Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia

A A

Pemandangan musim dingin bersalju di Beijing, Tiongkok [Foto: shizhao/Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0]

  • Panas ekstrem (29,27C) naikkan risiko kematian demensia 1,71 kali lag0-14, tertinggi pada hari pajanan
  • Dingin ekstrem (-7,94C) naikkan risiko 1,42 kali tetapi tidak bermakna statistik, efeknya baru muncul lag5-lag12
  • Risiko panas tertinggi pada pasangan menikah (2,10 kali); risiko dingin hanya bermakna pada yang tidak menikah (1,99 kali)
  • 20,42 persen kematian demensia di Hebei terkait suhu non-optimal, panas menyumbang 1,39 persen dan dingin 0,91 persen
Daftar Isi
  1. Panas Ekstrem: Risiko yang Datang Seketika
  2. Dingin Ekstrem: Risiko yang Datang Belakangan
  3. Siapa yang Rentan pada Panas
  4. Siapa yang Rentan pada Dingin
  5. Yang Sama di Kedua Sisi
  6. Yang Berbeda di Kedua Sisi

Hari paling panas dan hari paling dingin dalam sembilan tahun catatan cuaca Provinsi Hebei sama-sama diikuti lonjakan kematian pasien demensia, tetapi lonjakan itu muncul pada jam dan hari yang sama sekali berbeda. Satu muncul serentak dengan sengatan panas. Satu lagi baru terasa setelah lebih dari lima hari suhu dingin bertahan.

Sandingan itu tertuang dalam naskah Fan Zhang, Yuqing Jin, Ruihua Ma, Ting Qi, Haoyang Chu, Yi Wang, Jingyan Gao, Lei Yang, Xiaoli Liu, dan Lina Yan berjudul Short-term effects and attributable burden of extreme heat and cold on dementia mortality: a case-time-series study in Hebei Province, China (2014-2022), terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 1488 pada 2026. Naskahnya berbahasa Inggris, ditulis peneliti dari Hebei Provincial Center for Disease Control and Prevention dan Hebei Medical University, Tiongkok. Di satu sisi ada panas ekstrem. Di sisi lain ada dingin ekstrem.

Kedua sisi diukur pada 21.358 kematian yang tercatat berkaitan dengan demensia di Provinsi Hebei sepanjang 2014 sampai 2022, dengan rata-rata 6,56 kematian per hari. Suhu referensi yang dipakai sebagai titik nol risiko, disebut suhu minimum mortalitas, berada di 23,4 derajat Celsius. Panas ekstrem didefinisikan sebagai 29,27 derajat, dingin ekstrem sebagai minus 7,94 derajat, masing-masing persentil ke-99 dan ke-1 dari sebaran suhu harian sembilan tahun itu.

Panas Ekstrem: Risiko yang Datang Seketika

Pada sisi panas, risiko kematian naik 1,71 kali lipat dibanding suhu referensi, dihitung kumulatif dari hari pajanan sampai empat belas hari sesudahnya. Risiko itu bermakna secara statistik, dengan rentang kepercayaan 95 persen dari 1,37 sampai 2,14 kali. Titik tertingginya justru berada pada hari pajanan itu sendiri, saat risiko naik 1,099 kali dibanding suhu referensi, sebelum berangsur turun.

Meski turun setelah hari pertama, risiko panas tidak langsung hilang. Angkanya tetap bermakna dan relatif stabil dari hari kelima sampai hari kesebelas setelah pajanan. Pola ini konsisten dengan tekanan fisiologis yang langsung terasa saat suhu naik, lalu berlanjut sebagai kelelahan tubuh yang menumpuk beberapa hari kemudian, sebelum akhirnya mereda.

Dingin Ekstrem: Risiko yang Datang Belakangan

Pada sisi dingin, polanya terbalik. Risiko kumulatif dingin ekstrem lag0-14 tercatat 1,42 kali, tetapi rentang kepercayaannya melebar dari 0,96 sampai 2,09 kali, sehingga secara statistik tidak bisa dianggap bermakna untuk populasi keseluruhan. Pada hari pajanan itu sendiri, risikonya bahkan di bawah satu, yaitu 0,847 kali pada lag0 dan 0,926 kali pada lag1, seolah dingin justru menurunkan risiko kematian.

Namun angka di bawah satu itu tidak bertahan lama. Mulai hari kelima sampai hari kedua belas setelah pajanan dingin, risiko kematian naik dan menjadi bermakna secara statistik. Fan Zhang dan rekan-rekannya menulis dalam pembahasan bahwa pola seperti ini lazim ditemukan pada studi suhu-mortalitas dan sering dikaitkan dengan pergeseran kematian jangka pendek atau penyesuaian perilaku, seperti mengurangi aktivitas di luar rumah dan menyalakan pemanas ruangan saat cuaca dingin.

Dua Wajah Suhu Ekstrem pada Kematian DemensiaPerbandingan ambang batas, risiko kematian, puncak waktu risiko, dan sumbangan kematian antara panas ekstrem dan dingin ekstrem.Dua Wajah Suhu Ekstrem pada KematianDemensia21.358 kematian demensia, Hebei 2014-2022Panas ekstremDingin ekstrem29,27 C-7,94 CAmbang batas1,71 kali1,42 kali*Risiko lag0-14Hari pajananLag5-lag12Puncak risiko1,39%0,91%SumbangankematianAmbang panas persentil 99, ambang dingin persentil 1. *Risiko dinginekstrem 1,42 kali secara keseluruhan tidak bermakna (intervalkepercayaan 95 persen 0,96-2,09).
Sumber: Fan Zhang, Yuqing Jin, Ruihua Ma, Ting Qi, Haoyang Chu, Yi Wang, Jingyan Gao, Lei Yang, Xiaoli Liu, dan Lina Yan, Short-term effects and attributable burden of extreme heat and cold on dementia mortality: a case-time-series study in Hebei Province, China (2014-2022), BMC Public Health, 26(1488), 2026. Grafik: Cekricek.id

Dalam naskahnya, Fan Zhang dan rekan-rekannya menulis, “in northern China, where winter adaptation (e.g., centralized heating) was relatively well established, heat may pose a comparatively greater short-term mortality risk for people living with dementia,” yang diterjemahkan sebagai: di Tiongkok utara, tempat adaptasi musim dingin seperti pemanasan terpusat sudah relatif mapan, panas mungkin menimbulkan risiko kematian jangka pendek yang secara relatif lebih besar bagi orang yang hidup dengan demensia. Kalimat itu berbahasa Inggris dalam naskah asli.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Siapa yang Rentan pada Panas

Risiko panas ekstrem tidak merata di semua kelompok. Pada laki-laki, risikonya bermakna sebesar 1,54 kali. Pada pasangan yang menikah, risikonya justru paling tinggi di antara semua subgrup, mencapai 2,10 kali. Pada pasien berusia 75 tahun ke atas, yang menyumbang 75,3 persen dari seluruh kematian demensia dalam data ini, risikonya bermakna 1,66 kali.

Sebaliknya, pada perempuan, pada yang tidak menikah, dan pada kelompok usia 0 sampai 74 tahun, risiko panas ekstrem tidak mencapai ambang bermakna secara statistik, meski arah angkanya tetap searah dengan kenaikan risiko. Uji interaksi formal menemukan bahwa status pernikahan benar-benar mengubah besar efek panas secara bermakna, dengan nilai p sebesar 0,048.

Risiko panas tertinggi pada pasangan menikahKeseluruhan: Risiko relatif +1,71 kali; Laki-laki: Risiko relatif +1,54 kali; Menikah: Risiko relatif +2,10 kali; Usia 75 tahun ke atas: Risiko relatif +1,66 kali.Risiko panas tertinggi pada pasangan menikahRisiko relatif kematian akibat panas ekstrem, lag0-141 kali2 kali0Keseluruhan1,71 kaliLaki-laki1,54 kaliMenikah2,10 kaliUsia 75 tahun ke atas1,66 kaliBatang dimulai dari nol hanya untuk skala; risiko dianggap bermaknabila melewati angka 1 (tidak ada kenaikan risiko).
Sumber: Fan Zhang, Yuqing Jin, Ruihua Ma, Ting Qi, Haoyang Chu, Yi Wang, Jingyan Gao, Lei Yang, Xiaoli Liu, dan Lina Yan, Short-term effects and attributable burden of extreme heat and cold on dementia mortality: a case-time-series study in Hebei Province, China (2014-2022), BMC Public Health, 26(1488), 2026. Grafik: Cekricek.id

Siapa yang Rentan pada Dingin

Pada sisi dingin, hanya satu subgrup yang risikonya bermakna secara statistik: pasien yang tidak menikah, dengan risiko 1,99 kali. Subgrup lain, termasuk laki-laki dan pasien berusia 75 tahun ke atas, baru menunjukkan risiko bermakna setelah lag5, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat angka kumulatif lag0-14 mereka melewati ambang bermakna.

Pada perempuan dan pasien usia 0 sampai 74 tahun, tidak ditemukan asosiasi bermakna sama sekali untuk dingin ekstrem, di semua rentang lag yang diuji. Berbeda dari sisi panas, uji interaksi status pernikahan terhadap efek dingin ekstrem tidak menunjukkan hasil bermakna, dengan nilai p sebesar 0,631.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Yang Sama di Kedua Sisi

Meski arah waktunya berlawanan, panas dan dingin ekstrem berbagi satu beban yang sama: 20,42 persen dari seluruh kematian demensia di Hebei selama sembilan tahun itu dihitung berasal dari suhu yang menyimpang dari titik referensi 23,4 derajat, baik ke arah panas maupun dingin. Keduanya juga dihitung dari populasi harian yang sama, dengan suhu yang berayun tajam dari minus 14,90 sampai 31,21 derajat Celsius sepanjang periode studi.

Kesamaan lain terletak pada kelompok usia lanjut. Baik pada sisi panas maupun dingin, pola risiko pada pasien berusia 75 tahun ke atas mengikuti pola risiko pada populasi keseluruhan, wajar mengingat kelompok usia ini menyumbang tiga perempat dari seluruh kematian yang dianalisis. Sensitivitas model terhadap dua sisi suhu ini juga sama-sama diuji dengan mengubah derajat kebebasan waktu dan panjang lag maksimum, dan hasilnya tetap stabil untuk keduanya.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Yang Berbeda di Kedua Sisi

Namun pada titik lain, dua sisi ini berjalan berlawanan arah. Sumbangan panas ekstrem terhadap total kematian tercatat 1,39 persen, lebih tinggi dari sumbangan dingin ekstrem yang 0,91 persen, meski risiko relatif keduanya (1,71 berbanding 1,42) tidak berbeda sejauh itu. Selisih ini terjadi karena hari-hari panas ekstrem dan efeknya terhitung lebih sering berkontribusi pada kematian dibanding hari-hari dingin ekstrem dalam sembilan tahun data tersebut.

Perbedaan paling jelas ada pada waktu munculnya risiko. Panas ekstrem langsung terasa pada hari pajanan dan meluruh setelah itu. Dingin ekstrem justru tidak terasa sama sekali pada hari-hari pertama, bahkan tampak seperti menurunkan risiko, sebelum benar-benar muncul lima hari kemudian dan bertahan sampai hari kedua belas. Kedua pola waktu itu tidak saling menjelaskan satu sama lain dalam naskah, hanya disandingkan sebagai dua temuan yang terpisah.

Ada pula batas yang diakui sendiri oleh para peneliti. Suhu yang dipakai adalah suhu ambien wilayah, bukan suhu di dalam rumah tempat pasien demensia sebagian besar waktunya berada, sehingga pajanan sebenarnya bisa saja meleset dari yang tercatat. Polusi udara juga tidak disertakan dalam model, padahal bisa saja bergerak bersamaan dengan suhu dan ikut memengaruhi angka kematian.

Ada satu hal yang bisa diperiksa pembaca sendiri dari angka-angka yang disajikan naskah ini. Pada bagian tentang sumbangan kematian, total suhu non-optimal disebut menyumbang 20,42 persen kematian demensia, sedangkan panas ekstrem dan dingin ekstrem yang dijumlahkan hanya menyumbang 2,3 persen. Artinya sekitar 18 poin persentase dari beban total itu berasal dari suhu di luar kategori ekstrem, tetapi naskah tidak pernah merinci berapa besar bagian itu berasal dari panas sedang dan berapa dari dingin sedang.

Pada akhirnya, panas dan dingin ekstrem berdiri sebagai dua ancaman yang berbagi provinsi yang sama, populasi pasien yang sama, dan suhu referensi yang sama, tetapi menempuh jalan yang berbeda menuju kematian yang sama-sama tercatat sebagai akibat demensia. Satu bekerja cepat pada hari itu juga, satu lagi menunggu hampir seminggu sebelum menampakkan diri, dan naskah ini berhenti pada perbandingan itu tanpa menjawab apakah keduanya akan tumbuh lebih besar seiring musim yang kian ekstrem.

Bagikan

Baca Juga

Peringatan Dini Cepat, Tapi Yolanda Buktikan Itu Tak Cukup
Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Perempuan Malaysia dan Jarak Menuju Skrining Payudara
Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Warga Prek Pnov Kamboja Rela Bayar Klub Kesehatan Kampung
Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota