- Sebanyak 93,6 persen dari 2.853 korban gigitan hewan di Rumah Sakit Kapilvastu menuntaskan tiga dosis vaksin antirabies.
- Hanya 401 korban atau 14,1 persen yang menerima dosis pertama pada hari yang sama dengan gigitan.
- Korban dari kotamadya selain Kapilvastu memiliki peluang terlambat lebih tinggi, dengan rasio odds terkoreksi 1,48.
- Korban yang digigit di tangan, kepala, atau leher justru datang lebih cepat, dengan rasio odds terkoreksi 0,77.
Daftar Isi
Hampir semua korban gigitan hewan yang tercatat di sebuah rumah sakit di Kapilvastu, Nepal, menyelesaikan vaksin rabiesnya. Namun sebagian besar dari mereka baru menerima suntikan pertama sehari atau lebih sesudah digigit, padahal para penulis penelitian itu menyebut keterlambatan tersebut sebagai celah genting dalam pencegahan rabies.
Dari 2.853 korban gigitan hewan yang tercatat di Rumah Sakit Kapilvastu antara Juni 2022 dan Mei 2023, sebanyak 93,6 persen menuntaskan tiga dosis vaksin antirabies. Namun hanya 401 orang, atau 14,1 persen, yang menerima dosis pertama pada hari yang sama dengan gigitan, sementara selebihnya datang belakangan, ada yang sehari kemudian, ada pula yang menunggu lebih dari sepuluh hari sebelum akhirnya mendatangi ruang vaksinasi.
Gambaran itu disusun Akash Adhikari dan rekan dari Paklihawa Campus, Institute of Agriculture and Animal Science, Universitas Tribhuvan, dalam makalah A retrospective analysis of rabies post-exposure prophylaxis in Kapilvastu District, Nepal yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka membaca seluruh isi register vaksin antirabies rumah sakit pemerintah terbesar di distrik itu, yang berada di Taulihawa, untuk periode 1 Juni 2022 hingga 31 Mei 2023.
Garis Akhir yang Nyaris Selalu Tercapai
Rumah sakit itu memakai jadwal tiga dosis yang disuntikkan ke dalam kulit, masing-masing 0,1 mililiter di dua titik, pada hari ke-0, ke-3, dan ke-7. Begitu korban sudah berada di ruang vaksinasi, mereka cenderung patuh, karena 88,7 persen menerima dosis kedua tepat pada hari ketiga dan 86,0 persen menerima dosis ketiga tepat pada hari ketujuh, sesuai jadwal yang dianjurkan.
Para penulis menyebut tingkat penuntasan 93,6 persen itu sebagai pencapaian kesehatan masyarakat yang patut dipuji, bahkan melampaui angka yang dilaporkan sejumlah penelitian lain. Menurut mereka, angka itu mencerminkan kesadaran warga akan sifat rabies yang mematikan, kampanye kesehatan yang kuat, ketersediaan vaksin yang ajek di rumah sakit, dan kesungguhan petugas dalam memberi penyuluhan kepada warga setempat.
Pada suntikan pertama, gambarannya berbeda. Catatan rumah sakit itu memperlihatkan 1.876 korban, atau 65,8 persen, baru mendapat dosis pertama pada hari berikutnya, dalam rentang 24 sampai 48 jam setelah digigit. Sebanyak 568 orang, atau 19,9 persen, menunggu dua sampai sepuluh hari, dan delapan orang, atau 0,3 persen, baru datang setelah lebih dari sepuluh hari berlalu sejak gigitan itu.
Baca juga Pelancong yang Pernah Divaksin Rabies Justru Lambat Berobat
Secara keseluruhan, di antara 2.853 korban yang tercatat, 2.452 orang atau 86,0 persen tergolong terlambat, yakni menerima dosis pertama lebih dari 24 jam sesudah gigitan. Para penulis menyebut keterlambatan itu berbahaya, karena kegagalan memberikan perlindungan pascapajanan dalam waktu emas setelah gigitan, menurut mereka, meningkatkan risiko penyakit berkembang secara klinis, dan keterlambatan awal itu mereka sebut celah genting dalam pencegahan rabies.
Anak-Anak, Kaki, dan Anjing yang Dibiarkan Berkeliaran
Korban laki-laki lebih banyak, yaitu 1.840 orang atau 64,5 persen, dibanding 1.013 perempuan atau 35,5 persen, dengan rasio 1,81 banding 1, sementara kelompok usia terbesar adalah anak berumur nol sampai sepuluh tahun, sebanyak 896 orang atau 31,4 persen. Para penulis menduga lebih banyaknya korban laki-laki berkaitan dengan perbedaan aktivitas di luar rumah, paparan pekerjaan, serta pola perilaku berisiko dan norma sosial yang lebih umum pada laki-laki.
Semakin tua umur korban, semakin sedikit jumlahnya, hingga mereka yang berusia di atas 70 tahun hanya mencakup 2,2 persen dari seluruh kasus. Para penulis menduga kerentanan anak berkaitan dengan tubuh yang lebih pendek, rasa ingin tahu, pengetahuan yang terbatas tentang perilaku hewan, dan pengalaman yang belum cukup untuk membela diri, sehingga mereka menekankan perlunya pendidikan keselamatan bagi anak dan pemilik hewan.
Anjing menjadi pelaku pada 2.614 kasus atau 91,6 persen, disusul kucing pada 170 kasus atau 6,0 persen dan monyet pada 49 kasus atau 1,7 persen. Angka itu sejalan dengan data nasional Nepal yang dikutip makalah, yaitu 54.996 dari 59.414 kasus gigitan pada 2021/2022, atau 92,5 persen, berasal dari anjing. Penulis mengaitkan tingginya kasus gigitan anjing di Kapilvastu dengan kebiasaan membiarkan anjing berkeliaran bebas.
Kaki adalah bagian tubuh yang paling sering tergigit, yakni 1.788 kasus atau 62,7 persen, disusul tangan dengan 759 kasus atau 26,6 persen, sedangkan kepala dan leher hanya 47 kasus atau 1,7 persen. Petugas menggolongkan 2.738 pajanan, atau 96,0 persen, sebagai kategori II menurut WHO, yang menurut penulis sebagian besar berupa cakaran ringan tanpa perdarahan, sementara kategori III, yang paling berisiko menularkan rabies, berjumlah 42 kasus atau 1,5 persen.
Waktu juga meninggalkan polanya sendiri, karena kasus terbanyak tercatat pada Januari hingga Maret. Penulis mengaitkan puncak itu dengan siklus berbiak anjing di Nepal yang berlangsung sekitar Oktober, sehingga anak anjing lahir pada Januari hingga Maret setelah masa bunting dua bulan, dan induk yang menyusui menunjukkan perilaku melindungi yang lebih agresif serta memperbesar kemungkinan terjadinya gigitan.
Jarak yang Menentukan Siapa Datang Lebih Dulu
Peta gigitan di distrik berpenduduk 682.961 jiwa di dataran Terai, yang berbatasan terbuka dengan India di selatan, itu juga timpang. Kotamadya Kapilvastu, tempat kantor pusat distrik berada, mencatat 1.102 kasus dengan angka kejadian tertinggi, yaitu 1.240 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan Bijaynagar hanya mencatat empat kasus atau 10 per 100.000 penduduk, angka rendah yang menurut penulis justru perlu ditelusuri untuk memastikan pelaporan yang akurat dan akses layanan yang memadai.
Tempat tinggal juga berhubungan dengan kecepatan korban datang ke rumah sakit. Korban yang tinggal di kotamadya selain Kapilvastu memiliki peluang terlambat 1,48 kali lebih tinggi dibanding warga kotamadya Kapilvastu, dengan rasio odds terkoreksi 1,48 dan selang kepercayaan 95 persen 1,22 hingga 1,80, setelah usia, jenis kelamin, hewan penggigit, letak gigitan, dan kategori luka diperhitungkan.
Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang
Dalam analisis yang sama, 1.540 dari 1.751 korban asal kotamadya lain, atau 87,9 persen, tergolong terlambat, sementara di antara 1.102 warga kotamadya Kapilvastu porsinya 82,8 persen. Usia juga ikut berbicara, karena korban berumur 11 sampai 20 tahun memiliki peluang terlambat lebih tinggi dibanding anak nol sampai sepuluh tahun, dengan rasio odds terkoreksi 1,35 dan selang kepercayaan 1,07 hingga 1,70.
Para penulis menduga remaja memiliki keleluasaan yang lebih besar dibanding anak yang lebih kecil, yang biasanya berada dalam pengawasan ketat orang tua, sehingga mereka mungkin menyepelekan atau menyembunyikan gigitan agar tidak dimarahi atau tidak direpotkan oleh pengobatan. Di kelompok 11 sampai 20 tahun, 525 dari 594 korban atau 88,4 persen terlambat, sedangkan di kelompok termuda 753 dari 896 atau 84,0 persen.
Gigitan di Tangan dan Kepala Lebih Cepat Diobati
Sebaliknya, korban yang digigit di tangan, kepala, atau leher justru datang lebih cepat, dengan rasio odds terkoreksi 0,77 dan selang kepercayaan 0,62 hingga 0,95 dibanding korban yang digigit di kaki atau badan. Porsi yang terlambat pada gigitan berisiko tinggi itu 83,1 persen, lebih rendah daripada 87,1 persen pada gigitan berisiko rendah, sedangkan jenis kelamin dan kategori luka WHO tidak bermakna secara statistik sebagai penentu keterlambatan.
Menurut para penulis, temuan itu menandakan bahwa parah-tidaknya luka di mata korban menjadi pendorong penting untuk segera berobat. “Masyarakat mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa setiap gigitan, di mana pun letaknya dan seringan apa pun kelihatannya, memerlukan perhatian medis segera,” tulis Akash Adhikari dan rekan dalam bagian pembahasan, sebagaimana diterjemahkan dari makalah berbahasa Inggris itu, menyebutnya celah genting dalam kesadaran publik.
Untuk memperbaiki kepatuhan, mereka mengusulkan jam layanan klinik yang lebih lentur, pengiriman pengingat jadwal suntikan, pelibatan kader kesehatan desa untuk menindaklanjuti pasien, dan pasokan vaksin yang tidak terputus supaya tak seorang pun melewatkan dosis karena stok habis. Mereka juga menyarankan penjajakan cara mendekatkan layanan vaksin ke komunitas, terutama di wilayah terpencil, yang menurut mereka dapat membawa perbedaan besar.
Dalam kesimpulan, para penulis mencatat penuntasan tiga dosis sudah tinggi, tetapi sebagian besar korban tidak menerima dosis pertama pada hari digigit. “Walaupun program vaksinasinya sendiri kokoh, upaya kesehatan masyarakat ke depan harus segera berfokus mendidik masyarakat tentang pentingnya berkonsultasi medis segera setelah gigitan hewan apa pun,” tulis mereka dalam terjemahan, demi menutup jeda waktu berbahaya itu dan mencegah kematian akibat rabies.
Baca juga Gigitan Anjing di Khash, Iran, Terbanyak dari Anjing Berpemilik
Yang Tak Tertulis di Buku Register
Para penulis juga mengakui sejumlah keterbatasan. Penelitian ini hanya bersumber dari satu rumah sakit, sehingga temuannya rentan bias seleksi dan belum tentu berlaku bagi semua korban gigitan di distrik itu, terutama mereka yang berobat ke tempat lain atau tidak berobat sama sekali, sementara data sekunder dari register rutin bisa memuat kesalahan pencatatan maupun ketidakseragaman isian.
Register itu pun tidak mencatat apakah luka sudah dicuci sebelum korban tiba, atau apakah imunoglobulin rabies diberikan pada kasus kategori III, dan penelitian ini mendokumentasikan pemberian vaksin, bukan pencegahan rabies itu sendiri. Penulis juga menegaskan bahwa penelitian ini hanya menggambarkan korban yang berobat ke fasilitas kesehatan, sehingga orang yang tidak mencari pertolongan medis tidak tercakup, dan mereka meminta penelitian lanjutan menelusuri alasan sosial ekonomi dan logistik di balik keterlambatan.















