- Sepanjang empat gelombang, angka hadir kerja saat sakit 12,7 sampai 25,0 persen, absen karena sakit 8,6 sampai 12,3 persen.
- Pekerja yang hadir kerja saat sakit memiliki odds absen 30 persen lebih tinggi pada gelombang berikutnya.
- Absen pada satu gelombang tidak meramalkan hadir kerja saat sakit pada gelombang berikutnya.
- Pada tingkat perubahan di dalam diri seseorang, jalur dari hadir saat sakit ke absen tidak bermakna.
Daftar Isi
Pekerja yang tetap datang ke tempat kerja walau sedang sakit ternyata lebih mungkin absen karena sakit pada gelombang survei berikutnya. Begitu temuan dari data panel kesehatan Korea Selatan yang mengikuti ribuan pekerja upahan selama empat tahun. Kehadiran saat sakit pada satu tahun berjalan beriringan dengan ketidakhadiran pada tahun sesudahnya.
Temuan itu berasal dari Korean Health Panel Study, survei rumah tangga berskala nasional yang dijalankan Korea Institute for Health and Social Affairs bersama National Health Insurance Service. Analisisnya mengikuti 4.180 pekerja upahan berusia 20 tahun ke atas sejak 2019 dan menanyai mereka setiap tahun sampai 2022. Pada gelombang terakhir, 2.443 orang atau 58,4 persen dari peserta awal masih ikut.
Data itu dianalisis oleh Yoonjung Ji dari College of Nursing, Research Institute of AI and Nursing Science, Gachon University, Incheon; Wonhee Baek dari College of Nursing, Gyeongsang National University, Jinju; dan Ari Min dari Department of Nursing, Chung-Ang University, Seoul. Hasilnya terbit dengan judul Can presenteeism predict future absenteeism? Evidence from the Korean Health Panel Study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Hadir saat Sakit Lebih Lazim daripada Absen
Setiap tahun peserta menjawab dua pertanyaan sederhana. Pertama, apakah dalam 12 bulan terakhir mereka pernah tetap pergi bekerja meski sakit. Kedua, apakah dalam kurun yang sama mereka pernah absen kerja karena sakit atau masalah kesehatan. Jawaban ya pada pertanyaan pertama disebut presenteeism, atau hadir kerja saat sakit, sedangkan jawaban ya pada pertanyaan kedua disebut absenteeism.
Sepanjang empat gelombang, angka hadir kerja saat sakit berkisar 12,7 sampai 25,0 persen, sementara angka absen karena sakit hanya 8,6 sampai 12,3 persen. Para penulis mencatat bahwa hadir saat sakit secara konsisten lebih dari dua kali lebih lazim daripada absen. Penurunan tajam hadir saat sakit dari 2019 ke 2020, menurut mereka, kemungkinan mencerminkan pergeseran di masa COVID-19, termasuk pengendalian infeksi yang lebih ketat, bertambahnya kerja jarak jauh, dan menguatnya norma yang tidak menganjurkan bekerja saat sakit.
Pola tiap orang juga beragam. Sebanyak 36,7 persen peserta tidak pernah melaporkan absen karena sakit di semua gelombang, dan 29,1 persen tidak pernah melaporkan hadir kerja saat sakit. Sisanya mengalami salah satu atau keduanya sekali atau lebih pada titik yang berbeda-beda selama masa pengamatan.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Cara Membaca Jejak dari Satu Tahun ke Tahun Berikutnya
Untuk melihat urutannya, para peneliti menyandingkan hadir kerja saat sakit pada satu gelombang dengan status absen pada gelombang berikutnya.
Hasilnya berulang di tiap pergantian gelombang. Di antara pekerja yang absen pada gelombang kedua, 41,3 persen hadir kerja saat sakit pada gelombang pertama, dibanding 23,8 persen di antara yang tidak absen. Untuk gelombang ketiga angkanya 30,8 persen berbanding 15,0 persen, dan untuk gelombang keempat 19,6 persen berbanding 11,5 persen. Ketiga selisih itu bermakna secara statistik.
Perbandingan lain menyangkut penilaian kesehatan diri pada gelombang sebelumnya. Di antara yang absen pada gelombang kedua, 15,3 persen menilai dirinya tidak sehat pada gelombang pertama, sedangkan di antara yang tidak absen 8,0 persen. Pola serupa muncul pada gelombang ketiga, 15,4 berbanding 7,8 persen, dan gelombang keempat, 14,6 berbanding 9,1 persen.
Peluang Absen 30 Persen Lebih Tinggi pada Tahun Berikutnya
Para peneliti lalu memakai model regresi logistik efek campuran yang memperhitungkan pengukuran berulang pada orang yang sama. Model itu memasukkan faktor yang bermakna pada analisis awal, antara lain usia, penyakit kronis, dan penilaian kesehatan diri, semuanya diukur pada gelombang sebelumnya. Hasilnya, pekerja yang hadir kerja saat sakit pada satu gelombang memiliki odds absen 30 persen lebih tinggi pada gelombang berikutnya, dengan rasio odds 1,30.
Riwayat absen sendiri jauh lebih kuat. Pekerja yang pernah absen pada gelombang sebelumnya memiliki rasio odds 3,45 untuk absen lagi, atau lebih dari tiga kali lebih mungkin dibanding yang tidak. Penyakit kronis juga terkait, dengan rasio odds 1,33, sedangkan menilai diri sehat berkaitan dengan odds absen lebih rendah, rasio odds 0,69. Status kerja penuh waktu dan aktivitas fisik tidak bermakna dalam model ini.
Untuk menguji ketahanan temuan itu, para peneliti mengulang analisis dengan pendekatan lain, generalized estimating equations, memakai dua asumsi struktur korelasi yang berbeda. Hasilnya tetap searah: hadir kerja saat sakit berkaitan dengan odds absen yang lebih tinggi, dengan rasio odds 1,38 pada kedua asumsi tersebut.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Jalur Satu Arah dari Hadir Sakit ke Absen
Langkah berikutnya memeriksa apakah hubungan itu berjalan dua arah. Model panel silang menguji sekaligus apakah hadir saat sakit meramalkan absen berikutnya, dan apakah absen meramalkan hadir saat sakit berikutnya. Jalur pertama bermakna dari gelombang pertama ke kedua, dengan rasio odds 1,38, dan dari gelombang kedua ke ketiga, dengan rasio odds 1,49.
Dari gelombang ketiga ke keempat, jalur itu tidak bermakna, dengan rasio odds 1,21. Para peneliti lalu memeriksa apakah hal itu terkait kuatnya kecenderungan absen yang berulang. Ketika jalur dari absen gelombang ketiga ke absen gelombang keempat dikeluarkan dari model, jalur hadir saat sakit ke absen menjadi bermakna dengan rasio odds 1,66. Para penulis menilai jalur absen yang berulang itu menekan efek silang dalam model lengkap.
Pada arah sebaliknya, absen pada satu gelombang tidak meramalkan hadir kerja saat sakit pada gelombang berikutnya, dengan rasio odds 1,16, 1,33, dan 1,20 yang semuanya tidak bermakna. Kedua kebiasaan itu sama-sama cenderung bertahan pada orang yang sama: hadir saat sakit meramalkan dirinya sendiri dengan rasio odds 2,48 sampai 3,64, dan absen dengan rasio odds 2,90 sampai 4,33.
Ketimpangan arah itulah yang menurut para penulis menjadi inti penelitian. Dalam bagian diskusi mereka menulis, dalam terjemahan bebas, “Asimetri arah ini adalah temuan utama penelitian ini. Temuan ini mendukung pemahaman presenteeism sebagai indikator dini atau penanda menurunnya kesehatan, alih-alih pasangan timbal balik dari absenteeism.”
Penanda Dini, Bukan Pemicu Langsung
Penjelasan itu masih punya batas yang dinyatakan sendiri oleh para peneliti. Model panel silang biasa bisa mencampur perbedaan menetap antarorang dengan perubahan di dalam diri satu orang. Untuk memisahkan keduanya, mereka menjalankan analisis tambahan berbasis random intercept. Hasilnya, pada tingkat perubahan di dalam diri seseorang, jalur dari hadir saat sakit ke absen tidak bermakna di semua pergantian gelombang.
Sebaliknya, komponen antarorang menunjukkan hubungan yang kuat, tanda bahwa kedua kebiasaan itu cenderung melekat seperti sifat pada orang-orang tertentu. Para penulis karena itu menegaskan bahwa temuan ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa satu kali hadir kerja saat sakit menyebabkan satu kali absen pada orang yang sama. Keduanya mungkin sama-sama mencerminkan lintasan kerentanan kesehatan jangka panjang yang, tulis mereka, dibentuk oleh penyakit kronis, kondisi kerja, dan tekanan psikososial.
Untuk menafsirkan hubungan dari hadir saat sakit ke absen, para penulis juga mengajukan beberapa mekanisme yang mungkin. Pada tingkat individu, bekerja saat sakit dapat menunda pemulihan, memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada, dan menumpuk beban fisik maupun psikis yang kelak muncul sebagai absen. Pada tingkat organisasi, tekanan untuk hadir, ketidakpastian kerja, dan terbatasnya cuti sakit berbayar dapat mendorong orang tetap bekerja saat sakit, tetapi kemudian berkaitan dengan memburuknya kesehatan.
Menurut para penulis, tafsiran itu juga berarti hadir kerja saat sakit tidak seragam merugikan bagi semua orang. Pekerja yang tidak memiliki kerentanan kesehatan menetap bisa saja sesekali bekerja saat sakit tanpa berlanjut menjadi absen. Mereka menyebut perlunya penelitian lanjutan dengan ukuran kesehatan yang lebih rinci dan masa pengamatan yang lebih panjang untuk mengurai jalur-jalur tersebut.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Cuti Sakit Berbayar dan Batas Data Survei
Para penulis menempatkan temuan ini dalam konteks Korea, yang mereka sebut termasuk sedikit negara OECD, bersama Irlandia dan Meksiko, tanpa cuti sakit wajib menurut undang-undang atau skema upah sakit publik. Besaran hubungan dalam penelitian ini tampak sedikit lebih rendah daripada kenaikan risiko absen 40 sampai 50 persen yang dilaporkan sebagian kohort Eropa. Menurut mereka, hambatan struktural menekan absen yang tercatat.
Dari situ mereka mengusulkan respons terpadu. Data pengamatan ini, akui mereka, tidak dapat langsung membuktikan bahwa perluasan cuti sakit wajib akan menurunkan angka hadir saat sakit di Korea. Di tingkat organisasi, mereka menyarankan pemantauan rutin presenteeism dalam program kesehatan kerja, disertai pemeriksaan kesehatan, penyesuaian beban kerja, jadwal fleksibel, akses layanan kesehatan jiwa, dan pelatihan penyelia.
Keterbatasan lain juga diuraikan. Semua data berupa laporan pribadi dengan ingatan 12 bulan dan pertanyaan tunggal ya atau tidak, sehingga tingkat keparahan dan frekuensi tidak terekam. Budaya kerja, ketidakpastian kerja, kesehatan jiwa, dan kebijakan cuti tidak tersedia dalam data. Temuan juga hanya berlaku untuk pekerja upahan berusia 20 tahun ke atas, tidak untuk wiraswasta, pekerja paruh waktu, atau pekerja informal.
Dalam simpulannya, para penulis menyatakan hadir kerja saat sakit berhubungan dengan absen berikutnya pada pekerja Korea dan dapat menjadi penanda risiko absen di kemudian hari, tetapi temuan ini perlu dibaca sebagai hubungan dari waktu ke waktu, bukan efek sebab-akibat. Menurut mereka, memantau kebiasaan hadir saat sakit dapat membantu mengenali pekerja berisiko lebih tinggi dan mendukung pencegahan lebih awal.















