- Sebanyak 884 dari 1.000 ibu di 20 klinik Enugu menyebut ibuprofen sebagai obat yang sering diberikan saat anak demam.
- Sebanyak 87,0 persen pemberi ibuprofen dan 84,6 persen pemberi parasetamol tergolong menyalahgunakan obat itu.
- Penyalahgunaan ibuprofen tercatat 97,1 persen pada ibu berusia 50 tahun ke atas dan 76,1 persen pada ibu di bawah 30 tahun.
- Penyalahgunaan ibuprofen di klinik kota 87,7 persen dan di klinik desa 85,9 persen, selisih yang tidak bermakna.
Daftar Isi
- Juli sampai Oktober 2024 di Dua Puluh Klinik Enugu
- Ibuprofen Lebih Banyak Dipakai daripada Parasetamol
- Angka Wonodi 2024 dan Li 2000 Lebih Rendah
- Kaliba di Zambia 2021, Dineshkumar di India 1995
- Beda Menurut Usia Ibu, Tidak Menurut Pendidikan
- Tumbuh Gigi dan Takut Demam, dari Adimorah 2011 sampai Kini
- Batas Kajian 2024 dan Mata Rantai Sebelumnya
Parasetamol pertama kali disintesis pada 1878, tetapi baru dipasarkan pada 1950 karena laporan-laporan awal tentang methemoglobinemia. Parasetamol adalah obat penurun demam yang paling umum dipakai, dan pedoman di Inggris masih menempatkannya sebagai pengobatan lini pertama. Pada dosis terapi, efek sampingnya tidak banyak, tetapi penyalahgunaannya bisa melukai ginjal dan hati.
Ibuprofen termasuk golongan obat antiradang nonsteroid atau NSAID. Karena dijual bebas dan dipakai luas untuk demam anak, obat ini disalahgunakan dalam berbagai bentuk. Di Nigeria, menurut laporan yang dirujuk para peneliti, obat yang umum disalahgunakan adalah golongan NSAID, dan yang paling utama di antaranya ibuprofen. Para peneliti juga mencatat ibuprofen bisa menyebabkan luka pada saluran cerna dan, bila dipakai lama, penyakit ginjal kronis.
Dua obat itulah yang diteliti Jude T. Onyia dari Departemen Pediatri, Fakultas Kedokteran Universitas Nigeria, bersama rekan-rekannya. Hasilnya terbit dalam artikel The use and misuse of non-steroidal anti-inflammatory drugs (Ibuprofen) and paracetamol among mothers who presented with their children in health facilities in Enugu, South‒East Nigeria di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka ingin mencatat pola salah pakai ibuprofen dan parasetamol oleh para ibu yang membawa anaknya ke klinik.
Juli sampai Oktober 2024 di Dua Puluh Klinik Enugu
Antara Juli dan Oktober 2024, tim peneliti mewawancarai 1.000 ibu di 20 klinik rawat jalan rumah sakit pemerintah dan swasta di Enugu State, tenggara Nigeria. Tiga belas klinik berada di kota dan tujuh di desa. Para ibu datang untuk kontrol, imunisasi, atau penyakit ringan anaknya, yang usianya berkisar satu bulan sampai 240 bulan.
Usia rata-rata para ibu 39,3 tahun, dan 77,0 persen di antaranya berpendidikan tinggi, sementara hanya 1,6 persen yang tidak berpendidikan formal. Sebanyak 610 ibu ditemui di klinik kota dan 390 di klinik desa. Median usia anak mereka 36 bulan, dan 36,4 persen anak belum genap setahun. Sebanyak 21,1 persen ibu berusia 50 tahun ke atas, dan 16,6 persen berusia 20 sampai 29 tahun.
Demam adalah pengalaman yang hampir merata di rumah-rumah itu. Sebanyak 95,1 persen ibu mengatakan anaknya pernah demam, dan 90,5 persen mengaku khawatir saat anaknya demam. Muntah paling sering disebut menyertai demam, 38,0 persen, disusul gabungan muntah, nafsu makan buruk, dan batuk, 18,5 persen, lalu nafsu makan buruk saja, 13,2 persen.
Baca juga Salah Takar Parasetamol Anak Australia Jarang Berujung Rusak Hati
Ibuprofen Lebih Banyak Dipakai daripada Parasetamol
Ketika anak demam, sebagian besar ibu di Enugu meraih ibuprofen. Sebanyak 884 ibu atau 88,4 persen menyebut ibuprofen sebagai obat yang sering mereka berikan. Hanya 65 ibu atau 6,5 persen yang memberi ibuprofen bersama parasetamol, dan 39 ibu atau 3,9 persen yang memberi parasetamol saja. Diklofenak dan aspirin masing-masing di bawah setengah persen.
Para peneliti menuliskan dua dugaan untuk dominasi itu. Ibuprofen umum dipakai untuk demam anak karena batas keamanannya yang lebar, dan iklan obat ini yang meluas juga disebut sebagai alasan para ibu memberikannya. Menurut mereka, pemakaian ibuprofen yang meningkat meski ada peringatan Kementerian Kesehatan Federal Nigeria sudah menjadi hal yang lumrah.
Obat-obat itu terutama dibeli dari pedagang obat paten, 44,5 persen, dan dari rumah sakit pemerintah, 31,3 persen. Untuk sediaan sirup 100 mg per 5 ml, takaran yang paling sering disebut adalah 2,5 ml atau 50 mg, 54,0 persen, disusul 1 ml atau 20 mg, 39,9 persen. Sebanyak 86,3 persen ibu memberikannya tiga sampai empat kali sehari.
Angka Wonodi 2024 dan Li 2000 Lebih Rendah
Para peneliti memakai batas yang tegas. Ibuprofen dianggap disalahgunakan bila diberikan lebih dari 10 mg per kilogram berat badan dengan jarak kurang dari enam jam dan/atau lebih dari empat kali dalam 24 jam. Untuk parasetamol batasnya lebih dari 15 mg per kilogram dengan aturan jarak dan jumlah yang sama. Dengan batas itu, 769 ibu atau 87,0 persen dari pemberi ibuprofen tergolong menyalahgunakannya. Di antara 39 ibu pemberi parasetamol, 33 orang atau 84,6 persen menyalahgunakannya. Pada kelompok yang memberi kedua obat sekaligus, 60 ibu atau 92,3 persen tergolong menyalahgunakan keduanya.
Angka itu lebih tinggi daripada temuan Wonodi dan rekan di Port Harcourt, Nigeria, yang terbit pada 2024. Studi tersebut mencatat 13 persen ibu memberi ibuprofen melebihi dosis kepada anaknya. Onyia dan rekan menduga selisihnya muncul karena sampel Wonodi lebih kecil, dan karena studi itu hanya menghitung kelebihan dosis tanpa menghitung kekurangan dosis.
Mata rantai yang lebih tua datang dari Li dan rekan, yang terbit pada 2000. Mereka mencatat 51 persen pasien menerima dosis parasetamol dan ibuprofen yang tidak akurat, 26 persen di antara ibu pemberi ibuprofen, dan 62 persen untuk kelebihan dosis parasetamol. Menurut Onyia dan rekan, angka Li lebih rendah mungkin karena kekurangan dosis tidak dihitung dan usia peserta paling tinggi 10 tahun.
Baca juga Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Kaliba di Zambia 2021, Dineshkumar di India 1995
Pembanding dari luar Nigeria juga lebih rendah. Kaliba dan rekan, yang menulis pada 2021 tentang warga Ndola di Zambia, melaporkan angka penyalahgunaan 27,2 persen untuk ibuprofen dan 32,9 persen untuk parasetamol. Mereka mencatat aturan peredaran obat di negara itu ada, tetapi tidak ditegakkan. Onyia dan rekan menyebut angka Kaliba itu pun sudah tergolong tinggi, meski masih di bawah angka Enugu.
Menurut Onyia dan rekan, perbedaan angka antarstudi bisa berasal dari metode yang berbeda, kriteria penyalahgunaan yang tidak seragam, dan profil peserta yang berlainan. Perbedaan semacam itu, tulis mereka, juga dikuatkan oleh tinjauan Richard dan rekan pada 2013 tentang penyalahgunaan obat bebas.
Di India, Dineshkumar dan rekan pada 1995 menemukan penyalahgunaan obat lebih tinggi di kota, 37 persen, daripada di desa, 17 persen. Enugu tidak mengulang pola itu. Penyalahgunaan ibuprofen tercatat 87,7 persen di klinik kota dan 85,9 persen di klinik desa, selisih yang tidak bermakna secara statistik dengan nilai p 0,432.
“Tidak ada perbedaan mencolok dalam penggunaan maupun penyalahgunaan ibuprofen atau parasetamol di antara ibu yang datang ke rumah sakit kota dan desa,” tulis Onyia dan rekan dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan dari naskah berbahasa Inggris. Mereka menduga jumlah pengasuh dari klinik kota yang besar ikut menjelaskan tiadanya beda itu.
Beda Menurut Usia Ibu, Tidak Menurut Pendidikan
Usia ibu justru memperlihatkan jarak yang lebar. Di kelompok ibu berusia di bawah 30 tahun, 76,1 persen menyalahgunakan ibuprofen, dan pada usia 30 sampai 39 tahun 79,3 persen. Angkanya melonjak menjadi 96,7 persen pada ibu berusia 40 sampai 49 tahun dan 97,1 persen pada ibu berusia 50 tahun ke atas.
Setelah faktor lain diperhitungkan, ibu berusia di bawah 30 tahun sepuluh kali lebih kecil kemungkinannya menyalahgunakan ibuprofen dibanding ibu berusia 50 tahun ke atas, dengan rasio odds terkoreksi 0,1. Hal yang sama berlaku untuk ibu berusia 30 sampai 39 tahun, juga dengan rasio odds terkoreksi 0,1.
Pendidikan tidak memperlihatkan hubungan. Penyalahgunaan ibuprofen tercatat 87,5 persen pada ibu berpendidikan tinggi dan 85,4 persen pada ibu berpendidikan menengah ke bawah, dengan nilai p 0,430. Temuan ini berlawanan dengan Amaha, Lawan, dan Babatunde bersama rekan-rekannya, yang melaporkan bahwa orang berpendidikan rendah lebih cenderung memakai obat bebas tanpa resep.
Tumbuh Gigi dan Takut Demam, dari Adimorah 2011 sampai Kini
Cara para ibu memandang demam ikut dicatat. Hanya 16,5 persen yang tahu bahwa penyebab demam bisa berujung pada kematian anak, dan 86,9 persen percaya demam berkaitan dengan tumbuh gigi. Hanya 13,1 persen yang tidak mengaitkan keduanya, dan secara keseluruhan baru 39,6 persen ibu yang persepsinya tentang demam tergolong baik.
Kepercayaan bahwa demam berbahaya dan berhubungan dengan tumbuh gigi, menurut para peneliti, sejalan dengan catatan Adimorah dan rekan pada 2011 tentang keyakinan ibu di Enugu soal tumbuh gigi bayi. Gejala ini mereka sebut sebagai fobia demam, kecemasan atau salah paham tentang bahaya demam pada anak. Di sisi lain, 81,0 persen ibu tahu obat demam bisa menimbulkan efek samping.
Sebanyak 68,7 persen ibu juga menjadikan tenaga kesehatan sebagai tempat pertama yang didatangi ketika anak demam, sedangkan 31,3 persen lebih dulu mendatangi orang yang bukan tenaga kesehatan. “Mengejutkan, meski sebagian besar pengasuh menjadikan tenaga kesehatan sebagai tujuan pertama ketika anaknya demam, mereka tetap menyalahgunakan obat-obat ini,” tulis Onyia dan rekan dalam terjemahan. Mereka menduga iklan obat di media sosial ikut berperan.
Uzochukwu dan rekan pada 2014, yang dirujuk para peneliti, mencatat bahwa pemakaian obat yang tidak rasional pada anak bisa berakar pada pemeriksaan pasien yang kurang memadai dan komunikasi yang buruk antara dokter dan pengasuh. Riwayat penyakit yang tidak digali tuntas serta resep yang berlebihan dan keliru juga disebut sebagai penyebab.
Baca juga Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi
Batas Kajian 2024 dan Mata Rantai Sebelumnya
Menurut para peneliti, ibuprofen dan parasetamol berkaitan dengan efek samping yang bergantung dosis, masing-masing pada saluran cerna dan hati. Soal efek samping, mereka juga merujuk Kaliba dan rekan yang mencatat 27,1 persen penyalahguna obat mengalami efek samping dalam berbagai derajat. Mereka juga menyebut uji klinis Rainsford dan rekan pada 1997, yang menemukan efek samping ringan sekitar 10 persen pada parasetamol dan 8 persen pada ibuprofen bila diberikan hingga 30 hari.
“Penggunaan ibuprofen lebih meluas daripada parasetamol oleh para ibu pada anak yang demam, dengan sebagian besar ibu menyebut efek samping sebagai hal yang membuat mereka menahan diri,” tulis Onyia dan rekan dalam simpulan, juga dalam terjemahan. Meski begitu, mereka menegaskan penyalahgunaan kedua obat itu tetap tinggi di antara para ibu yang diteliti.
Para peneliti mengakui batas kajian mereka. Data rentan bias ingatan, takaran obat dilaporkan sendiri oleh para ibu, sampel diambil dari rumah sakit, dan tidak ada pemeriksaan silang seperti mencocokkan resep atau melihat langsung wadah obat. Daftar pustaka kajian ini memuat tulisan Obu, Chinawa, dan rekan pada 2012 tentang pemakaian parasetamol pada anak di Enugu. Kajian Onyia dan rekan, menurut para penulisnya, juga dimaksudkan untuk menyandingkan pola pemakaian dan penyalahgunaan obat di rumah sakit kota dan desa, serta menyusun rekomendasi untuk menekan masalah tersebut.














