Makin Lama Menonton Video Pendek, Anak Thailand Makin Sulit Fokus

A A

Ilustrasi dua tangan anak memegang ponsel pintar sambil duduk di sofa [Foto: Shixart1985/Wikimedia Commons, CC BY 2.0]

  • Pada hari kerja angkanya 2,4 jam, lalu naik menjadi 3,8 jam pada akhir pekan.
  • Untuk penggunaan layar lainnya, tambahan satu jam hanya berkaitan dengan kenaikan 13 persen.
  • Anuroj dan Aroonkamonsri tidak menyatakan video pendek menyebabkan anak sulit memperhatikan.
  • Sebanyak 195 anak datang ke klinik vaksinasi, sedangkan 19 lainnya berobat jalan di klinik psikiatri anak.
Daftar Isi
  1. Anuroj menemui pengasuh di dua klinik
  2. Tiga jam sehari di depan layar menurut hitungan Aroonkamonsri
  3. Yang ditemukan Anuroj pada anak yang sulit memperhatikan
  4. Mengapa usia prasekolah menjadi perhatian Aroonkamonsri
  5. Anuroj melihat pengasuh yang butuh jeda
  6. Batas yang diakui Anuroj dan Aroonkamonsri

Krittisak Anuroj menyodorkan satu pertanyaan sederhana kepada para pengasuh yang membawa anak ke sebuah rumah sakit di Thailand: berapa jam sehari si kecil menonton video pendek di ponsel atau tablet? Jawaban yang ia kumpulkan dari 214 pengasuh anak berusia tiga sampai lima tahun itu, bila dirata-ratakan, berbunyi 1,6 jam. Angka itu kira-kira separuh dari seluruh waktu yang dihabiskan anak-anak tersebut di depan layar setiap hari.

Anuroj menuliskan hasilnya bersama Vasini Aroonkamonsri dalam Association between short-form video media use and inattentive, hyperactive-impulsive, and oppositional defiant symptoms in Thai preschool children, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Artikel itu masih berstatus artikel dalam cetak, sehingga belum bervolume dan bernomor. Kedua penulis berterima kasih kepada Faculty of Medicine, Srinakharinwirot University, yang mendanai proyek penelitian mereka.

Yang ingin diketahui Anuroj dan Aroonkamonsri bukan sekadar lamanya tontonan. Mereka bertanya apakah durasi video pendek berjalan seiring dengan tiga hal yang sering dikeluhkan pengasuh: anak sulit memperhatikan, anak hiperaktif dan impulsif, serta anak suka menentang. Ketiganya dinilai sendiri oleh pengasuh, lalu disandingkan dengan jam tontonan harian anak.

Anuroj menemui pengasuh di dua klinik

Para pengasuh itu ditemui Anuroj dan Aroonkamonsri di dua tempat dalam satu rumah sakit rujukan, antara November 2023 dan Maret 2024. Sebanyak 195 anak datang ke klinik vaksinasi, sedangkan 19 lainnya berobat jalan di klinik psikiatri anak. Campuran itu disengaja. Kedua peneliti ingin menangkap rentang kemampuan memperhatikan yang lebar, dari anak yang tidak punya keluhan sampai yang sudah mendapat diagnosis.

Dalam catatan Anuroj, 15 anak atau 7,0 persen sudah didiagnosis psikiater mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, yang disingkat ADHD. Enam anak lain, 2,8 persen, tercatat dengan gangguan sikap menentang. Usia rata-rata seluruh anak 4,3 tahun, sedikit lebih banyak laki-laki, yaitu 53,7 persen, dan 88,8 persen sudah masuk taman penitipan atau taman kanak-kanak.

Orang dewasa yang menjawab pertanyaan Aroonkamonsri dan Anuroj pun beragam. Tujuh dari sepuluh, tepatnya 72,0 persen, adalah orang tua si anak, dan 28,0 persen sisanya anggota keluarga besar yang sehari-hari mengasuh. Sebagian besar perempuan, 77,1 persen, dengan usia rata-rata 36,4 tahun. Hanya 32,2 persen keluarga yang menyebut keuangannya aman dan punya tabungan, sementara 26,2 persen mengaku berutang.

Baca juga Layar Sebelum Usia Dua Tahun Terkait Skor Kembang Rendah

Tiga jam sehari di depan layar menurut hitungan Aroonkamonsri

Dari taksiran para pengasuh, Anuroj dan Aroonkamonsri menghitung bahwa anak-anak itu rata-rata menatap layar 3,0 jam sehari. Pada hari kerja angkanya 2,4 jam, lalu naik menjadi 3,8 jam pada akhir pekan. Video pendek sendiri menyita 1,3 jam pada hari kerja dan 2,0 jam pada akhir pekan. Sisanya, yang mereka sebut penggunaan layar lainnya, rata-rata 1,3 jam sehari.

Layar dalam sehari anak prasekolahLayar dalam sehari anak prasekolahLayar dalam sehari anak prasekolahTaksiran pengasuh di sebuah rumah sakit tersier di Thailand3,0 jamtotal layarrata-rata perhari1,6 jamvideo pendekrata-rata perhari3,8 jamakhir pekantotal layar2,4 jamhari kerjatotal layarJalan risetnya214 anak 3-5 tahunDinilai pengasuhSatu rumah sakitVideo pendek mengisi kira-kira separuh waktu layar anak.
Sumber: Krittisak Anuroj dan Vasini Aroonkamonsri, Association between short-form video media use and inattentive, hyperactive-impulsive, and oppositional defiant symptoms in Thai preschool children, BMC Public Health, artikel dalam cetak, 2026. Grafik: Cekricek.id

Anuroj dan Aroonkamonsri menggambarkan video pendek sebagai potongan singkat berlaju cepat yang mengutamakan keterlibatan seketika, hampir tanpa pembukaan. Menurut keduanya, televisi yang dulu mendominasi kini makin tergeser oleh ponsel pintar dan tablet, yang mudah dijangkau bahkan oleh anak prasekolah. Linimasa video pendek yang disusun algoritma, tulis mereka, sudah menjadi hal lumrah di media sosial dan platform video.

Angka tiga jam itu oleh Anuroj dibandingkan dengan anjuran yang selama ini dikenal luas. American Academy of Pediatrics, tulisnya bersama Aroonkamonsri, pernah menyarankan batas sekitar satu jam sehari bagi anak prasekolah. Dalam sampel mereka, total waktu layar mencapai tiga kali batas itu, dan video pendek saja sudah melampauinya. Kedua peneliti menyebut selisih tersebut cukup besar.

Yang ditemukan Anuroj pada anak yang sulit memperhatikan

Temuan terkuat Anuroj dan Aroonkamonsri ada pada gejala sulit memperhatikan. Setiap tambahan satu jam video pendek per hari berkaitan dengan skor gejala itu yang 33 persen lebih tinggi, setelah memperhitungkan penggunaan layar lainnya, latar keluarga, cara mengasuh, dan kesejahteraan batin pengasuh. Untuk penggunaan layar lainnya, tambahan satu jam hanya berkaitan dengan kenaikan 13 persen.

Selisih 33 berbanding 13 persen itu diuji lagi oleh Anuroj dan Aroonkamonsri, dan hasilnya bermakna secara statistik. Artinya, pada anak-anak ini, video pendek terkait lebih erat dengan sulitnya memperhatikan daripada tontonan layar jenis lain. Keduanya menduga ada kekhasan pada ranah gejala ini. Pola semacam itu, tulis mereka, sejalan dengan kekhawatiran teoretis mengenai ciri format video pendek.

Satu jam tambahan, seberapa naik skornyaSatu jam tambahan, seberapa naik skornyaSatu jam tambahan, seberapa naik skornyaKenaikan skor gejala per jam tontonan harian, 214 anak prasekolahVideo pendekLayar lain33%13%Sulitmemperhatikan20%18%Hiperaktif-impulsif14%8%Sikap menentangHanya selisih pada gejala sulit memperhatikan yang bermakna secarastatistik.
Sumber: Krittisak Anuroj dan Vasini Aroonkamonsri, Association between short-form video media use and inattentive, hyperactive-impulsive, and oppositional defiant symptoms in Thai preschool children, BMC Public Health, artikel dalam cetak, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada dua gejala lain, gambaran yang didapat Aroonkamonsri dan Anuroj lebih datar. Satu jam tambahan video pendek berkaitan dengan skor hiperaktif-impulsif yang 20 persen lebih tinggi dan skor sikap menentang yang 14 persen lebih tinggi. Penggunaan layar lainnya menghasilkan angka 18 dan 8 persen. Ketika dibandingkan, selisih pada kedua gejala itu tidak bermakna, sehingga kekuatan kaitannya dianggap setara.

Anuroj menawarkan beberapa cara membaca hasil yang lebih datar itu. Bisa jadi, untuk perilaku hiperaktif dan menentang, video pendek hanyalah satu lagi bentuk paparan layar, tak berbeda dari media layar tradisional. Kemungkinan lain, tulisnya bersama Aroonkamonsri, kaitan itu muncul karena ketiga gejala memang kerap hadir bersamaan dan berbagi faktor risiko yang sama.

Baca juga Obesitas Anak Thailand Melonjak Dua Kali Lipat Saat Pandemi

Mengapa usia prasekolah menjadi perhatian Aroonkamonsri

Anuroj dan Aroonkamonsri tidak menyatakan video pendek menyebabkan anak sulit memperhatikan. Bertolak dari bukti yang terkumpul pada penelitian media layar yang lebih luas, mereka menduga hubungannya berjalan dua arah. Anak yang sejak awal rentan dalam hal perhatian mungkin lebih mudah terseret menonton lebih lama, sementara tontonan itu sendiri ikut memengaruhi perkembangan perhatian.

Usia prasekolah disorot Aroonkamonsri dan Anuroj karena pada masa inilah kendali perhatian dan pengaturan diri berkembang pesat, dan perkembangan itu banyak dibentuk oleh lingkungan. Selama kendali tersebut belum matang, perhatian anak mudah direbut oleh rangsang luar yang mencolok. Kedua penulis menegaskan bahwa tafsiran ini masih bersifat dugaan dan tidak dapat disimpulkan dari rancangan penelitian mereka.

Kekhawatiran Anuroj juga menyangkut isi tontonan. Karena video pendek mudah diakses di perangkat pribadi, orang tua bisa jadi hanya punya kendali terbatas atas apa yang dipilihkan untuk anak. Ia dan Aroonkamonsri mencatat bahwa materi yang tak sesuai tahap perkembangan kini lazim beredar, dari konten yang mengganggu, penuh kekerasan, dan konsumtif sampai konten buatan kecerdasan buatan yang bermutu rendah.

Anuroj melihat pengasuh yang butuh jeda

Anuroj dan Aroonkamonsri tidak menimpakan soal ini kepada orang tua. Membatasi layar, tulis mereka, punya manfaat jangka panjang, tetapi mungkin kalah nyata dibanding manfaat seketika: anak jadi tenang, sibuk, dan terhibur. Layar yang dipakai dengan cara itu mereka sebut dot digital. Layar pun memberi pengasuh jeda sejenak, batin maupun fisik, dari tuntutan mengasuh.

Catatan sampingan Aroonkamonsri dan Anuroj mengarah ke hal serupa. Waktu layar tampak lebih tinggi pada anak yang pengasuhnya berpendidikan lebih rendah, mengalami tekanan keuangan, tidak bekerja atau mengasuh penuh waktu, serta pada anak yang belum masuk pendidikan dini. Pengamatan itu tidak diuji secara formal karena tidak termasuk rencana awal analisis. Keduanya meminta agar hal tersebut dibaca dengan hati-hati.

Dari situ Anuroj menarik saran bagi pembuat kebijakan kesehatan. Imbauan soal lamanya menatap layar saja, menurut dia dan Aroonkamonsri, barangkali tidak cukup, sehingga beban pengasuhan dan keadaan masyarakat yang mendorong ketergantungan pada layar perlu ikut ditangani. “Arah bidang penelitian ini bukanlah mengkriminalkan media, melainkan mencari jalan tengah agar media dapat dipadukan ke dalam gaya hidup sehat,” tulis Anuroj dan Aroonkamonsri dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Baca juga Depresi Remaja Thailand Selatan: Keluarga Retak dan Trauma

Batas yang diakui Anuroj dan Aroonkamonsri

Anuroj dan Aroonkamonsri terbuka soal kelemahan penelitian mereka. Jam tontonan dan gejala perilaku sama-sama bersumber dari taksiran satu orang pengasuh, sehingga rawan bias pelaporan. Semua data pun diambil pada satu titik waktu. “Rancangan potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan tentang hubungan sebab-akibat atau mekanisme yang mendasarinya,” tulis keduanya, juga dalam bahasa Inggris.

Masih ada hal yang tidak sempat diukur Aroonkamonsri dan Anuroj: jenis konten, platform yang dipakai, aturan layar di rumah, dan rincian tidur anak. Skala gejala versi Thailand yang mereka gunakan pun disahkan untuk anak berusia empat tahun ke atas, padahal sampel memuat anak tiga tahun. Keduanya juga mengakui, anak dengan kondisi perkembangan yang belum terdiagnosis mungkin ikut masuk dari klinik vaksinasi.

Ketika anak dari klinik psikiatri dikeluarkan dari hitungan, hasil Anuroj nyaris tidak bergeser. Namun analisis tambahan memberi isyarat bahwa kaitan video pendek dengan gejala sulit memperhatikan lebih lemah pada 19 anak klinik psikiatri itu. Mengingat kecilnya kelompok tersebut, Aroonkamonsri dan Anuroj meminta isyarat ini tidak dibaca berlebihan.

Pembaca yang teliti dapat memeriksa dua hal kecil dalam naskah Anuroj dan Aroonkamonsri. Rata-rata video pendek 1,6 jam ditambah layar lainnya 1,3 jam menghasilkan 2,9 jam, bukan 3,0 jam seperti total yang tertera; kedua penulis menjelaskannya sebagai akibat pembulatan. Selain itu, selisih batas rentang kepercayaan antarhitungan ditulis paling besar 0,001 di satu bagian dan kurang dari 0,001 di bagian lain.

Pertanyaan sederhana Anuroj kepada para pengasuh itu akhirnya berbuah jawaban yang bersahaja pula. Di satu rumah sakit di Thailand, anak prasekolah yang lebih lama menonton video pendek dinilai pengasuhnya lebih sulit memperhatikan. Mana yang lebih dulu, tontonan atau kesulitan itu, belum bisa dijawab. Anuroj dan Aroonkamonsri menyerahkannya kepada penelitian yang mengikuti anak-anak dari waktu ke waktu.

Bagikan

Baca Juga

Lirik Lagu Lugat al-Alam dan Jejak Pengorbanan Seorang Ibu
Hari Lansia India: Perempuan di Rumah, Laki-laki Mencari Upah
Novel Darman Moenir: Rumah Tangga Retak dari Dalam dan Luar
Warga Mirzapur Rasakan Tanah Pulih, tetapi Tak Menyebut Timbal
Pekerja Lepas China Utamakan Iuran Saat Menimbang Asuransi
Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup