- Selama enam setengah tahun itu tercatat 17.318 paparan parasetamol tak disengaja pada anak.
- Sirop 50 mg/mL terlibat dalam 29,5 persen kasus dan sirop 100 mg/mL dalam 27,8 persen kasus.
- Salah komunikasi antarpengasuh disebut pada 18,5 persen kasus dan menjadi alasan yang paling sering dikemukakan penelepon.
- Tidak ada anak yang dirujuk ke unit hati, menjalani cangkok hati, atau meninggal.
- Data hanya memuat kasus yang ditelepon ke pusat informasi racun, sehingga tidak mewakili seluruh salah dosis di New South Wales atau Australia.
Daftar Isi
- Peringatan Rajanayagam pada 2015 dan celah yang tertinggal
- Tiga puluh telepon sepekan sepanjang 2017 sampai 2023
- Kurva yang menanjak pada masa pandemi 2020 sampai 2022
- Tahun 2021 di bawah kaca pembesar Chidiac
- Pelajaran Brass 2018 tentang satu kekuatan sirop
- Hati anak yang lebih tahan, dari Rumack 1986 sampai Tenenbein 2000
- Batas data Sydney dan angka yang tidak selalu seragam
Parasetamol sudah lama menjadi obat yang paling banyak dipakai dalam praktik kesehatan anak. Ia tergolong obat esensial, disetujui sebagai pereda nyeri dan penurun demam untuk bayi sejak usia satu bulan, dan dapat dibeli tanpa resep. Di Australia, obat khusus anak umumnya berbentuk cairan yang dijual dalam beberapa kekuatan dan kerap disertai alat takar khas tiap merek, sehingga keputusan soal takaran sehari-hari berada di tangan orang tua, kakek-nenek, atau pengasuh di tempat penitipan anak.
Dari keakraban itulah Annabelle S. Chidiac, Nicholas A. Buckley, Firouzeh Noghrehchi, dan Rose Cairns berangkat dalam artikel Unintentional paediatric paracetamol overdose: a retrospective observational study of dosing errors reported to an Australian Poisons Information Centre, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1494 tahun 2026. Keempatnya bekerja di School of Pharmacy The University of Sydney, dan dua di antaranya juga di New South Wales Poisons Information Centre, layanan informasi racun terbesar di negara itu.
Bahan mereka adalah catatan telepon yang masuk ke pusat tersebut sejak Januari 2017 sampai Juni 2023, khusus mengenai anak di bawah 12 tahun yang menerima parasetamol melebihi takaran tanpa disengaja. Layanan itu menangani kira-kira separuh dari 250.000 telepon keracunan di Australia setiap tahun, sehingga para penulis menganggap angka nasional kurang lebih dua kali lipat dari yang mereka laporkan.
Peringatan Rajanayagam pada 2015 dan celah yang tertinggal
Titik tolak kajian ini adalah temuan yang lebih tua. Riset Rajanayagam dan rekan-rekannya pada 2015, yang dikutip para penulis, menyebut salah dosis parasetamol sebagai penyebab utama gagal hati akut pada anak di Australia dan Selandia Baru. Gejala keracunan obat ini datang terlambat, dan bila tidak ditangani dapat merusak hati, berujung gagal hati, dan pada kejadian yang jarang, kematian.
Sejumlah penelitian lain yang dirujuk naskah sudah memperlihatkan sisi rumah tangganya. Para pengasuh didapati keliru menghitung dosis atau tidak mampu memakai alat takar dengan benar, dan banyak di antara mereka tidak menyadari risiko pemakaian obat yang tidak tepat. Meski demikian, tulis keempat peneliti, keterangan tentang seberapa sering kekeliruan itu terjadi, bagaimana cirinya, dan apa yang melatarinya masih terbatas. Celah itulah yang hendak mereka isi.
Tiga puluh telepon sepekan sepanjang 2017 sampai 2023
Selama enam setengah tahun itu tercatat 17.318 paparan parasetamol tak disengaja pada anak. Sebanyak 10.189 di antaranya adalah salah dosis, yakni obat memang diberikan untuk mengobati tetapi takaran, jarak waktu, atau anak penerimanya keliru. Sisanya, 7.129 kasus, adalah paparan kebetulan ketika anak menelan obat sendiri tanpa ada niat pengobatan dari siapa pun.
Telepon tentang salah dosis datang rata-rata 30 kali sepekan atau sekitar empat kali sehari, dengan pekan tersepi 13 telepon dan pekan teramai 72 telepon. Usia tengah anak yang terlibat hanya satu tahun. Lebih dari separuhnya berumur satu sampai empat tahun, dan lebih dari seperempatnya bayi yang belum genap setahun. Dengan penyebut kasar separuh penduduk Australia berusia di bawah 12 tahun, para penulis memperkirakan 167 kasus salah dosis per 100.000 anak setiap tahun.
Dua jenis paparan itu berakhir dengan nasihat yang berlainan. Pada salah dosis, 94,0 persen penelepon disarankan tetap di rumah dan hanya 1,0 persen dirujuk ke rumah sakit. Pada paparan kebetulan, yang hampir sembilan dari sepuluh kasusnya menimpa anak usia satu sampai empat tahun, angka rujukan mencapai 14,3 persen. Paparan kebetulan, menurut naskah, mudah dicegah dengan penyimpanan yang benar, sedangkan salah dosis kerap rumit dan menuntut upaya yang lebih terarah.
Baca juga Bekal Ibu, Bukan Kuasa Ibu, yang Menentukan Vaksin Anak Filipina
Kurva yang menanjak pada masa pandemi 2020 sampai 2022
Jumlah telepon salah dosis tidak diam di tempat. Antara Juli 2018 dan Juni 2021 angkanya naik 5,9 persen per tahun, lalu melaju menjadi 16,6 persen per tahun pada Juli 2021 sampai Juni 2023. Paparan kebetulan justru bergerak ke arah sebaliknya. Kasusnya turun 12,2 persen per tahun pada periode pertama, kemudian penurunannya melambat menjadi 2,4 persen per tahun.
Para penulis mengaitkan kenaikan itu dengan wabah COVID-19 dan pemakaian parasetamol untuk demam yang menyertainya. Berbeda dari banyak bagian dunia lain, puncak COVID-19 di Australia baru tiba pada 2022, setelah perbatasan internasional dibuka kembali pada akhir 2021. Vaksinasi COVID-19 untuk anak juga dimulai pada Januari 2022. Menurut naskah, lonjakan telepon bisa berasal dari infeksi itu sendiri, dari reaksi sesudah vaksin, atau dari rasa takut para orang tua.
Satu lekuk kecil pada awal pandemi ikut dicatat. Pada Maret 2020 penjualan obat pereda nyeri dibatasi dan parasetamol cair dipindahkan ke belakang konter apotek karena permintaan melonjak dan orang menimbun. Kekeliruan sempat berkurang sebentar sesudahnya, yang oleh para penulis diduga berkaitan dengan berkurangnya persediaan obat di rumah. Parasetamol cair kembali ke rak depan pada Juli 2020, dan angka pun naik lagi.
Tahun 2021 di bawah kaca pembesar Chidiac
Untuk memahami apa yang sebenarnya keliru, 1.498 kasus sepanjang 2021 ditelaah satu per satu. Sediaan cair paling sering terlibat, dan dua kekuatan paling pekat tampil paling sering. Sirop 50 mg/mL terlibat dalam 29,5 persen kasus dan sirop 100 mg/mL dalam 27,8 persen kasus. Kedua kekuatan itu juga mencatat paparan terbanyak bila dibandingkan dengan jumlah kemasan yang terjual, masing-masing 48,9 dan 38,2 kasus per 100.000 unit.
Bentuk kekeliruannya kebanyakan sederhana. Lebih dari separuh kasus, 55,5 persen, berupa satu kali pemberian dengan takaran yang salah. Sebanyak 29,7 persen lainnya berupa jarak waktu yang terlalu rapat, sedangkan takaran keliru yang berulang tercatat pada 13,6 persen kasus. Bila alasan pemakaian obat disebutkan, tiga yang teratas adalah demam atau kejang demam, nyeri tumbuh gigi dan mulut, serta infeksi saluran napas.
Alasan di balik kekeliruan lebih jarang tercatat, tetapi polanya terbaca. Salah komunikasi antarpengasuh disebut pada 18,5 persen kasus dan menjadi alasan yang paling sering dikemukakan penelepon. Salah memilih kekuatan atau sediaan menyusul dengan 7,1 persen, lalu kebingungan karena banyak obat sekaligus 4,8 persen dan salah membaca petunjuk 3,7 persen.
Yang menenangkan adalah besarnya takaran. Dosis tengah yang diterima anak dalam 24 jam ialah 36 mg per kilogram berat badan, masih di bawah batas harian 60 mg per kilogram. Empat dari lima kekeliruan terjadi hanya sekali. Dari seluruh kasus 2021, yang benar-benar perlu ke rumah sakit karena salah dosis hanya 26 anak atau 1,7 persen.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Pelajaran Brass 2018 tentang satu kekuatan sirop
Di Australia tersedia empat kekuatan parasetamol cair, dari 24 sampai 100 mg/mL, sehingga salah mengambil botol dapat membuat takaran meleset hingga empat kali lipat. Para penulis menoleh ke Amerika Serikat, tempat sediaan cair diseragamkan menjadi satu kepekatan pada 2011. Studi Brass dan rekan-rekannya pada 2018, yang dikutip naskah, mencatat telepon paparan turun hampir 20 persen sesudah langkah itu, walau proporsi kasus yang perlu dirujuk tidak berubah.
Dari sana lahir usul yang paling konkret dalam naskah. “Standardisasi produk cair di Australia perlu dijajaki karena hal ini dapat makin mengurangi peluang terjadinya kekeliruan,” tulis Annabelle S. Chidiac, Nicholas A. Buckley, Firouzeh Noghrehchi, dan Rose Cairns dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Usul itu mereka sandingkan dengan alat takar yang seragam dan kampanye pendidikan bagi pengasuh.
Kemasan pun ikut disorot. Sejak 2013 pemerintah Australia mewajibkan kemasan mencantumkan dosis menurut umur dan berat badan. Aturan itu, menurut para penulis, bisa membingungkan karena pengasuh harus tahu berat anak atau menganggap anaknya berada di rentang berat rata-rata seusianya. Alat takar bawaan tiap merek juga berbeda, ada yang garis ukurnya di batang pendorong dan ada yang di tabungnya. Penelitian terdahulu yang dirujuk naskah menambahkan bahwa kekeliruan dapat dipengaruhi tingkat pendidikan, literasi kesehatan, dan kemahiran berbahasa Inggris pengasuh.
Hati anak yang lebih tahan, dari Rumack 1986 sampai Tenenbein 2000
Bagian terakhir kajian mengikuti anak-anak yang sampai ke rumah sakit di New South Wales. Dari 142 kasus yang rekam medisnya dapat dibaca, 15 anak atau 10,6 persen menerima penawar racun N-asetilsistein. Hanya dua anak yang kadar enzim hatinya melampaui 1.000 U/L, batas yang dipakai naskah untuk menyebut kerusakan hati. Keduanya berusia lima sampai dua belas tahun dan menerima dosis berulang selama 48 jam.
Tidak ada anak yang dirujuk ke unit hati, menjalani cangkok hati, atau meninggal. Lama tinggal di rumah sakit bernilai tengah 3,1 jam. “Salah dosis parasetamol pada anak lazim terjadi, meski kecil kemungkinannya menimbulkan akibat berat seperti kerusakan hati dan kematian,” tulis keempat peneliti dalam kesimpulan mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kalimat itu tidak membatalkan peringatan Rajanayagam, tetapi memberi ukuran seberapa jarang akibat terburuk itu muncul di antara ribuan kekeliruan.
Mengapa akibatnya ringan? Anak-anak itu memang datang cepat, dengan nilai tengah dua jam sejak dosis terakhir. Namun, kajian Chidiac dan rekan pada 2024 terhadap kelompok usia 12 tahun ke atas mencatat nilai tengah tiga jam, selisih yang tipis. Karena itu para penulis lebih condong pada penjelasan lama dari Rumack pada 1986, bahwa anak umumnya memiliki jalur penawar racun parasetamol yang lebih efisien daripada orang dewasa.
Penjelasan itu diperkuat rujukan lain dalam daftar pustaka naskah. Tenenbein pada 2000 mencatat bahwa hati anak lebih besar bila dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Heard dan rekan pada 2014 melaporkan bahwa kerusakan hati dan kematian jarang terjadi selama dosis masih di dalam batas harian. Sebagian besar kekeliruan dalam kajian ini memang terjadi sekali saja dan totalnya di bawah batas tersebut.
Baca juga Risiko Relatif dan Jebakan Dua Kali Lipat Demam Skarlet
Ada pula temuan tentang layanan telepon itu sendiri. Menurut kode penanganan awal, 4,0 persen kasus tampak membutuhkan rumah sakit, tetapi telaah mendalam hanya menemukan 1,7 persen. Selisihnya terutama berasal dari keluarga yang langsung datang ke rumah sakit tanpa menelepon lebih dulu. “Hal ini menyoroti peran pusat informasi racun dalam mengurangi rawat inap yang tidak perlu, mengurangi beban logistik dan biaya bagi sistem kesehatan,” tulis para peneliti.
Batas data Sydney dan angka yang tidak selalu seragam
Para penulis menyebut sendiri keterbatasan kajiannya. Data hanya memuat kasus yang ditelepon ke pusat informasi racun, sehingga tidak mewakili seluruh salah dosis di New South Wales atau Australia. Alasan kekeliruan tidak tercatat pada 55,0 persen kasus 2021 karena memang tidak rutin ditanyakan. Pusat itu juga tidak menelepon ulang untuk menanyakan kesudahan kasus, dan rekam medis hanya dapat dibuka di sebagian rumah sakit.
Pembaca yang teliti akan menemukan beberapa angka yang tidak sejalan. Teks hasil menyebut telepon dari masyarakat sebesar 94,0 persen dengan jumlah 9.888, padahal 9.888 dari 10.189 kasus setara 97,0 persen. Proporsi paparan kebetulan yang disarankan tetap di rumah tertulis 73,5 persen di teks dan 73,6 persen di tabel. Abstrak menyebut 3,0 persen dari 142 kasus rumah sakit mengalami kerusakan hati, sedangkan tabel menghitung dua anak itu dari 67 kasus yang kadar enzimnya diketahui.
Naskah juga mencatat bahwa dua penulisnya menerima dukungan dari hibah pendidikan tak terikat Reckitt Benckiser, perusahaan yang turut memfasilitasi akses ke data penjualan. Para penulis menyatakan penyandang dana tidak berperan dalam rancangan, analisis, maupun keputusan menerbitkan kajian ini.
Dalam rantai riset tentang parasetamol anak, kajian ini menempati ruas di antara dua kabar lama. Rajanayagam memperlihatkan bahwa salah dosis berada di balik kasus gagal hati akut anak, dan Rumack menjelaskan mengapa tubuh anak lebih tahan. Chidiac dan rekan-rekannya menambahkan hitungan dari botol sirop di rumah: kekeliruan itu datang tiga puluh kali sepekan, hampir selalu berakhir tanpa bahaya, dan sebagian berpangkal pada empat kekuatan sirop serta dua pengasuh yang tidak saling memberi tahu.














