- Vaksinasi lengkap anak 1-2 tahun di Filipina naik tipis dari 65,7 persen ke 69,3 persen
- Kemandirian sosial ibu, isinya pendidikan dan akses informasi, 2,04 kali lebih berpeluang pada 2022
- Kuasa keputusan rumah tangga tidak berkaitan; sikap anti kekerasan hanya berkaitan sebelum pandemi
- Pemberdayaan tingkat munisipalitas tidak bermakna; survei potong lintang 6.186 ibu berpasangan
Daftar Isi
Ibu berpendidikan lebih mungkin memvaksin anaknya lengkap. Ibu yang berkuasa di rumah tidak. Itu temuan dari 6.186 ibu di Filipina.
Temuan itu ditulis Kim L. Cochon, Paul K M Poon, Josue Antonio G. Estrada, dan Jean H. Kim dalam “Is there a link between women’s empowerment and childhood vaccination?”: A multilevel analysis using the Philippines Demographic and Health Survey Data 2017 and 2022, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1586, tahun 2026. Jean H. Kim penulis korespondensinya.
Cochon, Poon, dan Kim bekerja di JC School of Public Health and Primary Care, The Chinese University of Hong Kong. Cochon juga tercatat di University of the Philippines - Manila. Estrada bekerja di Department of Epidemiology, Boston University School of Public Health.
Dua Survei, Satu Pola
Datanya dari Philippine Demographic and Health Survey 2017 dan 2022. Sampelnya perempuan 15 sampai 49 tahun yang menikah atau hidup bersama pasangan, dan punya anak usia satu sampai dua tahun. Jumlahnya 3.415 ibu pada 2017 dan 2.771 ibu pada 2022.
Anak dihitung divaksin lengkap bila menerima empat kelompok vaksin sebelum usia 12 bulan. Satu dosis BCG, tiga dosis DPT, tiga dosis polio, dan satu dosis campak. Kurang satu dosis saja, anak masuk kelompok tidak lengkap.
Angka lengkapnya rendah. Pada 2017 hanya 65,7 persen anak divaksin lengkap, dan pada 2022 naik tipis ke 69,3 persen. Target nasional Filipina 95 persen, dan cakupan negeri itu berkisar 70 sampai 80 persen selama satu dekade terakhir.
Ada yang belum disentuh vaksin sama sekali. Sebanyak 14,4 persen anak pada 2017 tidak menerima satu pun vaksin, dan 13,1 persen pada 2022. Anak yang divaksin sebagian turun dari 19,9 persen ke 17,6 persen.
Kenaikan terbesar ada pada DPT. Cakupan tiga dosis DPT naik dari 73,2 persen ke 77,6 persen, sementara anak yang berhenti di satu dosis turun dari 4,6 ke 2,9 persen. Polio tiga dosis nyaris tidak bergerak, 74,9 persen ke 75,1 persen.
BCG paling tinggi karena diberikan saat lahir di bawah program imunisasi nasional. Cakupannya sekitar 85 persen pada kedua tahun, tepatnya 85,0 dan 85,6 persen. Campak satu dosis 77,4 persen lalu 78,5 persen, dan perubahannya tidak bermakna.
Perbedaan antarwilayah ikut bekerja. Munisipalitas tempat tinggal menjelaskan 14,1 persen variasi status vaksin pada 2017, dan 20,3 persen pada 2022. Artinya tempat tinggal makin menentukan pada tahun pandemi.
Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas
Tiga Wajah Pemberdayaan
Pemberdayaan perempuan diukur dengan indeks SWPER, singkatan dari Survey-based Women’s emPowERment. Indeks ini punya tiga domain, dan tiap ibu dinilai rendah, sedang, atau tinggi pada masing-masing. Skor yang sama juga dihitung untuk tiap munisipalitas.
Domain pertama kemandirian sosial. Isinya pendidikan ibu, akses informasi, usia saat kelahiran pertama, serta selisih usia dan pendidikan dengan pasangan. Peneliti menyebutnya prasyarat pemampu, bekal sebelum seorang perempuan bisa bertindak.
Domain kedua sikap terhadap kekerasan. Ini mengukur sejauh mana perempuan menolak pemukulan terhadap istri dalam berbagai skenario, dan peneliti menyebutnya agensi intrinsik. Domain ketiga kekuasaan mengambil keputusan rumah tangga, atau agensi instrumental.
Perempuan Filipina tergolong berdaya. Lebih dari 80 persen ibu punya kuasa keputusan tinggi dan toleransi kekerasan rendah pada kedua tahun. Kemandirian sosial paling lemah, kurang dari 60 persen ibu berkategori tinggi.
Pendidikan Menentukan
Kemandirian sosial berkaitan kuat dengan vaksinasi. Pada 2017, ibu berkemandirian tinggi 1,54 kali lebih berpeluang memvaksin anaknya lengkap dibanding ibu berkemandirian rendah. Kategori sedang belum bermakna, 1,31 kali.
Pada 2022 hubungannya menguat. Kategori sedang 1,58 kali dan kategori tinggi 2,04 kali dibanding kategori rendah, dan keduanya bermakna secara statistik. Angka itu sudah memperhitungkan usia ibu, jumlah anak, agama, kekayaan, dan dua domain lain.
Persentasenya bertingkat rapi. Anak dari ibu berkemandirian rendah divaksin lengkap 48,2 persen pada 2017 dan 51,6 persen pada 2022. Anak dari ibu berkemandirian tinggi 70,4 persen lalu 75,0 persen.
Ini domain satu-satunya yang bertahan sebelum dan selama pandemi. Peneliti menduga sebabnya biaya, baik uang maupun informasi. Ibu yang lebih berbekal lebih mampu menembus sistem kesehatan.
Kuasa Tidak Berpengaruh
Kekuasaan mengambil keputusan tidak berkaitan sama sekali. Peluang kategori tinggi 1,21 kali pada 2017 dan 1,06 kali pada 2022, keduanya tidak bermakna. Kategori sedang juga tidak, 1,43 kali lalu 0,95 kali.
Peneliti punya penjelasan. Keputusan memvaksin anak di Filipina biasanya urusan keluarga, dan sering melibatkan kakek-nenek. Prosesnya berbeda dari keputusan rumah tangga lain, sehingga kuasa ibu atas belanja atau kunjungan tidak otomatis berlaku.
Sikap terhadap kekerasan bercerita lain. Pada 2017, ibu berkategori sedang 2,42 kali dan kategori tinggi 2,10 kali lebih berpeluang memvaksin anak lengkap. Pada 2022 angkanya 0,97 dan 1,24, tidak bermakna.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Peneliti mengaitkan hilangnya hubungan itu dengan pandemi COVID-19. Sumber daya kesehatan dialihkan ke pasien COVID-19, dan lockdown membatasi gerak. Keyakinan ibu saja, tulis mereka, tidak cukup menembus hambatan sebesar itu.
Kesimpulannya ditulis tegas dalam naskah berbahasa Inggris. “Ini menunjukkan bahwa pada masa krisis dan kelangkaan, sumber daya pemampu dan praktis seperti memiliki moda transportasi yang andal mungkin sangat penting dan lebih berpengaruh pada pemanfaatan layanan kesehatan daripada agensi intrinsik,” tulis Kim L. Cochon dan rekan-rekannya. Kalimat aslinya berbunyi this demonstrates that during crises and scarcity, enabling and practical resources such as having a reliable mode of transportation may be of paramount importance and have a greater influence on healthcare utilization than intrinsic agency.
Tingkat Munisipalitas Diam
Pemberdayaan tingkat wilayah tidak bermakna. Munisipalitas dengan kemandirian sosial tinggi hanya 1,41 kali pada 2017 dan 1,38 kali pada 2022, keduanya tidak bermakna. Kuasa keputusan tingkat wilayah 1,06 dan 1,19 kali.
Sikap anti kekerasan tingkat wilayah sempat tampak berpengaruh. Angka kasarnya 3,25 kali pada 2022 dan bermakna. Setelah faktor lain dihitung, angkanya turun ke 2,42 kali dan tidak lagi bermakna.
Jadi yang bekerja adalah bekal ibu sendiri, bukan rata-rata pemberdayaan perempuan di kotanya. Peneliti menyebut kondisi pemampu individu sebagai prediktor pemberdayaan paling penting bagi vaksinasi anak. Analisis tambahan mereka juga menunjukkan sikap kekerasan dan kuasa keputusan tidak saling berkorelasi.
Batas Datanya
Penelitiannya potong lintang. Peneliti menegaskan hubungan yang ditemukan bukan sebab-akibat, dan hasilnya hanya berlaku bagi perempuan berpasangan usia 15 sampai 49 tahun yang punya anak. Ketersediaan vaksin, kapasitas tenaga kesehatan, dan keraguan vaksin tidak terhitung.
Wawancara sering berlangsung di tempat kurang privat, bisa terdengar pasangan. Peneliti mengakui skor sikap kekerasan dan kuasa keputusan mungkin terlalu tinggi karena itu. Status vaksin sebagian berdasar ingatan ibu, bukan kartu.
Responden yang dikeluarkan dari analisis lebih miskin. Sebanyak 71,2 persen dari mereka pada 2017 berasal dari dua kuintil terbawah, dan 3,9 persen tanpa sekolah. Peneliti menulis hubungan yang ditemukan mungkin sedikit terlalu tinggi karenanya.
Angka yang Perlu Dicek
Ada beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Abstrak menulis peluang kemandirian sosial tinggi 2022 sebesar 2,04 dengan interval 1,13 sampai 2,20. Tabel 3 dan bagian hasil menulis interval 1,44 sampai 2,89, sedangkan 1,13 sampai 2,20 adalah interval kategori sedang.
Label kategori kekerasan tidak seragam. Abstrak menyebut 2,10 untuk toleransi rendah dan 2,42 untuk toleransi sedang. Tabel 3 menaruh 2,10 pada pemberdayaan tinggi dan 2,42 pada pemberdayaan sedang, dan naskah tidak membahas mengapa kategori sedang lebih tinggi.
Baca juga RPJMD Rajin Menulis Target, Hemat Menulis Capaian Lalu
Tabel 1 mencatat pendidikan tinggi 962 orang atau 28,2 persen pada 2017 dan 2022 sekaligus. Padahal sampelnya berbeda, 3.415 dan 2.771 orang. Bila dijumlah, baris pendidikan 2022 menjadi 2.783 orang, melebihi sampel.
Bagian hasil menulis cakupan campak lebih rendah dari DPT dan polio. Angkanya 77,4 persen dan 78,5 persen. Keduanya justru lebih tinggi dari DPT tiga dosis dan polio tiga dosis pada tahun yang sama.
Sisa Pertanyaan
Peneliti menyarankan program vaksinasi disatukan dengan program pendidikan, literasi kesehatan, dan penghidupan bagi anak perempuan dan perempuan. Saran itu berada di luar cakupan data. Datanya hanya menunjukkan ibu yang berbekal lebih sering memvaksin anak, bukan bahwa menambah bekal akan mengubahnya.
Hampir sepertiga anak dalam sampel 2022 masih belum divaksin lengkap. Domain yang bertahan sebelum dan selama pandemi hanya satu, dan itu bukan kuasa. Yang tersisa satu kalimat: bekal ibu, bukan kuasa ibu.















