Sulit Makan karena Gigi, Warga Brasil Lebih Sering Sakit Ginjal

A A

Ilustrasi tangan memegang sikat gigi biru di atas wastafel batu berwarna krem [Foto: Pexels]

  • Warga yang sangat sulit makan karena masalah mulut mencatat rasio odds penyakit ginjal kronis 2,06.
  • Mereka yang menilai kesehatan mulutnya buruk mencatat rasio odds 2,02 dibandingkan yang menilai baik.
  • Menyikat gigi dua kali sehari mencatat rasio odds 0,35 dan tiga kali sehari 0,34 dibandingkan tidak pernah.
  • Desain potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat atau penentuan urutan waktu.
Daftar Isi
  1. Satu Survei Nasional Menyandingkan Gigi dan Ginjal
  2. Penilaian Sendiri atas Mulut Sudah Memberi Tanda
  3. Kesulitan Mengunyah Ikut Menandai Peluang Lebih Tinggi
  4. Hilang Gigi Atas dan Bawah Baru Menunjukkan Kecenderungan
  5. Sikat Gigi Berjalan Bersama Peluang yang Lebih Rendah
  6. Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Seberapa sulit Anda makan karena masalah gigi atau gigi palsu? Pertanyaan itu diajukan kepada warga Brasil dalam Survei Kesehatan Nasional 2019, dan kedengarannya hanya urusan dokter gigi. Namun ketika jawabannya disandingkan dengan pertanyaan lain dalam survei yang sama, yakni apakah seorang dokter pernah mendiagnosis gagal ginjal kronis, keduanya bergerak searah.

Warga yang mengaku sangat sulit makan karena masalah mulut tercatat punya peluang melaporkan penyakit ginjal kronis lebih dari dua kali lipat, dengan rasio odds 2,06, dibandingkan mereka yang tidak atau hanya sedikit kesulitan. Angka itu sudah memperhitungkan usia, jenis kelamin, ras, diabetes, dan hipertensi. Pola yang searah muncul pada penilaian warga atas kesehatan mulutnya sendiri, sedangkan kebiasaan menyikat gigi berjalan ke arah sebaliknya.

Temuan itu dilaporkan Lillian de Oliveira Silva Macêdo, Cassiano Augusto Braga Silva, dan Luis Gustavo Modelli de Andrade dari Departemen Penyakit Dalam, Universitas Negeri Paulista (UNESP) di Botucatu, São Paulo, Brasil. Ketiganya menuliskannya dalam artikel Oral health and chronic kidney disease in Brazil: a population-based analysis of the 2019 National Health Survey yang dimuat jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Satu Survei Nasional Menyandingkan Gigi dan Ginjal

Bahannya berasal dari Pesquisa Nacional de Saúde, survei rumah tangga yang digelar Institut Geografi dan Statistik Brasil (IBGE) bersama Kementerian Kesehatan antara Agustus 2019 dan Maret 2020. Analisis para penulis mencakup 279.382 orang dari 91.114 rumah tangga. Dengan pembobotan survei, jumlah itu mewakili sekitar 209,6 juta warga Brasil, dengan usia median 35 tahun.

Semua keterangan dalam analisis ini dilaporkan sendiri oleh responden. Penyakit ginjal kronis dihitung dari jawaban ya atas pertanyaan apakah dokter pernah mendiagnosisnya. Kesehatan mulut dibaca dari empat dimensi: penilaian diri sebagai dimensi subjektif, kehilangan gigi sebagai dimensi struktural, frekuensi menyikat gigi sebagai dimensi perilaku, dan kesulitan makan karena masalah mulut sebagai dimensi fungsional.

Dengan cara itu, prevalensi penyakit ginjal kronis diperkirakan 1,5 persen, setara 1.088.004 orang. Hipertensi menjadi kondisi kronis yang paling banyak dilaporkan, 28,2 persen, disusul kolesterol tinggi 16,7 persen dan diabetes 9,4 persen. Para penulis menyebut diabetes dan hipertensi sebagai dua pendorong utama naiknya beban penyakit ginjal kronis di Brasil. Keduanya termasuk faktor yang diperhitungkan dalam model, bersama usia, jenis kelamin, dan ras.

Baca juga Batu Ginjal Akrab di Telinga Anak Muda Palestina, Pemicunya Tidak

Penilaian Sendiri atas Mulut Sudah Memberi Tanda

Penanda kesehatan mulut dan peluang penyakit ginjal kronisKesulitan makan: berat 2,06; Kesehatan mulut: buruk 2,02; Kesehatan mulut: sedang 1,63; Kesulitan makan: sedang 1,43; Hilang gigi atas dan bawah 1,30; Hilang gigi atas atau bawah 1,20.Penanda kesehatan mulut dan peluangpenyakit ginjal kronisRasio odds disesuaikan, PNS Brasil 20190,00,51,01,52,02,5Kesulitan makan: berat2,06Kesehatan mulut: buruk2,02Kesehatan mulut: sedang1,63Kesulitan makan: sedang1,43Hilang gigi atas dan bawah1,30Hilang gigi atas atau bawah1,20Pembanding: kesehatan mulut baik; tanpa atau ringan kesulitan makan;tidak kehilangan gigi.
Sumber: Lillian de Oliveira Silva Macêdo dan rekan, Oral health and chronic kidney disease in Brazil: a population-based analysis of the 2019 National Health Survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Langkah pertama paling sederhana: responden diminta menilai kesehatan gigi dan gusinya sendiri. Dibandingkan orang yang menilai kesehatan mulutnya baik, mereka yang menilai sedang punya rasio odds penyakit ginjal kronis 1,63 setelah penyesuaian. Mereka yang menilai buruk mencatat rasio odds 2,02. Artinya, peluang melaporkan penyakit ginjal pada kelompok terakhir kira-kira dua kali kelompok yang merasa mulutnya baik.

Para penulis menyoroti urutannya. Peluang itu naik bertahap dari baik ke sedang, lalu ke buruk, bukan sekadar berbeda antara dua kelompok. “Temuan ini menunjukkan hubungan yang jelas dan berjenjang: individu yang melaporkan kesehatan mulut sedang atau buruk memiliki peluang penyakit ginjal kronis yang lebih tinggi secara bermakna, bahkan setelah penyesuaian usia, jenis kelamin, ras/etnis, hipertensi, dan diabetes,” tulis para penulis, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Kesulitan Mengunyah Ikut Menandai Peluang Lebih Tinggi

Dimensi fungsional bertanya hal yang lebih konkret, yaitu seberapa sulit seseorang makan karena masalah gigi atau gigi palsunya. Sebagian besar responden, 94,0 persen, menjawab tidak ada atau ringan. Sebanyak 4,0 persen mengaku kesulitan sedang dan 2,0 persen kesulitan berat. Dibandingkan kelompok pertama, kelompok sedang mencatat rasio odds 1,43 dan kelompok berat 2,06.

Para penulis menawarkan dua jalur untuk menjelaskan hubungan ini. Persoalannya, mulut yang sulit dipakai mengunyah dapat memengaruhi gizi, sementara peradangan mulut yang menahun dapat berdampak ke seluruh tubuh. Menurut mereka, besarnya angka pada kesulitan makan di Brasil mungkin juga mencerminkan beban penyakit mulut yang menumpuk pada kelompok yang sulit menjangkau perawatan pencegahan.

Jalur peradangan diuraikan lebih rinci di bagian lain naskah. Penyakit gusi menahun atau periodontitis, tulis para penulis, dapat menaikkan kadar penanda peradangan seperti interleukin-6, protein C-reaktif, dan TNF-alfa dalam darah. Menurut mereka, zat-zat itu terlibat dalam cedera lapisan dalam pembuluh darah dan kerusakan ginjal yang berlanjut.

Yang membuatnya rumit, arah hubungan itu tidak tunggal. Para penulis mencatat bahwa orang dengan penyakit ginjal kronis kerap mengalami gangguan kekebalan, perubahan aliran ludah, dan perubahan jaringan terkait uremia. Keadaan itu dapat mempercepat kemunduran kesehatan mulut serta memudahkan mulut kering, gigi berlubang, dan infeksi. Karena itu, mereka menyebut hubungan mulut dan ginjal bersifat dua arah.

Baca juga Gigi Goyang dan Gusi Nyeri Menandai Risiko Stroke Lebih Tinggi

Hilang Gigi Atas dan Bawah Baru Menunjukkan Kecenderungan

Kehilangan gigi ternyata hal yang lazim di Brasil. Sebanyak 63,9 persen responden melaporkan kehilangan setidaknya satu gigi permanen di rahang atas, dan 57,0 persen di rahang bawah. Median jumlah gigi yang hilang adalah enam. Di antara mereka yang kehilangan gigi, 49,0 persen memakai gigi tiruan, sedangkan 51,0 persen tidak memakai alat apa pun.

Dalam model yang sudah disesuaikan, kehilangan gigi di rahang atas atau bawah saja tidak berhubungan bermakna dengan penyakit ginjal kronis, dengan rasio odds 1,20. Orang yang kehilangan gigi di rahang atas sekaligus bawah mencatat rasio odds 1,30 dengan nilai p tepat 0,050. Para penulis membacanya sebagai kecenderungan ke arah hubungan, belum sebagai hubungan yang tegas.

Menurut para penulis, pola itu sejalan dengan dugaan penelitian terdahulu bahwa beban penyakit mulut yang menumpuk, terutama kehilangan gigi, dapat ikut mendorong peradangan sistemik dan gangguan fungsi ginjal. Mereka juga mengingatkan bahwa kehilangan gigi tidak selalu menandakan penyakit gusi yang sedang aktif. Penilaian diri atas kesehatan mulut pun, tulis mereka, bisa mencerminkan beragam kondisi yang mendasarinya.

Sikat Gigi Berjalan Bersama Peluang yang Lebih Rendah

Pertanyaan tentang kebersihan mulut diajukan kepada subsampel 90.846 peserta yang mewakili sekitar 70,9 juta orang. Hampir semua memakai sikat gigi, 98,5 persen, dan pasta gigi, 98,6 persen. Sebanyak 62,1 persen menyikat gigi tiga kali sehari, 32,5 persen dua kali, 5,1 persen sekali, dan 0,2 persen tidak pernah. Benang gigi dipakai 61,4 persen responden.

Frekuensi sikat gigi dan peluang penyakit ginjal kronisSekali sehari: Tanpa penyesuaian 0,41, Disesuaikan 0,52; Dua kali sehari: Tanpa penyesuaian 0,25, Disesuaikan 0,35; Tiga kali sehari: Tanpa penyesuaian 0,21, Disesuaikan 0,34.Frekuensi sikat gigi dan peluang penyakitginjal kronisRasio odds, pembanding: tidak pernah menyikat gigiTanpa penyesuaianDisesuaikan0,00,20,40,60,410,52Sekali sehari0,250,35Dua kali sehari0,210,34Tiga kali sehariDisesuaikan dengan usia, jenis kelamin, ras, diabetes, dan hipertensi.
Sumber: Lillian de Oliveira Silva Macêdo dan rekan, Oral health and chronic kidney disease in Brazil: a population-based analysis of the 2019 National Health Survey, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dibandingkan orang yang tidak pernah menyikat gigi, mereka yang menyikat dua kali sehari mencatat rasio odds penyakit ginjal kronis 0,35 setelah penyesuaian, dan yang menyikat tiga kali sehari 0,34. Keduanya bermakna secara statistik. Menyikat sekali sehari mencatat rasio odds 0,52, tetapi angka ini tidak bermakna. Sebelum penyesuaian, ketiga angka itu berturut-turut 0,41, 0,25, dan 0,21.

Para penulis menyebut pola ini sebagai hubungan dosis dan respons, yakni makin sering menyikat gigi, makin rendah peluang penyakit ginjal kronis yang tercatat. Mereka menilai temuan ini konsisten dengan penelitian kohort berbasis populasi oleh Chang dan rekan. Sementara itu, orang yang tidak memakai benang gigi mencatat rasio odds 1,16, kenaikan kecil yang tidak bermakna secara statistik.

Baca juga Kehilangan Separuh Gigi, Risiko Gangguan Kognitif Lansia Naik

Di Mana Penjelasan Ini Berhenti

Para penulis menuliskan sendiri batas temuannya. “Pertama, desain potong lintang tidak memungkinkan penarikan kesimpulan sebab-akibat atau penentuan urutan waktu,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Penyakit ginjal kronis dan kesehatan mulut sama-sama dilaporkan sendiri tanpa konfirmasi klinis atau laboratorium, sehingga membuka peluang salah ingat dan salah golong. Menurut mereka, kekurangan diagnosis pada kedua kondisi itu besar kemungkinan terjadi.

Survei itu juga tidak memuat data merokok, indeks massa tubuh, dan rincian pemakaian obat, sehingga masih ada faktor lain yang belum terkendali. Data kebersihan mulut berasal dari subsampel, meski pembobotan yang sesuai sudah diterapkan. Selain itu, tiap dimensi kesehatan mulut diukur lewat butir survei tunggal yang menurut para penulis belum sepenuhnya menangkap kerumitan masing-masing dimensi.

Para penulis juga menyorot soal akses. Hanya 49,4 persen responden yang mengunjungi dokter gigi dalam setahun terakhir, 42,8 persen sudah lebih dari setahun, dan 7,7 persen tidak pernah. Di antara yang mendapat perawatan gigi, hanya 22,6 persen yang memakai layanan publik Sistem Kesehatan Terpadu (SUS). Menurut mereka, hubungan yang teramati mungkin mencerminkan ketimpangan sosial dalam paparan dan akses perawatan.

Dari situ para penulis mengusulkan langkah yang berbiaya rendah, seperti konseling singkat, pemakaian fluorida, penyediaan benang gigi, dan jalur rujukan yang ringkas ke layanan gigi. “Memperluas pemeriksaan kesehatan mulut dalam konsultasi layanan primer untuk pengelolaan penyakit kronis, terutama bagi pasien diabetes dan hipertensi, merupakan strategi yang layak dan sejalan dengan infrastruktur SUS yang sudah ada,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Dalam simpulannya, para penulis menyatakan bahwa kehilangan gigi, jarangnya menyikat gigi, dan kesulitan makan masing-masing berhubungan dengan penyakit ginjal kronis di kalangan orang dewasa Brasil. Mereka juga menulis bahwa jalur layanan yang menghubungkan kedokteran gigi dan nefrologi dapat menangani pemicu peradangan pada cedera ginjal sekaligus mengurangi hambatan fungsional, seperti sulit mengunyah yang memperburuk mutu makanan.

Bagikan

Baca Juga

Video Tujuh Menit Bikin Orang Lebih Paham Bahaya Kimia Plastik
Makin Banyak Warga Turki Mengobati Diri Sendiri Saat Pandemi
Ekonomi Tumbuh Cepat Seiring Kematian Balita Turun di Asia-Eropa
Huancavelica Puncaki Angka Kematian Kanker Terkait Asbes di Peru
Ibu di Enugu Nigeria Kerap Salah Pakai Obat Demam untuk Anak
Anak Kota Benggala Barat Haid Pertama Lebih Awal dari Anak Desa