- DMFT anak 12 tahun di Jepang turun dari 4,75 (1984) menjadi 0,53 (2023)
- Penurunan terjadi tanpa fluoridasi air minum komunitas dan sebagian besar tanpa pasta gigi fluorida tinggi
- Pasta gigi 1.500 ppm baru disetujui 2017, direkomendasikan untuk anak sekolah baru pada 2023
- DMFT Jepang 2023 jauh di bawah minimum historis Dean (AS, 1930-40an) yang jarang di bawah 2
Daftar Isi
Pada 1984, angka karies gigi tetap anak-anak Jepang mencapai titik tertingginya. Di antara anak berusia 12 tahun yang sudah terkena karies, rata-rata indeks DMFT tercatat 4,75. Empat dekade kemudian, angka nasional itu tinggal 0,53, turun tanpa jeda dan tanpa pernah naik kembali.
Data itu dipaparkan Yoshihisa Yamashita dalam A 40-year decline in permanent-tooth caries among 12-year-olds in Japan in the absence of systemic fluoride-based prevention: public health implications, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2094, tahun 2026. Yamashita berafiliasi ke Kyushu Dental University, Kitakyushu, Jepang.
1950-an sampai 1984: Karies Naik Terus
Sejak awal 1950-an, angka karies pada anak usia 12 tahun di Jepang naik nyaris tanpa henti. Pada awal 1980-an, lebih dari 90 persen anak sudah mengalami karies gigi tetap. Data ini berasal dari Survei Kesehatan Gigi Sekolah tahunan yang dikumpulkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang sejak 1951, dengan cakupan hampir seluruh sekolah negeri.
Puncaknya tercatat pada 1984. Di antara anak yang sudah terkena karies, rata-rata DMFT 4,75, salah satu titik tertinggi dalam catatan survei nasional itu. Survei Penyakit Gigi Nasional yang digelar Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan setiap enam tahun mengonfirmasi arah yang sama, memakai pemeriksa gigi yang sudah dikalibrasi.
1975: Gula Mulai Turun
Konsumsi gula per kapita di Jepang mulai menurun sejak pertengahan 1970-an, menurut statistik pasokan pangan yang dikumpulkan Badan Korporasi Pertanian dan Peternakan Jepang. Penurunan itu bertepatan dengan fase awal turunnya angka karies. Sejak puncaknya sekitar 1975, konsumsi gula tahunan Jepang berkurang lebih dari 30 persen.
Miyazaki dan Morimoto, dua peneliti yang datanya dipakai ulang dalam naskah ini, sebelumnya menghubungkan penurunan gula pada 1970-an dan awal 1980-an dengan turunnya karies pada masa berikutnya. Yamashita mencatat penjelasan itu, tetapi menandai satu hal yang tidak cocok dengannya: karies terus turun jauh setelah konsumsi gula berhenti turun.
1990-an sampai Awal 2000-an: Fluorida Rendah Bertahan Lama
Sepanjang periode ini, pasta gigi berfluorida yang beredar di Jepang mengandung kurang dari 1.000 part per million (ppm) fluorida, jauh di bawah 1.500 ppm yang kini direkomendasikan di banyak negara. Bahkan produk berfluorida rendah itu baru menguasai lebih dari 90 persen pangsa pasar pada awal 2000-an, menandakan cakupannya baru tercapai belakangan.
Selama waktu yang sama, sistem asuransi kesehatan universal Jepang membuat kunjungan ke dokter gigi lebih terjangkau dan lebih rutin. Yamashita menulis sistem ini tidak dirancang khusus untuk mencegah karies, tetapi kunjungan rutin membuka ruang bagi edukasi kebersihan mulut setiap kali gigi berlubang atau gusi meradang ditangani.
2015: Turun di Bawah Satu
Rata-rata DMFT nasional Jepang jatuh di bawah 1,0 setelah 2015, ambang yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam catatan survei sekolah. Penurunan berlangsung mulus tanpa tanda pembalikan arah atau perlambatan di titik mana pun sepanjang empat dekade, pola yang menurut Yamashita jarang ditemukan di negara lain, yang penurunan kariesnya justru melambat atau berhenti pada 2000-an.
2017 dan 2023: Fluorida Tinggi Datang Terlambat
Pasta gigi berfluorida tinggi, 1.500 ppm, baru disetujui otoritas kesehatan Jepang pada 2017, lewat pemberitahuan resmi Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan. Persetujuan itu datang setelah sebagian besar penurunan karies empat dekade sudah terjadi, sehingga menurut Yamashita produk ini tidak bisa menjelaskan tren jangka panjang yang sudah berlangsung sejak 1984.
Rekomendasi resmi memakai pasta gigi 1.500 ppm untuk anak usia sekolah baru terbit pada 2023, enam tahun setelah persetujuannya beredar di pasar. Pada tahun yang sama, DMFT nasional Jepang tercatat 0,53, terendah yang pernah dilaporkan dalam rangkaian data yang dipakai penelitian ini.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
2023: Dibandingkan dengan Data Dean
Yamashita membandingkan angka 2023 itu dengan data historis Amerika Serikat yang dikumpulkan Dean pada 1930-an dan 1940-an di 27 komunitas, lalu dirangkum ulang oleh McClure pada 1962. Data itulah yang dulu dipakai untuk menetapkan konsentrasi fluorida air minum 0,7 sampai 1,2 part per million sebagai konsentrasi optimal dalam kebijakan Amerika Utara.
Dalam kumpulan data Dean, DMFT jarang turun di bawah 2, bahkan di komunitas dengan fluorida alami setinggi 2 sampai 3 part per million dalam air minum. Angka Jepang pada 2023, 0,53, jauh di bawah titik terendah itu, sementara konsentrasi fluorida air minum di Jepang sepanjang periode itu praktis 0 part per million.
Survei Penyakit Gigi Nasional 2024 juga mencatat pemakaian fluorida pada tingkat individu. Di antara anak usia 10 sampai 14 tahun, 58,0 persen pernah mendapat aplikasi fluorida topikal, 28,8 persen pernah berkumur fluorida, dan 73,1 persen memakai pasta gigi berfluorida. Yamashita mencatat pemakaian pada level ini cukup umum, tetapi sumbangannya terhadap tren nasional empat dekade sulit dipastikan dan tidak mungkin menjelaskan seluruh penurunan.
Yamashita menyimpulkan temuannya dengan kalimat yang tegas. “Temuan ini menunjukkan kerangka kerja yang berpusat pada fluorida saja mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan tren populasi jangka panjang, dan mendukung pendekatan multikausal yang lebih luas untuk pencegahan karies,” tulis Yamashita dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi these findings suggest fluoride-centered frameworks alone may not fully explain long-term population trends and support a broader multicausal approach to caries prevention.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Yamashita mencatat penjelasan tambahan yang menurutnya bekerja bersamaan, bukan menggantikan penjelasan gula dan fluorida. Ia menyebut perubahan pola menyusui, pengawasan orang tua yang lebih ketat pada masa balita, dan pemeriksaan gigi rutin sejak usia dini sebagai jalur yang mungkin menekan penularan bakteri mutans streptococci dari orang tua ke anak, meski buktinya di Jepang bersifat tidak langsung.
Studi epidemiologi Jepang lain, yang dirujuk Yamashita, mencatat penurunan yang sejalan antara prevalensi karies pada anak usia dini dan tingkat infeksi mutans streptococci. Yamashita menyebut pola itu konsisten dengan gagasan bahwa lingkungan mikroba mulut pada masa awal kehidupan berangsur menjadi kurang kariogenik, meski studi itu sendiri tidak mengamati jalur penularannya secara langsung.
Program pemeriksaan gigi sekolah yang sudah berjalan lama turut disebut Yamashita sebagai bagian dari pola ini. Kegiatan kesehatan gigi yang dijalankan dokter gigi sekolah, tulisnya, mungkin ikut mendorong kesadaran kebersihan mulut dan perilaku pencegahan pada anak serta keluarga dari waktu ke waktu, meski efek program ini secara terpisah dari faktor lain sulit diukur dan dipastikan besarannya.
Yamashita sendiri menandai batas kajiannya. Penelitian ini, tulisnya, adalah sintesis ekologis atas data surveilans nasional dan data historis, dan tidak dimaksudkan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Ia juga mencatat sebagian data gula pada 1960 sampai 1975 diambil dari grafik lama yang didigitalkan ulang secara visual, dengan ketelitian yang ia perkirakan sendiri hanya sekitar 0,2 kilogram.
Ada satu kejanggalan kecil yang bisa diperiksa pembaca dari daftar pustaka naskah ini. Saat membandingkan Jepang dengan data Dean pada 1930-an dan 1940-an, Yamashita mencantumkan dua nomor rujukan sekaligus untuk klaim yang sama. Salah satunya memang studi Dean tentang air minum dan karies, tetapi rujukan lainnya dalam daftar pustaka naskah ini adalah karya dua peneliti lain tentang penularan bakteri mutans streptococci pada anak, topik yang berbeda dan tidak berkaitan dengan data Dean.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Yamashita turut menyinggung sejumlah negara Nordik yang juga menurunkan karies tanpa fluoridasi air komunitas, didukung adopsi dini pasta gigi berfluorida tinggi dan layanan gigi sekolah yang kuat. Ia menyebut pengalaman itu menunjukkan fluoridasi air bukan syarat mutlak bagi perbaikan tingkat nasional, sejalan dengan yang terjadi di Jepang meski jalurnya berbeda.
Sampai laporan ini ditulis, 2023 tetap menjadi titik terakhir yang tercatat. DMFT nasional Jepang saat itu 0,53, disusun dari data yang terus diperbarui setiap enam tahun oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.















