- 15,4 persen dari 4.617 balita China terpajan layar; skor kembang keseluruhan turun 2,58 poin
- Durasi layar harian, bukan usia mulai, yang paling konsisten berhubungan dengan skor rendah
- Bahasa turun paling tajam, 4,54 poin; motorik kasar sama sekali tidak terpengaruh
- Anak perempuan lebih tahan terhadap efek negatif durasi layar dibanding anak laki-laki
Daftar Isi
Anak yang anteng menatap layar sering dianggap sedang belajar sesuatu, entah warna, lagu, atau kata baru yang diucapkan tokoh kartun kesayangannya, sementara orang tua diam-diam bersyukur mendapat jeda dari rengekan yang biasanya menuntut perhatian penuh. Survei nasional terhadap ribuan bayi dan balita di China justru menunjukkan ketenangan semacam itu berjalan seiring dengan skor kembang yang lebih rendah, bukan lebih tinggi, pada anak-anak yang sudah mengenal layar sebelum usia dua tahun.
Temuan itu ditulis Huimin Yang bersama sembilan rekan penelitinya dalam Screen exposure before age two and developmental outcomes in early childhood: a national cross-sectional study in China, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1323, tahun 2026. Data diambil dari survei nasional gizi dan kesehatan anak di China yang menjangkau 26 lokasi di tujuh wilayah, mencakup 4.617 anak sehat berusia di bawah dua tahun yang orang tuanya melaporkan kebiasaan menonton, bermain gawai, dan skor kembang anak mereka.
Ketenangan yang Menipu
Anggapan bahwa layar sekadar hiburan pengisi waktu, tanpa akibat berarti selama anak masih dalam pengawasan, tampaknya perlu ditinjau ulang setelah para peneliti membandingkan dua kelompok anak yang sama-sama sehat secara klinis. Kelompok yang sudah kenal layar rata-rata berusia 15,7 bulan, sedangkan yang belum baru 8,3 bulan, dan sebagian besar dari mereka tinggal di kota serta diasuh kakek-nenek jauh lebih sering dibanding kelompok yang belum tersentuh layar sama sekali.
Setelah dua kelompok itu dipadankan lewat metode statistik yang disebut propensity score matching, sehingga latar belakang keluarga, pendapatan, dan pengasuhan mereka dibuat sebanding, selisih yang tersisa barulah bisa dikaitkan dengan pajanan layar itu sendiri. Hasilnya, skor kembang keseluruhan anak yang sudah kenal layar lebih rendah 2,58 poin dibanding yang belum, setara dengan 0,17 simpangan baku dari norma populasi seusianya, sebuah selisih yang kecil di atas kertas tetapi konsisten di berbagai domain kembang anak.
Bukan Soal Kapan, Tapi Berapa Lama
Dugaan bahwa semakin dini anak mengenal layar, semakin buruk akibatnya, ternyata tidak terbukti begitu saja dalam data ini. Usia pertama kali terpajan layar, setelah dihitung ulang lewat model statistik yang lebih rinci, tidak berhubungan bermakna dengan skor kembang di hampir semua domain, kecuali kecenderungan yang sangat tipis dan belum meyakinkan pada domain bahasa. Yang justru konsisten berhubungan dengan skor kembang yang lebih rendah adalah durasi harian, bukan usia mulai.
Rata-rata anak yang terpajan layar menghabiskan 31 menit sehari di depannya, dan setiap tambahan durasi itu berhubungan dengan penurunan skor pada seluruh domain kecuali motorik kasar. Penurunan paling tajam ditemukan pada bahasa, motorik halus, dan skor keseluruhan, sementara pola serupa juga muncul, meski lebih lemah, pada adaptabilitas dan perilaku sosial. Peneliti membaca ini sebagai tanda bahwa jam yang dihabiskan di depan layar menggantikan jam yang semestinya dipakai untuk berinteraksi langsung dengan orang di sekitarnya.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Bahasa yang Paling Rentan
Di antara lima domain kembang yang diukur, bahasa mengalami penurunan paling besar, 4,54 poin, jauh melampaui ambang yang dianggap peneliti sebagai perbedaan bermakna secara klinis, bukan sekadar bermakna secara statistik. Perilaku sosial dan motorik halus menyusul di belakangnya, masing-masing turun sekitar tiga poin, sedangkan adaptabilitas turun lebih kecil, dan motorik kasar sama sekali tidak terpengaruh, seolah tubuh yang bergerak besar tetap bisa berkembang normal walau waktu bermain aktifnya berkurang.
“These findings highlight the importance of public health recommendations focused on reducing daily screen use and addressing gender differences,” tulis Huimin Yang dan kawan-kawan dalam naskah berbahasa Inggris mereka, yang bila diterjemahkan berbunyi kira-kira: temuan ini menegaskan pentingnya rekomendasi kesehatan masyarakat yang berfokus pada pengurangan pemakaian layar harian dan mengatasi perbedaan gender. Kalimat itu diletakkan di ujung bagian kesimpulan, seolah menjadi pesan yang ingin paling diingat pembaca.
Anak Perempuan Lebih Tahan
Bila pesan utama berhenti di situ, gambarannya akan terasa seragam, padahal data menunjukkan sebaliknya: dampak durasi layar tidak sama beratnya bagi semua anak. Anak perempuan secara umum memang unggul dari anak laki-laki pada skor bahasa, perilaku sosial, adaptabilitas, dan keseluruhan, terlepas dari soal layar, tetapi yang lebih menarik adalah bagaimana hubungan antara durasi layar dan skor kembang justru melemah pada anak perempuan dibanding anak laki-laki.
Pada motorik halus, perilaku sosial, dan skor keseluruhan, interaksi antara jenis kelamin dan durasi layar menunjukkan anak perempuan kehilangan lebih sedikit dibanding anak laki-laki untuk jumlah menit layar yang sama. Peneliti tidak menjelaskan secara pasti mengapa demikian, hanya menyinggung kemungkinan perbedaan lintasan pematangan otak antara dua jenis kelamin pada masa dua tahun pertama, sebuah wilayah yang menurut mereka sendiri masih memerlukan penelitian lanjutan sebelum bisa dipastikan sebabnya.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Batas yang Belum Terjawab
Para peneliti mengakui data durasi layar diperoleh dari ingatan orang tua tentang kebiasaan menonton anak selama seminggu terakhir, bukan dari pencatatan langsung, sehingga rawan meleset dan tidak menangkap variasi hari ke hari. Rancangan penelitian yang bersifat potong lintang juga membuat mereka tidak bisa memastikan arah sebab-akibat, karena bisa saja anak yang sudah menunjukkan gejala kembang lambat justru lebih sering ditenangkan dengan layar oleh orang tuanya, bukan layar yang menyebabkan gejala itu muncul.
Ada pula kejanggalan kecil dalam tabel hasil yang bisa diperiksa siapa saja yang membaca naskah aslinya. Koefisien usia mulai layar untuk domain bahasa dilaporkan sebesar 3,64 dengan rentang kepercayaan yang membentang dari minus 0,47 sampai 7,75, sebuah rentang yang melewati angka nol dan karena itu semestinya dibaca tidak bermakna secara statistik, tetapi narasi hasil menyebutnya sebagai kecenderungan positif yang mendekati bermakna, padahal secara angka ia sama rapuhnya dengan variabel lain yang justru disebut tidak berhubungan sama sekali.
Kejanggalan kedua ada pada domain motorik kasar. Ketiga cara penghitungan efek yang dipakai peneliti, yang disingkat ATT, ATU, dan ATE, semuanya menunjukkan arah positif untuk motorik kasar, berlawanan dengan empat domain lain yang seluruhnya negatif tanpa kecuali. Naskah tidak menjelaskan mengapa satu-satunya domain yang justru naik, bukan turun, ini tidak mendapat pembahasan khusus, padahal arah yang berlawanan semacam itu biasanya layak dipertanyakan lebih jauh oleh penulisnya sendiri.
Baca juga Hulu Keris Melayu Jadi Bahan Ajar, Nilainya Belum 80
Yang Masih Menggantung
Rekomendasi Akademi Pediatri Amerika yang disebut di bagian pembuka naskah ini meminta anak di bawah dua tahun menghindari semua bentuk media layar kecuali panggilan video, sebuah patokan yang jauh lebih ketat dibanding kenyataan yang direkam survei ini, tempat satu dari tujuh anak sudah mengenal layar sebelum ulang tahun keduanya. Angka itu sendiri diperkirakan terus naik seiring anak bertambah usia, dari hanya tiga persen pada bayi di bawah enam bulan menjadi hampir empat dari sepuluh anak menjelang usia dua tahun.
Peneliti sendiri tidak menutup mata pada kemungkinan bahwa sebagian anak justru lebih sering diberi layar karena sudah menunjukkan tanda kembang yang melambat, bukan sebaliknya, sehingga arah hubungan yang mereka tunjukkan tidak bisa langsung dibaca sebagai anjuran melarang layar sepenuhnya. Yang mereka tekankan hanyalah pola statistik yang konsisten muncul dari berbagai model, sementara penjelasan mekanisme di baliknya, apakah lewat berkurangnya waktu bicara dengan orang tua atau berkurangnya latihan motorik tangan, masih berupa dugaan yang belum diuji langsung dalam penelitian ini.
Yang tertinggal dari seluruh angka dan model statistik ini adalah pertanyaan yang tidak dijawab tuntas oleh datanya sendiri, meski data itu sendiri sudah menempuh jalan yang cukup panjang, dari kuesioner orang tua di 26 lokasi survei sampai model statistik berlapis tiga. Berapa lama sebenarnya waktu aman di depan layar bagi anak yang belum genap dua tahun, dan apakah batas itu sama untuk anak laki-laki dan anak perempuan yang menurut riset ini justru menanggung beban yang tidak setara?















