- Porsi orang dewasa Korea dengan episode depresi 2,5 persen pada 2019, 2,7 persen selama pandemi, dan 3,1 persen sesudahnya.
- Dibanding 2019, odds episode depresi 1,23 kali selama pandemi dan 1,41 kali sesudah pandemi.
- Kaitan masa pandemi dan episode depresi paling jelas pada kelompok usia 20 sampai 39 tahun.
- Penelitian potong lintang ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat.
Daftar Isi
Pemerintah Korea Selatan menyatakan pandemi COVID-19 berakhir pada 11 Mei 2023, sementara survei kesehatan warganya pada 2023 dan 2024 justru mencatat porsi orang dewasa dengan episode depresi yang lebih besar ketimbang tahun ketika virus itu belum dikenal. Kedua catatan itu dijajarkan dalam sebuah penelitian tentang episode depresi pada orang dewasa Korea Selatan.
Penelitian itu ditulis Wonseok Jeong dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional Seoul, dan Wonjeong Jeong dari Pusat Pengetahuan dan Informasi Kanker, Institut Nasional Pengendalian Kanker, Pusat Kanker Nasional Korea di Goyang. Judulnya Trends in depressive episodes in pre-, intra-, and post-COVID-19 pandemic periods among South Korean adults, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Keduanya membandingkan tiga masa sekaligus, yakni sebelum, selama, dan sesudah pandemi, pada warga dewasa yang diwawancarai lewat survei kesehatan nasional. Hipotesis mereka: orang yang disurvei selama dan sesudah pandemi lebih mungkin mengalami episode depresi dibanding orang yang disurvei sebelum wabah datang. Mereka juga memilah peserta ke dalam tiga kelompok usia, yaitu dewasa muda, usia kerja paruh baya, dan lansia, untuk melihat apakah kaitan itu berbeda menurut usia.
Masa Sebelum dan Masa Sesudah
Bahannya berasal dari Korean Community Health Survey gelombang 2019 sampai 2024, survei tahunan yang mewawancarai langsung orang dewasa berusia 19 tahun ke atas di 255 distrik administratif. Setelah peserta dengan jawaban tidak lengkap disisihkan, tersisa 1.376.438 orang. Survei ini dimulai pada 2008 oleh Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea dan memakai penarikan sampel bertingkat dua tahap agar mewakili penduduk nasional.
Batas antarmasa ditarik dari dua tanggal resmi. Kasus pertama COVID-19 di Korea Selatan dilaporkan pada 19 Februari 2020, dan pemerintah menyatakan pandemi usai pada 11 Mei 2023, sehingga 2019 menjadi masa sebelum, 2020 sampai 2022 masa selama, dan 2023 sampai 2024 masa sesudah pandemi.
Pembagian itu, tulis para penulis, mencerminkan perubahan suasana sosial dan kebijakan, bukan hilangnya penularan sama sekali. Episode depresi diukur dengan kuesioner PHQ-9 yang berisi sembilan pertanyaan, masing-masing bernilai 0 sampai 3, dan peserta dengan skor total di atas 10 digolongkan sedang mengalami episode depresi. Skor yang lebih tinggi menandakan gejala yang lebih berat.
Pada masa sebelum pandemi, 5.778 dari 227.107 peserta, atau 2,5 persen, tercatat mengalami episode depresi. Pada masa selama pandemi porsinya 2,7 persen, yaitu 18.295 dari 687.112 orang, sedangkan pada masa sesudah pandemi porsinya 3,1 persen, atau 14.552 dari 462.219 orang. Sisanya, 97,5 persen, 97,3 persen, dan 96,9 persen, tidak tergolong mengalami episode depresi.
Angka yang Tidak Ikut Turun
Dalam analisis berikutnya, kedua penulis juga memperhitungkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, stres, kebiasaan merokok, minum alkohol, dan sejumlah faktor lain. Setelah faktor-faktor itu diperhitungkan, peserta yang disurvei selama pandemi punya odds episode depresi 1,23 kali dibanding peserta sebelum pandemi, dengan interval kepercayaan 95 persen 1,19 sampai 1,27.
Pada masa sesudah pandemi, odds itu tidak kembali ke titik awal. Rasio odds-nya justru naik menjadi 1,41, dengan interval kepercayaan 95 persen 1,36 sampai 1,45. Menurut kedua penulis, odds pada masa sesudah pandemi itu lebih tinggi dibanding odds pada masa selama pandemi, dan keduanya lebih tinggi secara bermakna dibanding masa sebelum wabah.
Kedua penulis menafsirkan pola itu dalam satu kalimat. “Temuan ini menyiratkan bahwa beban psikologis pandemi tidak hanya bertahan, tetapi mungkin memburuk melampaui fase krisis akut, dan berdampak buruk pada kesehatan jiwa,” tulis Wonseok Jeong dan Wonjeong Jeong dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan.
Baca juga Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Di bagian latar, mereka juga mengutip survei nasional terdahulu yang mencatat sekitar 18,8 persen orang dewasa Korea menunjukkan depresi yang bermakna secara klinis selama pandemi. Data asuransi kesehatan nasional yang mereka rujuk pun menunjukkan kenaikan gangguan kejiwaan serta kecemasan dan depresi dibanding masa sebelum wabah.
Kaum Muda di Satu Sisi
Ketika peserta dipilah menurut usia, pola naiknya sama di ketiga kelompok, tetapi besarnya berbeda. Pada kelompok 20 sampai 39 tahun, rasio odds terkoreksi episode depresi adalah 1,29 selama pandemi dan 1,62 sesudah pandemi, dibanding rekan seusia mereka yang disurvei pada 2019. Sama seperti kelompok usia lain, odds tertinggi muncul pada masa sesudah pandemi.
Pada kelompok 40 sampai 59 tahun, angkanya 1,37 selama pandemi dan 1,58 sesudahnya. Para penulis menyimpulkan bahwa kaitan antara masa pandemi dan episode depresi paling jelas pada kelompok usia 20 sampai 39 tahun, dan uji interaksi antara kelompok usia dan masa pandemi seluruhnya bermakna secara statistik.
Untuk kaum muda, para penulis menyebut kemungkinan beban yang lebih berat, seperti pekerjaan yang tidak menentu, pendidikan yang terganggu, dan kontak sosial yang berkurang, yang semuanya mungkin memperberat tekanan jiwa. Mereka juga merujuk riset lain bahwa orang dewasa muda mengalami rasa kesepian paling tinggi selama pandemi. Kedua penulis menambahkan tekanan keuangan sebagai beban lain yang dalam riset sebelumnya berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis.
Baca juga Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya
Kaum Lansia di Sisi Lain
Kelompok 60 tahun ke atas berada di ujung yang berbeda. Rasio odds terkoreksinya 1,14 selama pandemi dan 1,26 sesudah pandemi, tetap bermakna, tetapi menurut para penulis kaitannya paling lemah di antara ketiga kelompok usia. Seperti dua kelompok lain, odds tertinggi kelompok ini juga muncul pada masa sesudah pandemi, bukan selama pandemi.
Orang yang lebih tua, tulis mereka, mungkin diuntungkan oleh hidup yang lebih stabil atau jaringan dukungan yang lebih mapan, yang bisa meredam tekanan yang sama, sementara perbedaan antarusia itu mungkin mencerminkan beda peran sosial, kerentanan ekonomi, dan bekal menghadapi masalah.
Di luar soal usia, mereka menyinggung takut tertular, ketidakpastian, isolasi sosial, dan rasa kesepian berkepanjangan sebagai tekanan yang juga dialami orang yang tidak pernah terinfeksi. Mereka pun mengutip data Korea bahwa pendapatan rumah tangga yang lebih rendah dan dukungan sosial yang terbatas berkaitan dengan kesehatan jiwa yang lebih buruk selama pandemi.
Stres dan Pekerjaan
Faktor lain dalam model ikut memperlihatkan perbandingan yang tajam. Dibanding peserta yang stresnya rendah, peserta dengan stres sedang punya odds episode depresi 1,83 kali, sedangkan peserta dengan stres tinggi punya odds 13,29 kali. Stres diukur dengan menanyakan seberapa besar stres yang biasa dirasakan dalam keseharian; jawaban sangat banyak atau banyak digolongkan stres tinggi, sedikit digolongkan sedang, dan hampir tidak ada digolongkan rendah.
Laki-laki lebih jarang melaporkan gejala depresi dibanding perempuan, dengan rasio odds 0,73. Peserta yang bekerja juga punya odds lebih rendah dibanding yang tidak bekerja, yakni 0,51 pada kelompok kerah putih (kantor dan administrasi), 0,54 pada kelompok kerah merah muda (jasa dan penjualan), serta 0,43 pada kelompok kerah biru (pertanian, kehutanan, perikanan, dan militer).
Baca juga Depresi Pengusaha China Melonjak pada 2020, Reda di 2022
Faktor demografi, sosial ekonomi, dan kesehatan itu dimasukkan ke model regresi logistik sebagai pengendali kemungkinan perancu. Hasilnya disajikan sebagai rasio odds dengan interval kepercayaan 95 persen, dan batas kemaknaan statistik yang dipakai adalah nilai p di bawah 0,05.
Batas Data dan Batas Masa
Para penulis menyebut sejumlah keterbatasan. Data yang dipakai adalah data sekunder hasil lapor diri, sehingga gejala depresi bisa kurang atau berlebih dilaporkan, sebagian variabel penting tidak tersedia, dan desain potong lintang membuat temuan harus dibaca sebagai asosiasi, bukan akibat langsung pandemi. Kekuatannya, menurut mereka, terletak pada data nasional yang representatif dengan lebih dari satu juta peserta, yang memberi daya statistik kuat, dan kuesioner PHQ-9 yang sudah teruji keandalan dan ketepatannya, bukan satu pertanyaan tunggal.
Masa sesudah pandemi juga tidak seragam di dalamnya, karena penularan, kebijakan kesehatan, dan keadaan sosial ekonomi terus berubah sepanjang 2023 dan 2024. Karena itu, menurut mereka, “temuan masa sesudah pandemi perlu dibaca sebagai asosiasi rata-rata sepanjang tahun-tahun tersebut”, juga dalam terjemahan.
Dari temuan itu, mereka menyarankan layanan dan kebijakan kesehatan memprioritaskan pengenalan dan penanganan gangguan jiwa terkait pandemi, termasuk dampak psikologis jangka panjang. Kesiapsiagaan menghadapi pandemi berikutnya, tulis mereka, perlu mencakup deteksi dini gejala gangguan jiwa dan strategi intervensi yang terarah. Dukungan kesehatan jiwa yang terarah, menurut mereka, dibutuhkan segera terutama bagi orang dewasa muda dan kelompok yang kurang beruntung secara sosial.
Mereka juga meminta riset lanjutan dengan desain longitudinal untuk memperkuat penarikan sebab-akibat. Kesimpulan mereka ringkas: “gejala depresi lebih sering muncul selama dan sesudah pandemi, terutama pada orang dewasa muda”, sehingga dukungan kesehatan jiwa jangka panjang dibutuhkan di era sesudah pandemi.














