- Artinya risiko stroke mereka 45 persen lebih tinggi daripada peserta tanpa keluhan mulut.
- Tiga keluhan lain tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan stroke.
- Sebanyak 27 persen pemilik gigi goyang masih merokok, hampir tiga kali lipat dari 9,3 persen pada kelompok tanpa keluhan.
- Seluruh data mulut berasal dari jawaban peserta sendiri, tanpa pemeriksaan dokter gigi.
Daftar Isi
Gigi goyang berjalan seiring risiko stroke yang lebih tinggi. Begitu pula gusi yang nyeri dan gigi palsu. Tiga keluhan itu menonjol dalam catatan kesehatan 476.868 orang dewasa di Inggris, Skotlandia, dan Wales yang diikuti lebih dari satu dekade.
Temuan itu ditulis Chang-Qing Sun, Hui-Min Liu, Qian-Yu Zhou, Meng-Ting Liu, Jia-Jun Chen, Peng Wang, Hua Ye, dan Qiang Zhang dalam Associations between self-reported oral health and incident stroke: a prospective analysis of the UK Biobank. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26, artikel nomor 831, tahun 2026. Kedelapan penulis berasal dari Zhengzhou University dan rumah sakit afiliasinya di Tiongkok.
Pesertanya berusia 40 sampai 69 tahun saat pertama diperiksa antara 2006 dan 2010. Mereka direkrut lewat 22 pusat pemeriksaan, dan tak seorang pun pernah terkena stroke atau serangan jantung ketika itu. Nilai tengah masa pengamatan mereka 11,3 tahun.
Enam keluhan mulut
Setiap peserta menjawab satu pertanyaan sederhana di layar sentuh. Adakah salah satu dari sejumlah masalah mulut ini yang dialami dalam setahun terakhir? Pilihannya enam: sariawan, gusi nyeri, gusi berdarah, gigi goyang, sakit gigi, dan gigi palsu.
Sebanyak 186.958 orang, atau 39,21 persen, melaporkan salah satu di antaranya. Itu kira-kira dua dari lima peserta. Sisanya, 289.910 orang, menjawab tidak punya satu pun keluhan itu dan menjadi kelompok pembanding dalam seluruh hitungan.
Gigi palsu paling banyak dilaporkan, yakni oleh 58.444 orang. Gusi berdarah menyusul dengan 49.370 orang dan sariawan 48.243 orang. Gigi goyang dilaporkan 11.240 orang, sakit gigi 9.892 orang, dan gusi nyeri 9.769 orang.
Para penulis membagi keenamnya ke dalam tiga golongan. Sariawan dan sakit gigi disebut keluhan sementara yang datang lalu pergi. Gusi nyeri, gusi berdarah, dan gigi goyang menjadi penanda penyakit jaringan penyangga gigi, sedangkan gigi palsu mewakili kehilangan gigi tahap akhir.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Gigi goyang teratas
Kaitan paling kuat muncul pada gigi goyang. Setelah usia, jenis kelamin, penghasilan, rokok, alkohol, tekanan darah, diabetes, dan sejumlah faktor lain diperhitungkan, rasio hazardnya 1,45. Artinya risiko stroke mereka 45 persen lebih tinggi daripada peserta tanpa keluhan mulut.
Gusi nyeri berada di urutan kedua dengan rasio 1,31. Gigi palsu menyusul dengan 1,23. Rentang kepercayaan ketiganya seluruhnya di atas angka satu: 1,20 sampai 1,77 untuk gigi goyang, 1,06 sampai 1,63 untuk gusi nyeri, dan 1,12 sampai 1,36 untuk gigi palsu.
Ketiga kaitan itu bertahan setelah dikoreksi untuk pengujian berganda atas enam keluhan sekaligus. Nilai p terkoreksi gigi goyang dan gigi palsu di bawah 0,001. Untuk gusi nyeri angkanya 0,026, masih di bawah batas yang lazim dipakai.
Pola yang sama terlihat pada stroke iskemik, jenis yang menurut para penulis mencakup sekitar 80 persen kasus stroke. Rasio gigi goyang naik menjadi 1,53, dengan rentang 1,23 sampai 1,91. Gigi palsu tercatat 1,25, dengan rentang 1,12 sampai 1,40.
Keluhan yang tak terkait
Tiga keluhan lain tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan stroke. Sariawan dan gusi berdarah sama-sama berasio 1,06, dengan rentang 0,94 sampai 1,20. Sakit gigi bahkan sedikit di bawah satu, yakni 0,95, dengan rentang 0,71 sampai 1,28.
Para penulis punya penjelasan. Keluhan seperti sakit gigi dan gusi berdarah sering akut atau hilang timbul. Sifat itu membuatnya kurang mencerminkan beban peradangan jangka panjang dibandingkan gigi yang sudah goyang atau tanggal.
Gusi berdarah, tulis mereka, bisa menjadi tanda radang gusi yang masih dapat pulih. Tidak semua radang gusi berlanjut menjadi periodontitis, yaitu peradangan kronis pada jaringan penyangga gigi. Risiko stroke, menurut mereka, tampak lebih erat dengan proses menahun yang merusak jaringan itu.
Baca juga Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Jantung ikut tercatat
Serangan jantung turut dihitung, dan polanya sedikit berbeda. Empat keluhan terkait dengannya: gusi nyeri, gigi goyang, gigi palsu, dan sariawan. Sakit gigi dan gusi berdarah kembali tidak menunjukkan kaitan, sama seperti pada stroke.
Di antara peserta yang punya keluhan mulut, 4.415 orang kemudian terkena stroke. Sebanyak 3.570 orang tercatat mengalami stroke iskemik. Serangan jantung lebih banyak lagi, yakni 6.959 orang dari kelompok yang sama.
Para penulis lalu menghitung andil teoretisnya di tingkat penduduk. Bila seluruh keluhan mulut itu memang penyebab dan bisa dihapus sepenuhnya, kasus stroke berkurang paling banyak 5,25 persen. Untuk stroke iskemik angkanya 6,17 persen dan untuk serangan jantung 7,73 persen.
Angka itu bukan janji bahwa merawat gigi akan mencegah stroke. Para penulis sendiri menyebutnya batas atas teoretis, bukan sasaran intervensi. Hubungan sebab-akibat, tulis mereka, tidak bisa ditetapkan oleh penelitian pengamatan seperti ini.
Siapa yang mengeluh
Peserta dengan keluhan mulut tidak serupa dengan kelompok pembandingnya. Pemilik gigi goyang rata-rata berusia 58,24 tahun dan pemakai gigi palsu 61,63 tahun. Peserta tanpa keluhan rata-rata 55,76 tahun, lebih muda dari keduanya.
Rokok memperlihatkan jarak yang lebar. Sebanyak 27 persen pemilik gigi goyang masih merokok, hampir tiga kali lipat dari 9,3 persen pada kelompok tanpa keluhan. Pada pemakai gigi palsu angkanya 16 persen, dan pada pelapor gusi nyeri juga 16 persen.
Penghasilan pun berbeda. Sebanyak 29 persen pemilik gigi goyang dan 32 persen pemakai gigi palsu berada di lapisan penghasilan rumah tangga terendah. Pada kelompok tanpa keluhan hanya 16 persen, kira-kira separuhnya.
Penyakit penyerta mengikuti arah serupa. Diabetes tercatat pada 8,3 persen pemilik gigi goyang dan 7,7 persen pemakai gigi palsu, dibandingkan 4,1 persen pada kelompok tanpa keluhan. Tekanan darah tinggi dilaporkan 28 persen, 33 persen, dan 23 persen pada tiga kelompok yang sama.
Semua perbedaan itu sudah dimasukkan ke dalam perhitungan. Kaitan gigi goyang, gusi nyeri, dan gigi palsu dengan stroke tetap tersisa. Para penulis juga menguji asma, alergi, dan eksim sebagai pembanding, dan riwayat penyakit itu tidak terkait bermakna dengan stroke.
Peradangan yang menahun
Mengapa mulut bisa terkait dengan pembuluh darah otak? Para penulis menunjuk periodontitis sebagai akar dari banyak keluhan yang mereka teliti. Gigi goyang adalah gejala langsung tahap lanjutnya, ketika ligamen dan tulang penyangga gigi sudah rusak.
Periodontitis, tulis mereka, berkaitan dengan naiknya penanda peradangan di seluruh tubuh, antara lain interleukin-6, CRP, dan TNF alfa. Peradangan itu diduga menambah aktivitas radang pada lesi aterosklerosis. Di tabel peserta, rata-rata CRP pemilik gigi goyang 3,29 miligram per liter, sedangkan kelompok tanpa keluhan 2,39.
Gigi palsu dibaca berbeda dari lima keluhan lainnya. Ia bukan penyakit, melainkan perawatan, dan sering menjadi ujung dari periodontitis berat atau gigi berlubang. Para penulis memakainya sebagai tanda beban penyakit yang menumpuk bertahun-tahun.
Namun dugaan itu berhenti sebagai dugaan. “Mekanisme yang mendasari hubungan antara kondisi mulut dan stroke saat ini belum jelas,” tulis Qiang Zhang, penulis korespondensi dari School of Nursing and Health Zhengzhou University, bersama tujuh rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Ada pula jalur di luar biologi. Kesenjangan sosial ekonomi dan kesulitan pada masa awal hidup dapat mendorong kerusakan mulut sekaligus peradangan tubuh. Keluhan mulut, tulis mereka, lalu berfungsi sebagai penanda dini beban yang menumpuk sepanjang hidup.
Bagi para penulis, kegunaan temuan ini praktis bagi tenaga kesehatan. Keluhan mulut bisa menjadi petunjuk sederhana untuk mengenali orang yang berisiko lebih tinggi. Orang dengan gusi nyeri, gigi goyang, atau gigi palsu mereka sarankan rutin mendatangi dokter gigi dan layanan kesehatan.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Batas yang diakui
Seluruh data mulut berasal dari jawaban peserta sendiri, tanpa pemeriksaan dokter gigi. Jawaban itu mencerminkan gejala yang dirasakan, bukan diagnosis. Tingkat keparahan, lamanya keluhan, dan riwayat perawatan tidak terukur.
Pertanyaan itu juga hanya diajukan sekali, di awal. Perubahan kondisi mulut selama masa pengamatan tidak terekam. Pola makan, kebiasaan membersihkan mulut, dan akses ke dokter gigi pun tidak sepenuhnya tertangkap data.
Peserta UK Biobank cenderung relawan yang lebih sehat. Karena itu, menurut para penulis, hasilnya kurang bisa diberlakukan pada kelompok berpenghasilan rendah atau masyarakat di luar negara Barat. Mereka menduga kaitannya justru lebih kuat di kelompok yang kurang beruntung.
Analisis randomisasi Mendel terdahulu yang dikutip naskah juga tidak mendukung hubungan sebab-akibat antara penyakit jaringan penyangga gigi dan stroke. Jadi yang tercatat di sini adalah kaitan, bukan sebab. Gigi goyang menandai orang yang berisiko, belum tentu menyebabkan strokenya.
Catatan pada naskah
Beberapa hal di naskah layak dicocokkan pembaca. Pembahasan menyebut kenaikan risiko pada gigi goyang hanya turun tipis, dari 46 ke 45 persen, setelah faktor sosial ekonomi diperhitungkan. Tabelnya menunjukkan model yang memuat faktor sosial ekonomi menghasilkan rasio 1,23, dan angka 1,45 baru muncul di model terakhir yang menambahkan penyakit penyerta.
Gusi berdarah juga ditempatkan tidak seragam. Di bagian awal ia digolongkan penanda penyakit jaringan penyangga gigi, sedangkan di pembahasan ia disebut keluhan sementara bersama sakit gigi. Uji ulang tanpa pemakai gigi palsu pun dilaporkan tetap bermakna untuk gusi berdarah, padahal tabel utama tidak mencatat kaitan bermakna pada keluhan itu.
Dari enam keluhan mulut, tiga berjalan seiring stroke dan tiga tidak. Yang membedakan keduanya, menurut naskah ini, adalah lamanya peradangan bertahan.















