Hampir Tiga dari Sepuluh Mahasiswa Yaman Duduk 7 Jam atau Lebih

A A

Ilustrasi mahasiswi berambut kepang duduk menghadap laptop di perpustakaan, tampak dari belakang [Foto: Pexels]

  • Sebanyak 28,6 persen dari 8.312 mahasiswa di Yaman duduk tujuh jam atau lebih dalam sehari.
  • Waktu duduk pada hari kerja 325,68 menit dan pada akhir pekan 327,89 menit, nyaris sama.
  • Mahasiswa universitas swasta mencatat rata-rata 382,23 menit duduk per hari, dibandingkan 299,53 menit di universitas negeri.
  • Sebanyak 52,3 persen peserta menyatakan kampus mereka tidak memiliki fasilitas yang membantu aktivitas fisik.
Daftar Isi
  1. Kebiasaan yang Tidak Libur pada Akhir Pekan
  2. Kampus Swasta dan Ruang Kuliah Sains
  3. Usia Muda, Rokok, dan Halaman Kampus yang Kosong
  4. Ketika Tahu Bahaya Belum Cukup
  5. Televisi bagi Mahasiswi, Layar Gim bagi Mahasiswa

Kita terbiasa menyalahkan bangku kuliah setiap kali membicarakan mahasiswa yang terlalu lama duduk, seolah tubuh mereka baru boleh bergerak bebas begitu dosen menutup kelas dan jadwal akademik berhenti mengikat. Namun catatan dari ribuan mahasiswa di Yaman tidak mendukung gambaran yang rapi itu, karena waktu duduk mereka pada akhir pekan, ketika tidak ada kuliah yang memaksa, ternyata hampir sama panjangnya dengan waktu duduk pada hari kerja.

Catatan itu disusun Naji Al-Bawah dari Fakultas Kedokteran Universitas Sana’a, Yaman, bersama Mohamed Baklola dari Universitas Mansoura, Mesir, dan rekan-rekan mereka dalam makalah Prevalence and determinants of sedentary behavior among university students in Yemen: a national multicenter cross-sectional study. Makalah tersebut dimuat jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026, dan para penulisnya menyebutnya sebagai penelitian nasional pertama tentang perilaku duduk mahasiswa di Yaman.

Mereka menjaring 8.312 mahasiswa berusia 18 sampai 30 tahun dari 28 universitas negeri dan swasta di 10 kota Yaman, dengan peserta terbanyak dari Sana’a, lewat kuesioner daring yang disebar melalui WhatsApp dan Telegram antara Januari dan Juli 2025. Duduk berkepanjangan mereka batasi sebagai duduk tujuh jam atau lebih dalam sehari, dan hasilnya menunjukkan 28,6 persen mahasiswa masuk kelompok itu, hampir tiga dari setiap sepuluh orang.

Kebiasaan yang Tidak Libur pada Akhir Pekan

Rata-rata waktu duduk harian seluruh peserta tercatat 326,31 menit, sebuah angka yang menurut Al-Bawah dan rekan sebanding dengan temuan pada mahasiswa di negara berpenghasilan tinggi, menengah, maupun rendah, tempat lama duduk harian lazimnya berkisar lima sampai delapan jam. Pada hari kerja angkanya 325,68 menit, sedangkan pada akhir pekan 327,89 menit, dua angka yang nyaris berimpit meski suasana kedua jenis hari itu sangat berbeda.

Di situlah persoalannya, sebab kemiripan itu memindahkan sorotan dari ruang kuliah ke waktu luang. “Waktu duduk yang sebanding pada hari kerja dan akhir pekan semakin menunjukkan bahwa duduk berkepanjangan di kalangan mahasiswa tidak terbatas pada jadwal akademik resmi, tetapi berlanjut pada waktu luang,” tulis Al-Bawah dan rekan dalam pembahasan makalah mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris, seraya menyebut kekhawatiran tentang gaya hidup duduk yang telah menjadi kebiasaan.

Kegiatan yang paling banyak menyita waktu duduk pun bukan urusan kantor atau akademik, melainkan menonton televisi, dengan rata-rata 87,55 menit per hari pada hari kerja dan 96,38 menit pada akhir pekan. Di bawahnya menyusul pekerjaan kantor atau urusan kertas kerja, yang pada hari kerja mencapai 42,62 menit, lalu menelepon sambil duduk dengan 40,30 menit, sementara membaca, mendengarkan musik, dan duduk di kendaraan masing-masing mengisi sisa hari dengan porsi yang lebih kecil.

Baca juga Jam Pintar dan Pengingat Rehat Kurangi Duduk Pegawai di Bangkok

Kampus Swasta dan Ruang Kuliah Sains

Mahasiswa yang duduk 7 jam atau lebih per hari, menurut jenis fakultasSains, teknik, dan teknis 38,4; Administrasi dan ekonomi 32,1; Lainnya 26,8; Kedokteran dan kesehatan 25,0; Humaniora dan ilmu sosial 19,6.Mahasiswa yang duduk 7 jam atau lebih perhari, menurut jenis fakultasPersen dari mahasiswa tiap jenis fakultas, total n = 8.312,Yaman 202501020304050Sains, teknik, dan teknis38,4Administrasi dan ekonomi32,1Lainnya26,8Kedokteran dan kesehatan25,0Humaniora dan ilmu sosial19,6
Sumber: Naji Al-Bawah dan rekan, Prevalence and determinants of sedentary behavior among university students in Yemen: a national multicenter cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perbedaan yang mencolok muncul di tingkat kampus dalam data Al-Bawah dan rekan. Mahasiswa universitas swasta mencatat rata-rata 382,23 menit duduk per hari, jauh di atas rekan mereka di universitas negeri yang mencatat 299,53 menit, dan 39,2 persen mahasiswa swasta duduk tujuh jam atau lebih, dibandingkan 23,5 persen di kampus negeri. Setelah faktor lain diperhitungkan, rasio odds duduk berkepanjangan di kampus swasta tetap 1,87 dibandingkan kampus negeri.

Jenis fakultas ikut membentuk pola yang sama. Di fakultas sains, teknik, dan teknis, 38,4 persen mahasiswa duduk tujuh jam atau lebih, disusul fakultas administrasi dan ekonomi dengan 32,1 persen, sedangkan fakultas kedokteran dan kesehatan mencatat 25,0 persen dan humaniora serta ilmu sosial 19,6 persen. Dibandingkan mahasiswa kedokteran dan kesehatan, rasio odds mahasiswa sains dan teknik tercatat 1,48, sementara mahasiswa administrasi dan ekonomi 1,31.

Para penulis tidak tergesa memberi jawaban atas selisih itu. Perbedaan antara kampus swasta dan negeri, tulis mereka, mungkin berkaitan dengan struktur akademik, cara mengajar, dan ketergantungan pada teknologi, namun penjelasan semacam itu mereka sebut masih spekulatif karena tidak diukur langsung. Untuk fakultas sains dan teknik, mereka mencatat bahwa program semacam itu biasanya memuat kuliah panjang, kerja laboratorium, dan tugas berbasis komputer yang dapat menambah lama duduk.

Usia Muda, Rokok, dan Halaman Kampus yang Kosong

Usia memperlihatkan pola tersendiri, karena justru mahasiswa termuda yang paling lama duduk. Mereka yang berusia 20 tahun ke bawah mencatat 347,67 menit per hari dan 34,1 persen di antaranya duduk tujuh jam atau lebih, sementara kelompok 25 tahun ke atas mencatat 297,15 menit dan 22,7 persen. Dibandingkan kelompok termuda, rasio odds kelompok 21 sampai 24 tahun tercatat 0,82 dan kelompok 25 tahun ke atas 0,64.

Kebiasaan merokok berjalan seiring dengan kebiasaan duduk dalam catatan para peneliti. Perokok, yang mencakup 16,0 persen peserta, duduk rata-rata 362,72 menit per hari, sedangkan yang tidak merokok 319,38 menit, dan setelah penyesuaian rasio odds duduk berkepanjangan pada perokok tercatat 1,28. Al-Bawah dan rekan membaca temuan ini sejalan dengan bukti tentang kebiasaan tidak sehat yang cenderung datang berkelompok pada orang dewasa muda.

Baca juga Aktivitas Fisik Siswa Kepulauan Seribu: Duduk 2 Jam Sehari

Namun temuan yang paling dekat dengan kebijakan kampus menyangkut tempat bergerak. Lebih dari separuh peserta, 52,3 persen, menyatakan kampus mereka tidak memiliki fasilitas yang membantu aktivitas fisik seperti pusat kebugaran atau area jalan kaki, 22,8 persen tidak tahu apakah fasilitas itu ada, dan hanya 8,9 persen yang memakainya secara rutin. Kelompok pemakai rutin inilah yang mencatat waktu duduk terendah, 297,67 menit per hari.

Mahasiswa yang menyatakan kampusnya tanpa fasilitas semacam itu duduk 336,95 menit per hari, dan 30,3 persen dari mereka duduk tujuh jam atau lebih, dibandingkan 23,0 persen pada pemakai rutin. Setelah penyesuaian, rasio odds kelompok tanpa fasilitas tercatat 1,30, sedangkan mereka yang punya akses tetapi tidak memakainya tercatat 1,26, keduanya dibandingkan dengan mahasiswa yang memakai fasilitas secara rutin.

Ketika Tahu Bahaya Belum Cukup

Dua pertiga peserta, tepatnya 66,8 persen, mengaku tahu bahwa duduk terlalu lama berisiko bagi kesehatan, dan mereka memang mencatat waktu duduk sedikit lebih rendah, 323,02 menit dibandingkan 332,94 menit pada yang tidak tahu. Akan tetapi, setelah faktor lain diperhitungkan, kesadaran itu tidak lagi berhubungan secara mandiri dengan duduk berkepanjangan, sebuah hasil yang oleh para penulis dijadikan poros pembahasan tentang apa yang sebenarnya perlu diubah.

“Pengamatan ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi saja mungkin tidak cukup dan perlu dilengkapi dengan perubahan struktural dan lingkungan,” tulis Al-Bawah dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Dalam survei yang sama, separuh lebih peserta, 52,5 persen, mengatakan sudah berusaha mengurangi waktu duduk tetapi merasa sulit melakukannya, sementara hanya 27,7 persen yang menerapkannya setiap hari dan mencatat waktu duduk 313,09 menit.

Ketika ditanya apa yang menghalangi mereka bergerak, 69,39 persen menunjuk stres akademik dan beban kuliah sebagai hambatan utama. Lingkungan yang tidak cocok untuk aktivitas fisik disebut 40,83 persen peserta, kurangnya motivasi atau dorongan pribadi 27,71 persen, terbatasnya kesadaran tentang pentingnya aktivitas fisik 14,67 persen, dan masalah kesehatan yang menghalangi olahraga 6,24 persen. Di Yaman, menurut para penulis, tantangan itu mungkin diperberat oleh infrastruktur yang terbatas, kendala ekonomi, dan ketidakstabilan sosial politik yang masih berlangsung.

Baca juga Kurang Kemauan Jadi Hambatan Gerak Mahasiswa Farmasi Malaya

Kebiasaan mengambil jeda juga meninggalkan jejak dalam angka. Mahasiswa yang berdiri atau berjalan setiap 30 menit atau lebih sering mencatat 315,66 menit duduk per hari, sedangkan yang baru beranjak setiap dua jam atau lebih mencatat 342,37 menit. Mereka yang sering merasakan nyeri punggung atau leher, kelompok yang mencakup 37,7 persen peserta, mencatat 338,00 menit, lebih tinggi daripada yang tidak pernah merasakannya dengan 322,08 menit.

Televisi bagi Mahasiswi, Layar Gim bagi Mahasiswa

Waktu duduk akhir pekan menurut kegiatan dan jenis kelaminMenonton TV: Laki-laki 89,94, Perempuan 105,48; Menelepon: Laki-laki 40,82, Perempuan 46,24; Mendengar musik: Laki-laki 35,90, Perempuan 38,92; Komputer atau gim: Laki-laki 36,31, Perempuan 24,63; Di kendaraan: Laki-laki 32,18, Perempuan 27,33.Waktu duduk akhir pekan menurut kegiatandan jenis kelaminRata-rata menit per hari pada akhir pekan, n = 8.312mahasiswaLaki-lakiPerempuan02040608010012089,94105,48MenontonTV40,8246,24Menelepon35,9038,92Mendengarmusik36,3124,63Komputeratau gim32,1827,33Dikendaraan
Sumber: Naji Al-Bawah dan rekan, Prevalence and determinants of sedentary behavior among university students in Yemen: a national multicenter cross-sectional study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan lebih terasa pada jenis kegiatan daripada pada jumlah totalnya. Mahasiswi mencatat rata-rata 331,07 menit duduk per hari dan mahasiswa 322,94 menit, tetapi jenis kelamin tidak berhubungan secara mandiri dengan duduk berkepanjangan setelah penyesuaian. Pada akhir pekan, mahasiswi menghabiskan 105,48 menit di depan televisi dibandingkan 89,94 menit pada mahasiswa, serta lebih lama menelepon, mendengarkan musik, dan berkarya seni.

Sebaliknya, mahasiswa laki-laki lebih lama duduk di depan komputer atau bermain gim, dengan 36,31 menit pada akhir pekan dibandingkan 24,63 menit pada mahasiswi, dan lebih lama duduk di kendaraan. Para penulis mengingatkan bahwa norma budaya dan sosial yang kerap disebut dalam penelitian terdahulu harus ditafsirkan hati-hati, sebab faktor itu tidak dinilai langsung, dan mereka menilai faktor lingkungan, akademik, serta kelembagaan lebih menonjol daripada jenis kelamin semata.

Al-Bawah dan rekan mengakui batas penelitian mereka dengan terbuka. Rancangan potong lintang tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, sehingga semua hubungan hanya dapat dibaca sebagai asosiasi, dan peserta direkrut lewat platform daring tanpa pengacakan, sehingga mahasiswa yang lebih melek digital atau lebih peduli kesehatan mungkin lebih banyak ikut. Waktu duduk dilaporkan sendiri oleh peserta, dan hasilnya disebut belum tentu berlaku bagi seluruh mahasiswa di Yaman.

Mereka juga mencatat hal yang belum diukur, antara lain pemisahan waktu layar untuk kuliah dan untuk hiburan, lama perjalanan, serta keikutsertaan dalam olahraga terstruktur, lalu menganjurkan penelitian jangka panjang dengan alat ukur gerak seperti akselerometer. Hubungan antara nyeri punggung dan lama duduk, tulis mereka, kemungkinan berjalan dua arah. Untuk kampus, mereka menyarankan perbaikan akses ke fasilitas aktivitas fisik, jeda gerak dalam kegiatan akademik, dan pembelajaran yang lebih aktif, yang menurut simpulan mereka dapat menopang upaya promosi kesehatan jangka panjang di Yaman.

Bagikan

Baca Juga

Pria Afrika Sub-Sahara Lebih Sering Kurus daripada Perempuan
Warga Berisiko Miskin Tanpa Anak Serumah Kian Jarang Merasa Sehat
Anemia Siswi SMK Bondowoso Terkait Zat Besi dan Siklus Haid
Keluhan Sakit Kepala Lansia Spanyol Turun Nyata dalam 17 Tahun
Remaja Kerala Berat Lahir Rendah Lebih Mungkin Bertensi Tinggi
Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes