Pria Afrika Sub-Sahara Lebih Sering Kurus daripada Perempuan

A A

Karung terbuka berisi jagung pipil kering di Pasar Senin Kakuri, Kaduna, Nigeria [Foto: Kambai Akau/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Berat badan kurang pada orang dewasa di 48 negara Afrika Sub-Sahara secara keseluruhan mencapai 11,7 persen.
  • Angkanya berkisar dari 4,2 persen di Seychelles sampai 32,3 persen di Eritrea.
  • Untuk seluruh kawasan, berat badan kurang tercatat 11,9 persen pada pria dan 9,5 persen pada perempuan.
  • Di Burundi, Sudan Selatan, dan Madagaskar, perempuan justru lebih sering berbadan kurang daripada pria.
Daftar Isi
  1. Dari Akombi sampai Tareke, Sorotan Lama pada Perempuan
  2. Data WHO Tahun 2022 dari 48 Negara, Eritrea di Puncak
  3. Afrika Timur dan Tengah Menanggung Beban Terberat
  4. Angka Pria Lebih Tinggi di Keempat Kawasan
  5. Burundi hingga Sudan Selatan, Ketika Perempuan Lebih Rentan
  6. Catatan Tim Bahir Dar untuk Riset Sesudahnya

Selama beberapa dekade terakhir, prevalensi orang dewasa bertubuh terlalu kurus di dunia menurun, tetapi tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting. Di Afrika, riset gizi lama berpusat pada perempuan usia subur karena peran mereka dalam kesehatan ibu dan anak, sehingga data tentang perempuan jauh lebih lengkap ketimbang data tentang pria. Sebuah kajian dari Ethiopia mencoba menambal celah itu dengan menengok kedua jenis kelamin sekaligus di 48 negara Afrika Sub-Sahara.

Kajian itu ditulis Melesse Belayneh Yayeh dari Departemen Kesehatan Masyarakat, Beza Belayneh Yayeh dari Departemen Epidemiologi Kesehatan Masyarakat, dan Mastewal Tamiru Assegie dari Departemen Layanan Keperawatan Rawat Inap Rumah Sakit Khusus Tibebe Ghion, ketiganya bernaung di Universitas Bahir Dar, Ethiopia. Tulisan mereka, Regional and sex inequalities in the prevalence of underweight in adults in 48 sub-Saharan African countries: a multi-country descriptive analysis, dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.

Yang mereka ukur adalah berat badan kurang, yakni indeks massa tubuh (IMT) di bawah 18,5 kg/m² pada orang berusia 18 tahun ke atas. Dalam pendahuluan, para penulis mengingatkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan daya tahan tubuh yang melemah, kerentanan terhadap penyakit infeksi, serta turunnya kemampuan kerja fisik, terutama dalam pekerjaan berat yang lazim di ekonomi pedesaan dan pertanian.

Dari Akombi sampai Tareke, Sorotan Lama pada Perempuan

Rantai riset sebelumnya memang condong ke perempuan. Paper ini mengutip sintesis Akombi dan rekan atas 32 survei demografi dan kesehatan (DHS) di Afrika, yang menaksir berat badan kurang sebesar 8,87 persen pada perempuan berusia 15 sampai 49 tahun. Meta-analisis yang lebih baru oleh Tareke dan rekan atas 33 survei DHS di Afrika Sub-Sahara mencatat angka gabungan 11 persen pada perempuan usia subur.

Pria baru muncul belakangan dalam rantai itu. Sebuah analisis Kawasan Afrika WHO yang mencakup 36 negara pada 2003 sampai 2022, sebagaimana dikutip paper ini, mencatat berat badan kurang 12,8 persen pada pria dan 11,5 persen pada perempuan, selisih yang oleh penulis disebut sedikit merugikan pria. Studi tingkat negara memperlihatkan kontras yang lebih tajam: di Botswana, Letamo dan Navaneetham menemukan angka 19,5 persen pada pria dewasa berbanding 10,1 persen pada perempuan.

Menurut Yayeh dan rekan, celah risetnya masih lebar. Pria dewasa dan kelompok usia lebih tua kerap kurang terwakili dalam survei gizi, dan sedikit studi yang menilai pola kawasan dalam ketimpangan antarjenis kelamin. Perhatian yang kian besar pada beban ganda malnutrisi, yakni kurus dan gemuk yang hadir bersamaan, juga mereka khawatirkan menutupi berat badan kurang sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berdiri sendiri.

Data WHO Tahun 2022 dari 48 Negara, Eritrea di Puncak

Tim Bahir Dar tidak turun ke lapangan. Mereka menarik taksiran nasional dari Health Equity Assessment Toolkit (HEAT) milik WHO, yang menghimpun survei berskala nasional seperti DHS dan STEPS, dengan data terbaru yang sebagian besar berasal dari 2022. Analisis dikerjakan antara November 2024 dan Januari 2025, mencakup 14 negara Afrika Timur, 15 negara Afrika Barat, 9 negara Afrika Tengah, dan 10 negara Afrika bagian selatan.

Hasilnya, berat badan kurang pada orang dewasa di 48 negara itu secara keseluruhan mencapai 11,7 persen, angka yang oleh penulis digolongkan sebagai beban kesehatan masyarakat rendah hingga sedang. Namun rentangnya lebar sekali, dari 4,2 persen di Seychelles sampai 32,3 persen di Eritrea.

Eritrea tertinggi, Seychelles terendahEritrea 32,3%; Ethiopia 24,3%; Republik Afrika Tengah 20,6%; Niger 19,2%; Madagaskar 18,1%; Afrika Selatan 5,2%; Eswatini 4,3%; Seychelles 4,2%.Eritrea tertinggi, Seychelles terendahPersen orang dewasa berat badan kurang (IMT di bawah18,5), lima tertinggi dan tiga terendah dari 48 negara0%10%20%30%40%Eritrea32,3%Ethiopia24,3%Republik Afrika Tengah20,6%Niger19,2%Madagaskar18,1%Afrika Selatan5,2%Eswatini4,3%Seychelles4,2%Tabel 1: prevalensi, taksiran terbaru WHO HEAT
Sumber: Melesse Belayneh Yayeh, Beza Belayneh Yayeh, dan Mastewal Tamiru Assegie, Regional and sex inequalities in the prevalence of underweight in adults in 48 sub-Saharan African countries: a multi-country descriptive analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Di belakang Eritrea ada Ethiopia dengan 24,3 persen dan Republik Afrika Tengah dengan 20,6 persen, sehingga tiga negara masuk kategori tinggi. Dua puluh negara berada di kategori sedang, di antaranya Niger 19,2 persen, Madagaskar 18,1 persen, Senegal 17,6 persen, Burundi 17,5 persen, Sudan Selatan 17,4 persen, dan Somalia 17,1 persen.

Di ujung lain, 23 negara tergolong rendah, misalnya Liberia 6,1 persen, Afrika Selatan 5,2 persen, dan Tanjung Verde 5,1 persen. Hanya dua negara yang masuk kategori sangat rendah, yakni Eswatini dengan 4,3 persen dan Seychelles dengan 4,2 persen. Penggolongan itu mengikuti ambang WHO: 2 sampai 4 persen sangat rendah, 5 sampai 9 persen rendah, 10 sampai 19 persen sedang, dan 20 sampai 39 persen tinggi.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Afrika Timur dan Tengah Menanggung Beban Terberat

Ketika dikelompokkan per kawasan, Afrika Timur yang berisi 14 negara mencatat angka tertinggi, 16,2 persen, disusul Afrika Tengah dengan 9 negara pada 13,9 persen. Afrika Barat dengan 15 negara berada di 9,2 persen, sedangkan Afrika bagian selatan dengan 10 negara paling rendah, 8,0 persen. Menurut penulis, angka itu menunjukkan beban yang lebih berat di Afrika Timur dan Tengah dibanding Afrika bagian selatan.

Pola itu bukan hal baru. Dalam pendahuluan, para penulis mencatat bahwa dibandingkan Afrika bagian selatan, Afrika Timur dan Afrika Tengah secara konsisten melaporkan angka lebih tinggi, sering mendekati atau melampaui 15 sampai 20 persen. Laporan pangan dan gizi dunia 2025 yang mereka kutip juga menunjukkan lebih dari satu dari lima orang dewasa di Republik Afrika Tengah berbadan kurang.

Ethiopia, Eritrea, Burundi, Madagaskar, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah, tulis penulis dalam pembahasan, telah berulang kali disebut sebagai titik panas berat badan kurang orang dewasa. Sejalan dengan literatur terdahulu, pola itu mereka kaitkan dengan kerawanan pangan kronis, kekeringan berulang, ketidakstabilan politik, pengungsian penduduk, dan terbatasnya akses ke pangan yang beragam.

Sebaliknya, angka rendah di Afrika bagian selatan serta di negara kepulauan kecil seperti Seychelles dan Tanjung Verde dihubungkan dengan urbanisasi yang lebih tinggi, perlindungan sosial yang lebih kuat, dan kondisi ekonomi yang relatif lebih baik. Studi terdahulu yang dikutip juga menyebut Afrika bagian selatan makin bergeser ke beban ganda malnutrisi, ketika berat badan lebih dan obesitas hadir bersama berat badan kurang yang menurun, terutama pada perempuan.

Angka Pria Lebih Tinggi di Keempat Kawasan

Temuan paling menonjol justru menyangkut jenis kelamin. Untuk seluruh Afrika Sub-Sahara, berat badan kurang tercatat 11,9 persen pada pria dan 9,5 persen pada perempuan, dan di keempat kawasan angka pria selalu lebih tinggi. Di Afrika Timur, misalnya, angkanya 14,5 persen pada pria dan 12,6 persen pada perempuan, sedangkan di Afrika Tengah 11,7 persen berbanding 10,0 persen.

Di Afrika bagian selatan, perempuan mencatat angka terendah di antara keempat kawasan, 6,0 persen, tetapi angka pria tetap di 10,8 persen. Afrika Barat paling seimbang, dengan 10,4 persen pada pria dan 9,4 persen pada perempuan. Penulis mencatat bahwa angka pria di semua kawasan jatuh dalam kategori sedang, sementara angka perempuan berkisar dari rendah di selatan dan barat hingga sedang di timur dan tengah.

Di tingkat negara, selisih terbesar di pihak pria ada di Somalia: 23,1 persen pria berbanding 11,2 persen perempuan, atau selisih 11,9 poin persentase. Botswana menyusul dengan selisih 7,9 poin, dari 16,4 persen berbanding 8,5 persen, lalu Kenya dengan 7,8 poin, dari 16,2 persen berbanding 8,4 persen, dan Lesotho dengan 6,9 poin, dari 10,4 persen berbanding 3,5 persen.

Angka Botswana itu sejalan dengan temuan Letamo dan Navaneetham yang dikutip di awal, sedangkan untuk Kenya penulis merujuk studi Pengpid dan Peltzer yang mencatat 23,4 persen pada pria dan 12,8 persen pada perempuan. Negara Afrika Selatan, Mauritania, Rwanda, dan Ethiopia juga mencatat selisih di pihak pria, masing-masing 5,7; 5,6; 5,3; dan 4,8 poin persentase.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Mengapa pria? Penulis menduga sebagian kerentanan itu berkaitan dengan keterlibatan pria yang lebih besar dalam pekerjaan fisik berat, pengeluaran energi yang lebih tinggi, rendahnya pemanfaatan layanan kesehatan dan gizi, serta program gizi yang sejak lama berfokus pada perempuan dan anak. “Meskipun ada kemajuan di sejumlah negara, Afrika Timur dan Afrika Tengah tetap menjadi titik panas yang menetap, dan pria dewasa merupakan kelompok berisiko tinggi yang kurang dikenali,” tulis Melesse Belayneh Yayeh dan rekan dalam pembahasan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Burundi hingga Sudan Selatan, Ketika Perempuan Lebih Rentan

Pola itu tidak seragam. Di sejumlah negara, perempuan justru lebih sering berbadan kurang. Selisih terbesar di pihak perempuan tercatat di Burundi, dengan 20,6 persen perempuan berbanding 14,0 persen pria atau minus 6,6 poin persentase, disusul Sudan Selatan dengan minus 4,8 poin dan Madagaskar dengan minus 4,6 poin.

Di Madagaskar, angka perempuan mencapai 20,3 persen berbanding 15,7 persen pada pria, sedangkan di Sudan Selatan 19,6 persen berbanding 14,8 persen. Burkina Faso mencatat minus 3,1 poin, Eritrea minus 2,1 poin, dan Chad minus 1,6 poin. Di Togo dan Tanjung Verde, selisih antara pria dan perempuan tercatat nol.

Selisih pria dan perempuan berbeda arahSomalia: Selisih pria dikurangi perempuan 11,9; Botswana: Selisih pria dikurangi perempuan 7,9; Kenya: Selisih pria dikurangi perempuan 7,8; Lesotho: Selisih pria dikurangi perempuan 6,9; Madagaskar: Selisih pria dikurangi perempuan -4,6; Sudan Selatan: Selisih pria dikurangi perempuan -4,8; Burundi: Selisih pria dikurangi perempuan -6,6.Selisih pria dan perempuan berbeda arahSelisih prevalensi berat badan kurang, pria dikurangiperempuan (poin persentase)-10-5510150Somalia11,9Botswana7,9Kenya7,8Lesotho6,9Madagaskar-4,6Sudan Selatan-4,8Burundi-6,6Tabel 4: nilai positif berarti angka pria lebih tinggi
Sumber: Melesse Belayneh Yayeh, Beza Belayneh Yayeh, dan Mastewal Tamiru Assegie, Regional and sex inequalities in the prevalence of underweight in adults in 48 sub-Saharan African countries: a multi-country descriptive analysis, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Untuk Burundi, Madagaskar, Chad, Niger, dan Eritrea, penulis merujuk literatur yang menyoroti kerentanan perempuan di tempat yang ditandai kemiskinan ekstrem, ketimpangan jenis kelamin yang menetap, angka kelahiran tinggi, dan akses terbatas ke layanan kesehatan dan gizi. Norma gender, tuntutan reproduksi, dan pembagian makanan yang tidak setara di dalam rumah tangga disebut berulang kali sebagai faktor penyumbang berat badan kurang pada perempuan dewasa.

Ringkasan per kawasan memperlihatkan keragaman itu. Afrika Timur punya median selisih 2,85 poin persentase dengan rentang antarkuartil 8,4 poin, keragaman terbesar di antara kawasan. Afrika Barat paling seimbang dengan median 1,0 poin, Afrika Tengah 1,8 poin, sedangkan Afrika bagian selatan menunjukkan dominasi pria yang konsisten dengan median 4,2 poin dan rentang antarkuartil 3,55 poin.

Baca juga Anak Kurus dan Anak Gemuk di Kampung Etnis Minoritas Sama

Catatan Tim Bahir Dar untuk Riset Sesudahnya

Dari peta itu, para penulis menyimpulkan bahwa satu resep gizi untuk semua tidak cukup. “Hadirnya berat badan kurang yang meluas pada pria dan kerentanan perempuan yang menetap dalam konteks tertentu menegaskan keterbatasan kebijakan gizi yang seragam,” tulis mereka dalam abstrak, juga diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka menyerukan langkah gizi yang peka jenis kelamin, khas kawasan, dan sesuai konteks, dengan prioritas pada negara-negara berbeban tinggi.

Mereka juga mengakui sejumlah keterbatasan. Tahun survei di tiap negara berbeda, begitu pula rancangan sampel dan metode sumber datanya, sehingga perbandingan antarnegara bisa terganggu. Analisis ini tidak memilah menurut kelompok usia atau ciri sosial ekonomi, tidak dapat menyesuaikan perbedaan struktur umur penduduk, dan karena datanya potong lintang, tidak dapat menetapkan hubungan sebab-akibat.

IMT sendiri, tulis mereka, punya keterbatasan dalam menangkap kerumitan status gizi. Para penulis menyarankan riset lanjutan memakai HEAT untuk menilai ketimpangan sosial ekonomi dan geografis, menelusuri jalur sebab, mengevaluasi tren dari waktu ke waktu, serta menguji kaitannya dengan perubahan kebijakan dan urbanisasi.

Dalam simpulannya, mereka menilai penguatan pengawasan gizi orang dewasa sebagai langkah penting, berdampingan dengan pemaduan penanganan kurang gizi ke dalam perlindungan sosial, ketahanan pangan, dan sistem kesehatan. Tujuannya, menurut mereka, menekan angka berat badan kurang sekaligus ketimpangannya di Afrika Sub-Sahara.

Bagikan

Baca Juga

Warga Berisiko Miskin Tanpa Anak Serumah Kian Jarang Merasa Sehat
Anemia Siswi SMK Bondowoso Terkait Zat Besi dan Siklus Haid
Keluhan Sakit Kepala Lansia Spanyol Turun Nyata dalam 17 Tahun
Remaja Kerala Berat Lahir Rendah Lebih Mungkin Bertensi Tinggi
Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes
Pekerja Korea yang Masuk Kerja saat Sakit Lebih Mungkin Absen