Banyak Anak Ghana Jalan ke Sekolah, tapi Kurang Bergerak Seharian

A A

Ilustrasi anak-anak sekolah berseragam dan bertas punggung berjalan di jalan tanah merah [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Menurut survei pelajar 2012, hanya 25,0 persen siswa sekolah menengah atas di Ghana memenuhi pedoman gerak sedang hingga berat.
  • Para guru melaporkan 43 menit pendidikan jasmani efektif dari 140 menit yang dialokasikan per pekan.
  • Rata-rata empat studi perjalanan aktif ke sekolah mencapai 72,5 persen dan setara nilai B.
  • Tujuh dari sepuluh indikator untuk anak penyandang disabilitas bernilai INC karena tidak ada data yang dipilah menurut disabilitas.
Daftar Isi
  1. Dari Rapor 2018 ke Rapor 2025
  2. Survei Pelajar 2012 yang Masih Menjadi Patokan
  3. Olahraga dan Kebugaran, dari Studi 2017 hingga Rapor 2025
  4. Jam Olahraga Sekolah dalam Catatan Donkor dan Ocansey
  5. Jalan Kaki ke Sekolah, dari Studi Sofo 2019 sampai Tamale
  6. Anak Penyandang Disabilitas dalam Rapor 2025
  7. Mata Rantai Berikutnya setelah Rapor 2025

Pada 2018, Ghana terakhir kali menerbitkan rapor nasional tentang seberapa aktif anak-anaknya bergerak. Sejak itu kebijakannya ikut berkembang, termasuk terbitnya Kebijakan Nasional Penyakit Tidak Menular pada 2022, sementara gerak anak kian dipengaruhi urbanisasi yang cepat, paparan lalu lintas, dan paparan digital yang terus bertambah. Beberapa nilai rapor lama itu, menurut penyusun rapor penggantinya, bersandar pada bukti angka yang tipis dan tafsir para ahli, terutama soal waktu duduk, kebugaran, serta dukungan keluarga dan teman.

Rapor pengganti itu kini terbit. Seidu Sofo dari Southeast Missouri State University, Amerika Serikat, dan rekan, antara lain dari University of Ghana, University of Education, Winneba, dan Kementerian Kesehatan Ghana, menuliskannya dalam artikel Ghana’s 2025 physical activity report card: children, adolescents and CAWD di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. CAWD adalah singkatan bahasa Inggris untuk anak dan remaja penyandang disabilitas dan/atau kondisi kronis, kelompok yang dalam rapor ini diberi nilai tersendiri.

Tim itu tidak mengumpulkan data baru. Mereka mengaudit dan menilai bukti terbaik yang tersedia tentang anak Ghana usia 5–17 tahun, mulai dari survei kesehatan pelajar GSHS 2012, studi ilmiah, tesis, dokumen kebijakan, hingga anggaran program, memakai rubrik Global Matrix 5.0 dari Active Healthy Kids Global Alliance. Sepuluh indikator diberi nilai A+ sampai F menurut persentase anak yang memenuhi patokan, dan INC bila buktinya tidak cukup.

Dari Rapor 2018 ke Rapor 2025

Dibanding rapor 2018, beberapa nilai berubah. Waktu duduk naik dari INC menjadi B+, kebugaran fisik dari INC menjadi C-, perjalanan aktif ke sekolah dari D menjadi B, dan peran pemerintah dari D menjadi B. Aktivitas fisik keseluruhan bergeser dari D ke D-, yang menurut tabel perbandingan bukan perubahan berarti, sedangkan lingkungan dan komunitas bergeser dari D ke D-.

Sofo dan rekan sendiri meminta perubahan itu dibaca dengan hati-hati. Menurut tabel perbandingan mereka, naiknya nilai waktu duduk mencerminkan bukti yang kini lebih tersedia, bukan perubahan perilaku. Selisih nilai perjalanan aktif didorong bukti subnasional yang baru, dan nilai pemerintah membaik karena bukti kebijakan lebih lengkap serta penyelarasan rubrik yang lebih baik. Perbandingan antarsiklus, tulis mereka, adalah alat bantu tafsir, bukan analisis tren formal.

Sejumlah nilai juga tidak bergerak sejak 2018. Olahraga terorganisasi tetap D, dukungan keluarga dan teman tetap C, sekolah tetap D, dan bermain aktif tetap INC. Untuk bermain aktif, tak satu pun sumber Ghana melaporkan perkiraan prevalensi bermain bebas yang sebanding dengan patokan dan memiliki penyebut yang jelas, sehingga kolom itu kembali kosong pada siklus ini.

Survei Pelajar 2012 yang Masih Menjadi Patokan

Nilai terendah di kelompok perilaku jatuh pada aktivitas fisik keseluruhan, yakni D-. Satu-satunya perkiraan nasional yang bisa dibandingkan dengan patokan menunjukkan 25,0 persen siswa sekolah menengah atas memenuhi pedoman gerak sedang hingga berat, yaitu setidaknya 60 menit sehari pada lima hari atau lebih dalam sepekan terakhir.

Selisih menurut jenis kelamin terlihat jelas: 29,0 persen pada siswa laki-laki dan 21,4 persen pada siswa perempuan. Angka itu bersumber dari GSHS 2012, survei yang datanya juga dianalisis Seidu dan rekan dalam jurnal PLoS ONE pada 2020. Karena itu, tim penyusun menyebutnya sinyal yang peka waktu, bukan perkiraan tepat tentang kepatuhan remaja Ghana masa kini terhadap pedoman tersebut.

Survei yang sama melahirkan nilai tertinggi rapor, B+ untuk waktu duduk. Pada lembar fakta GSHS 2012, 19,0 persen siswa sekolah menengah pertama dan 23,8 persen siswa sekolah menengah atas tergolong lama duduk, yaitu tiga jam atau lebih sehari di luar jam sekolah, pekerjaan rumah, dan tidur. Digabung dengan bobot ukuran sampel, angkanya 21,6 persen, sehingga 78,4 persen berada di bawah ambang itu.

Angka di balik nilai rapor anak Ghana 2025Aktivitas fisik keseluruhan 25,0; Olahraga terorganisasi 27,6; Perjalanan aktif ke sekolah 72,5; Di bawah ambang duduk 78,4; Waktu penjas terlaksana 30,7; Lingkungan dan komunitas 23,2.Angka di balik nilai rapor anak Ghana 2025Angka yang dipetakan ke nilai rapor, dalam persen0255075100Aktivitas fisik keseluruhan25,0Olahraga terorganisasi27,6Perjalanan aktif ke sekolah72,5Di bawah ambang duduk78,4Waktu penjas terlaksana30,7Lingkungan dan komunitas23,2Sumber dan tahun data berbeda tiap indikator
Sumber: Seidu Sofo dan rekan, Ghana’s 2025 physical activity report card: children, adolescents and CAWD, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis meminta nilai B+ itu dibaca dengan sangat hati-hati karena bertumpu pada data nasional 2012. Dengan urbanisasi yang cepat, makin banyaknya kepemilikan telepon pintar, dan berubahnya kebiasaan menatap layar, tulis mereka, paparan duduk anak kini mungkin sudah jauh berbeda dari pola dalam data lama itu, dan bukti subnasional yang lebih baru mengisyaratkan waktu duduk lebih tinggi di beberapa tempat. Nilai itu, menurut mereka, justru menyoroti belum adanya survei nasional baru yang selaras dengan patokan.

Baca juga Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi

Olahraga dan Kebugaran, dari Studi 2017 hingga Rapor 2025

Olahraga terorganisasi tertahan di D. Bukti yang dipakai berasal dari studi Aryeetey dan rekan pada 2017 terhadap anak sekolah perkotaan usia 9–15 tahun: 27,6 persen di antara mereka berolahraga tiga kali atau lebih per pekan, dengan 26,2 persen di sekolah swasta dan 32,0 persen di sekolah negeri. Angka ini, catat tim, belum sepenuhnya memisahkan olahraga terorganisasi dari olahraga informal.

Kebugaran fisik termasuk indikator yang pada 2018 belum bisa dinilai. Untuk rapor 2025, tim menyintesis bukti dari tiga uji lapangan, yaitu lari bolak-balik 20 meter, lompat jauh tanpa awalan, dan kekuatan genggaman tangan. Hasilnya tidak seragam. Kebugaran jantung-paru tergolong lemah dengan rata-rata di persentil 20–25, sedangkan lompat jauh relatif lebih baik di persentil 54.

Kekuatan genggaman tangan ditafsirkan berada di persentil 40–45. Rata-rata persentil ketiga uji itu 40–42, cukup untuk nilai C-. Di bagian ini tim merujuk, antara lain, kajian Annan dan rekan pada 2020 tentang sarapan, indeks massa tubuh, dan kebugaran anak usia sekolah Ghana, serta nilai acuan internasional lari bolak-balik 20 meter yang disusun Tomkinson dan rekan pada 2017.

Untuk dukungan keluarga dan teman, tim tidak menemukan ukuran langsung tentang dukungan untuk bergerak. Mereka lalu merata-ratakan lima faktor pelindung dari GSHS: punya teman dekat 86,7 persen, dukungan teman atau iklim sekolah 35,2 persen, pengawasan orang tua 42,2 persen, ikatan dengan orang tua 40,2 persen, dan keterhubungan dengan orang tua 45,5 persen. Rata-ratanya 49,96 persen, dibulatkan 50, dengan nilai C.

Jam Olahraga Sekolah dalam Catatan Donkor dan Ocansey

Untuk indikator sekolah, bukti yang dipakai adalah satu-satunya ukuran pelaksanaan yang siap diolah, antara lain dari studi Donkor dan Ocansey pada 2022 tentang pendidikan jasmani di sekolah dasar negeri di enam wilayah pendidikan. Para guru melaporkan 43 menit waktu pendidikan jasmani yang efektif dari 140 menit yang dialokasikan per pekan, atau 30,7 persen. Nilainya D.

Menurut para penulis, pendidikan jasmani sebenarnya ada dalam kurikulum dan kerangka kebijakan, tetapi pelaksanaannya tampak terhambat tuntutan akademik yang bersaing, keterbatasan tenaga pengajar, dan lemahnya pemantauan. Mereka menilai hal ini penting karena sekolah adalah salah satu dari sedikit tempat yang bisa menjangkau banyak anak, apa pun kemampuan ekonomi rumah tangganya.

Ruang bergerak di luar sekolah juga terbatas. Dari audit taman dan ruang publik Mapping Accra, tim menghitung ruang yang gratis atau terbuka untuk umum dan dinilai berkondisi OK atau GOOD. Sembilan ruang memenuhi syarat itu. Penduduk yang tinggal dalam radius satu kilometer darinya berjumlah 362.657 orang dari 1.565.694 penduduk inti Accra, atau 23,2 persen, sehingga nilainya D-.

Angka itu, tegas penulis, adalah sinyal khas perkotaan dan bukan ukuran nasional. Untuk indikator pemerintah, nilainya B. Skor rubrik untuk keberadaan dan mutu kebijakan mencapai 100 persen, tetapi pelaksanaan dan cakupannya hanya 45 persen, sementara pendanaan dan akuntabilitas 55 persen. Rata-rata ketiganya 66,7 persen, dibulatkan menjadi 67 persen.

Baca juga Kenangan Pelajaran Olahraga di Sekolah Terbawa sampai Dewasa

Jalan Kaki ke Sekolah, dari Studi Sofo 2019 sampai Tamale

Nilai B di kelompok perilaku datang dari perjalanan ke sekolah. Empat sumber yang memenuhi syarat memberi angka yang berjauhan. Di Sunyani, Region Bono, 97 persen anak berangkat atau pulang sekolah secara aktif, 85 persen dengan berjalan kaki dan 12 persen bersepeda. Di Upper East dan Upper West, wilayah yang diteliti Sofo bersama Asola dan Thompson dalam studi terbitan 2019, angkanya 98,96 persen.

Di dua tempat lain, angkanya jauh lebih rendah. Di Adentan, pinggiran Accra, 53,7 persen anak berjalan kaki ke sekolah, sedangkan di Tamale 40,3 persen menempuh perjalanan aktif. Dengan aturan rata-rata tak berbobot yang ditetapkan sejak awal, hasilnya 72,5 persen, dibulatkan 73 persen, setara nilai B. Penulis mengingatkan angka itu bukan prevalensi nasional berbobot penduduk, karena keempat studi berbeda jauh dalam ukuran sampel, latar, dan wilayah.

Berangkat ke sekolah dengan kaki atau sepedaSunyani (Bono): Perjalanan aktif 97,00; Upper East dan Upper West: Perjalanan aktif 98,96; Adentan, pinggiran Accra (jalan kaki): Perjalanan aktif 53,70; Tamale: Perjalanan aktif 40,30.Berangkat ke sekolah dengan kaki atau sepedaPersen anak dalam empat studi di Ghana2550751000Sunyani (Bono)97,00Upper East dan Upper West98,96Adentan, pinggiran Accra (jalan kaki)53,70Tamale40,30Rata-rata tak berbobot keempatnya 72,5 persen (nilai B)
Sumber: Seidu Sofo dan rekan, Ghana’s 2025 physical activity report card: children, adolescents and CAWD, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pada 2018, indikator ini masih bernilai D, dan tabel perbandingan menyebut selisihnya didorong bukti subnasional yang baru. Para penulis juga meminta pasangan nilai B untuk perjalanan aktif dan D- untuk aktivitas keseluruhan dibaca dengan cermat. Berjalan kaki ke sekolah memang umum di beberapa tempat, tetapi tidak otomatis menjadi aktivitas sedang hingga berat yang cukup bagi sebagian besar anak.

Salah satu penjelasan yang mereka ajukan, perjalanan itu mungkin sering tetapi pendek, tidak merata, atau dibatasi jarak, lalu lintas, rasa aman, dan tekanan waktu rumah tangga. “Perjalanan aktif ke sekolah saja mungkin tidak cukup untuk menutup kekurangan yang lebih luas dalam kesempatan bergerak sehari-hari,” tulis Sofo dan rekan, diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris itu.

Anak Penyandang Disabilitas dalam Rapor 2025

Bagian paling kosong dalam rapor ini adalah kolom anak dan remaja penyandang disabilitas atau kondisi kronis. Tujuh dari sepuluh indikator mereka bernilai INC karena tidak ada data prevalensi yang dipilah menurut disabilitas dan selaras dengan patokan. Ketujuhnya adalah aktivitas keseluruhan, olahraga terorganisasi, bermain aktif, perjalanan aktif, waktu duduk, kebugaran fisik, dan sekolah.

Tiga nilai bisa diberikan. Dukungan keluarga dan teman mendapat C-, berdasarkan bukti kualitatif dari sekolah inklusif di Ghana yang menunjukkan dukungan teman yang bercampur, perundungan oleh teman sebaya, serta terbatasnya dukungan keluarga dan guru. Lingkungan dan komunitas mendapat F karena hambatan aksesibilitas yang meluas, sedangkan pemerintah mendapat D+ karena rubriknya mensyaratkan klausul inklusi terkait aktivitas fisik yang eksplisit dan pelaksanaan yang didanai.

“Hal ini tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa anak dan remaja penyandang disabilitas tidak aktif pada indikator-indikator ini; sebaliknya, ini mencerminkan kegagalan pemantauan yang membatasi perencanaan, penganggaran, akuntabilitas, dan perancangan kebijakan yang inklusif,” tulis Sofo dan rekan dalam terjemahan. Mereka juga mengingatkan bahwa tiga nilai itu bertumpu pada bukti yang terbatas dan sebagian pada penilaian ahli yang terstruktur.

Baca juga Korban Tenggelam di Ghana Umumnya Lelaki dan Tak Bisa Berenang

Mata Rantai Berikutnya setelah Rapor 2025

Para penulis menyebut sendiri keterbatasan rapor mereka. Indikator perilaku utama bergantung pada survei nasional yang sudah berumur, beberapa indikator memakai ukuran pengganti, nilai perjalanan aktif berasal dari rata-rata tak berbobot studi-studi subnasional, dan nilai lingkungan hanya bertumpu pada data Accra. Untuk anak penyandang disabilitas, banyak nilai belum lengkap dan sebagian bergantung pada penilaian ahli.

Dari pola itu mereka menurunkan sejumlah langkah: memperbarui survei nasional tentang aktivitas fisik dan waktu duduk secara berkala dengan pemilahan disabilitas, melindungi dan mengaudit waktu pendidikan jasmani, serta membuat perjalanan ke sekolah lebih aman lewat penenang lalu lintas di zona sekolah, penyeberangan, dan trotoar. Inklusi disabilitas, tegas mereka, tidak boleh menjadi tambahan pilihan setelah rapor utama selesai.

Rapor 2025, menurut penyusunnya, adalah alat akuntabilitas berbasis bukti, bukan sistem pemantauan nasional yang lengkap. Nilai perbandingannya dengan rapor 2018 lebih terletak pada kejelasan tentang di mana bukti sudah membaik, di mana masih lemah, dan di mana celah akuntabilitas bertahan. Langkah maju Ghana berikutnya, tulis mereka, kemungkinan datang dari pemantauan yang lebih baik, pendidikan jasmani yang terlindungi, jalur perjalanan aktif yang lebih aman, dan ruang komunitas yang mudah diakses.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Separuh Pasien Hepatitis B Jakarta Berbagi Barang Pribadi
Di Malaysia, Sebagian yang Paham pun Minum Antibiotik untuk Pilek
Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur
Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh