- 87,8 persen dari 746 warga Dhading, Nepal, punya kesadaran TBC tergolong poor, jauh lebih buruk dari rabies (47,6 persen)
- 69,8 persen responden tidak tahu istilah zoonosis, bahkan 63,2 persen pekerja kesehatan tidak bisa mendefinisikannya
- 80,0 persen minum susu mentah saat ritual keagamaan meski 97,6 persen biasa merebus susu di rumah
- Hanya 3 dari 574 responden pemilik hewan ikut memvaksin anjing liar di lingkungannya
Daftar Isi
Zoonosis adalah istilah untuk penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia, dan bagi kebanyakan warga Distrik Dhading di Nepal, kata itu terasa asing meski mereka hidup berdampingan dengan sapi, kerbau, dan anjing setiap hari. Tuberkulosis (TBC) dan rabies, dua penyakit macam itu, sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu dan masih merenggut nyawa di abad ini. Survei terhadap 746 warga lima desa di Dhading menemukan kesadaran mereka tentang kedua penyakit itu jomplang jauh, dan praktik sehari-hari mereka justru membuka celah penularan yang sama.
Temuan ini berasal dari Michael Pudlo, Samagya Kharel, Hannah L. Welter, dan Rima D. Shrestha dalam Awareness and practices survey of two ancient zoonotic diseases in Dhading District of Nepal, BMC Public Health, volume 26 nomor 1216, tahun 2026. Tim ini berasal dari Universitas Illinois di Amerika Serikat dan Himalayan College of Agricultural Sciences and Technology di Nepal.
Zoonosis, penyakit yang melompat pagar kandang
Maksudnya begini. Zoonosis adalah penyakit yang biasanya hidup di tubuh hewan, lalu suatu saat melompat pagar dan menulari manusia yang berkontak dengannya. TBC menular lewat udara yang dihirup dari droplet penderita, sedangkan rabies menular lewat gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, terutama anjing. Di Dhading, lebih dari 66 persen penduduk Nepal secara umum bekerja di bidang pertanian dan peternakan, sehingga pagar antara hewan dan manusia itu sangat tipis.
Bedanya begini dengan bayangan orang awam. Banyak yang mengira zoonosis hanya soal wabah besar semacam flu burung. Namun dalam survei ini, 69,8 persen responden mengaku tidak tahu istilah zoonosis sama sekali, dan 65,3 persen tidak yakin apakah TBC dan rabies termasuk penyakit yang bisa berpindah dari hewan. Di bagian pembahasan, peneliti mencatat hanya 30,2 persen peserta yang mampu mendefinisikan zoonosis dengan benar.
Di sinilah contoh tadi meleset paling jauh. Bahkan pekerja kesehatan, yang sehari-hari menangani pasien, sebanyak 63,2 persen di antaranya tidak bisa mendefinisikan zoonosis dengan tepat. “Bahkan banyak pekerja kesehatan (63,2 persen) tidak bisa mendefinisikan zoonosis dengan benar, yang mempertanyakan tingkat pelatihan yang dikhususkan untuk penyakit menular,” tulis Michael Pudlo dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris, dari kalimat asli even many healthcare workers (63.2%) could not correctly define zoonosis, calling into question the level of training dedicated to infectious diseases.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
KAP, tiga langkah sebelum orang berubah perilaku
KAP adalah singkatan dari Knowledge-Attitude-Practice, atau Pengetahuan-Sikap-Praktik, model yang diperkenalkan pada 1976 untuk mengukur kesehatan masyarakat. Pengetahuan berarti seberapa jauh orang tahu soal suatu penyakit, sikap adalah keyakinan yang menyertainya, dan praktik adalah tindakan nyata yang bisa berubah bila pengetahuan dan sikap diintervensi.
Contoh sehari-harinya begini. Survei ini memberi tujuh pertanyaan pengetahuan dan delapan pertanyaan praktik untuk tiap penyakit, lalu skornya dinormalisasi dan dikelompokkan jadi excellent, good, sufficient, dan poor. Rerata skor pengetahuan mentah warga Dhading adalah 4,98 untuk TBC dan 9,49 untuk rabies, dari skor maksimum yang disebut peneliti 15 untuk tiap penyakit.
Persoalannya, angka pengetahuan dan praktik itu tidak selalu berjalan searah. Skor pengetahuan TBC justru berkorelasi negatif dengan skor praktik pencegahannya, sebesar -0,195, artinya semakin tahu belum tentu semakin waspada. Untuk rabies, korelasi keduanya nyaris nol, 0,007, seolah pengetahuan dan tindakan berjalan di jalur yang terpisah sama sekali.
VDC, desa sebelum Nepal berbenah
VDC adalah singkatan dari Village Development Committee, satuan pemerintahan desa di Nepal yang dipakai saat survei ini dilakukan pada 2017, sebelum negara itu menjalani reformasi desentralisasi. Lima VDC di Dhading dipilih karena distrik ini termasuk yang paling parah terdampak gempa besar 2015, dengan lebih dari 81.000 rumah runtuh.
Bedanya dengan peta Nepal sekarang, VDC sudah direorganisasi menjadi kotamadya di bawah tujuh provinsi dan 753 pemerintah lokal. Namun pada masa survei, kelima VDC itu masih jadi satuan yang membedakan tingkat kesadaran warganya. VDC 3 punya kesadaran TBC tertinggi, 18,24 persen, sedangkan VDC 5 punya kesadaran rabies tertinggi, 69,13 persen, jauh di atas VDC lain yang berkisar 33,3 sampai 51,74 persen.
Maksudnya, tempat tinggal ikut menentukan seberapa jauh seseorang tahu soal kedua penyakit ini. Peneliti menduga guru-guru di VDC 5 pernah mendapat pelatihan khusus dari program pendidikan asing tentang faktor risiko zoonosis, dan pelatihan itu ikut terbawa saat mereka mengajar di kelas. Kalau dugaan ini benar, guru bisa jadi pintu masuk mengajarkan kewaspadaan rabies kepada murid-muridnya.
Baca juga Bunyi Rumah Potong Hewan Padangpanjang Jadi Karya Dua Bagian
Skor ternormalisasi, angka yang disetarakan dulu
Skor ternormalisasi adalah angka pengetahuan mentah yang sudah disetarakan lewat rumus tertentu, sehingga hasil dari pertanyaan TBC dan rabies yang jumlahnya berbeda bisa dibandingkan pada skala yang sama, dari 0 sampai 100 persen. Dengan cara ini, 87,8 persen responden tergolong kesadaran TBC yang poor, sedangkan untuk rabies proporsi yang poor jauh lebih kecil, 47,6 persen, dan justru separuh responden tergolong sufficient.
Namun di sinilah contoh perbandingan itu meleset. Skor maksimum pengetahuan yang disebut peneliti di bagian metode adalah 15 untuk tiap penyakit. Tabel hasil rabies justru mencantumkan rentang skor mentah sampai 18, tiga poin melampaui batas yang mereka tetapkan sendiri, tanpa penjelasan lanjutan di naskah tentang dari mana kelebihan tiga poin itu berasal.
Perbedaan gender juga tersaji dengan cara yang membingungkan. Untuk skor pengetahuan yang dihitung penuh, laki-laki memang lebih tinggi bermakna dari perempuan, baik untuk TBC maupun rabies. Tetapi untuk proporsi kesadaran TBC, naskah menulis angka 9,41 persen berbanding 15,88 persen sembari menyebut kesadaran itu lebih tinggi pada laki-laki, padahal urutan angka yang mereka tuliskan sendiri menunjukkan yang lebih besar justru 15,88 persen.
Dari 746 responden, 574 orang atau 76,9 persen memelihara hewan di rumah, mayoritas berupa sapi atau kerbau untuk sumber pangan, penghasilan, dan kompos. Sebanyak 76,8 persen membiarkan hewan apa pun berkeliaran bebas di sekitar rumah, dan hanya 3,7 persen yang mengarantina hewan baru sebelum dicampur dengan hewan lain.
Bedanya begini antara niat baik dan praktik yang sebenarnya berjalan. Sebanyak 97,6 persen responden mengaku merebus susu sebelum diminum di rumah sehari-hari, kebiasaan yang sudah tepat untuk mencegah TBC sapi. Namun 80,0 persen dari mereka juga mengonsumsi susu mentah yang tidak direbus saat ritual keagamaan, sehingga kebiasaan aman yang sama sekali tidak berlaku di momen tertentu.
Mediasi, jalan tak langsung menuju pengetahuan
Mediasi adalah cara statistik untuk melihat apakah pengaruh satu faktor terhadap hasil akhir berjalan langsung atau lewat perantara. Dalam kasus TBC, peneliti menghitung sekitar 27 persen dari total pengaruh terhadap pengetahuan TBC berjalan lewat praktik sebagai perantara, sedangkan sisanya berjalan langsung lewat faktor lain seperti usia, gender, dan pekerjaan.
Bedanya dengan rabies, jalur mediasinya justru terbalik arah. Pekerjaan berpengaruh kuat terhadap praktik pencegahan rabies, tetapi jalur langsung dari pekerjaan menuju pengetahuan rabies malah negatif. Usia berpengaruh positif kuat pada pengetahuan kedua penyakit, sementara gender berpengaruh negatif pada keduanya, mencerminkan kesenjangan akses informasi antara laki-laki dan perempuan.
Peneliti menaruh dugaan budaya di balik kesenjangan gender ini. “Ini mungkin mencerminkan pola budaya di mana perempuan, terutama dalam konteks pedesaan dan pertanian, memiliki lebih sedikit kesempatan menerima edukasi khusus rabies meski memegang peran sentral dalam perawatan hewan dan keputusan kesehatan keluarga,” tulis para peneliti, dari kalimat asli berbahasa Inggris this may reflect cultural patterns in which women, especially in rural and agricultural contexts, have fewer opportunities to receive rabies-specific education despite playing central roles in animal care and family health decisions.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
One Health, satu kesehatan untuk manusia dan hewan
One Health adalah pendekatan yang menyatukan penanganan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam satu strategi, bukan menanganinya terpisah-pisah oleh sektor yang berbeda. Peneliti membandingkan Dhading dengan negara tetangga yang sudah menjalankan pendekatan ini: Bhutan hanya mencatat 17 kasus rabies sepanjang 2006 sampai 2026, sedangkan Bangladesh menurunkan kematian rabies dari 1.500 kasus pada 2012 menjadi 200 kasus pada 2015.
Persoalannya, Nepal sendiri sudah menargetkan eliminasi rabies pada 2030 sejak vaksinasi antirabies pertama dimulai 1983, tetapi wabah masih terjadi. Naskah mencatat Nepal melaporkan wabah rabies yang merenggut tiga nyawa pada 2025, dan dari 574 responden pemilik hewan di Dhading, hanya 80 orang yang memelihara anjing. Dari 80 pemilik anjing itu, hampir separuh memvaksin anjingnya sendiri, tetapi hanya tiga responden yang ikut memvaksin anjing liar di lingkungan mereka.
Peneliti sendiri mengakui batas studi ini. Survei hanya menjangkau wilayah pedesaan dan tidak mencakup semua jenis pekerjaan, serta tidak menilai tingkat pendidikan peserta dewasa yang bisa memengaruhi hasil. Karena sebagian peserta berliterasi rendah, survei harus dibacakan lisan oleh penerjemah, yang berpotensi memunculkan bias lewat perbedaan kata antarpenerjemah satu dengan yang lain.
Ada kejanggalan yang bisa diperiksa siapa pun yang membaca naskah ini dari awal. Abstrak menuliskan studi ini mewawancarai 749 partisipan, tetapi seluruh bagian Hasil, tabel, dan analisis mediasi secara konsisten memakai angka 746 partisipan, tanpa penjelasan dari mana selisih tiga orang itu berasal.
Kejanggalan lain muncul pada penyebutan lokasi. Bagian Hasil menulis mayoritas responden tinggal di VDC-2 dengan 172 orang dan VDC-1 dengan 170 orang. Namun tabel karakteristik demografis mencantumkan VDC-1 berjumlah 161 orang, sedangkan yang berjumlah 170 orang justru VDC-3. Angka 170 yang disebut sebagai VDC-1 di teks tampaknya tertukar dengan VDC-3 di tabel.
Zoonosis dalam naskah ini bukan sekadar istilah buku teks, melainkan celah nyata antara apa yang diketahui warga Dhading dan apa yang mereka lakukan setiap hari terhadap hewan peliharaannya. TBC dan rabies sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun sebelum masehi, tetapi angka-angka dari lima desa ini menunjukkan jarak antara mengenal nama penyakit dan mengenali bahayanya masih jauh dari selesai.















