- 94,15 persen tahu gigitan anjing harus ke klinik, hanya 37,23 persen yang berobat setelah digigit
- Hanya 31,25 persen mencuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir 15 menit
- Laki-laki dan usia 26-33 tahun paling kecil peluangnya berskor CAB non-positif
- 68,62 persen percaya cakaran anjing tidak bisa menularkan rabies
Daftar Isi
Hampir semua orang tahu bahwa gigitan anjing harus segera dibawa ke klinik, dan hampir semua orang mengangguk ketika ditanya soal itu. Yang mengaku benar-benar pergi setelah digigit ternyata tidak sampai empat dari sepuluh. Jarak antara tahu dan berbuat itulah yang muncul dari sebuah survei terhadap warga Klang Valley, kawasan padat yang mencakup Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Selangor, ketika mereka ditanya tentang rabies yang ditularkan anjing.
Survei itu ditulis Yunusa Adamu Wada, Mazlina Mazlan, Mohamed Mustapha Noordin, Mohd Azmi Mohd-Lila, Siti Zubaidah Ramanoon, Nurul Izzati Uda Zahli, Lau Seng Fong, dan Nur Ahdanisa Khairul Muzammil dalam Community perspectives on canine-mediated rabies risk in the Klang Valley, Malaysia: implications for outbreak preparedness, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1895, tahun 2026. Sebagian besar penulis berasal dari Fakultas Kedokteran Veteriner Universiti Putra Malaysia di Serdang, Selangor.
Pengetahuan yang Berhenti di Kepala
Malaysia pernah dinyatakan bebas rabies pada 2012, lalu kehilangan status itu pada 2015 setelah rangkaian wabah rabies anjing. Menurut paper, Sarawak menyumbang mayoritas kematian manusia akibat rabies di negara itu, dengan tingkat kematian kasus sekitar 90 persen. Pendorong utamanya adalah cakupan vaksinasi anjing yang jauh di bawah ambang 70 persen yang dianjurkan WHO untuk kekebalan kelompok, dan para peneliti khawatir kawasan kota padat seperti Klang Valley makin terpapar.
Persoalannya, pengendalian rabies tidak hanya bergantung pada vaksin dan dokter hewan, tetapi pada apa yang dilakukan warga ketika seekor anjing menggigit. Karena itu para peneliti mengukur tiga lapisan sekaligus: apa yang diketahui warga, bagaimana sikap mereka, dan apa yang mereka lakukan. Ketiganya digabung menjadi satu skor yang mereka sebut CAB, singkatan dari cognitive, affective, behavioural, dan skor yang tidak positif dipakai sebagai penanda risiko paparan rabies yang lebih tinggi.
Dari 564 warga dewasa di sembilan kota yang menjawab, 74,70 persen memiliki pengetahuan umum tentang rabies. Di antara yang tahu itu, 44,44 persen tergolong berpengetahuan tinggi, 33,33 persen sedang, dan 22,22 persen rendah. Sisanya, 25,30 persen atau 143 orang, digolongkan tidak tahu sama sekali, dan kelompok inilah yang menurut para penulis paling rentan terhadap informasi keliru dan paling kecil kemungkinannya mengambil langkah pencegahan.
Butir yang Paling Sering Salah
Yang paling banyak dijawab benar adalah pernyataan yang paling umum. Sebanyak 94,86 persen tahu vaksinasi anjing melindungi dari penyakit menular, 94,15 persen tahu gigitan anjing harus segera ditangani di klinik atau rumah sakit, dan 89,01 persen tahu rabies anjing dapat menular ke manusia. Semakin masuk ke perincian tindakan, angkanya turun: hanya 64,18 persen tahu suntikan penguat tetanus termasuk pengobatan untuk gigitan anjing.
Yang membuatnya rumit, dua butir paling praktis justru paling lemah. Hanya 57,27 persen tahu luka gigitan harus dicuci dengan sabun dan air mengalir sedikitnya 15 menit. Pernyataan bahwa cakaran anjing tidak bisa menularkan rabies, yang sebenarnya keliru, hanya dikenali sebagai keliru oleh 31,38 persen responden; 68,62 persen lainnya percaya cakaran aman. Padahal 22,70 persen responden mengaku pernah digigit atau dicakar anjing dalam setahun terakhir.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Dari Tahu ke Berbuat, Jaraknya Separuh
Di sinilah jarak itu terlihat paling jelas. Pengetahuan bahwa gigitan harus dibawa ke klinik dimiliki 94,15 persen responden, tetapi yang mengaku benar-benar berobat ke klinik atau rumah sakit setelah digigit hanya 37,23 persen, dan 36,17 persen tidak melakukannya. Mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit dilakukan 31,25 persen, sementara 33,11 persen menjawab dengan praktik yang tergolong negatif.
Karena itu skor perilaku rata-rata hanya 34,24 persen positif, jauh di bawah skor pengetahuan 74,70 persen. Para penulis menyebut jurang ini KAP-gap, jarak antara pengetahuan, sikap, dan praktik yang menurut mereka lazim ditemui dalam kesehatan masyarakat. Mereka menduga penghalangnya ada pada keyakinan budaya, keterbatasan biaya, dan akses ke fasilitas kesehatan, dan ketiganya mereka sampaikan sebagai dugaan, bukan sebagai hasil pengukuran survei ini.
“Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku, sehingga diperlukan intervensi yang menyasar hambatan sikap, keyakinan budaya, dan kesulitan praktis dalam mengakses layanan kesehatan,” tulis Yunusa Adamu Wada dan rekan-rekannya dalam naskah yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi this discrepancy suggests that knowledge alone is insufficient to drive behavioural change, necessitating interventions that address attitudinal barriers, cultural beliefs, and practical challenges to accessing healthcare.
Persepsi yang Menggantung di Tengah
Lapisan sikap menunjukkan pola serupa. Rata-rata hanya 48,33 persen responden memiliki persepsi positif tentang faktor risiko rabies, 34,03 persen netral, dan 17,64 persen negatif. Butir yang paling menggantung adalah pernyataan paling dasar: hanya 29,40 persen percaya bahwa anjing bisa menularkan penyakit kepada diri mereka, sementara 54,80 persen menjawab netral. Kekhawatiran bahwa anggota keluarga yang sakit bisa tertular dari anjing bahkan lebih banyak dijawab negatif, yaitu 32,60 persen.
Sebaliknya, butir tentang tindakan lebih banyak dijawab positif. Sebanyak 70,00 persen menolak anggapan bahwa pertolongan pertama tidak diperlukan setelah gigitan anjing, 64,40 persen setuju anjing di wilayah dengan kasus rabies perlu divaksin, dan 60,10 persen setuju pemilik perlu membawa anjingnya ke klinik hewan untuk vaksinasi tahunan. Persoalannya, sikap setuju di atas kertas itu tidak diikuti angka praktik yang sepadan pada bagian perilaku.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
Anjing Liar di Depan Rumah
Hubungan warga dengan anjing di Klang Valley terbelah hampir sama besar. Sebanyak 39,18 persen ingin memelihara anjing, sebagian besar sebagai teman (61,09 persen) atau penjaga keamanan (29,41 persen). Sebanyak 40,52 persen tidak ingin, dan alasan terbesarnya adalah keyakinan agama (59,48 persen), disusul rasa tidak suka (15,09 persen) dan kekhawatiran akan luka atau penyakit dari gigitan (12,93 persen).
Anjing liar adalah bagian dari keseharian di sana. Sebanyak 27,5 persen melihatnya pada sore hari dan 21,8 persen pada malam hari, sementara 32,6 persen jarang melihatnya di dekat rumah. Yang menarik adalah apa yang dilakukan warga: 48,9 persen tidak berbuat apa-apa, 14,70 persen mengusir, 11,3 persen memberi makan, 7,3 persen membiarkan anjing liar kawin dengan anjing peliharaan mereka, dan hanya 8,30 persen melapor ke pihak berwenang.
Kesadaran hukum ikut menentukan cara warga memperlakukan anjing. Hanya 22,70 persen responden tahu adanya Animal Welfare Act, undang-undang kesejahteraan hewan Malaysia, meski 77,7 persen menyadari ada konsekuensi hukum bila menganiaya anjing. Menurut para penulis, campuran antara memberi makan dan melapor ini menggambarkan sulitnya mengelola populasi anjing yang bebas berkeliaran, yang mereka sebut sebagai faktor kunci dalam penyebaran rabies.
Siapa yang Paling Rentan
Ketika ketiga lapisan digabung, 61,61 persen responden memiliki skor CAB positif dan 38,39 persen tidak. Dua ciri membedakan secara bermakna. Laki-laki memiliki peluang 34 persen lebih rendah untuk skor non-positif dibanding perempuan, dengan rasio odds 0,66; proporsi skor positif laki-laki 68,2 persen berbanding perempuan 58,7 persen. Kelompok usia 26 sampai 33 tahun memiliki peluang 45 persen lebih rendah dibanding kelompok 18 sampai 25 tahun, dengan skor positif tertinggi, 73,7 persen.
Kelompok usia 50 tahun ke atas bergerak ke arah sebaliknya, dengan rasio odds 1,92 dan skor positif terendah, 44,7 persen, tetapi nilai p-nya 0,062, sedikit di atas batas bermakna. Warga tanpa pendidikan formal memiliki rasio odds 3,07 dibanding lulusan pendidikan tinggi, juga tidak bermakna secara statistik, dan hanya ada 11 orang dalam kelompok itu. Etnis dan kepemilikan anjing tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Para penulis mengakui sejumlah keterbatasan. Desain potong lintang, tulis mereka, tidak memungkinkan hubungan sebab-akibat ditetapkan, dan data yang dilaporkan sendiri bisa terpengaruh bias ingatan atau keinginan tampak baik, terutama untuk perilaku mencari pengobatan. Temuan ini juga belum tentu berlaku untuk wilayah Malaysia lain dengan profil penduduk dan situasi rabies yang berbeda. Sampelnya sendiri condong: 60,99 persen perempuan, 48,40 persen berusia 18 sampai 25 tahun, dan 43,62 persen mahasiswa.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Yang Tidak Cocok di Dalam Naskah
Beberapa bagian naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Bagian diskusi menyebut kepemilikan anjing berkaitan secara bermakna dengan skor pengetahuan yang lebih tinggi, tetapi Tabel 5 justru menunjukkan pemilik anjing memiliki proporsi skor CAB positif lebih rendah, 59,7 persen berbanding 64,1 persen, dengan rasio odds 1,21 yang tidak bermakna. Paragraf lain di diskusi yang sama mengakui kepemilikan anjing bukan prediktor yang bermakna.
Diskusi juga menyebut sebagian besar pemilik anjing tidak memvaksinasi anjingnya setiap tahun, tetapi tidak ada angka vaksinasi anjing di bagian hasil maupun tabel. Kelompok tanpa pendidikan formal dan usia 50 tahun ke atas disebut memiliki peluang yang secara bermakna lebih tinggi, padahal nilai p keduanya di atas 0,05 dan paper sendiri menyebut hasil itu tidak bermakna secara statistik. Abstrak menulis pengetahuan rendah sebagai di bawah 60 persen, sedangkan bagian metode memisahkan rendah pada 40 sampai 59 persen dan tidak tahu di bawah 40 persen.
Kejanggalan pembuka dengan demikian punya jawaban, setidaknya sebagian. Hampir semua warga tahu gigitan anjing harus dibawa ke klinik, tetapi pengetahuan itu berhenti sebelum sampai ke tangan yang mencuci luka atau kaki yang melangkah ke klinik, karena yang menghalangi bukan ketidaktahuan, melainkan sesuatu yang belum sempat diukur survei ini. Para penulis sendiri menutup dengan pengakuan bahwa alasan khusus di Klang Valley masih memerlukan penelusuran kualitatif lebih lanjut.















