Daftar Isi
Sepanjang dua dekade terakhir, sindrom metabolik hampir selalu menjadi kerangka utama ketika peneliti mencari faktor risiko gangguan kognitif pada usia lanjut, dengan obesitas sentral, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah sebagai penanda yang dipakai berulang kali. Baru pada 2019 sebuah konsep tandingan diperkenalkan, menambahkan gangguan tidur dan gejala depresi ke dalam kerangka lama itu, lalu menamainya sindrom sirkadian. Sebuah kajian yang menelusuri data 11.719 orang dewasa di Tiongkok kini menguji langsung mana di antara kedua kerangka itu yang benar-benar memprediksi kemunduran kognitif ringan.
Temuan itu ditulis Mingyuan Fan, Jiushu Yuan, Sai Zhang, Qiyuan Yao, Qingqing Fu, Qiangyan Wang, Hongyan Xie, dan Hong Gao dalam Circadian syndrome, not metabolic syndrome, is a significant predictor of mild cognitive impairment in middle-aged and older adults, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 508, tahun 2026. Seluruh penulis berafiliasi ke Hospital of Chengdu University of Traditional Chinese Medicine, Sichuan, Tiongkok, dengan sebagian di antaranya juga tercatat di departemen endokrinologi dan laboratorium kunci penyakit metabolik milik provinsi yang sama.
2019: Zimmet Menyusun Definisi
Konsep sindrom sirkadian pertama kali diajukan Zimmet dan koleganya pada 2019, sebagaimana disebut dalam naskah ini, sebagai gagasan yang menempatkan gangguan jam biologis tubuh sebagai inti masalah, bukan sekadar tambahan pada sindrom metabolik yang sudah lama dikenal. Gangguan itu memengaruhi pola tidur, ekspresi emosi, perilaku makan, dan metabolisme sekaligus, sehingga cakupannya jauh lebih luas dibanding lima komponen klasik sindrom metabolik yang berpusat pada lingkar pinggang dan kadar lemak darah.
Shi dan Dua Uji Banding Sebelumnya
Sebelum kajian CHARLS ini, Shi dan koleganya sudah dua kali menguji gagasan itu, sebagaimana dirujuk dalam naskah, lebih dulu membandingkan sindrom sirkadian dengan sindrom metabolik untuk memprediksi penyakit jantung pada orang dewasa Tiongkok, lalu mengulanginya pada data survei nasional Amerika Serikat. Kedua kajian itu sama-sama menyimpulkan sindrom sirkadian sebagai prediktor yang lebih kuat, tetapi keduanya berhenti pada penyakit kardiovaskular, belum menyentuh ranah kognisi yang justru menjadi pertanyaan besar berikutnya dalam rantai riset ini.
CHARLS 2015-2018 Menguji Ulang
Fan dan kawan-kawan memakai dua gelombang China Health and Retirement Longitudinal Study, survei nasional pada dewasa berusia 45 tahun ke atas di 28 provinsi, untuk menutup celah itu. Pada gelombang 2015, sebanyak 11.719 peserta diperiksa fisik, diambil sampel darah puasa, dan dinilai kondisi kognitifnya, sementara peserta yang belum mengalami gangguan kognitif ringan kemudian diikuti tiga tahun berikutnya hingga tersisa 8.818 orang pada analisis longitudinal ke 2018.
Pada 2015, prevalensi sindrom sirkadian tercatat 30,5 persen dan sindrom metabolik 39,2 persen dari seluruh peserta, dengan keduanya jauh lebih umum pada perempuan dibanding laki-laki. Kelompok sindrom sirkadian mencatat skor kognitif rata-rata 13,2, sedikit lebih rendah dibanding kelompok sindrom metabolik yang mencatat 13,9, sementara prevalensi gangguan kognitif ringan di kelompok sindrom sirkadian mencapai 19,6 persen berbanding 16,8 persen pada kelompok sindrom metabolik.
Fan dan Gao Membedah Komponen
Setelah dikoreksi penuh terhadap usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, pendidikan, dan sejumlah faktor lain, sindrom sirkadian tetap berkaitan dengan skor kognitif yang lebih rendah dan risiko gangguan kognitif ringan yang lebih tinggi, dengan rasio odds 1,02 baik pada analisis cross-sectional maupun longitudinal tiga tahun kemudian. Sindrom metabolik, sebaliknya, tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan kognisi maupun gangguan kognitif ringan di seluruh model, sebuah pola yang konsisten di kedua tahap analisis.
Penelusuran lebih jauh ke komponen individual memperlihatkan bahwa depresi dan tidur pendek, dua komponen yang membedakan sindrom sirkadian dari sindrom metabolik, justru menjadi faktor paling kuat. Pada baseline, depresi memiliki rasio odds 1,04 dan tidur pendek 1,04 terhadap risiko gangguan kognitif ringan, sementara pada follow-up 2018, depresi masih bertahan dengan rasio odds 1,03, disusul kadar glukosa plasma tinggi dan status merokok dengan rasio odds yang sama.
Disabilitas dalam aktivitas hidup sehari-hari yang lebih kompleks, seperti mengurus rumah tangga atau mengelola keuangan, juga tercatat sebagai penanda kuat, dengan rasio odds 1,18 pada baseline dan 1,12 pada follow-up. Fan dan koleganya mencatat bahwa di antara peserta yang sudah mengalami disabilitas semacam itu sejak awal, sindrom sirkadian memberi tambahan risiko gangguan kognitif ringan sebesar 12 persen selama masa pemantauan, menandakan interaksi antara gangguan sirkadian dan status fungsional yang lebih rentan.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
BMI dan Paradoks yang Diwarisi Liu
Liu dan koleganya, dalam kajian yang juga dirujuk naskah ini, sudah lebih dulu mencatat bahwa kaitan sindrom metabolik dengan kognisi melemah begitu indeks massa tubuh diperhitungkan, dan pola itu terulang persis di data CHARLS. Setelah dikoreksi BMI, sindrom metabolik kehilangan kaitannya dengan skor kognitif maupun gangguan kognitif ringan, sementara obesitas sentral dan BMI sendiri justru berkaitan negatif dengan risiko gangguan kognitif ringan, sebuah paradoks yang oleh peneliti dijelaskan lewat cadangan nutrisi dan massa otot yang lebih baik pada sebagian orang dengan berat badan berlebih.
Geerlings dan Depresi yang Berulang
Peran depresi dalam kajian ini menggemakan temuan Geerlings dan koleganya pada dua studi berbasis komunitas di Belanda, yang dirujuk naskah sebagai bukti bahwa depresi meningkatkan risiko penyakit Alzheimer hingga 5,31 kali dan tampak sebagai kemunduran kognitif bermakna, terutama pada lansia berpendidikan lebih tinggi. Fan dan koleganya menempatkan temuan CHARLS ini sebagai konfirmasi independen atas pola yang sama, dengan menegaskan bahwa sindrom sirkadian bukan sekadar gabungan sindrom metabolik dan dua faktor tambahan tersebut.
“CircS bukan sekadar tumpukan MetS dan faktor risiko tidur pendek serta depresi, melainkan kaskade lintas-sistem, yaitu tidur, neurologis, dan metabolik, yang digerakkan oleh gangguan sirkadian,” tulis Mingyuan Fan dan Hong Gao dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi CircS is not simply an overlay of MetS and short sleep/depression risk factors, but a cross-system (sleep, neurological, metabolic) cascade driven by circadian disruption.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Batas yang Diakui Fan dan Kawan-kawan
Fan dan koleganya sendiri mengakui sejumlah batas dari apa yang bisa disimpulkan kajian ini. Sampel terbatas pada dewasa paruh baya dan lansia di wilayah tertentu Tiongkok, sehingga generalisasi ke populasi lain memerlukan data tambahan, sementara survei kuesioner tetap membuka peluang perancu tersembunyi dan bias ingatan, misalnya soal penggunaan obat dan kondisi penyerta yang tidak sepenuhnya tertangkap.
Mekanisme biologis yang menjelaskan mengapa gangguan sirkadian bisa memicu kemunduran kognitif juga belum tuntas terjawab meski hubungan itu konsisten muncul di dua tahap analisis, sehingga peneliti menyerukan studi eksperimental lanjutan. Definisi gangguan kognitif ringan yang dipakai, berdasarkan ambang skor baku dalam survei populasi besar, juga diakui belum setara dengan diagnosis klinis lengkap yang memerlukan penilaian neuropsikologis menyeluruh.
Fan dan koleganya turut mencatat bahwa perempuan lebih rentan mengalami gangguan kognitif ringan dibanding laki-laki di seluruh model, sebuah pola yang mereka kaitkan dengan prevalensi depresi dan gangguan tidur yang lebih tinggi pada perempuan sekaligus efek bias bertahan hidup, karena laki-laki cenderung meninggal lebih dini akibat penyakit kardiovaskular sehingga sampel laki-laki lanjut usia yang tersisa relatif lebih sehat. Kondisi ini, tulis mereka, menjadikan sindrom sirkadian penanda yang lebih tepat sasaran untuk mendeteksi risiko pada kelompok perempuan.
Ada satu angka di dalam tabel hasil yang layak diperiksa ulang oleh pembaca yang teliti. Pada baris sindrom sirkadian di model terkoreksi penuh untuk risiko gangguan kognitif ringan cross-sectional, interval kepercayaan tertulis dengan format ganjil, seolah sepasang digit tertera dua kali berturutan, berbeda dari format rasio odds dan interval kepercayaan yang konsisten rapi pada baris-baris lain di tabel yang sama.
Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka
Kajian ini menempatkan dirinya sebagai satu mata rantai yang menyambung gagasan Zimmet pada 2019, uji banding Shi pada penyakit jantung, dan catatan Liu tentang peran BMI, lalu menariknya ke ranah kognisi dengan bukti longitudinal yang belum ada sebelumnya. Bahwa gangguan tidur dan suasana hati ternyata lebih menentukan dibanding lingkar pinggang atau kadar gula darah bagi kemunduran kognitif ringan pada usia lanjut, tersimpan sebagai temuan yang menunggu mata rantai berikutnya untuk menjelaskan mekanismenya secara lebih pasti.














