- Dari 28 peserta di Sarankhola, 13 orang melaporkan gangguan tidur akibat memakai ponsel larut malam.
- Skor amarah tertinggi, 218 kata berkode, tercatat pada kelompok diskusi beranggotakan delapan anak laki-laki.
- Amarah terutama dipicu pembatasan akses ponsel dan frustrasi teknis, misalnya internet yang lambat dan ponsel yang disita.
- Anak-anak juga belajar fotografi, menyunting video, dan teknik sepak bola lewat ponsel.
Daftar Isi
Seorang anak laki-laki di Sarankhola, upazila pedesaan di Distrik Bagerhat, Bangladesh barat daya, dulu selesai belajar lalu tidur pukul sembilan atau sepuluh malam. Kini ia masih bermain ponsel sampai pukul dua belas atau satu dini hari. Paginya ia bangun kesiangan, dan kurang tidur membuat kepalanya sakit, begitu pengakuannya.
Ia salah satu peserta diskusi kelompok yang dikumpulkan dua peneliti Universitas Khulna. Kepada mereka ia bercerita sering sakit kepala sejak lama bermain gim, dan matanya mulai bermasalah sejak pemakaian ponselnya bertambah. Ia juga merasa lebih mudah tersinggung dibandingkan sebelumnya.
Kisah itu tercatat dalam tulisan Tariqul Howlader dan Taufiq-E-Ahmed Shovo dari Sociology Discipline, Social Science School, Universitas Khulna, Bangladesh. Judulnya Psychological and physical health consequences of mobile phone usage among children IN Rural Bangladesh, dimuat jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Keduanya mewawancarai 15 anak berusia 12 sampai 18 tahun serta lima orang tua atau pengasuh, lalu mengajak delapan anak lain berusia 12 sampai 17 tahun berdiskusi dalam satu kelompok. Totalnya 28 peserta, ditemui antara Juni dan Oktober 2025, dengan wawancara berbahasa Bengali selama kira-kira 35 sampai 40 menit.
Sarankhola adalah wilayah desa. Menurut sensus 2022 yang dikutip paper, penduduknya sekitar 119.084 jiwa, dan 48.783 di antaranya, atau 44,21 persen, adalah anak berusia 0 sampai 19 tahun. Wilayah itu dipilih karena anak-anaknya beragam dan makin banyak bersentuhan dengan ponsel.
Tengah Malam di Sarankhola
Tidur yang tergusur menjadi benang merah pertama. Dari 28 peserta, 13 orang melaporkan gangguan tidur akibat memakai ponsel larut malam. Sebagian besar peserta juga bercerita sulit tidur, lelah di siang hari, dan susah berkonsentrasi, yang lalu menambah tekanan soal prestasi sekolah.
Peserta diskusi lainnya menuturkan pola yang mirip. Ia berusaha tidur lebih awal tanpa terlalu lama menatap ponsel, tetapi kadang tetap memakainya sampai tengah malam, bahkan pukul satu atau dua dini hari. Esoknya ia sulit berkonsentrasi di kelas, dan hasil ujian yang buruk membuatnya kecewa pada diri sendiri.
Di sebuah rumah lain, seorang ibu mengamati hal serupa dari dekat. Menurutnya ponsel membantu anaknya cepat menemukan informasi dan memahami topik sulit lewat video YouTube. Namun notifikasi kerap memutus fokus: suatu hari panggilan Messenger masuk ketika anaknya menonton tutorial matematika, dan video itu dihentikan untuk menjawab panggilan.
Karena itu, keluarganya menyarankan sang anak mematikan internet selama belajar, supaya ponsel membantu dan tidak mengganggu. Dari tiga cerita tersebut, Howlader dan Shovo membaca satu rangkaian berantai: pemakaian ponsel larut malam, kurang tidur, lelah di siang hari, konsentrasi terganggu, prestasi sekolah menurun, lalu stres.
Baca juga Kecanduan Ponsel Mahasiswa Bangladesh, 54 Persen Berisiko Tinggi
Internet yang Lambat
Amarah tercatat lebih tinggi daripada kecemasan. Para peneliti menghitung kata-kata yang mereka beri kode amarah dan kecemasan pada tiap peserta, dan secara keseluruhan amarah lebih tinggi. Skor amarah tertinggi, 218 kata berkode, tercatat pada kelompok diskusi beranggotakan delapan anak laki-laki.
Seorang anak perempuan dengan salah satu skor amarah tertinggi, 132 kata berkode, bercerita bahwa ketika internet lambat ia begitu kesal sampai ingin membanting ponselnya. Anak laki-laki yang dulu tidur pukul sembilan itu mencatat skor amarah 93. Ia mengaku kesal, dan kadang bersikap buruk, ketika ibu atau saudara laki-lakinya meminta ponsel yang sedang ia pakai.
Menurut analisis paper, amarah terutama dipicu pembatasan akses ponsel dan frustrasi teknis, misalnya internet yang lambat dan ponsel yang disita. Kecemasan lebih terkait dengan akibat lanjutan pemakaian ponsel, misalnya nilai yang jatuh serta teguran orang tua dan guru.
Di luar amarah, ada suasana hati yang naik turun. Banyak peserta menyebut tontonan emosional, seperti video kecelakaan atau berita tragis, memicu perubahan suasana hati. Rasa frustrasi, marah, dan sedih kerap mereka gambarkan. Anak perempuan yang ingin membanting ponselnya itu juga merasa sedih tiap menonton video emosional atau kecelakaan. Ia merasa sangat sedih ketika melihat kecelakaan di Milestone School and College. Seorang ibu menilai tontonan tragis memang mengubah suasana hati anak-anak, meski menurutnya dampaknya tidak terlalu berat.
Paper membaca dua jalur di sini. Yang pertama paparan langsung pada video atau berita yang mengguncang. Yang kedua gangguan gaya hidup, ketika pemakaian larut malam berujung kurang tidur dan suasana hati yang goyah keesokan harinya, sebuah kekhawatiran yang menurut paper dirasakan bersama di dalam keluarga.
Baca juga Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus
Kacamata di Depan Layar
Keluhan tubuh berkumpul di sekitar mata yang lelah, sakit kepala, kurang tidur, dan rasa tidak nyaman pada otot serta tulang. Tiga keluhan pertama kerap muncul bersamaan, terutama ketika ponsel dipakai lama pada malam hari. Keluhan otot dan tulang, menurut paper, terkait sesi bermain gim yang panjang.
Tidak semua cerita sama. Seorang anak laki-laki mengaku tidak pernah stres atau marah karena ponsel, tetapi matanya bermasalah akibat pemakaian yang lama. Ia memakai kacamata, terutama saat memegang ponsel, dan berusaha memberi jeda supaya matanya beristirahat. Bagi para peneliti, perbandingan anak berkacamata itu dengan peserta diskusi yang keluhannya beruntun mengisyaratkan bahwa kesadaran dan pengendalian diri dapat meredam risiko kesehatan fisik. Meredam, tetapi tidak menghapusnya.
Dalam pembahasannya, keduanya mencatat bahwa keluhan diperberat kebiasaan yang lazim di sana: ponsel dipakai tanpa pengawasan, larut malam, dan di kamar tidur. Sebaliknya, keluhan tertahan pada anak yang sengaja mengatur diri, misalnya beristirahat, memakai kacamata, atau membatasi pemakaian pada malam hari.
“Bahaya itu bukan sifat tetap dari perangkatnya, melainkan hasil yang bisa diubah dari bagaimana, kapan, dan di bawah pengawasan seperti apa ponsel itu dipakai,” tulis Howlader dan Shovo, dalam terjemahan dari paper. Dari situ mereka melihat celah bagi keluarga dan sekolah untuk memutus rangkaian tersebut.
Cemas karena Nilai
Skor kecemasan tertinggi justru tercatat pada seorang ibu, yakni 89 kata berkode, sementara skor amarahnya nol. Di kalangan anak, kecemasan dalam konteks desa ini menurut paper dipicu ketakutan akan prestasi akademik, yang diperberat pemakaian ponsel berlebihan.
Para penulis juga menemukan pola yang berbeda menurut gender: anak perempuan menunjukkan amarah lebih tinggi, anak laki-laki lebih banyak kecemasan. Mereka menafsirkannya lewat keadaan sosial. Akses ponsel anak perempuan lebih ketat diawasi dan lebih sering dibatasi keluarga, sedangkan anak laki-laki lebih bebas tetapi dibebani harapan akademik yang tinggi.
“Bila dibaca demikian, respons emosional itu tidak menandakan perbedaan gender bawaan, tetapi kondisi sosial yang berbeda, tempat anak laki-laki dan perempuan di komunitas ini diizinkan memakai ponsel dan dimintai pertanggungjawaban atas pemakaiannya,” tulis keduanya, dalam terjemahan. Paper mengingatkan, perbandingan gender itu terutama bertumpu pada wawancara perorangan, karena seluruh peserta diskusi kelompok laki-laki.
Kamera Ponsel
Ponsel yang sama membuka pintu lain. Banyak anak bercerita bahwa ponsel membantu mereka berteman baru, menjaga hubungan, dan berkomunikasi dengan keluarga. Seorang peserta diskusi bercerita bahwa lewat ponsel ia bisa mengenal teman baru, berkomunikasi dan membahas pelajaran bersama mereka dalam kelompok, dan kemampuan berkomunikasinya pun meningkat.
Seorang anak laki-laki belajar fotografi, menyunting foto, dan menggambar dari ponselnya, lalu merasa lebih kreatif dan percaya diri. Dulu ia pemalu, katanya, tetapi menonton YouTube membuatnya berani bertanya. Seorang anak perempuan mulai memotret dengan kamera ponselnya, meski ia sadar pemakaian berlebihan juga berdampak buruk.
Anak laki-laki lain belajar menyunting video dan fotografi dari YouTube, bahkan mencoba membuat animasi stop motion yang menurutnya belum sempurna. Ada pula yang memperbaiki kemampuan sepak bolanya, dari mengontrol bola sampai teknik bermain, lewat video. Paper menilai ponsel mengisi ceruk perkembangan di desa yang mungkin minim kegiatan ekstrakurikuler formal.
Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka
Seorang ibu melihat kedua sisinya. Dulu anak-anak memakai sore sepulang sekolah untuk belajar, kini mereka duduk dengan ponsel. Namun menurutnya ada anak yang termotivasi setelah menonton video tentang jurusan yang cocok untuk pekerjaan tertentu, dan ponsel membantu menjelaskan dengan baik hal yang belum mereka pahami.
Satu Upazila di Bagerhat
Paper menyebut beberapa keterbatasan. Keluhan kesehatan yang dicatat bersumber dari penuturan peserta, bukan pemeriksaan klinis, sehingga ketepatan diagnosis kecemasan, gangguan tidur, dan keluhan otot terbatas. Rancangannya tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, dan temuannya terbatas pada satu upazila pedesaan.
Data tentang lama pemakaian layar dan aplikasi yang dipakai juga tidak dikumpulkan. Jumlah orang tua pun kecil, hanya lima, dan sebagian besar perempuan. Para penulis menyarankan riset lanjutan memakai ukuran kesehatan klinis, rancangan jangka panjang, dan kelompok diskusi yang seimbang antara anak laki-laki dan perempuan.
Kesimpulan mereka, pemakaian ponsel di kalangan anak desa Bangladesh menghasilkan dampak biologis, psikologis, dan sosial yang saling terkait. Menurut keduanya, konsekuensi kesehatan ponsel “tidak seragam negatif, tetapi merupakan spektrum hasil yang dibentuk oleh durasi, waktu, isi, dan tujuan pemakaian.”
Anak laki-laki yang dulu tidur pukul sembilan atau sepuluh malam itu kini baru berhenti memakai ponsel pukul dua belas atau satu dini hari. Untuk anak-anak seperti dia, paper menyarankan intervensi kesehatan digital yang berpusat pada keluarga dan sesuai budaya setempat, yang mendorong kebiasaan ponsel ramah tidur dan pendampingan orang tua tanpa membuang manfaat teknologi itu bagi tumbuh kembang anak.















