Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

A A

Kabut asap menyelimuti langit kota Chengdu, Tiongkok [Foto: Kristoffer Trolle/Wikimedia Commons CC BY 2.0]

  • Panas ekstrem tiga hari beruntun naikkan risiko kematian kardiovaskular 2,51 kali pada 43.264 peserta PURE-China
  • Dingin ekstrem naikkan risiko kematian kardiovaskular 1,78 kali, kematiannya lebih banyak tercatat dibanding panas
  • PM2.5 tinggi lipatgandakan risiko gabungan jadi 2,77 kali (panas) dan 3,84 kali (dingin) untuk kematian segala sebab
  • Peserta berusia 65 tahun ke atas lebih rentan terhadap panas ekstrem dibanding kelompok lebih muda
Daftar Isi
  1. Panas Naikkan Risiko
  2. Dingin Sama Berbahaya
  3. PM2.5 Melipatgandakan
  4. Lansia Lebih Rentan
  5. Mekanisme di Baliknya
  6. Uji Ulang Konsisten
  7. Keterbatasan Diakui
  8. Angka yang Janggal

Suhu ekstrem menaikkan risiko kematian di Tiongkok. Panas dan dingin sama-sama berbahaya.

Temuan ini datang dari kohort PURE-China, 43.264 peserta usia 35 sampai 70 tahun yang diikuti selama median 11,9 tahun. Mereka tersebar di 115 komunitas pada 12 provinsi, mencakup empat zona iklim berbeda, dari subtropis muson sampai alpin.

Data ini ditulis Xinyue Lang, Feilong Chen, dan tiga belas peneliti lain dalam Extreme temperature, PM2.5, and mortality across 115 Chinese communities: a prospective PURE-China cohort study, BMC Public Health, tahun 2026. Penelitian secara global sebelumnya mencatat sekitar 489.075 kematian akibat panas dan 4.594.098 kematian akibat dingin tiap tahun antara 2000 dan 2019, lebih dari separuhnya di Asia.

Panas Naikkan Risiko

Hari panas ekstrem meningkatkan kematian segala sebab. Pada ambang persentil ke-95 yang berlangsung tiga hari beruntun, risikonya naik 1,84 kali dibanding hari suhu normal. Kematian kardiovaskular naik lebih tinggi lagi, mencapai 2,51 kali lipat pada ambang yang sama.

Rata-rata setiap peserta mengalami 8,2 hari panas ekstrem semacam ini per tahun, dan 36,9 hari untuk ambang persentil ke-90 satu hari. Angka ini dihitung dari ambang suhu spesifik tiap komunitas, bukan dari satu ambang nasional tunggal, karena toleransi penduduk terhadap suhu berbeda di tiap wilayah.

Sebagian besar peserta sudah membawa faktor risiko tambahan sejak awal penelitian. Sebanyak 39,1 persen mengidap hipertensi, 22,9 persen adalah perokok aktif, dan 40,6 persen tergolong mengalami obesitas abdominal saat direkrut. Faktor-faktor ini disesuaikan dalam model statistik agar efek suhu ekstrem bisa dihitung terpisah dari kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Risiko kematian: panas ekstrem vs dingin ekstremRisiko kematian: panas ekstrem vs dingin ekstremRisiko kematian: panas ekstrem vs dinginekstremHazard ratio ambang terkuat, model tersuaikan penuhPanas EkstremDingin Ekstrem1,84x1,66xKematian segalasebab2,51x1,78xKematiankardiovaskular2,77x3,84xGabung PM2.5tinggiAngka gabungan PM2.5 tinggi memakai jalur kematian segala sebab.Semua kelipatan dibanding hari suhu normal.
Sumber: Xinyue Lang, Feilong Chen, Perry Hystad, Bo Hu, Xin Liu, Sumathy Rangarajan, Lap Ah Tse, Lei Lan, Huihan Yang, Tao Peng, Qian Zhao, Deren Qiang, Salim Yusuf, Qi Qiu, dan Zhiguang Liu, Extreme temperature, PM2.5, and mortality across 115 Chinese communities: a prospective PURE-China cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dingin Sama Berbahaya

Hari dingin ekstrem punya efek serupa, bahkan pada beberapa ukuran lebih besar. Risiko kematian kardiovaskular naik 1,78 kali pada ambang persentil ke-5 selama tiga hari. Risiko kematian segala sebab naik 1,66 kali di ambang yang sama, dengan rata-rata 9,3 hari seperti itu tiap tahun.

Kematian akibat dingin justru lebih banyak tercatat sepanjang penelitian. Selama musim dingin, 1.386 orang meninggal karena sebab apa pun dan 477 di antaranya karena penyakit kardiovaskular. Angka ini lebih tinggi dibanding 1.234 kematian segala sebab dan 397 kematian kardiovaskular yang tercatat selama musim panas.

Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur

PM2.5 Melipatgandakan

Polusi udara mengubah gambaran ini jadi lebih buruk. Saat kadar PM2.5 harian berada di atas median komunitas, risiko kematian segala sebab akibat panas ekstrem naik jadi 2,77 kali dibanding hari normal. Interaksi antara suhu dan polusi ini terbukti bermakna secara statistik untuk sebagian besar ambang panas.

Efek gabungan pada dingin ekstrem tercatat lebih tinggi lagi. Risikonya melonjak jadi 3,84 kali dibanding hari suhu normal, angka gabungan tertinggi di seluruh penelitian ini. Interaksi antara dingin ekstrem dan PM2.5 tinggi konsisten bermakna secara statistik, baik untuk kematian segala sebab maupun kematian kardiovaskular.

PURE-China: mengikuti 43.264 orang selama 11,9 tahunPURE-China: mengikuti 43.264 orang selama 11,9 tahunPURE-China: mengikuti 43.264 orang selama11,9 tahunKohort prospektif PURE-China, gabungan empat zona iklim43.264pesertausia 35-70 tahun115komunitas12 provinsiTiongkok11,9tahunpengamatanmedian, periode2008-20213,84xrisiko tertinggidingin ekstrem +PM2.5 tinggiJalan risetnyaSuhu & PM2.5 diukurharianAmbang ekstrem perkomunitas dihitungRisiko kematiandianalisis
Sumber: Xinyue Lang, Feilong Chen, Perry Hystad, Bo Hu, Xin Liu, Sumathy Rangarajan, Lap Ah Tse, Lei Lan, Huihan Yang, Tao Peng, Qian Zhao, Deren Qiang, Salim Yusuf, Qi Qiu, dan Zhiguang Liu, Extreme temperature, PM2.5, and mortality across 115 Chinese communities: a prospective PURE-China cohort study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lansia Lebih Rentan

Usia jadi faktor pembeda risiko yang jelas. Peserta berusia 65 tahun ke atas lebih rentan terhadap panas ekstrem dibanding kelompok yang lebih muda. Perbedaan menurut jenis kelamin, maupun antara peserta perkotaan dan pedesaan, tidak ditemukan bermakna secara statistik dalam analisis ini.

Peneliti menduga tubuh lansia lebih sulit mendinginkan diri saat suhu tinggi, karena respons keringat yang berkurang dan sirkulasi darah yang melambat seiring usia. Kondisi kronis seperti penyakit jantung dan diabetes, ditambah obat-obatan tertentu yang mengganggu pengaturan suhu tubuh, ikut memperbesar kerentanan kelompok usia ini.

Mekanisme di Baliknya

Peneliti menjelaskan alasan efek gabungan itu secara langsung. “Strategi komprehensif yang secara bersamaan menangani polusi udara dan suhu ekstrem terkait iklim sangat penting untuk mengurangi ancaman gabungan terhadap kesehatan kardiovaskular,” tulis Xinyue Lang dan rekan-rekannya, dari kalimat asli berbahasa Inggris comprehensive strategies that simultaneously tackle air pollution and climate-related temperature extremes are essential to mitigate the compounded threats to cardiovascular health.

Paparan PM2.5 dan suhu ekstrem sama-sama memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik dalam tubuh. Kondisi ini merusak fungsi pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak di dindingnya. Kedua paparan itu juga mendorong darah lebih mudah menggumpal, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke mendadak.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Temuan interaksi panas dan PM2.5 ini sejalan dengan penelitian lain di Tiongkok. Xu dan koleganya pada 2023 melaporkan gelombang panas berinteraksi secara sinergis dengan PM2.5 memicu kematian akibat infark miokard. Deng dan koleganya menemukan interaksi serupa antara gelombang panas dan PM2.5 dalam memicu kematian akibat stroke.

Rahman dan koleganya di California menunjukkan paparan gabungan panas ekstrem dan PM2.5 jangka pendek memberi efek lebih besar dibanding jumlah efek keduanya secara terpisah, untuk kematian segala sebab, kardiovaskular, dan pernapasan. Pola serupa memperkuat alasan mengapa kebijakan lingkungan perlu menangani suhu ekstrem dan polusi udara sekaligus, bukan satu per satu.

Uji Ulang Konsisten

Peneliti menguji ulang temuan ini dengan beberapa cara berbeda. Hasil tetap konsisten saat estimasi dikumpulkan di tingkat pusat penelitian, saat memakai suhu udara terasa alih-alih suhu terukur biasa, dan saat batas musim panas atau dingin digeser ke bulan-bulan yang berbeda.

Hasil juga tetap konsisten setelah seluruh peserta disensor administratif pada akhir Desember 2019, sebelum pandemi COVID-19 mengubah pola mobilitas penduduk. Namun saat batasan bulan kematian dihapus sama sekali, hasilnya justru menyimpang dari perkiraan biologis yang masuk akal, sehingga peneliti tetap mempertahankan batasan musim dalam analisis utama.

Ambang suhu ekstrem pada penelitian ini juga dihitung ulang memakai periode referensi 2008 sampai 2012, bukan seluruh rentang 2008 sampai 2021. Hasilnya tetap konsisten, menandakan pemanasan sekuler jangka panjang tidak mengubah kesimpulan utama, meski berpotensi menggeser sedikit ambang persentil suhu yang dipakai sebagai acuan ekstrem.

Keterbatasan Diakui

Jumlah kematian yang tercatat masih terbatas selama masa pengamatan. Peneliti mengakui hal ini mengurangi kekuatan statistik untuk mendeteksi sejumlah asosiasi secara meyakinkan, terutama pada analisis bertingkat yang membagi peserta ke dalam kelompok lebih kecil.

Suhu diukur dari data grid satelit, bukan dari alat pribadi yang dipasang pada tiap peserta. Perilaku adaptif seperti pemakaian pendingin udara atau pola aktivitas harian tidak ikut terhitung, sehingga paparan suhu yang sesungguhnya dialami peserta bisa saja meleset dari angka yang dipakai dalam model.

Peneliti juga mencatat kalender tahun dan tren jangka panjang tidak dimodelkan secara eksplisit dalam analisis utama. Kemungkinan perancu residual terkait perubahan pola cuaca, kematian, atau perilaku penduduk dari tahun ke tahun karena itu belum bisa sepenuhnya disingkirkan, meski peneliti sudah menyesuaikan sebanyak mungkin faktor yang tersedia.

Angka yang Janggal

Rata-rata usia peserta saat direkrut adalah 50,5 tahun, dan hanya 9,4 persen yang berusia 65 tahun ke atas. Sebagian besar peserta, 90,6 persen, berada di bawah usia itu, sehingga temuan soal kerentanan lansia berasal dari kelompok yang jauh lebih kecil dibanding kelompok usia produktif dalam kohort ini.

Ada selisih kecil pada Tabel 1 di naskah ini yang bisa diperiksa sendiri. Jumlah peserta perempuan dan laki-laki yang dijumlahkan sama dengan 43.262 orang, bukan 43.264 seperti total peserta yang disebut berulang kali di sepanjang naskah.

Selisih dua orang ini tidak dijelaskan di mana pun dalam naskah. Kelompok usia, lokasi kota dan desa, serta zona iklim pada tabel yang sama semuanya pas persis ke angka 43.264, sehingga selisih itu hanya muncul pada baris jenis kelamin saja.

Baca juga Anggaran Gender Kota Padang Naik, Isinya Masih Formalitas

Iklim di 115 komunitas itu sendiri cukup beragam. Lebih dari separuh peserta, 57,2 persen, tinggal di zona subtropis muson, sementara 31,1 persen di zona muson sedang. Sisanya terbagi di zona kontinental sedang dan alpin, dua wilayah dengan variasi suhu harian paling tajam sepanjang tahun.

Studi ini menegaskan suhu ekstrem bukan ancaman tunggal bagi penduduk Tiongkok. Polusi udara berjalan berdampingan dengannya, memperbesar risiko yang sudah ada pada hari-hari panas maupun dingin di 115 komunitas yang diikuti selama lebih dari satu dekade itu.

Bagikan

Baca Juga

Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Hanya 0,76 Persen Remaja Taizhou Terinfeksi TB, BCG Menekannya
Debu PM2.5 Menaikkan Risiko Influenza di Xinjiang 6,7 Persen
Kredit BPR Naikkan PDRB Pertanian, Belanja Daerah Justru Negatif
Perdagangan Uni Eropa Berbalik Defisit 2,4 Miliar Euro
Perdagangan ASEAN Tumbuh, Impor dari China Naik 24 Persen