- Sebanyak 56,4 persen penonton video sangat tidak setuju bahwa bahan kimia dalam plastik aman, dibanding 27,8 persen di kelompok pembanding.
- Penonton video yang sangat mungkin mengurangi pemakaian plastik dalam sebulan ke depan mencapai 51,0 persen, dibanding 44,8 persen.
- Setiap kenaikan satu poin niat awal sejalan dengan kenaikan 56 persen peluang melaporkan perubahan perilaku yang lebih besar.
- Peserta India mencatat angka tertinggi, dengan 85,9 persen berniat tinggi dan 74,1 persen melaporkan perubahan perilaku tinggi.
Daftar Isi
Banyak plastik mengandung bahan kimia pengganggu hormon, atau endocrine-disrupting chemicals dalam bahasa para peneliti, seperti bisfenol A, ftalat, dan PBDE. Plastik dipakai luas karena murah dan awet, tetapi menurut para penulis sebuah studi di lima negara, kesadaran publik tentang risiko zat-zat itu masih rendah.
Studi itu ditulis Danya Sandler dan rekan dari Little Things Matter di Toronto, Faculty of Health York University, dan Faculty of Health Sciences Simon Fraser University, Kanada. Judulnya Public Knowledge of Plastic-Related Chemical Risks and Intention to Reduce Exposure: A Secondary Analysis of an International Randomized Controlled Trial, dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.
Para peneliti mengolah ulang data uji acak yang melibatkan 15.761 orang berusia 18 sampai 45 tahun dari Kanada, Amerika Serikat, Inggris, India, dan Australia, yang direkrut lewat panel survei daring pada Oktober sampai Desember 2021. Lewat pembagian acak, sebagian menonton video tujuh menit tentang bahan kimia beracun dan perkembangan otak anak, sebagian lagi hanya melihat layar kosong sejenak.
Pengganggu Hormon, Zat yang Menumpang di Plastik
Maksudnya, zat seperti bisfenol A, ftalat, dan PBDE dapat masuk ke tubuh ketika tertelan atau terhirup, lalu bagi kebanyakan orang menjadi paparan kronis berkadar rendah. Ringkasan paper menyebut bahan kimia pengganggu hormon dalam plastik dikaitkan dengan pubertas yang datang lebih dini, hasil kelahiran yang buruk, dan fungsi kognitif yang menurun.
Bedanya dengan sampah plastik begini: sampah bisa dilihat, sedangkan paparan kimia nyaris tak kasatmata. Paper ini mencatat orang lebih akrab dengan sampah yang tampak ketimbang dengan efek kesehatan bahan kimia tertentu, dan celah itu diduga muncul karena paparannya tak terlihat serta jarang dibahas dalam panduan kesehatan rutin.
Untuk menguji apakah celah itu bisa dipersempit, peserta diminta menanggapi tiga pernyataan sesudah menonton video atau layar kosong. Pernyataan pertama menyebut riset sudah menunjukkan bahan kimia dalam plastik aman bagi manusia, yang kedua menyebut kadarnya terlalu rendah untuk membahayakan anak dan perempuan hamil, dan yang ketiga menyebut bahan kimia itu dapat mengganggu aktivitas hormon serta memengaruhi IQ anak.
Video berjudul The Impact of Toxins on the Developing Brain itu dibuat Little Things Matter dan ditutup dengan daftar cara praktis mengurangi paparan bahan kimia beracun dalam keseharian. Sesudah peserta yang gagal cek perhatian, tidak menuntaskan video, atau datanya tidak lengkap dikeluarkan, tersisa 12.818 orang, yakni 6.427 di kelompok video dan 6.391 di kelompok pembanding.
Baca juga Bahaya PFAS di Wajan Antilengket: Tahu Belum Tentu Waspada
Jawaban Netral, Pilihan Tengah yang Jarang Dipilih Penonton
Jawaban netral adalah pilihan tengah, ketika peserta tidak memilih setuju maupun tidak setuju pada sebuah pernyataan. Di kelompok pembanding, jawaban semacam itu mencakup 35,1 persen dari seluruh kemungkinan jawaban untuk tiga pernyataan plastik, sedangkan di kelompok video hanya 11,9 persen.
Angka berikutnya dihitung dari peserta yang memilih sikap jelas, setuju atau tidak setuju, dengan jawaban netral dikeluarkan. Untuk pernyataan bahwa bahan kimia dalam plastik aman bagi manusia, 56,4 persen penonton video menyatakan sangat tidak setuju, dibanding 27,8 persen di kelompok pembanding.
Pola serupa muncul pada pernyataan kedua, tentang kadar bisfenol A dan ftalat yang dianggap terlalu rendah untuk membahayakan anak dan perempuan hamil. Penonton video yang sangat tidak setuju mencapai 47,5 persen, sedangkan di kelompok pembanding 18,7 persen.
Pada pernyataan ketiga, yang berisi peringatan, ukurannya adalah persetujuan. Sebanyak 60,0 persen penonton video sangat setuju bahwa bahan kimia dalam plastik sehari-hari dapat mengganggu aktivitas hormon dan memengaruhi IQ anak, dibanding 36,4 persen di kelompok pembanding.
Penulis juga mencatat bahwa cukup banyak anggota kelompok pembanding masih memegang anggapan keliru soal keamanan plastik. Menurut mereka, hal itu menunjukkan celah kesadaran publik mungkin masih meluas, sejalan dengan riset terdahulu tentang terbatasnya pengetahuan orang mengenai risiko kimia plastik.
Ukuran Efek, Seberapa Jauh Selisihnya
Karena sampelnya besar, para penulis menekankan ukuran efek untuk menggambarkan makna praktis selisih yang teramati. Paper ini memakai korelasi rank-biserial, ukuran baku selisih antarkelompok yang bergerak dari minus satu sampai satu, dengan patokan 0,10 untuk efek kecil, 0,30 sedang, dan 0,50 besar.
Untuk tiga pernyataan plastik, nilainya 0,34 sampai 0,38. Penulis menyebut efek itu sedang hingga besar, sehingga video itu menghasilkan pergeseran keyakinan soal plastik yang tidak hanya andal secara statistik, tetapi juga bermakna secara praktis.
Niat bergeser jauh lebih sedikit. Di antara peserta yang memberi jawaban berarah, 51,0 persen penonton video menyatakan sangat mungkin mengurangi pemakaian plastik dalam sebulan ke depan, dibanding 44,8 persen di kelompok pembanding, dengan ukuran efek hanya 0,06.
Penulis mengakui angka 0,06 berada di bawah patokan efek kecil. Meski begitu, menurut mereka, satu video singkat yang menggeser kira-kira enam persen lebih banyak orang ke arah niat mengurangi plastik, pada sampel internasional sebesar ini, bisa berarti dampak kesehatan masyarakat yang layak diperhitungkan, karena paparan kimia plastik bersifat kronis, menumpuk, dan meluas.
Rasio Odds, Peluang yang Naik atau Turun
Rasio odds dipakai paper ini untuk melihat keyakinan mana yang paling erat dengan niat mengurangi plastik, dengan data kedua kelompok digabung. Dalam bahasa paper, peserta yang sangat setuju bahwa bahan kimia plastik mengganggu hormon dan memengaruhi IQ anak punya peluang hampir dua kali lipat untuk melaporkan niat lebih besar, dengan rasio odds 1,99.
Sebaliknya, makin kuat keyakinan bahwa plastik aman bagi manusia, makin rendah peluang melaporkan niat yang lebih besar, dengan rasio odds 0,85. Keyakinan bahwa kadar bahan kimia terlalu rendah untuk membahayakan anak atau perempuan hamil tidak berhubungan bermakna dengan niat, dengan rasio odds 1,03.
Penulis membaca pola itu sebagai petunjuk bahwa niat mungkin paling mudah terbentuk ketika bahaya terasa konkret, menyangkut diri sendiri, dan menyentuh kelompok rentan seperti anak-anak. Mereka menautkannya dengan bukti lain bahwa bahaya terhadap perkembangan anak berpotensi lebih menggerakkan orang ketimbang risiko lingkungan yang abstrak.
Baca juga Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang
Niat Awal, Penanda yang Lebih Kuat daripada Video
Niat awal di sini berarti jawaban peserta sesaat setelah video atau layar kosong. Enam minggu kemudian, 3.879 peserta mengisi survei lanjutan, yakni 1.983 dari kelompok video dan 1.896 dari kelompok pembanding, lalu ditanya sejauh mana mereka telah mengubah pemakaian plastik untuk mengurangi risiko kesehatan.
Hasilnya, setiap kenaikan satu poin niat awal sejalan dengan kenaikan 56 persen peluang melaporkan perubahan perilaku yang lebih besar, dengan rasio odds 1,56. Sebaliknya, menonton video atau tidak, tidak membedakan perubahan perilaku secara bermakna, dengan rasio odds 0,75 dan nilai p 0,099. Hubungan antara niat dan perilaku pun tampak serupa di kelompok video maupun pembanding, dan median niat awal di kedua kelompok yang mengikuti survei lanjutan sama, yakni 4,0 pada skala lima.
Penulis meminjam model COM-B untuk membaca pola itu, yakni kerangka yang memandang perilaku dari tiga unsur: kapabilitas, kesempatan, dan motivasi. Edukasi bisa menambah kapabilitas psikologis, tetapi perubahan yang bertahan menurut mereka kemungkinan juga bergantung pada biaya, kemudahan, dan akses ke alternatif yang lebih rendah racun.
Bagian pembahasan paper merangkumnya dalam satu kalimat. “Kesadaran saja kemungkinan besar tidak cukup,” tulis Danya Sandler dan rekan, dalam terjemahan dari naskah berbahasa Inggris. Menurut mereka, mengurangi paparan kimia plastik juga membutuhkan label yang jelas, standar produk yang lebih aman, dan alternatif yang terjangkau.
Subkelompok, Irisan Peserta yang Paling Bergerak
Subkelompok adalah irisan peserta menurut negara, tempat tinggal, pendidikan, atau ciri rumah tangga. Analisis ini bersifat eksploratif dan memakai 3.879 peserta survei lanjutan dari kedua kelompok yang digabung, dengan kategori tinggi berarti skor 4 atau 5 pada skala lima.
Peserta India mencatat angka tertinggi, dengan 85,9 persen berniat tinggi dan 74,1 persen melaporkan perubahan perilaku tinggi. Di Australia, Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat, niat tinggi berkisar 65,8 sampai 68,3 persen, sedangkan perubahan perilaku tinggi 39,5 sampai 50,4 persen.
Penulis menduga perbedaan itu sebagian dapat dipahami lewat ketimpangan global dalam produksi dan pencemaran plastik. India adalah satu-satunya negara Global South dalam sampel, dan menurut penulis pesertanya mungkin punya hubungan yang lebih langsung dengan bahaya terkait plastik.
Pola serupa muncul di irisan lain. Warga perkotaan mencatat niat tinggi 77,8 persen dan perubahan perilaku tinggi 59,6 persen, peserta Asia Selatan 85,7 dan 71,9 persen, sedangkan lulusan magister ke atas 78,2 dan 60,7 persen, dibanding 64,1 dan 41,5 persen pada lulusan SMA ke bawah.
Peserta dengan satu anak mencatat 80,9 persen niat tinggi dan 59,1 persen perubahan tinggi, lebih tinggi daripada yang tidak punya anak. Peserta yang condong ke kanan secara politik juga mencatat angka lebih tinggi daripada yang condong ke kiri, sedangkan gender, usia, pekerjaan, status kehamilan, dan status perkembangan anak tidak memperlihatkan beda berarti.
Baca juga Mikroplastik di Air Minum Khorramabad Melonjak Saat Musim Hujan
Penulis mencatat sejumlah batas. Sampel panel internet belum tentu mewakili masyarakat umum, jawaban bersandar pada laporan diri, dan pengeluaran peserta yang gagal cek perhatian bisa membuat efek video tampak lebih besar. Video itu juga membahas bahan kimia beracun secara umum, bukan plastik secara khusus, dan karena hasil soal plastik tidak ditetapkan sejak awal dalam protokol uji induk, penulis meminta temuan itu dibaca sebagai eksploratif.
Dalam studi ini, niat dan perubahan perilaku sama-sama dilaporkan sendiri oleh peserta lewat survei. Karena itu, penulis menyarankan riset lanjutan memakai biomarker, data belanja, atau alat pelacak digital untuk memastikan apakah niat benar-benar berujung pada berkurangnya paparan.















