- Survei rumah tangga 2021 di Yala, Pattani, dan Narathiwat menemukan 7,2 persen dari 387 remaja berisiko depresi, 3 sampai 5 kali lebih rendah dari studi sekolah Thailand lain.
- Dari tujuh faktor yang diuji, hanya disfungsi keluarga (3,2 kali) dan PTSD (32,7 kali) yang bertahan setelah faktor lain diperhitungkan.
- Konflik orang tua-anak, kecanduan gim, dan keterlibatan media sosial kehilangan makna pada model penuh.
- Rasio PTSD berdiri di atas enam remaja saja; penulis sendiri meminta penafsiran hati-hati dan replikasi.
Daftar Isi
- Tiga survei, dari 2014 sampai 2021
- Dari skala Radloff 1977 ke ambang 22 versi Thai
- Angka 7,2 persen di antara de Castro dan Choychod
- Enam faktor lolos sendiri-sendiri, dua bertahan bersama
- Smilkstein 1978 dan keluarga yang tidak berfungsi
- Enam remaja PTSD dan rentang yang terlalu lebar
- Yang bisa diperiksa pembaca dalam naskah
Sepuluh tahun terakhir, kesehatan jiwa naik ke jajaran sepuluh besar beban penyakit dunia, dan remaja usia 10 sampai 19 tahun, yang jumlahnya sekitar 16 persen penduduk bumi, ikut memikulnya: satu dari tujuh di antara mereka diperkirakan mengalami gangguan jiwa. Di Thailand, laporan Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2017 mencatat persoalan jiwa remaja, terutama depresi, sedang meningkat. Namun di tiga provinsi paling selatan negeri itu, Yala, Pattani, dan Narathiwat, hampir tidak ada yang pernah mengukurnya.
Kekosongan itulah yang diisi Patama Vapattanawong, Aree Jampaklay, Kanchana Tangchonlatip, Aksarapak Lucktong, Kasama Yakoh, Aphichat Chamratrithirong, dan Kathleen Ford lewat A cross-sectional study on factors influencing adolescent depression in the civil-conflict areas of Thailand, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1416, tahun 2026. Lima penulis bernaung di Institute for Population and Social Research, Mahidol University; Lucktong di Panyapiwat Institute of Management; Ford di School of Public Health, University of Michigan. Naskahnya berbahasa Inggris, dan semua kutipan di tulisan ini diterjemahkan dari bahasa itu.
Tiga survei, dari 2014 sampai 2021
Penelitian ini tidak berdiri sendiri. Ia lanjutan dari studi longitudinal Muslim Migration and Unrest in the Three Southernmost Provinces yang dijalankan pada 2014 dan 2016 oleh Jampaklay, Ford, dan Chamratrithirong, tiga nama yang kembali muncul di naskah baru ini. Survei awal 2014 menjangkau 30 desa, sembilan di Yala, sepuluh di Pattani, dan sebelas di Narathiwat, dengan 1.102 rumah tangga Muslim dan 5.823 orang yang tercatat dalam daftar anggota rumah.
Pada 2021, gelombang ketiga mendatangi kembali rumah-rumah yang sama. Sebanyak 830 rumah tangga, atau 75,3 persen dari sampel semula, masih bisa diwawancarai. Dari sana, seluruh remaja berusia 13 sampai 17 tahun diambil untuk analisis: 387 orang, 179 laki-laki dan 208 perempuan, dengan usia rata-rata 14,91 tahun. Karena berbasis rumah tangga, bukan sekolah, survei ini menjangkau remaja yang menurut penulis biasanya luput dari penelitian berbasis kelas.
Dari skala Radloff 1977 ke ambang 22 versi Thai
Alat pengukur depresinya sudah tua. Skala CES-D disusun L.S. Radloff pada 1977 untuk penelitian di populasi umum, dua puluh butir pertanyaan tentang suasana hati selama tujuh hari terakhir, dengan skor total 0 sampai 60. Versi Thai-nya divalidasi Trangkasombat dan rekan-rekannya, yang mengusulkan ambang 22 sebagai batas risiko depresi karena memberi sensitivitas 72 persen dan spesifisitas 85 persen. Vapattanawong dan kawan-kawan memakai ambang itu apa adanya.
Hasilnya, skor 387 remaja tersebar dari 0 sampai 41, dengan rata-rata 10,05. Yang mencapai 22 atau lebih hanya 7,2 persen. Perempuan sedikit lebih sering berada di atas ambang daripada laki-laki, 9,6 persen berbanding 4,5 persen, dan remaja 16 sampai 17 tahun lebih sering daripada yang 13 sampai 15 tahun, 10,4 persen berbanding 5,6 persen, meski dua selisih ini belum bermakna secara statistik.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Angka 7,2 persen di antara de Castro dan Choychod
Angka itu ganjil bila disandingkan dengan rantai riset sebelumnya. Di satu sisi, ia lebih tinggi dari 3,1 persen yang ditemukan de Castro dan rekan-rekannya pada gabungan 26 negara berpendapatan rendah dan menengah. Di sisi lain, ia jauh di bawah studi-studi Thailand sendiri yang memakai alat ukur yang sama: Choychod dan kawan-kawan tahun 2023, Patanavanich dan kawan-kawan tahun 2022, serta Trangkasombat dan rekan-rekannya sejak 1997.
Vapattanawong dan rekan-rekannya tidak menutupi selisih itu. “Temuan kami 3 sampai 5 kali lebih rendah dibanding studi-studi tersebut. Perbedaan utamanya terletak pada rentang usia peserta dan latar penelitiannya,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Studi terdahulu berjalan di sekolah dengan peserta usia 10 sampai 19 tahun, dan penulis menduga tekanan akademik serta perundungan di sekolah ikut mendongkrak angkanya. Patanavanich bahkan memakai ambang lebih rendah, 16, yang dengan sendirinya memperbanyak orang yang tergolong berisiko.
Di sinilah dugaan awal penulis berbalik. Pada bagian latar, mereka menulis bahwa remaja Yala, Pattani, dan Narathiwat “mungkin sangat rentan” karena konflik sipil berkepanjangan, hambatan bahasa Melayu Patani dalam mengakses layanan jiwa arus utama, dan arus migrasi kerja ke Malaysia yang memutus sekolah dan jaringan keluarga. Angka 7,2 persen tidak membenarkan kerentanan istimewa itu, setidaknya bila dibandingkan dengan remaja sekolah di bagian Thailand yang lain.
Enam faktor lolos sendiri-sendiri, dua bertahan bersama
Tujuh faktor diuji satu per satu terhadap risiko depresi: empat menyangkut keluarga, tiga menyangkut kesehatan jiwa. Enam di antaranya bermakna ketika diuji sendiri-sendiri. Remaja dari keluarga disfungsional 3,2 kali lebih mungkin berisiko, yang merasa kurang dihormati dan dimengerti 2,5 kali, yang lebih sering berkonflik dengan orang tua 3,9 kali, yang kecanduan gim 3,7 kali, dan tiap tambahan satu poin skor keterlibatan media sosial menaikkan peluangnya 1,1 kali. Hanya hukuman fisik yang tidak bermakna.
Lalu keenamnya dimasukkan bersama-sama ke satu model, kemudian ditambah usia dan jenis kelamin, kemudian ditambah lagi ciri kepala rumah tangga, keberadaan ayah dan ibu di rumah, serta kekayaan. Pada setiap tahap, faktor-faktor itu saling menyusutkan. Konflik orang tua-anak turun dari 3,91 ke 1,90; kecanduan gim dari 3,71 ke 2,13; keterlibatan media sosial dari 1,11 ke 1,06. Semuanya kehilangan makna statistik pada model penuh.
Yang bertahan hanya dua. Disfungsi keluarga justru menguat menjadi 3,20 kali pada model penuh, dan PTSD melonjak menjadi 32,74 kali. “Faktor lain, seperti konflik orang tua-anak, rasa hormat yang rendah, atau kecanduan gim, mungkin menjadi kurang bermakna begitu pengaruh bersama disfungsi keluarga dan PTSD diperhitungkan,” tulis Vapattanawong dan rekan-rekannya. Model penuh juga paling cocok dengan data, dengan log-likelihood -77,273 dibanding -83,293 pada model pertama.
Smilkstein 1978 dan keluarga yang tidak berfungsi
Apa yang disebut keluarga disfungsional di sini mewarisi definisi Smilkstein tahun 1978. Family APGAR-nya lima pertanyaan: apakah kamu bisa berpaling ke keluarga saat ada yang mengganggu, apakah kamu suka cara keluargamu membicarakan masalah, apakah keluargamu membiarkanmu mencoba hal baru, apakah kamu suka tanggapan mereka saat kamu marah atau sedih, dan apakah kamu suka waktu yang kalian habiskan bersama. Skor 6 atau kurang dari 10 digolongkan disfungsi.
Dengan ukuran itu, 72 dari 387 remaja, atau 18,6 persen, hidup dalam keluarga disfungsional, dan 15,3 persen di antaranya berisiko depresi, berbanding 5,4 persen pada keluarga yang berfungsi. Penulis menafsirkannya sebagai persoalan kronis: kurang dukungan, komunikasi buruk, dan konflik di dalam rumah yang melemahkan kestabilan emosi remaja. Temuan ini, tulis mereka, sejalan dengan Huang dan kawan-kawan di China serta Smith dan kawan-kawan di Amerika Serikat.
Baca juga Poster Ramadan Kampung Kuningan dan Setan yang Diborgol
Dari situ penulis melangkah lebih jauh ke ranah budaya. “Sistem keluarga tetap menjadi faktor pelindung utama terhadap depresi remaja,” tulis mereka, sembari menyebut bahwa di tiga provinsi ini cara hidup Muslim membentuk keseharian, dan kohesi keluarga serta nilai komunal berfungsi sebagai penyangga. Untuk klaim itu mereka bersandar pada Al Zbon dan Smadi, Rahman, serta Saged dan rekan-rekan, bukan pada variabel keagamaan yang diukur dalam survei ini sendiri.
Enam remaja PTSD dan rentang yang terlalu lebar
Angka PTSD adalah bagian paling mencolok sekaligus paling rapuh dari naskah ini. Gangguan stres pascatrauma diukur dengan CRIES-13, skala yang diterjemahkan ke bahasa Thai dan diuji Ketumarn dan Piyasilpa pada 2009 setelah program pascatsunami di Takuapa, dengan ambang 25. Hanya enam dari 387 remaja, 1,6 persen, yang melewati ambang itu. Empat di antara enam orang itu berisiko depresi.
Dari enam orang itulah rasio 32,74 lahir, dengan rentang kepercayaan 4,08 sampai 267,76. Penulis sendiri memberi peringatan. “Namun, penafsiran atas asosiasi ini, khususnya untuk PTSD, harus dilakukan dengan hati-hati. Rentang kepercayaan yang lebar menunjukkan ketidakstabilan estimasi, kemungkinan karena terbatasnya jumlah kasus depresi dalam sampel kami,” tulis Vapattanawong dan rekan-rekannya, dan mereka meminta replikasi pada studi yang lebih besar.
Keterbatasan lain diakui berurutan. Desain potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat; keluarga yang disfungsional bisa saja akibat, bukan sebab, dari remaja yang murung. Ambang 22 yang lebih tinggi dari kebanyakan studi membuat perbandingan harus hati-hati. Pemadatan hukuman fisik, rasa hormat, dan konflik menjadi sekadar ya atau tidak dinilai penulis sendiri terlalu sederhana dan mungkin menyembunyikan hubungan yang lebih halus.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Yang bisa diperiksa pembaca dalam naskah
Ada angka yang tidak sinkron di dalam naskah. Tabel 1 menulis rata-rata skor keterlibatan media sosial pada remaja berisiko depresi 39,29, sedangkan teks hasil menulis 37,29 dan menyebut selisihnya 2,78 poin dari kelompok lain yang 35,51. Tidak satu pun dari tiga angka itu cocok satu sama lain: 39,29 dikurangi 35,51 adalah 3,78, dan 37,29 dikurangi 35,51 adalah 1,78.
Kejanggalan lain lebih kecil tetapi terlihat. Bagian metode menyebut persetujuan etik diperoleh dari “XXX”, penyamaran untuk penelaahan buta yang lupa dibersihkan, sementara bagian deklarasi menyebut komite etik Institute for Population and Social Research pada 27 Mei 2021. Persentase laki-laki ditulis 46,3 di teks dan 46,2 di tabel. Tabel 2 menamai satu barisnya Pseudo chi2, padahal pada Tabel 3 besaran yang sama disebut Pseudo R2. Skala CRIES-13 ditulis bernilai 0, 1, 3, dan 5, tanpa 2 dan 4.
Yang paling patut diperhatikan pembaca adalah judulnya. Naskah ini bicara tentang wilayah konflik sipil, tetapi tidak ada satu pun variabel yang mengukur paparan konflik secara langsung: tidak ada pertanyaan tentang kekerasan yang disaksikan, kerabat yang menjadi korban, atau rasa aman. Konflik hadir hanya sebagai latar, dan satu-satunya jejaknya dalam data adalah enam remaja dengan skor CRIES-13 di atas 25.
Dengan segala catatannya, naskah Vapattanawong dan rekan-rekannya menempati satu mata rantai yang jelas. Ia menyambung survei rumah tangga 2014 dan 2016 ke gelombang 2021, dan meneruskan studi Ford, Jampaklay, dan Chamratrithirong tentang kesehatan jiwa di wilayah yang sama pada 2018 dan 2019 kepada remaja yang tinggal di rumah-rumah itu. Apa yang ditemukannya, keluarga yang retak lebih menentukan daripada gim atau media sosial, adalah pernyataan yang menunggu gelombang berikutnya untuk diuji lagi.















