- Sebanyak 52,0 persen dari 274 mahasiswa kesehatan Chitwan Medical College yang disurvei mengalami gangguan cemas menyeluruh.
- Di antara mahasiswa yang mengalami GAD, 64,8 persen berada pada tingkat ringan dan 12,6 persen berat.
- Mahasiswa yang tidak aktif secara fisik punya peluang hampir tiga kali dibanding yang aktif.
- Stres keuangan di keluarga, peristiwa hidup penuh tekanan, dan merokok juga berhubungan bermakna dengan GAD.
Daftar Isi
Sebatang rokok dan keluarga inti di rumah tampaknya tidak punya urusan satu sama lain, tetapi di sebuah kampus kedokteran di Chitwan, Nepal, keduanya muncul dalam daftar yang sama. Daftar itu memuat hal-hal yang berhubungan dengan gangguan cemas menyeluruh pada mahasiswa kesehatan. Di sebelahnya ada angka yang lebih besar: lebih dari separuh mahasiswa yang disurvei mengalami gangguan itu.
Temuan itu dilaporkan Susmita Thapa dan rekan dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas, Chitwan Medical College, Universitas Tribhuvan. Laporan mereka berjudul Generalized anxiety disorder and its associated factors among undergraduate health students of Chitwan District, Nepal. Laporan itu terbit di jurnal BMC Public Health pada 2026, sebagai naskah yang sudah diterima dan dirilis lebih awal.
Tim mensurvei 274 mahasiswa program sarjana bidang kesehatan di Chitwan Medical College, dari kedokteran umum, kedokteran gigi, keperawatan, farmasi, kesehatan masyarakat, hingga teknologi laboratorium medis. Pengisian kuesioner berlangsung 1 Oktober sampai 15 November 2023. Usia rata-rata peserta 21,2 tahun, dan 65,3 persen di antaranya perempuan.
Gangguan cemas menyeluruh, dalam paper disingkat GAD, digambarkan sebagai rasa cemas dan khawatir berlebihan yang sulit dikendalikan dan bertahan sedikitnya enam bulan. Tim mengukurnya dengan GAD-7, kuesioner skrining tujuh butir dengan skor 0 sampai 21. Mahasiswa dengan skor 5 atau lebih digolongkan mengalami GAD.
Separuh Lebih Cemas, Sebagian Besar Ringan
Angka utamanya 52,0 persen, kira-kira satu dari dua peserta. Namun, berat-ringannya tidak seragam. Di antara mahasiswa yang mengalami GAD, 64,8 persen berada pada tingkat ringan, 22,6 persen sedang, dan 12,6 persen berat. Dengan kata lain, sebagian besar berada di anak tangga terbawah, sementara kelompok berat merupakan bagian terkecil.
Gejala yang paling sering dilaporkan adalah gelisah, dialami 66,7 persen peserta, disusul rasa gugup atau tegang pada 51,4 persen. Kebanyakan merasakannya pada beberapa hari. Di sisi lain, ada gejala yang muncul hampir setiap hari: sulit bersantai pada 14,2 persen, merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada 13,5 persen, dan mudah kesal pada 9,9 persen.
Tim juga menanyakan masalah yang pernah dihadapi peserta sepanjang hidupnya. Kesulitan di sekolah atau kampus paling banyak disebut, yakni 17,9 persen. Perundungan menyusul dengan 10,6 persen, kekerasan fisik 8,1 persen, dan berpisah dari orang tua sejak dini 5,9 persen.
Baca juga Cemas Finansial Mahasiswa Berujung ke Distres Psikologis
Keluarga Inti dan Keluarga Besar
Sebagian besar peserta, 73,0 persen, berasal dari keluarga inti. Sisanya, 27,0 persen, tumbuh di keluarga gabungan atau keluarga besar. Dua latar rumah ini dibandingkan tim dalam urusan cemas berlebihan. Setelah faktor lain diperhitungkan, mahasiswa dari keluarga inti punya peluang mengalami GAD lebih tinggi dibanding mahasiswa dari keluarga gabungan atau besar. Rasio odds yang disesuaikan sebesar 1,42, dengan selang kepercayaan 95 persen 1,09 sampai 2,14.
Thapa dan rekan menawarkan satu kemungkinan penjelasan. Mahasiswa dari keluarga inti mungkin punya lebih sedikit sumber dukungan emosional dan praktis yang siap sedia ketika tekanan datang. Pada sisi sebaliknya, mahasiswa dari keluarga gabungan mungkin merasakan dukungan keluarga yang lebih besar, yang membantu mereka menghadapi tekanan. Pola serupa, tulis tim, pernah ditemukan pada mahasiswa di Bangladesh. Di sana, mahasiswa dari keluarga inti menunjukkan gejala cemas yang lebih berat dibanding mahasiswa dari keluarga gabungan.
Dompet Keluarga dan Peristiwa Berat
Dua faktor keluarga lain bergerak berdampingan. Yang pertama soal uang: 61,3 persen peserta merasakan ada stres keuangan di keluarganya. Yang kedua soal kejadian: 24,8 persen pernah mengalami peristiwa hidup penuh tekanan di dalam keluarga. Keduanya sama-sama berhubungan bermakna dengan GAD.
Pada kasus pertama, mahasiswa yang merasakan stres keuangan di keluarganya punya peluang mengalami GAD lebih dari dua kali dibanding yang tidak, dengan rasio odds 2,20 dan selang 1,10 sampai 4,41. Pada kasus kedua, mahasiswa yang mengalami peristiwa hidup penuh tekanan di keluarga punya rasio odds 2,40, dengan selang 1,16 sampai 2,97.
Untuk urusan uang, tim menguraikan kemungkinan jalurnya. Stres keuangan dapat menimbulkan kekhawatiran soal biaya kuliah, biaya hidup, dan prestasi, yang bisa berujung pada rasa tidak mampu dan takut gagal. Mahasiswa juga mungkin membandingkan diri dengan teman yang lebih mampu, lalu merasa malu, frustrasi, dan terkucil. Untuk peristiwa berat, penjelasan tim lebih ringkas. Paparan peristiwa yang menekan atau merugikan dapat meningkatkan kerentanan psikologis, sehingga mahasiswa lebih sulit menghadapi tuntutan kuliah dan urusan pribadinya. Pengalaman semacam itu, tulis tim, dapat melampaui kemampuan seseorang untuk bertahan.
Ruang Kuliah dan Beban Batin
Dari keluarga, perhatian berpindah ke kampus. Sebanyak 58,8 persen peserta merasakan tekanan studi tingkat sedang dan 24,1 persen tingkat tinggi, sementara 10,2 persen tidak merasakannya sama sekali. Mahasiswa dengan tekanan studi sedang punya rasio odds mengalami GAD 4,60 dibanding yang tidak merasakan tekanan, dengan selang 1,82 sampai 11,60.
Di sisi lain, tim menghimpun sepuluh beban yang mereka sebut faktor risiko psikososial. Isinya cemas menghadapi ujian, kesepian, sulit mengikuti kuliah, tekanan untuk berhasil, masalah membagi waktu, ketidakseimbangan antara kerja, hidup, dan kuliah, kurang percaya diri, kekhawatiran soal bentuk tubuh, masalah hubungan, dan rindu rumah.
Mahasiswa yang menjawab ya pada lebih dari lima butir digolongkan memiliki faktor risiko psikososial, dan jumlahnya 59,9 persen. Kelompok ini punya peluang GAD lebih dari dua kali dibanding yang tidak, dengan rasio odds 2,18 dan selang 1,09 sampai 3,37. Tim mencatat indeks ini bersifat penjajakan dan belum divalidasi.
Gambaran kampus lainnya beragam. Sebanyak 89,1 persen peserta puas dengan pilihan kariernya, sedangkan yang puas dengan prestasi akademiknya 51,8 persen. Hampir separuh, 47,1 persen, menilai cara mereka menghadapi tekanan tergolong baik, dan teman serta keluarga menjadi teman dekat utama bagi masing-masing 37,6 dan 36,9 persen peserta.
Baca juga Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya
Rokok dan Tubuh yang Diam
Dua faktor terakhir datang dari kebiasaan sehari-hari. Sebanyak 12,8 persen peserta merokok, sedangkan 25,9 persen tidak melakukan aktivitas fisik. Sebagai pembanding kebiasaan lain, 31,0 persen minum alkohol dan 93,4 persen memakai gawai pintar dua jam atau lebih setiap hari. Mahasiswa perokok punya peluang mengalami GAD lebih tinggi dibanding yang tidak merokok, dengan rasio odds 2,85 dan selang 1,03 sampai 4,89. Mahasiswa yang tidak aktif secara fisik punya peluang hampir tiga kali dibanding yang aktif, dengan rasio odds 2,92 dan selang 1,25 sampai 6,84.
Tim menjelaskan sisi rokok lewat efek nikotin yang menenangkan sesaat, lalu diikuti cemas balik dan gejala putus nikotin. “Mahasiswa mungkin memakai rokok sebagai cara mengatasi tekanan akademik dan klinis; namun, perilaku yang tidak adaptif ini pada akhirnya dapat menambah tekanan psikologis,” tulis Thapa dan rekan dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan.
Pada sisi aktivitas fisik, penjelasannya bergerak ke arah sebaliknya. Menurut tim, aktivitas fisik yang teratur dapat meredakan cemas dengan memicu pelepasan endorfin dan mengatur hormon stres seperti kortisol. Aktivitas itu juga dapat menambah harga diri, rasa terhubung dengan orang lain, dan kesejahteraan emosional.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Chitwan dan Kampus Lain
Thapa dan rekan menyandingkan angka 52 persen itu dengan penelitian di tempat lain. Angkanya serupa dengan temuan pada perawat di Iran, 55,1 persen, dan mahasiswa di Brasil, 52 persen. Angkanya lebih rendah daripada mahasiswa sebuah universitas di Arab Saudi, 84,3 persen, Universitas Majmaah, 67,5 persen, dan penelitian lain di Nepal, 67 persen.
Pada sisi yang berlawanan, angka di Australia, 17,5 persen, dan Amerika Serikat, 30,6 persen, lebih rendah dari temuan Chitwan. Menurut tim, perbedaan antarpenelitian juga bisa mencerminkan beda ciri peserta, lingkungan akademik, waktu pengumpulan data, cara memilih sampel, dan alat ukur yang dipakai.
“Temuan ini menunjukkan bahwa GAD merupakan beban kesehatan mental yang besar di kalangan mahasiswa kesehatan program sarjana,” tulis Thapa dan rekan, juga dalam terjemahan. Menurut mereka, lingkungan pendidikan kesehatan yang menuntut, baik di ruang kuliah maupun di tempat praktik klinis, mungkin ikut menjelaskan tingginya angka itu.
Tim mencatat sejumlah batas penelitiannya sendiri. Desain potong lintang tidak bisa memastikan hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor tadi dan GAD. Data berasal dari laporan diri yang diisi di ruang kelas, dan penelitian hanya dilakukan di satu kampus di Chitwan, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi mahasiswa di lembaga atau daerah lain.
Saran tim terbagi pada dua sisi. Pertama, mereka menyarankan intervensi yang berpusat pada mahasiswa, seperti skrining kecemasan sejak dini, layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau, pelatihan mengelola stres dan keterampilan mengatasi masalah, serta dorongan beraktivitas fisik. Kedua, untuk lembaga dan pembuat kebijakan, mereka menyarankan upaya mengurangi stres keuangan mahasiswa serta membangun lingkungan belajar yang mendukung.
Daftar dari Chitwan itu akhirnya memuat dua jenis faktor yang berdiri berdampingan. Sebagian melekat pada rumah, seperti bentuk keluarga, dompet keluarga, dan peristiwa berat di dalamnya. Sebagian lain menempel pada keseharian mahasiswa, seperti tekanan studi, rokok, dan kurang aktif fisik. Dua di antaranya, tekanan studi dan kurang aktif fisik, oleh tim disebut faktor yang dapat diubah.















