- Sebanyak 7,54 persen dari 24.686 balita Bangladesh dalam data MICS 2019 mengalami gejala ISPA.
- Balita dengan dapur di bangunan terpisah punya rasio odds ISPA 1,28 dibanding dapur di dalam rumah.
- Anak perempuan dan anak usia 24 sampai 59 bulan punya peluang ISPA lebih rendah.
- Letak dapur memediasi sekitar 30,5 persen kaitan kekayaan keluarga dengan ISPA.
Daftar Isi
Letak dapur ikut berkaitan dengan batuk sesak balita Bangladesh. Anak yang dapur keluarganya berada di bangunan terpisah atau di luar ruang lebih sering mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dibanding anak yang dapurnya di dalam rumah. Pola itu bertahan setelah usia, jenis kelamin, gizi, kekayaan, dan wilayah tempat tinggal anak ikut diperhitungkan.
Temuan itu ditulis Shohel Mahmud dan rekan dari Departemen Statistik, Noakhali Science and Technology University, Bangladesh. Laporannya berjudul Multilevel modeling and mediation analysis of acute respiratory infections among under five children in Bangladesh: evidence from multiple indicator cluster survey dan terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Datanya berasal dari Multiple Indicator Cluster Survey (MICS) 2019, survei nasional Biro Statistik Bangladesh bersama UNICEF, dengan 24.686 anak berusia 0 sampai 59 bulan. Seorang anak digolongkan ISPA bila batuk disertai napas cepat atau sulit yang bukan karena hidung tersumbat. Gejala itu dilaporkan oleh ibu atau pengasuh utamanya.
Angka ISPA 7,54 Persen
Angka ISPA dalam data itu 7,54 persen. Dari 24.686 anak, 1.861 mengalami gejalanya, sedangkan 22.825 anak lainnya tidak. Rata-rata usia seluruh anak 2,02 tahun, dengan anak laki-laki sedikit lebih banyak, 51,5 persen, dan perempuan 48,5 persen.
Sebagian besar anak, 81,35 persen, tinggal di perdesaan. Sebanyak 45,44 persen berasal dari rumah tangga miskin, 18,99 persen dari keluarga menengah, dan 35,57 persen dari keluarga kaya. Anak dalam data paling banyak berasal dari Divisi Chittagong dan Dhaka, sedangkan Mymensingh paling sedikit.
Sebanyak 85,18 persen keluarga memasak dengan bahan bakar yang tidak bersih, dan hanya 14,82 persen yang memakai bahan bakar bersih. Para peneliti menyebut faktor lingkungan dan gizi dalam data ini sebagai wilayah yang patut dicemaskan.
Soal gizi, 26,27 persen anak tergolong tengkes atau stunting. Sebanyak 22,13 persen berat badannya kurang dan 9,47 persen tergolong kurus. Di sisi lain, 65 persen ibu berpendidikan menengah atau lebih tinggi, dan 78,93 persen keluarga punya akses media.
Di Mana Dapur Berada
Letak dapur dalam data ini terbagi tiga. Sebanyak 35,11 persen ada di dalam rumah, 38,06 persen di bangunan terpisah, dan 26,83 persen di luar ruang. Sebaran itu berubah ketika anak dipisah menurut ada atau tidaknya ISPA.
Pada anak yang terkena ISPA, hanya 26,7 persen tinggal di rumah yang dapurnya di dalam. Sebanyak 42,5 persen berdapur di bangunan terpisah dan 30,8 persen di luar ruang. Pada anak tanpa ISPA, angkanya 35,8 persen, 37,7 persen, dan 26,5 persen.
Kaitan itu tetap ada setelah banyak faktor dihitung bersama dalam satu model. Anak dari rumah berdapur di bangunan terpisah punya rasio odds ISPA 1,28 dibanding anak berdapur di dalam rumah. Untuk dapur di luar ruang, rasio oddsnya 1,22.
Penulis menyebut risiko yang lebih tinggi itu kemungkinan karena paparan polutan yang lebih besar. Jenis bahan bakarnya sendiri, bersih atau tidak, tidak menunjukkan kaitan bermakna dengan ISPA dalam uji awal. Pada anak ber-ISPA, 84,4 persen keluarganya memakai bahan bakar tidak bersih.
Baca juga Bangku Kosong di SD Belanda Jadi Penanda Musim Infeksi Napas
Anak Laki-laki dan Bayi
Dari 1.861 anak yang terkena ISPA, 56,3 persen laki-laki dan 43,7 persen perempuan. Separuhnya, 50 persen, berusia 0 sampai 23 bulan, sedangkan pada anak tanpa ISPA kelompok usia itu 38,4 persen. Keduanya, jenis kelamin dan usia, berkaitan sangat bermakna dengan ISPA.
Dalam model akhir, anak perempuan punya peluang ISPA 21 persen lebih rendah daripada anak laki-laki, dengan rasio odds 0,79. Usia memberi beda yang lebih besar. Anak 24 sampai 59 bulan punya peluang ISPA 39 persen lebih rendah daripada anak 0 sampai 23 bulan, dengan rasio odds 0,61.
Penulis memberi penjelasan biologis untuk beda jenis kelamin. Bayi laki-laki diketahui punya diameter saluran napas relatif lebih kecil dan hambatan saluran napas lebih tinggi pada masa awal kanak-kanak. Untuk usia, polanya sejalan dengan kajian lain di Bangladesh tentang kerentanan pada awal masa bayi.
Orang Tua Muda
Anak dari orang tua muda lebih banyak muncul di kelompok ISPA. Ibu di bawah 20 tahun tercatat pada 10,1 persen anak ber-ISPA, sedangkan pada anak tanpa ISPA angkanya 7,3 persen. Ayah di bawah 25 tahun ada pada 7,4 persen anak ber-ISPA dan 5,3 persen anak tanpa ISPA.
Penulis menduga hal ini mencerminkan pengalaman mengasuh yang terbatas, kesadaran kesehatan yang lebih rendah, atau kondisi ekonomi yang kurang stabil. Namun, setelah faktor lain diperhitungkan, kaitan usia ibu dan ayah melemah. Keduanya tidak lagi bermakna secara statistik dalam model akhir.
Tengkes dan Kekayaan
Tengkes juga berkaitan dengan ISPA. Di antara anak ber-ISPA, 28,3 persen tergolong tengkes, sedangkan pada anak tanpa ISPA angkanya 26,1 persen. Dalam model akhir, rasio odds ISPA untuk tengkes 1,19.
Berat badan kurang dan tubuh kurus tidak menunjukkan kaitan bermakna sejak uji awal. Penulis menulis bahwa anak tengkes secara biologis lebih rentan terhadap infeksi karena fungsi kekebalannya terganggu. Temuan ini mereka sebut menyoroti dampak kurang gizi kronis pada kesehatan pernapasan.
Soal kekayaan rumah tangga, pada anak ber-ISPA, 49,5 persen berasal dari keluarga miskin. Anak keluarga menengah punya rasio odds 0,82 dibanding anak keluarga miskin, tetapi untuk keluarga kaya perlindungan yang bermakna tidak terlihat setelah penyesuaian.
Beberapa hal lain tidak berkaitan bermakna dalam uji awal. Pernah disusui atau tidak, pendidikan ibu, dan akses media termasuk di antaranya. Sebanyak 95,77 persen anak dalam data pernah disusui.
Baca juga Titik Api Amazon Seirama Sakit Pernapasan di Empat Negara Bagian
Jalur Lewat Dapur
Tim lalu menelusuri jalur tidak langsung antara kekayaan keluarga dan ISPA. Pendidikan ibu, tengkes, dan letak dapur disebut sebagai calon perantara, dan tabel hasilnya memuat jalur lewat tengkes serta lewat letak dapur. Letak dapur menjelaskan bagian yang cukup besar, sekitar 30,5 persen kaitan kekayaan dengan ISPA dimediasi secara statistik olehnya.
Lewat tengkes, bagiannya lebih kecil, yakni 14,7 persen. Kaitan langsung kekayaan dengan ISPA tetap bermakna di kedua model. Menurut penulis, itu tanda ada jalur lain di luar faktor perantara yang diuji pada tiap model.
Pendidikan ibu tidak menunjukkan kaitan langsung dengan ISPA dalam kerangka itu. Menurut penulis, perbaikan lingkungan memasak di rumah tampak berperan lebih besar. Tabel mediasi itu diberi catatan bahwa angkanya tidak boleh dibaca sebagai efek sebab-akibat.
Mymensingh dan Sylhet
Wilayah juga membedakan. Dibanding Divisi Barisal, anak di Dhaka punya peluang ISPA lebih rendah, sedangkan anak di Mymensingh lebih tinggi. Dalam simpulannya, penulis mencatat risiko tertinggi di Mymensingh dan terendah di Sylhet.
Di Sylhet, hanya 26 anak yang tercatat mengalami ISPA, atau 1,4 persen dari seluruh anak ber-ISPA. Chittagong menyumbang porsi terbesar, 383 anak atau 20,6 persen. Mymensingh menyumbang 215 anak atau 11,6 persen, sedangkan pada anak tanpa ISPA porsi Mymensingh 5,4 persen.
Penulis menduga angka Dhaka yang lebih rendah terkait infrastruktur kesehatan yang lebih baik dan akses imunisasi. Angka Mymensingh yang tinggi mungkin mencerminkan akses layanan yang terbatas, kekurangan gizi, dan kerugian sosial ekonomi. Tempat tinggal di kota atau desa justru tidak berkaitan bermakna, berbeda dari sebagian kajian terdahulu.
Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Saran dan Batasnya
“Temuan ini menunjukkan bahwa perbaikan gizi bagi anak dari rumah tangga miskin, memastikan dapur yang aman dan berventilasi, mendorong pemakaian bahan bakar bersih, dan mengurangi paparan asap merupakan strategi penting untuk mencegah ISPA,” tulis Shohel Mahmud dan rekan dalam simpulan laporan mereka. Kalimat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Mereka juga meminta intervensi kesehatan yang terarah di wilayah berisiko tinggi seperti Mymensingh. Ketimpangan akses layanan bagi keluarga yang kurang beruntung perlu ditangani. Kesadaran orang tua bisa ditingkatkan lewat media.
Kajian ini punya batas. Datanya potong lintang sehingga tidak bisa memastikan sebab-akibat, dan gejala dilaporkan berdasarkan ingatan orang tua. Kebiasaan merokok orang tua, kepadatan rumah, dan polusi udara setempat juga tidak tersedia dalam data.
Penulis menyebut kaitan tidak langsung yang ditemukan berukuran kecil dan bersifat penjajakan. Bagaimana kekayaan rumah tangga memengaruhi risiko ISPA, menurut tim, lebih cocok digali lewat kajian kualitatif atau metode campuran.














