Gigitan Anjing di Khash, Iran, Terbanyak dari Anjing Berpemilik

A A

Anjing penjaga berbulu cokelat berantai rebah di tanah berdebu di Birjand, Iran [Foto: Rotelshid/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Keterangan serupa datang dari petugas kesehatan lingkungan berusia 54 tahun yang sudah 20 tahun bekerja.
  • Banyak warga Khash memandang anjing sebagai penjaga rumah dan ternak, sehingga anjing itu dibiarkan tanpa rantai dan tanpa dilatih.
  • Kotamadya Khash tidak punya tempat untuk menampung, mensterilkan, atau menidurkan anjing liar.
  • Khash punya 13 pusat kesehatan yang menyediakan vaksin dan serum antirabies secara gratis atau murah, termasuk bagi pendatang dari kota lain.
Daftar Isi
  1. Nohtani mendengar dari petugas kesehatan
  2. Nohtani menelusuri sampah di pinggiran
  3. Nohtani mencatat keyakinan tentang anjing penjaga
  4. Nohtani melihat anak dan orang tua di gang
  5. Nohtani mendatangi kantor yang menunggu anggaran
  6. Nohtani dan Tehran menimbang batas temuannya

Vahid Nohtani menanyai warga Khash, Iran, tentang satu hal yang terus bertambah di daerah itu, yakni gigitan anjing. Sebagai orang setempat yang mengenal kondisi sosial dan budaya daerahnya, ia mewawancarai langsung 41 orang pada Maret sampai Juni 2025, dari korban gigitan, keluarga korban, warga biasa, sampai pejabat kantor pemerintah. Jawaban pertama yang ia dengar justru membalik dugaan umum.

Nohtani menuliskan hasilnya bersama Mehrsadat Mahdizadeh, Mahdi Gholian-Aval, Vahid Ghavami, dan Hadi Tehran dalam Exploring the social and organizational factors influencing dog bites: a qualitative study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Kelima peneliti itu bernaung di Mashhad University of Medical Sciences, Iran, dan Hadi Tehran bertindak sebagai penulis korespondensi.

Khash adalah kabupaten di Provinsi Sistan and Baluchestan, tenggara Iran, yang berbatasan dengan Pakistan. Menurut catatan yang dikutip Nohtani dan Tehran, kasus gigitan anjing di sana naik dari 287 pada 2021 menjadi 293 pada 2022 dan 312 pada 2023. Sebagian besar dari sekitar 173.821 penduduknya adalah orang Baloch yang tinggal tersebar di perdesaan.

Kasus gigitan anjing di Khash2021: Jumlah kasus +287; 2022: Jumlah kasus +293; 2023: Jumlah kasus +312.Kasus gigitan anjing di KhashKabupaten Khash, Provinsi Sistan and Baluchestan, Iran1002003000202128720222932023312Laju per 100.000 penduduk menurut naskah: 148,5 (2021), 132,9(2022), 148,5 (2023).
Sumber: Vahid Nohtani, Mehrsadat Mahdizadeh, Mahdi Gholian-Aval, Vahid Ghavami, dan Hadi Tehran, Exploring the social and organizational factors influencing dog bites: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Nohtani mendengar dari petugas kesehatan

Seorang pejabat penanganan penyakit tidak menular, berusia 41 tahun dengan pengalaman 17 tahun, memberi Nohtani urutan yang tidak disangka. “Dalam statistik kami, anjing berpemilik di desa menempati urutan pertama dalam menggigit, disusul anjing berpemilik di kota; baru kemudian anjing liar,” katanya dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Pejabat yang sama menjadi narasumber yang paling sering dikutip Nohtani dalam naskahnya.

Keterangan serupa datang dari petugas kesehatan lingkungan berusia 54 tahun yang sudah 20 tahun bekerja. Kepada Nohtani ia menyebut anjing berpemilik di desa sebagai penyebab gigitan nomor satu. Nohtani dan Hadi Tehran membedakan anjing liar, yang berkeliaran tanpa pemilik jelas, dari anjing semi-bebas yang punya pemilik tetapi bolak-balik antara pekarangan dan jalan.

Perbedaan itu menjadi salah satu temuan penting naskah. “Anjing semi-bebas, yang kerap dipelihara untuk perlindungan menurut norma budaya setempat, menimbulkan risiko lebih besar daripada anjing liar sepenuhnya karena seringnya berinteraksi dengan manusia,” tulis Nohtani, Tehran, dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka menyebut penekanan pada norma budaya Baloch dan anjing semi-bebas di wilayah perbatasan itu sebagai sudut baru studinya.

Para pemilik, menurut peserta yang diwawancarai Nohtani, sering membiarkan anjing berkeliaran di jalan, tidak memasang tali, dan tidak mensterilkannya. Seorang ibu rumah tangga berusia 34 tahun merangkumnya singkat kepada Nohtani. “Pemilik anjing di sini tidak memasang tali, anjing pergi ke mana pun mereka mau,” katanya dalam kutipan yang oleh para penulis ditulis dalam bahasa Inggris.

Nohtani menelusuri sampah di pinggiran

Dari percakapan dengan warga, Nohtani menemukan sampah sebagai pintu masuk. Sampah yang menumpuk di jalan, gang, dan lahan kosong di pinggiran kota dan desa menjadi sumber makan tetap bagi anjing, terutama pada musim panas. Di beberapa tempat, sampah tidak diangkut selama berhari-hari, dan tidak ada wadah yang tahan dibongkar hewan.

Seorang ibu berusia 42 tahun, warga desa, menghubungkan sampah dengan anak-anaknya. “Kalau sampah diangkut tepat waktu, anjing tidak akan berkeliaran di sekitar rumah sebanyak ini. Sekarang anak-anak takut keluar dan bermain di jalan,” katanya kepada Nohtani. Hadi Tehran dan rekan-rekannya juga mencatat tidak adanya program sterilisasi, sehingga anjing berkembang biak tanpa kendali.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Nohtani mencatat keyakinan tentang anjing penjaga

Lapisan berikutnya yang dicatat Nohtani adalah keyakinan. Banyak warga Khash memandang anjing sebagai penjaga rumah dan ternak, sehingga anjing itu dibiarkan tanpa rantai dan tanpa dilatih. Anjing penjaga dianggap tidak berbahaya, anjing gembala dianggap tidak menggigit, dan anjing tetangga yang sudah dikenal dipercaya aman, terutama oleh anak-anak.

Seorang administrator distrik perdesaan berusia 52 tahun membantah keyakinan itu dari pengalamannya sendiri. “Orang mengira anjing gembala tidak pernah menggigit, tetapi keyakinan inilah yang menyebabkan banyak gigitan,” katanya kepada Nohtani. Mahdi Gholian-Aval dan para penulis lain menyebut norma adat yang mendorong anjing semi-bebas ini paling kuat di perdesaan.

Menurut Nohtani dan rekan-rekannya, warga juga kekurangan pengetahuan tentang bahasa tubuh anjing, tanda agresi, dan cara berinteraksi yang aman. Seorang petugas kesehatan masyarakat berusia 45 tahun melihat jalan keluarnya pada kerja sama. “Kalau guru sekolah dan dewan mau bekerja sama, kami bisa memberi tahu warga dengan lebih baik,” katanya.

Nohtani melihat anak dan orang tua di gang

Korban gigitan yang diwawancarai Nohtani rata-rata berusia sekitar 21 tahun, dan para penulis membaca angka itu sebagai tanda kerentanan anak dan anak muda. Menurut Nohtani dan rekan-rekannya, minimnya program edukasi di sekolah perdesaan ikut membuat siswa tidak tahu cara aman berinteraksi dengan anjing. Perilaku yang memicu anjing antara lain menggoda, berlari, berteriak, menatap mata, mendekat saat anjing makan atau menjaga anaknya, serta menyentuh secara tiba-tiba.

Seorang ayah berusia 50 tahun, pemilik toko, menggambarkan anak-anak yang ia lihat. “Sebagian anak mengira anjing adalah mainan mereka; mereka mengejar atau bermain dengannya. Lalu tiba-tiba anjing itu marah,” katanya kepada Nohtani. Vahid Ghavami dan para penulis lain mencatat anak kerap mendekat karena penasaran atau tidak tahu bahayanya.

Kelompok rentan kedua adalah orang tua. Seorang petani berusia 42 tahun dari desa menceritakan kepada Nohtani apa yang menimpa ayahnya. “Ayah saya berumur 70 tahun, ia tidak bisa lari dengan cepat. Anjing itu menyerangnya di gang,” katanya. Menurut Hadi Tehran dan rekan-rekannya, reaksi yang melambat dan gerak yang terbatas membuat orang tua sulit menghindar.

Baca juga Rabies Klang Valley: Tahu Harus ke Klinik, yang Pergi Sepertiga

Nohtani mendatangi kantor yang menunggu anggaran

Di kantor-kantor pemerintah, Nohtani mendengar cerita tentang niat yang terhenti. Kotamadya Khash tidak punya tempat untuk menampung, mensterilkan, atau menidurkan anjing liar. Seorang manajer layanan kota berusia 47 tahun berkata, “Kami punya tempat pembuangan, tetapi kami tidak punya peralatan; tidak berpagar, hanya lahan kosong.” Lahan itu juga belum berair, berlistrik, dan berpenjaga.

Seorang petugas veteriner berusia 44 tahun menjelaskan pola yang berulang kepada Nohtani. “Setiap tahun kami meluncurkan program penangkapan anjing, tetapi ketika anggarannya habis, program itu terputus,” katanya. Mehrsadat Mahdizadeh dan para penulis lain menyebut program semacam ini biasanya digelar karena keluhan atau lonjakan kasus, bukan karena rencana jangka panjang.

Yang macet dan yang sudah ada di KhashYang macet dan yang sudah ada di KhashYang macet dan yang sudah ada di KhashFaktor organisasi dari wawancara 41 orang di Khash, IranHambatanModalLahan kosongVaksin 13 pusatFasilitasPutusan mandekKomite triwulananRapat lembagaRazia terputusVaksinasi anjingProgram anjingTanpa penjagaPetugas BalochTenagaAnjing tanpa taliDesakan dewanSuara wargaRazia anjing digelar tiap tahun lalu berhenti saat anggaran habis. Vaksindan serum antirabies tersedia di 13 pusat kesehatan.
Sumber: Vahid Nohtani, Mehrsadat Mahdizadeh, Mahdi Gholian-Aval, Vahid Ghavami, dan Hadi Tehran, Exploring the social and organizational factors influencing dog bites: a qualitative study, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada komite kesehatan dan keamanan pangan di kantor gubernur yang mempertemukan dinas kesehatan, kotamadya, dan layanan veteriner. Namun, kepada Nohtani, seorang manajer penyakit tidak menular mengakui keputusannya tidak selalu dijalankan. Seorang pakar di kantor gubernur berusia 50 tahun menambahkan bahwa komite rapat tiap triwulan untuk merencanakan pengendalian anjing liar, tetapi anggarannya terbatas.

Nohtani juga menemukan modal yang sudah ada. Khash punya 13 pusat kesehatan yang menyediakan vaksin dan serum antirabies secara gratis atau murah, termasuk bagi pendatang dari kota lain. Petugas kesehatan setempat berbahasa Baloch, dan menurut pejabat yang diwawancarai Nohtani, warga desa lebih mau mendengar bila pesan disampaikan dalam bahasa mereka sendiri.

Warga pun ikut mendesak. Seorang administrator distrik bercerita kepada Nohtani bahwa orang-orang datang sendiri menanyakan mengapa kotamadya tidak menangkap anjing. Seorang manajer layanan kota berusia 43 tahun menyimpulkan sikap para kantor. “Kalau gubernur mengeluarkan surat keputusan, semua lembaga akan bekerja sama. Tanpa itu, tidak ada yang berjalan,” katanya.

Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang

Nohtani dan Tehran menimbang batas temuannya

Nohtani, Tehran, dan rekan-rekannya mengakui batas studi mereka. “Keterbatasan studi ini mencakup fokus pada satu wilayah tertentu dan hanya mengandalkan metode kualitatif, yang membatasi keberlakuan umum,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Temuan dari 41 orang di Khash karena itu belum bisa dibaca sebagai gambaran seluruh Iran.

Pembaca yang teliti bisa memeriksa beberapa hal di naskah Nohtani. Laju gigitan per 100.000 penduduk tertulis 148,5 pada 2021 dan 148,5 lagi pada 2023, padahal jumlah kasus naik dari 287 ke 312. Laju 2022 justru turun menjadi 132,9 walau kasusnya naik menjadi 293. Naskah juga menyebut laju itu melampaui rata-rata nasional 140 sampai 180, padahal semuanya berada di dalam atau di bawah rentang itu.

Ada pula angka yang tampak tertukar. Bagian diskusi yang ditulis Nohtani dan rekan-rekannya menyebut korban laki-laki mendominasi dengan proporsi 57,1 sampai 88,9 persen. Dua angka itu sebenarnya proporsi laki-laki pada kelompok keluarga korban dan kelompok pejabat, sedangkan proporsi laki-laki di antara korban gigitan tertulis 68,4 persen pada tabel yang sama.

Naskah Nohtani juga menyebut kejenuhan data tercapai setelah 30 wawancara dan dua wawancara tambahan dilakukan untuk memastikan, padahal di tempat lain tertulis 41 wawancara. Panduan wawancara disebut dibuat untuk sembilan kelompok di satu bagian dan lima kelompok di bagian lain, sementara tabel peserta hanya membagi mereka menjadi empat kelompok.

Pada akhirnya, jawaban pertama yang didengar Vahid Nohtani tetap menjadi poros naskahnya. Gigitan di Khash tidak hanya soal anjing tanpa tuan di jalan, tetapi juga anjing penjaga yang dipercaya pemiliknya, sampah yang tak terangkut, dan kantor yang menunggu anggaran. Nohtani dan Tehran menutupnya dengan usulan edukasi berbahasa Baloch, koordinasi antarlembaga, dan anggaran yang berkelanjutan.

Bagikan

Baca Juga

Tari Adolesensi Membaca Gejolak Pubertas Anak Perempuan
Antibiotik Tidak Mengobati Influenza A, Dokter ITS Ingatkan Warga
Sabuk Buatan Mahasiswa UGM Beri Tanda Sebelum Kantong Stoma Bocor
AS Kirim Kapal Induk Ketiga ke Perairan Sekitar Iran
Petani Padi Roi-Et Paham Ergonomi, Nyaris Semua Tetap Nyeri Otot
Susut Pascapanen Sayur di Rwanda Mengosongkan Piring Petani