- Selama sembilan tahun pemantauan, 1.136 peserta atau 13,75 persen mengalami gangguan kognitif.
- Laki-laki dengan 9 sampai 16 gigi tanggal berisiko 50 persen lebih tinggi dibanding laki-laki tanpa gigi tanggal.
- Kelompok yang hanya kehilangan 1 sampai 8 gigi tidak berbeda dari kelompok bergigi lengkap.
- Studi ini tetap menunjukkan keterkaitan, bukan bukti bahwa gigi tanggal menyebabkan pikun.
Daftar Isi
Kehilangan separuh gigi berkaitan dengan risiko pikun lebih tinggi. Lansia di Taipei yang kehilangan 9 sampai 16 gigi punya risiko gangguan kognitif 28 persen lebih tinggi dibanding lansia yang tidak kehilangan satu gigi pun. Temuan ini datang dari pemantauan ribuan lansia selama sembilan tahun.
Yu-Kai Lin dan Wan-Yu Lin dari University of Taipei menulis temuan ini dalam The impact of tooth loss on the risk of cognitive impairment among community-dwelling older adults: a prospective cohort study, BMC Public Health, 26(1648), 2026. Mereka mengikuti 8.260 lansia berusia 65 tahun ke atas peserta pemeriksaan kesehatan Kota Taipei, Taiwan, sejak 2013 hingga 2022. Jumlah gigi tanggal dihitung langsung oleh dokter gigi berlisensi, bukan dari pengakuan peserta.
Separuh Gigi Hilang
Selama sembilan tahun pemantauan, 1.136 peserta atau 13,75 persen mengalami gangguan kognitif. Sisanya, 7.124 orang, tidak menunjukkan gangguan sampai akhir pemantauan. Gangguan kognitif ditandai skor dua atau lebih pada kuesioner skrining AD-8 yang diisi lewat wawancara.
Kelompok yang akhirnya terganggu rata-rata kehilangan 6,21 gigi. Kelompok yang tetap sehat rata-rata kehilangan 5,37 gigi. Setiap tambahan satu gigi tanggal, sebelum faktor lain diperhitungkan, terkait kenaikan risiko sekitar 2 persen.
Penulis membagi peserta ke lima kelompok, dari tanpa gigi tanggal sampai kehilangan 25 hingga 32 gigi. Kelompok 9 sampai 16 gigi tanggal kira-kira sudah kehilangan separuh giginya. Di kelompok inilah hubungan paling jelas muncul, dengan rasio hazard 1,28.
Angka itu didapat setelah usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, dan kebiasaan olahraga diperhitungkan. Penyakit jantung, diabetes, dan kolesterol total juga ikut dikendalikan. Selang kepercayaannya 1,06 sampai 1,55, seluruhnya di atas angka satu.
Kelompok yang terganggu juga berbeda dalam hal lain. Usia rata-rata mereka 77,03 tahun, lebih tua dari kelompok sehat yang rata-rata 75,21 tahun. Sebanyak 22,10 persen di antaranya tidak berstatus menikah, dan 29,58 persen berpendidikan enam tahun atau kurang.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Bukan Garis Lurus
Sebelum disesuaikan, risiko tampak naik bertahap. Rasio hazard kelompok 9 sampai 16 gigi 1,32, kelompok 17 sampai 24 gigi 1,35, dan kelompok 25 sampai 32 gigi 1,60. Ketiganya bermakna secara statistik di model kasar ini.
Setelah semua faktor diperhitungkan, gambarannya berubah. Kelompok 17 sampai 24 gigi turun ke 1,18, sedangkan kelompok 25 sampai 32 gigi turun ke 1,23. Keduanya tidak lagi bermakna secara statistik.
Kelompok yang hanya kehilangan 1 sampai 8 gigi tidak berbeda dari kelompok bergigi lengkap. Rasio hazard kelompok ini tepat 1,00 di model penuh. Padahal kelompok inilah yang paling besar, mencakup 4.400 peserta.
Penulis menyebut pola ini mungkin bukan hubungan dosis yang lurus. Hubungannya bisa berupa ambang, dengan risiko paling tajam di tingkat kehilangan gigi sedang. Kurva kejadian kumulatif antarkelompok tetap berbeda bertingkat dengan nilai p sangat kecil.
Uji dengan cara hitung lain memberi arah serupa. Lansia dengan 13 sampai 22 gigi tanggal, atau tersisa 10 sampai 19 gigi, punya rasio hazard 1,37. Pembandingnya lansia yang giginya masih 20 atau lebih.
Lansia dengan 23 gigi tanggal atau lebih tidak menunjukkan kenaikan risiko yang bermakna. Bila ambangnya 20 gigi tersisa, yang giginya kurang dari itu berisiko 27 persen lebih tinggi. Angka 20 gigi dipakai karena dianggap batas cukup untuk mengunyah dengan baik.
Laki-laki Lebih Rentan
Pada lansia laki-laki, hubungan itu lebih kuat. Laki-laki dengan 9 sampai 16 gigi tanggal berisiko 50 persen lebih tinggi dibanding laki-laki tanpa gigi tanggal. Laki-laki yang kehilangan 25 sampai 32 gigi berisiko 71 persen lebih tinggi.
Pada perempuan, tidak satu pun kelompok gigi tanggal menunjukkan kenaikan risiko yang bermakna. Rasio hazard tertinggi pada perempuan hanya 1,11, di kelompok 9 sampai 16 gigi. Di kelompok 25 sampai 32 gigi, angkanya malah 0,86.
Penulis mengaitkan perbedaan ini dengan perilaku kesehatan. Laki-laki disebut cenderung punya kebiasaan merawat mulut yang lebih buruk dan lebih jarang memakai layanan dokter gigi. Akibatnya, penyakit gusi bisa lebih parah dan gigi lebih banyak tanggal.
Merokok dan minum alkohol juga lebih umum pada laki-laki. Menurut penulis, keduanya bisa memperberat peradangan dan risiko pembuluh darah yang berkaitan dengan penurunan kognitif. Riset di China yang dikutip penulis juga menemukan indeks massa tubuh menjadi perantara hubungan ini hanya pada laki-laki.
Kelompok Rentan Lain
Lansia berpendidikan enam tahun atau kurang dengan 9 sampai 16 gigi tanggal berisiko 57 persen lebih tinggi. Pada kelompok berpendidikan tujuh tahun ke atas, angkanya tidak bermakna. Kelompok berpendidikan rendah ini berjumlah 1.980 orang.
Lansia yang tidak berolahraga rutin dan kehilangan 25 sampai 32 gigi punya kenaikan risiko 101 persen. Namun selang kepercayaannya sangat lebar, dari 1,02 sampai 3,95. Kelompok tanpa olahraga hanya berisi 953 orang.
Pada lansia menikah, kehilangan 9 sampai 16 gigi terkait risiko 29 persen lebih tinggi. Kehilangan 25 sampai 32 gigi pada kelompok menikah terkait risiko 43 persen lebih tinggi. Pada lansia tidak menikah, tidak ada kelompok yang bermakna.
Menurut usia, lansia 65 sampai 74 tahun dengan 9 sampai 16 gigi tanggal berisiko 37 persen lebih tinggi. Kelompok 75 sampai 84 tahun dengan 17 sampai 24 gigi tanggal berisiko 43 persen lebih tinggi. Pada lansia 85 tahun ke atas, tidak ada angka yang bermakna.
Baca juga Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Dugaan Mekanisme
Penulis menawarkan tiga kemungkinan jalur. Pertama, mengunyah merangsang saraf trigeminal yang menaikkan aliran darah dan aktivitas otak. Gigi yang hilang berarti rangsangan itu ikut berkurang.
Kedua, gigi yang makin sedikit membatasi pilihan makanan. Asupan buah, sayur, protein, dan karbohidrat kompleks bisa turun dan ikut mendorong penurunan kognitif. Ketiga, radang gusi periodontitis sebagai penyebab utama gigi tanggal bisa memicu peradangan di seluruh tubuh.
Kenapa risiko justru tidak bermakna pada kehilangan gigi paling parah? Penulis menduga kelompok ini sudah memakai gigi palsu atau mengubah pola makan. Jumlah pesertanya pun kecil, sehingga kekuatan statistiknya terbatas.
“Kehilangan gigi tingkat sedang mungkin merupakan tahap peralihan yang genting pada orang dengan gigi yang tinggal sebagian,” tulis Yu-Kai Lin dan Wan-Yu Lin dalam naskahnya yang aslinya berbahasa Inggris. Pada tahap itu, menurut mereka, kemampuan mengunyah dan asupan gizi mulai menurun sebelum cara penggantinya terbentuk.
Penulis menilai angka kejadian 13,75 persen sebanding dengan studi serupa. Studi Kashiwa di Jepang mencatat 19 persen dari 1.708 lansia mengalami gangguan kognitif setelah sembilan tahun. Sebuah kohort di China mencatat 22,9 persen dalam tujuh tahun.
Kohort Finlandia yang dikutip penulis menemukan pola mirip. Orang yang kehilangan lebih dari 13 gigi berisiko demensia 1,52 kali lebih tinggi setelah 15 tahun. Bedanya, banyak studi terdahulu memakai pengakuan peserta soal gigi, bukan pemeriksaan dokter gigi.
Batas Studi
Studi ini tetap menunjukkan keterkaitan, bukan bukti bahwa gigi tanggal menyebabkan pikun. Gangguan kognitif pun diukur dengan alat skrining, bukan diagnosis klinis oleh dokter spesialis. Penulis mengakui hal itu bisa memengaruhi ketepatan diagnosis.
Pesertanya lansia yang secara sukarela ikut pemeriksaan tahunan, sehingga ada kemungkinan bias seleksi. Peserta yang dikeluarkan lebih banyak perempuan, lebih muda, dan lebih sering mengidap penyakit jantung serta diabetes. Penulis menilai perkiraan risikonya justru cenderung terlalu rendah, bukan terlalu tinggi.
Data genetik, frekuensi ke dokter gigi, dan kesehatan mental seperti depresi tidak tersedia. Penulis mengakui ketiadaan data itu bisa menyisakan pengaruh yang tidak terkendali. Arah dan besar biasnya tidak bisa dipastikan.
Kejanggalan Naskah
Abstrak dan pendahuluan menyebut studi ini meneliti hubungan atau asosiasi. Namun bagian pembahasan menulis tujuannya menyelidiki hubungan sebab-akibat. Istilah itu lebih kuat dari desain pengamatan yang dipakai.
Pada kelompok usia 65 sampai 74 tahun, rasio hazard 1,37 diberi tanda bermakna. Padahal batas bawah selang kepercayaannya tepat 1,00, angka yang berarti risiko setara. Pembaca bisa memeriksanya di Tabel 3 naskah.
Abstrak juga menyebut risiko lebih tinggi pada usia 65 sampai 84 tahun. Di tabel, yang bermakna hanya satu sel pada tiap kelompok usia, dan sel itu berbeda kelompok gigi. Bagian ucapan terima kasih pun memakai kata penulis dalam bentuk tunggal, padahal artikel ini ditulis dua orang.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Sisa Pertanyaan
Penulis mengusulkan pemeriksaan mulut masuk penilaian kesehatan lansia tahunan. Mereka juga menyarankan subsidi pemeriksaan gigi dan gigi palsu bagi kelompok rentan, serta edukasi soal perawatan gigi palsu. Semua usulan itu bertumpu pada data satu kota.
Peran gigi palsu belum diuji langsung dalam analisis studi ini. Data Taipei baru menunjukkan bahwa titik paling rawan ada di tengah, saat separuh gigi sudah hilang.














