan x pasangan beranak1,23Rentan x orang tua tunggal1,27Acuan = 1: pekerjaan standar dengan kuartil terendah, dan pekerjaanstandar pasangan tanpa anak
Sumber: Signild Kvart dan rekan, Precarious employment and mental health: the moderating role of household income and family type in Sweden, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Angka pada perempuan tersusun naik. Interaksi dengan status lajang 1,12, dengan pasangan beranak 1,23, dan dengan orang tua tunggal 1,27. Angka terakhir itu suku interaksi terbesar yang dicatat tim untuk tipe keluarga. Menurut tim, efek gabungan pekerjaan rentan dan menjadi ibu tunggal melampaui jumlah efek masing-masing.

Pada laki-laki, risiko tertinggi ada pada ayah tunggal. Namun, interaksinya dengan pekerjaan rentan tidak bermakna. Tim membacanya begini: menjadi ayah tunggal menambah beban secara umum, tetapi beban itu tidak lebih besar bagi ayah tunggal dalam pekerjaan rentan dibanding ayah tunggal dalam pekerjaan standar.

Kvart dan rekan merangkum temuan itu dalam simpulan. “Pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi tidak sepenuhnya meredam dampak negatif pekerjaan rentan terhadap gangguan jiwa terdiagnosis, dan dampak negatif pekerjaan rentan tampak lebih kuat pada perempuan, terutama para ibu,” tulis mereka (terjemahan).

Tim mengaitkan pola itu dengan norma gender. Swedia dikenal dengan norma dua pencari nafkah dan tingkat kesetaraan gender yang tinggi. Menurut tim, beban pengasuhan yang masih timpang, dukungan sosial yang terbatas, dan norma gender di pasar kerja mungkin ikut memperberat beban kerja rentan bagi perempuan, terutama ibu tunggal.

Baca juga Pekerja Lepas China Utamakan Iuran Saat Menimbang Asuransi

Sesudah 2019: Yang Belum Tertangkap Register

Tim mencatat sejumlah keterbatasan. Register kesehatan mungkin kurang mencatat kasus ringan atau sedang yang tidak sampai ke layanan spesialis atau resep obat. Akibatnya, ukuran hasil penelitian ini bisa meremehkan prevalensi gangguan jiwa yang sebenarnya.

Penganggur juga dikeluarkan dari sampel. Karena pekerjaan rentan bisa menambah risiko kehilangan kerja, beban kesehatan totalnya mungkin lebih besar dari perkiraan. Register Swedia pun tidak memuat data konflik kerja dan keluarga maupun pembagian kerja di rumah. Pasangan yang tinggal bersama tanpa menikah dan tanpa anak tidak bisa dikenali dari register. Data jenis kelamin hanya sebatas jenis kelamin saat lahir. Interaksi pun hanya diuji pada skala multiplikatif.

Temuan ini paling langsung berlaku bagi negara yang rezim kesejahteraan, norma dua pencari nafkah, dan tingkat kesetaraan gendernya mirip Swedia. Menurut tim, polanya bisa berbeda di negara dengan perlindungan sosial lebih lemah atau norma gender yang lebih tradisional.

Tim juga menulis saran kebijakan. “Menjamin pendapatan yang cukup lewat upah dan tunjangan yang adil itu sangat penting, tetapi tidak cukup,” tulis mereka (terjemahan). Menurut tim, kebijakan perlu menyasar ketidakamanan kerja dan jadwal, terutama bagi perempuan dan ibu tunggal, disertai penitipan anak yang mudah dijangkau.

Data penelitian ini berhenti pada 31 Desember 2019. Dalam simpulannya, Kvart dan rekan menyebut pekerjaan rentan sebagai faktor risiko struktural bagi kesehatan jiwa. Menurut mereka, risiko itu tidak bisa sepenuhnya diimbangi oleh sumber daya rumah tangga maupun sistem dukungan sosial.

Bagikan

Baca Juga

Obesitas Pekerja Perempuan Bangladesh Terkait Lama Duduk Kerja
Sepertiga Pelajar di Ibu Kota Kamerun Keliru Menilai Berat Badan
Debu Kasar dan Ozon Terkait Cemas dan Depresi Remaja Sichuan
Lebih dari 40 Persen Dokter Gigi Kuwait Pernah Cuti Sakit Otot
Pekerja Tambang Chile yang Didiskriminasi Lebih Banyak Depresi
Lemak Berlebih Mahasiswa Palestina Tak Selalu Tampak di Timbangan