- Studi ini menemukan empat negara bagian dengan korelasi positif yang bermakna antara titik api dan beban penyakit pernapasan kronis.
- Pada 2020, titik api memuncak di tiga negara bagian, bersamaan dengan estimasi kematian dan DALY tertinggi di sebagian besar negara bagian.
- Beban absolut berarti jumlah kasus mentah, bukan angka per sekian penduduk.
- Setiap negara bagian hanya punya sebelas titik data tahunan, sehingga pola musiman, jeda antara paparan dan sakit, serta efek jangka pendek tidak bisa dinilai.
Daftar Isi
Titik api, dalam bahasa paling sederhana, adalah nyala api aktif yang tertangkap satelit dan dihitung satu per satu dari hari ke hari. Di Pará, hitungan itu rata-rata mencapai 31.634 titik setiap tahun antara 2011 dan 2021, tertinggi di antara sembilan negara bagian Amazon Legal di Brasil. Jumlah kematian akibat penyakit pernapasan kronis di sana juga yang terbanyak. Namun, justru di Pará naik-turunnya titik api dari tahun ke tahun tidak berjalan seiring dengan naik-turunnya beban penyakit itu.
Temuan itu datang dari Amanda Carvalho Nogueira, André Pontes-Silva, Erika da Silva Maciel, dan Fernando Rodrigues Peixoto Quaresma. Artikel mereka berjudul Linking fire incidence to chronic respiratory disease outcomes in Brazil’s Legal Amazon: an ecological study dan terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Nogueira, Maciel, dan Quaresma bernaung di program pascasarjana pengajaran sains dan kesehatan Universidade Federal do Tocantins di Palmas. Pontes-Silva berasal dari Departemen Fisioterapi Universidade Federal de São Carlos. Mereka menyandingkan jumlah titik api tahunan dengan kematian dan beban penyakit pernapasan kronis di sembilan negara bagian selama 2011 sampai 2021.
Amazon Legal: sembilan negara bagian
Amazon Legal, dalam naskah ini, adalah wilayah yang mencakup sembilan negara bagian Brasil. Kesembilannya adalah Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondônia, Roraima, dan Tocantins. Naskah menyebut wilayah ini sangat rentan karena tutupan hutannya luas, deforestasinya tinggi, dan pembakaran biomassa berjalan seiring perluasan pertanian.
Bedanya begini. Mato Grosso, menurut naskah, terletak di kawasan Midwest Brasil, tetapi memiliki hutan dan sabana luas yang sering terbakar di tengah perluasan batas lahan pertanian. Jadi, satu nama wilayah itu memayungi bentang alam yang tidak seragam.
Lalu, apa hubungan api dengan napas? Naskah menjelaskan pembakaran melepaskan karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan partikel halus dalam jumlah besar. Partikel itu bisa masuk jauh ke saluran napas hingga bronkiolus terminal dan alveoli, lalu memicu radang yang ikut memperparah asma dan penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK.
Naskah juga mencatat Pará konsisten melaporkan titik api terbanyak di Brasil, disusul Mato Grosso dan Maranhão. Rata-rata tahunan ketiganya selama 2011 sampai 2021 masing-masing 31.634, 25.709, dan 21.597 titik. Di ujung lain, Amapá hanya mencatat 1.757 titik dan Roraima 2.043 titik per tahun.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
DALY: tahun hidup sehat yang hilang
DALY, singkatan dari disability-adjusted life years, bisa dibayangkan sebagai jumlah tahun hidup sehat yang terenggut dari suatu populasi. Ia menggabungkan dua hal, yaitu tahun hidup yang hilang karena kematian dini dan tahun yang dijalani dengan disabilitas. Karena itu, DALY juga menghitung orang yang masih hidup tetapi napasnya terganggu, bukan hanya yang meninggal.
Pará mencatat rata-rata 1.834,49 kematian per tahun akibat penyakit pernapasan kronis, tertinggi di Amazon Legal. Maranhão menyusul dengan 1.634,35 kematian dan Mato Grosso 902,59. Angka terendah ada di Roraima dengan 72,21, lalu Amapá 120,08 dan Acre 228,08.
Untuk DALY, urutannya hampir serupa. Pará kembali tertinggi dengan rata-rata 59.731,82 DALY per tahun, lalu Maranhão 52.069,15 dan Mato Grosso 28.307,94. Roraima, Amapá, dan Acre tetap paling rendah, masing-masing 3.020,31, 4.543,64, dan 7.117,08.
Maksudnya, selisih antarnegara bagian pada DALY terlihat lebih lebar daripada pada kematian. Penulis membacanya sebagai tanda bahwa kehilangan kesehatan yang tidak mematikan ikut menambah beban. Negara bagian di posisi tengah, yakni Amazonas, Rondônia, dan Tocantins, mencatat 618,95, 416,00, dan 375,51 kematian per tahun.
Dari 2011 ke 2021, kematian naik di sebagian besar negara bagian. Kenaikannya berkisar dari 10 persen di Roraima sampai 47 persen di Amapá, sedangkan Acre naik 41 persen dan Amazonas 37 persen. DALY juga naik di banyak tempat, misalnya 25 persen di Acre serta 24 persen di Amazonas dan Mato Grosso.
Dua negara bagian bergerak lain. Maranhão mencatat kematian turun 1 persen, tetapi DALY-nya naik 3 persen, yang menurut penulis menandakan bertambahnya porsi beban yang tidak mematikan. Rondônia menjadi satu-satunya negara bagian yang turun di kedua ukuran, masing-masing 7 persen.
Beban absolut: jumlah, bukan risiko
Beban absolut berarti jumlah kasus mentah, bukan angka per sekian penduduk. Pembandingnya ada di naskah sendiri: Pará dihuni rata-rata sekitar 8,70 juta orang selama periode itu, sedangkan Roraima sekitar 0,65 juta. Wajar bila jumlah kematian di Pará jauh lebih besar, dan itu belum berarti risiko tiap warganya lebih tinggi.
Penulis menegaskan perbedaan antarnegara bagian sebagian besar mencerminkan ukuran penduduk dan aktivitas api, bukan perbandingan risiko per orang. Alasan mereka, angka absolut lebih berguna untuk perencanaan, kesiapan sistem kesehatan, dan pembagian sumber daya. Angka penduduk hanya dipakai sebagai konteks, tidak untuk menghitung laju.
Pada 2020, titik api memuncak di tiga negara bagian, bersamaan dengan estimasi kematian dan DALY tertinggi di sebagian besar negara bagian. Ketiganya adalah Mato Grosso, Pará, dan Amazonas. Grafik kematian gabungan Amazon Legal dalam naskah juga memperlihatkan puncak tajam pada tahun itu, sementara Rondônia dan Roraima justru turun pada 2021.
Naskah menyebut 2020 sebagai tahun kekeringan parah dan deforestasi yang menguat di Amazon. Namun, 2020 juga tahun pertama pandemi COVID-19, yang menurut penulis memengaruhi kesakitan dan kematian pernapasan serta mengganggu layanan kesehatan dan pelaporan. Dua tekanan itu terjadi dalam jendela waktu yang sama dan tidak bisa dipisahkan dengan data tahunan.
Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok
Rho: ukuran seirama
Rho, atau koefisien korelasi Spearman, pada dasarnya mengukur seberapa seirama dua deret angka naik dan turun. Nilainya bergerak dari minus satu sampai satu. Mendekati satu berarti tahun dengan titik api lebih banyak cenderung juga tahun dengan beban penyakit lebih besar, sedangkan mendekati nol berarti keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Penulis memakai ambang sendiri untuk membaca angka itu. Nilai di bawah 0,40 disebut lemah, 0,40 sampai 0,69 sedang, dan 0,70 ke atas kuat. Hubungan dianggap bermakna secara statistik bila nilai p di bawah 0,05.
Studi ini menemukan empat negara bagian dengan korelasi positif yang bermakna antara titik api dan beban penyakit pernapasan kronis. Keempatnya Acre, Amazonas, Mato Grosso, dan Rondônia. Untuk DALY, Rondônia mencatat rho 0,93 dan Mato Grosso 0,85, disusul Amazonas 0,70 dan Acre 0,68. Untuk kematian, angkanya 0,91 di Rondônia, 0,88 di Mato Grosso, 0,72 di Acre, dan 0,65 di Amazonas.
Lima negara bagian lain tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Tocantins mendekati dengan rho 0,58 untuk DALY, tetapi nilai p-nya 0,06. Roraima mencatat 0,20, sedangkan Pará, Maranhão, dan Amapá malah bernilai negatif, yaitu minus 0,10, minus 0,45, dan minus 0,50.
Penulis membaca pola ini dengan hati-hati. Korelasi lebih kuat muncul di negara bagian bertutupan hutan luas dengan pembakaran biomassa berulang. Negara bagian yang lebih padat penduduk dan lingkungannya lebih beragam cenderung menunjukkan korelasi lemah atau tidak ada sama sekali.
Di sinilah salah paham yang paling mudah muncul perlu dikoreksi. Pará punya titik api terbanyak dan beban penyakit terbesar, tetapi rho-nya minus 0,12 untuk kematian dan minus 0,10 untuk DALY. Rondônia, dengan rata-rata 416,00 kematian per tahun, justru mencatat keterkaitan terkuat.
“Pola ini menunjukkan bahwa beban penyakit absolut yang tinggi tidak selalu sejalan dengan keterkaitan temporal yang lebih kuat dengan aktivitas kebakaran di tingkat negara bagian, terutama pada populasi besar dan heterogen tempat berbagai sumber polusi hadir bersamaan,” tulis Nogueira, Pontes-Silva, Maciel, dan Quaresma dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka mencatat Pará mengalami deforestasi luas dan api berulang yang sebagian besar didorong perluasan pertanian.
Rondônia memperlihatkan kombinasi yang lain lagi. Beban totalnya turun 7 persen selama periode studi, tetapi naik-turun titik apinya dari tahun ke tahun tetap seirama dengan beban penyakit pernapasan. Artinya, turunnya jumlah kasus tidak menghapus keterkaitan tahunan itu.
Baca juga Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Ecological fallacy: salah baca dari angka wilayah
Ecological fallacy, atau kekeliruan ekologis, adalah menyimpulkan keadaan orang per orang dari angka gabungan sebuah wilayah. Penulis sendiri memperingatkan hal ini. Keterkaitan di tingkat negara bagian tidak otomatis mencerminkan hubungan antara paparan kebakaran dan kesehatan pernapasan pada setiap individu.
Keterbatasan lain juga diakui. Setiap negara bagian hanya punya sebelas titik data tahunan, sehingga pola musiman, jeda antara paparan dan sakit, serta efek jangka pendek tidak bisa dinilai. Desainnya pun tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat, dan selang kepercayaan untuk nilai rho tidak dilaporkan.
Penulis menyebut sejumlah faktor yang mungkin ikut membentuk perbedaan antarnegara bagian. Di antaranya struktur umur dan porsi lansia, kepadatan dan pola permukiman, serta ketimpangan pendapatan, pendidikan, dan mutu rumah. Akses layanan kesehatan, kemampuan diagnosis, sistem surveilans, dan tata kelola pencegahan kebakaran juga disebut berbeda-beda.
Naskah memberi perhatian khusus pada masyarakat adat yang terisolasi dan baru dikontak, yang disingkat PIAVs. Mereka hidup bergantung pada hutan, terpapar asap terus-menerus, dan sulit menjangkau layanan kesehatan. Penulis menilai data agregat kemungkinan meremehkan beban sebenarnya pada kelompok ini, karena surveilans rutin sering kurang mencakup komunitas yang terisolasi.
Label korelasi: sebutan kuat, sedang, lemah
Label korelasi adalah kata yang ditempelkan pada angka rho, dan di bagian inilah pembaca bisa memeriksa naskah sendiri. Menurut ambang penulis, nilai 0,70 masuk kategori kuat. Namun, tabel DALY melabeli Amazonas dengan rho 0,70 sebagai korelasi sedang.
Tocantins bernilai 0,54 untuk kematian dan 0,58 untuk DALY, yang menurut ambang yang sama masuk kategori sedang. Tabel melabelinya lemah dan tidak bermakna. Dua tabel korelasi itu juga berjudul sama persis, sehingga pembaca harus menyimpulkan dari teks mana yang berisi kematian dan mana yang berisi DALY.
Kesimpulan naskah menyebut bukti keterkaitan yang konsisten, lalu mencontohkan Pará, Maranhão, dan Mato Grosso sebagai negara bagian berbeban absolut besar. Padahal, korelasi Pará dan Maranhão justru tidak bermakna dan bernilai negatif. Daftar filter data titik api di bagian metode pun hanya menyebut delapan negara bagian tanpa Acre, walau tabel memuat titik api Acre rata-rata 6.409 per tahun.
Pernyataan ketersediaan data di akhir naskah juga menulis bahwa tidak ada data yang dihasilkan atau dianalisis dalam studi ini. Kalimat itu sulit dicocokkan dengan isi naskah, yang jelas menganalisis data beban penyakit dan titik api dari dua sumber terbuka.
Titik api, pada akhirnya, adalah hitungan nyala api yang terekam dari angkasa, bukan ukuran asap yang benar-benar dihirup warga. Studi ini menunjukkan hitungan itu seirama dengan beban penyakit pernapasan kronis di empat negara bagian, tetapi tidak di lima lainnya. Di situlah batas istilah itu: banyaknya titik api di suatu wilayah belum tentu menjelaskan naik-turunnya penyakit pernapasan di sana.














