- Jarak tengah dari luka sampai dosis pertama hanya satu hari.
- Di antara 178 orang yang tanggalnya tercatat lengkap, 80 masuk golongan dini dan 59 masuk golongan terlambat.
- Peluang pelancong yang pernah divaksin untuk terlambat tercatat 6,29 kali peluang orang yang belum pernah divaksin.
- Pelancong yang terluka di benua Amerika punya peluang terlambat 3,92 kali dibanding yang terluka di Asia Tenggara.
Daftar Isi
Seekor anjing menggigit, jauh dari rumah, di tengah liburan. Lalu datang keputusan yang menentukan: mencari klinik hari itu juga, atau menunggu sampai pesawat mendarat di Barcelona. Dari 59 pelancong yang terlambat disuntik, 48 baru menerima dosis pertama vaksin rabies setelah kembali ke Spanyol.
Angka itu dicatat Luis A Benegas, Valeria Pérez-Muto, Eva Calderón, Cristina Casals, Cristina M García-Blázquez, Marta Aldea, dan Guillermo Mena dalam Factors associated with delays in rabies post-exposure prophylaxis among international travelers in Barcelona, terbit di BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit, tahun 2026. Sebagian besar penulisnya bekerja di Departemen Kedokteran Pencegahan dan Epidemiologi Hospital Clínic Barcelona.
Yang mereka telusuri adalah 203 pelancong internasional yang datang ke Pusat Vaksinasi Dewasa rumah sakit itu, dari Januari 2021 sampai Maret 2025, setelah terluka oleh hewan di luar negeri. Usia tengah mereka 31 tahun. Hampir separuhnya perempuan, dan empat dari sepuluh lahir di luar Spanyol. Empat orang di antaranya memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
Mengapa hitungan hari begitu penting, naskah itu menjawabnya di awal. Rabies hampir selalu mematikan begitu gejalanya muncul, tetapi biasanya bisa dicegah dengan suntikan yang diberikan segera setelah seseorang terpapar. Anjing, tulis para penulis, menjadi sumber 99 persen kasus rabies pada manusia. Di Spanyol sendiri suntikan pascagigitan itu diberikan gratis di layanan kesehatan publik.
Sehari bagi kebanyakan orang, hampir sepekan bagi yang lain
Kabar baiknya ada di tengah data. Jarak tengah dari luka sampai dosis pertama hanya satu hari. Separuh pelancong yang berada di tengah sebaran disuntik dalam rentang nol sampai enam hari. Sebagian besar, 73 persen, menerima dosis pertama di negara tempat mereka terluka, bukan di Barcelona.
Para penulis memakai dua garis batas. Disebut dini bila suntikan diberikan pada hari yang sama dengan kejadian. Disebut terlambat bila baru diberikan tiga hari kemudian atau lebih. Di antara 178 orang yang tanggalnya tercatat lengkap, 80 masuk golongan dini dan 59 masuk golongan terlambat.
“Dalam kelompok kami, kurang dari separuh pelancong memulai vaksinasi pada hari yang sama dengan cedera akibat hewan itu,” tulis Benegas dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Menurut mereka, porsi itu sebanding dengan laporan dari negara kaya bebas rabies lainnya. Namun tetap belum memadai bila diukur dengan anjuran agar suntikan dimulai secepatnya.
Siapa hewan di balik luka-luka itu? Anjing, pada 44 persen kejadian, disusul monyet. Tiga dari empat luka berupa gigitan. Bagian tubuh yang paling sering kena adalah tungkai bawah, 38 persen, dan tungkai atas, 36 persen. Tujuh orang datang karena kelelawar, semuanya bersentuhan tanpa digigit atau dicakar. Kalender ikut bicara: kejadian menumpuk pada bulan liburan musim panas dan musim dingin, yakni Juli, Agustus, Desember, dan Januari. Puncak tertinggi tercatat pada Juli 2023. Asia Tenggara menjadi wilayah kejadian terbanyak, 32 persen dari seluruh kasus.
Baca juga Rabies Klang Valley: Tahu Harus ke Klinik, yang Pergi Sepertiga
Yang sudah pernah divaksin malah paling lama menunggu
Hampir sembilan dari sepuluh pelancong itu, 89 persen, belum pernah divaksin rabies sama sekali. Sisanya sudah punya bekal: 15 orang pernah menerima sedikitnya dua dosis vaksin sebelum bepergian, dan 11 orang pernah disuntik setelah digigit pada kejadian terdahulu.
Kelompok berbekal itu justru lebih lambat. Peluang mereka untuk terlambat tercatat 6,29 kali peluang orang yang belum pernah divaksin, dengan rentang kepercayaan yang lebar, 2,02 sampai 22,9. Peluang mereka disuntik pada hari kejadian pun jauh lebih kecil, hanya 0,16 kali.
Angka mentahnya sama terangnya. Di golongan yang tidak terlambat, hanya dua orang pernah menerima vaksin pencegahan sebelum berangkat. Di golongan terlambat, jumlahnya dua belas, atau satu dari lima. Ketika waktu dihitung utuh dalam hari, jarak tengahnya satu hari pada yang belum pernah divaksin dan enam hari pada yang sudah, walau rentang kepercayaannya lebar.
“Patut dicatat, orang yang pernah divaksin rabies lebih mungkin mengalami keterlambatan memulai,” tulis para penulis. Mereka menduga ada rasa aman yang keliru. Pelancong yang pernah divaksin, menurut naskah itu, bisa saja meremehkan gentingnya perawatan setelah terpapar, atau mengira vaksin lama sudah cukup melindungi tanpa perlu segera ke dokter.
Dugaan itu membawa para penulis pada nasihat sebelum berangkat. Anjuran dokter yang menekankan jadwal suntikan lebih ringkas bagi orang yang sudah divaksin memang tepat secara teknis. Tetapi, tulis mereka, anjuran semacam itu bisa berbalik arah bila tanpa sengaja membuat risiko terasa kecil atau membuat orang menunda mencari pertolongan.
Terluka di Amerika, lebih sering terlambat
Peta ikut menentukan. Dibanding mereka yang terluka di Asia Tenggara, pelancong yang terluka di benua Amerika punya peluang terlambat 3,92 kali. Untuk kelompok wilayah lain, yang mencakup Eropa dan Afrika, angkanya 2,88 kali. Mediterania Timur tidak berbeda nyata dari Asia Tenggara.
Susunan dua golongan itu memperlihatkannya. Asia Tenggara menyumbang 43 persen golongan yang tidak terlambat, tetapi hanya 17 persen golongan terlambat. Amerika sebaliknya: 12 persen di golongan pertama, 31 persen di golongan kedua. Dari 32 orang yang terluka di Amerika, 18 baru disuntik tiga hari atau lebih setelah kejadian.
Lalu soal tempat suntikan. Dari 80 orang yang disuntik pada hari kejadian, 79 menerimanya di negara tempat mereka terluka. Pada golongan terlambat gambarnya terbalik: 48 dari 59 orang, atau 81 persen, baru mendapat dosis pertama di Spanyol. Hanya sembilan yang disuntik di negara kejadian. Untuk keterlambatan pada pelancong yang terluka di luar Asia Tenggara, para penulis menyebut dua kemungkinan penjelasan. Pertama, pelancong menganggap risiko lebih rendah di tujuan yang jarang dikaitkan dengan rabies. Kedua, akses ke layanan kedokteran perjalanan dan praktik klinik setempat berbeda-beda.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Laki-laki lebih cepat, luka di kepala dan badan lebih cepat lagi
Ada dua hal yang mendorong orang bergegas. Pertama, jenis kelamin. Peluang laki-laki disuntik pada hari kejadian 1,96 kali peluang perempuan. Di antara 80 orang golongan dini, 46 laki-laki dan 34 perempuan. Para penulis mencatat temuan serupa tidak selalu muncul di penelitian lain.
Kedua, letak luka. Dibanding luka di tungkai bawah, luka yang digolongkan sebagai bagian tubuh lain, yakni kepala, leher, atau badan, berpeluang 2,43 kali ditangani pada hari yang sama. Peluang terlambatnya pun hanya 0,22 kali. Luka di lengan dan tangan tidak menunjukkan beda yang berarti.
Yang tidak menonjol justru nasihat sebelum berangkat. Hanya 19 persen pelancong pernah mendapatkannya untuk perjalanan itu. Di golongan terlambat porsinya 29 persen, di golongan tidak terlambat 16 persen, tetapi selisih itu tidak cukup kuat secara statistik. Di lampiran, ketika waktu dihitung dalam hari, pelancong yang mendapat nasihat tercatat lebih lambat disuntik dan angkanya bermakna. Jenis hewan juga tidak mengubah peluang terlambat secara nyata.
Satu perlindungan lain jarang dipakai. Hanya 26 persen pelancong menerima imunoglobulin rabies di samping vaksin. Hampir dua pertiga menuntaskan sedikitnya empat dosis vaksin. Namun 67 persen hanya menerima satu atau dua dosis di Barcelona, sebab banyak yang memulai di negara kejadian dan banyak pula yang menyelesaikannya di tempat lain.
Batas temuan ini diakui terang. Datanya digali dari catatan lama satu rumah sakit rujukan, sehingga bisa tidak lengkap, dan nasihat sebelum berangkat sebagian hanya berdasar ingatan pasien. Para penulis juga tidak tahu lama dan tujuan perjalanan tiap orang. Mereka tidak menilai apakah vaksin dan imunoglobulin itu memang diperlukan pada setiap kasus.
Baca juga Vaksin HPV Baru Menjangkau Satu dari Lima Siswa Chiang Mai
Para penulis menutup dengan seruan memperkuat nasihat sebelum berangkat. Pesan tentang gentingnya perawatan setelah terpapar, tulis mereka, perlu ditegaskan kepada pelancong yang pernah divaksin dan yang menuju wilayah tempat risiko rabies kerap diremehkan, seperti Amerika. Vaksinasi terdahulu, menurut naskah itu, tidak menghapus keperluan segera mencari pertolongan medis setelah terpapar.















