Pekerja Konstruksi Jepang Jarang Periksa Henti Napas saat Tidur

A A

Ilustrasi pekerja berhelm putih di antara papan bekisting dan besi tulangan proyek di Ebisu, Tokyo [Foto: Syced/Wikimedia Commons, CC0]

  • Hanya 2,6 persen atau 417 dari 16.279 pekerja pria yang tercatat menunjukkan perilaku berkonsultasi selama masa penelitian.
  • Pekerja yang dua kali tercatat mendengkur dan/atau mengalami henti napas yang disaksikan punya rasio odds disesuaikan 1,863 untuk berkonsultasi.
  • Pekerja yang konsisten bekerja enam hari atau lebih dalam seminggu memiliki rasio odds disesuaikan 0,761 untuk berkonsultasi.
  • Tidak satu pun perubahan selama masa pengamatan berhubungan bermakna dengan perilaku berkonsultasi.
Daftar Isi
  1. Jejak Tes Tidur di Catatan Klaim Asuransi
  2. Sepertiga Berisiko, Segelintir yang Menjalani Tes
  3. Gejala yang Menetap Lebih Menggerakkan daripada yang Baru Muncul
  4. Hipertensi dan Diabetes Lebih Dulu Dikenali
  5. Enam Hari Kerja Seminggu, Lebih Jarang ke Ruang Periksa
  6. Risiko Tinggi Baru Menonjol pada Tahap Pengobatan
  7. Batas Data Klaim dan Satu Tahun Pengamatan

Orang yang paling berisiko belum tentu paling cepat memeriksakan diri. Pada pekerja pria di sektor konstruksi dan teknik sipil Jepang, risiko tinggi henti napas saat tidur yang terbaca dari usia, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang tidak terbukti berdiri sendiri mendorong mereka menjalani tes tidur. Yang lebih dekat dengan ruang periksa justru dengkur yang menetap, henti napas yang disaksikan orang lain, dan penyakit penyerta yang sudah lama ada.

Henti napas saat tidur yang dimaksud adalah apnea tidur obstruktif (OSA), gangguan pernapasan saat tidur yang paling umum. Gangguan ini ditandai episode berulang sumbatan penuh atau sebagian pada saluran napas atas selama tidur. Para peneliti mencatat bahwa sebagian cukup besar penderitanya di dunia belum terdiagnosis, dan jurang antara perkiraan jumlah penderita dan yang benar-benar didiagnosis itulah yang mereka telusuri dari sisi perilaku mencari pertolongan.

Penelitian itu ditulis Kazuki Tsumuraya dan rekan dari Departemen Neuropsikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Kyorin, Tokyo, serta Japan Somnology Center. Laporan berjudul Factors predicting consultation for obstructive sleep apnea among Japanese male workers in the construction and civil engineering sector: a longitudinal study using annual medical check-up data itu terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.

Datanya berasal dari 16.279 pegawai pria yang ditanggung perkumpulan asuransi kesehatan perusahaan arsitektur dan teknik sipil di Jepang. Mereka diamati pada dua periode, yakni April 2018 sampai Maret 2019 sebagai titik awal dan April 2019 sampai Maret 2020 sebagai tindak lanjut. Pekerja yang pada titik awal sudah tercatat didiagnosis atau diobati OSA tidak diikutkan, begitu pula yang jenis pekerjaannya tidak bisa dipastikan.

Jejak Tes Tidur di Catatan Klaim Asuransi

Peneliti tidak bertanya langsung kepada para pekerja apakah mereka pergi ke dokter. Mereka membaca jejaknya di catatan klaim asuransi: seseorang dianggap menunjukkan kemungkinan perilaku berkonsultasi bila tercatat minimal satu tes polisomnografi, tes apnea tidur di rumah, atau oksimetri nadi. Oksimetri nadi baru dihitung bila pada bulan dan fasilitas kesehatan yang sama tercatat pula kode diagnosis OSA.

Karena itu, istilah yang dipakai sengaja berhati-hati, yakni kemungkinan perilaku berkonsultasi. Para penulis mengakui tes-tes tersebut bisa juga dilakukan untuk keperluan lain, dan alasannya tidak selalu terbaca dari data klaim. Catatan klaim itu dipadukan dengan hasil pemeriksaan kesehatan tahunan dan kuesioner isian sendiri, dengan jarak rata-rata 370 hari antara kedua pemeriksaan. Pemeriksaan tahunan memberi angka usia, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang, sedangkan kuesioner memuat jenis pekerjaan, hari kerja, penyakit penyerta, dan gejala.

Risiko diukur dengan skala ABC. Seorang pria digolongkan berisiko tinggi mengalami OSA sedang sampai berat bila memenuhi sedikitnya dua dari tiga syarat: berusia 47 tahun ke atas, indeks massa tubuh 25,5 atau lebih, dan lingkar pinggang 90,8 sentimeter atau lebih. Perempuan tidak diikutkan karena cara memperkirakan risiko dari data pemeriksaan tahunan Jepang itu belum divalidasi untuk perempuan.

Baca juga Pekerja Sif Malam Tak Teratur Lebih Sering Terkena Alergi Hidung

Sepertiga Berisiko, Segelintir yang Menjalani Tes

Hasil pemeriksaan awal menempatkan 5.062 pekerja, atau 31,1 persen, dalam golongan risiko tinggi. Pada pemeriksaan tindak lanjut jumlahnya menjadi 5.237 orang atau 32,2 persen. Usia rata-rata peserta pada titik awal 47,3 tahun, dengan indeks massa tubuh rata-rata 24,4 dan lingkar pinggang rata-rata 85,6 sentimeter. Perpindahan golongan memang terjadi: 721 pekerja baru masuk golongan risiko tinggi, sementara 546 lainnya keluar dari golongan itu.

Yang menjalani tes jauh lebih sedikit. Dari seluruh peserta, hanya 2,6 persen atau 417 dari 16.279 orang yang tercatat menunjukkan perilaku berkonsultasi selama masa penelitian. Di kelompok risiko rendah angkanya 2,3 persen atau 254 dari 11.042 orang, sedangkan di kelompok risiko tinggi 3,1 persen atau 163 dari 5.237 orang. Dalam analisis satu faktor pada tiap titik pemeriksaan, risiko tinggi sempat berhubungan dengan rasio odds 1,394 untuk berkonsultasi.

Gejalanya pun tidak jarang. Pada pemeriksaan awal, 29,6 persen peserta melaporkan dengkur yang menjadi kebiasaan dan/atau henti napas yang disaksikan orang lain. Sebanyak 30,6 persen melaporkan penyakit penyerta, yaitu sedikitnya satu dari hipertensi, diabetes, dislipidemia, atau penyakit jantung yang didiagnosis dokter, dan 31,8 persen bekerja enam hari atau lebih dalam seminggu. Rasa lelah subjektif dilaporkan 33,7 persen peserta, sedangkan kantuk siang subjektif 14,9 persen.

Faktor yang menetap dan tes tidurDengkur/henti napas 1,863; Penyakit penyerta 1,533; Pekerja kerah putih 1,196; Kantuk siang subjektif 1,182; Lelah subjektif 1,156; Risiko tinggi OSA 1,098; Tinggal sendiri 1,034; Kerja 6 hari atau lebih 0,761.Faktor yang menetap dan tes tidurRasio odds disesuaikan untuk berkonsultasi, pola ada di awaldan di tindak lanjut (Yes-Yes); kerja dihitung per minggu0,00,51,01,52,0Dengkur/henti napas1,863Penyakit penyerta1,533Pekerja kerah putih1,196Kantuk siang subjektif1,182Lelah subjektif1,156Risiko tinggi OSA1,098Tinggal sendiri1,034Kerja 6 hari atau lebih0,761Pembanding: pola No-No. Bermakna: dengkur, penyakit penyerta, kerja6 hari (Tabel 3)
Sumber: Kazuki Tsumuraya dan rekan, Factors predicting consultation for obstructive sleep apnea among Japanese male workers in the construction and civil engineering sector: a longitudinal study using annual medical check-up data, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Gejala yang Menetap Lebih Menggerakkan daripada yang Baru Muncul

Untuk melihat apa yang mendorong orang ke ruang periksa, tiap faktor dipilah menjadi empat pola: tidak ada di kedua pemeriksaan, baru muncul, menghilang, atau ada di kedua pemeriksaan. Pola terakhir inilah yang menonjol. Pekerja yang dua kali tercatat mendengkur dan/atau mengalami henti napas yang disaksikan punya rasio odds disesuaikan 1,863 untuk berkonsultasi dibanding yang tidak pernah mengalaminya.

Penyakit penyerta yang menetap menunjukkan arah serupa, dengan rasio odds disesuaikan 1,533. Untuk dengkur yang menetap, angka dalam analisis satu faktor bahkan mencapai 2,018. Gambaran berbeda terlihat pada pola yang lain. Tidak satu pun perubahan selama masa pengamatan berhubungan bermakna dengan perilaku berkonsultasi. Dengkur atau henti napas yang baru muncul dalam setahun, misalnya, memiliki rasio odds disesuaikan 0,586 dan tidak bermakna secara statistik.

Menurut para penulis, temuan itu bisa berarti keputusan untuk berkonsultasi lebih dipengaruhi oleh gejala yang menetap dan dampaknya yang menumpuk daripada kehadirannya pada satu titik waktu. Mereka menyebut temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan jeda yang cukup panjang antara saat gejala dikenali dan saat orang benar-benar mencari pertolongan.

Jeda itu, tulis mereka, mungkin bergantung pada seberapa khawatir seseorang terhadap gejalanya, sementara meremehkan gejala dan risiko kesehatannya bisa membuat orang tak kunjung berkonsultasi. Karena itu, para penulis menilai pendidikan kesehatan yang terstruktur untuk memperbaiki pemahaman tentang risiko dan akibat OSA yang tidak diobati mungkin perlu diperkuat. Penundaan serupa akibat kurangnya pemahaman risiko, menurut mereka, juga tercatat pada penyakit kronis lain seperti hipertensi dan diabetes.

Baca juga Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan

Hipertensi dan Diabetes Lebih Dulu Dikenali

Hubungan penyakit penyerta dengan perilaku berkonsultasi hanya bermakna bila penyakit itu sudah ada sedikitnya satu tahun. Menurut para penulis, hal ini menandakan bahwa penyakit seperti hipertensi dan diabetes kerap terdiagnosis lebih dulu sebelum OSA disadari. Mereka juga mencatat bukti bahwa OSA dan penyakit kardiometabolik kronis bisa saling menaikkan risiko munculnya dan memburuknya kedua kondisi.

Untuk menggambarkan jaraknya, mereka menyodorkan angka kesadaran masyarakat dari laporan terdahulu. Sebanyak 81 persen masyarakat umum mengenali risiko kesehatan hipertensi, 79 persen mengenali risiko diabetes, dan 71 persen mengenali risiko dislipidemia, sedangkan yang menyadari risiko kesehatan OSA hanya 13,6 persen. Karena itu, risiko OSA mungkin dianggap lebih ringan, sehingga diagnosis dan pengobatannya tertunda.

Jepang punya program nasional bernama Specific Medical Checkups and Specific Health Guidance bagi orang dewasa berusia 40 tahun ke atas, yang bertujuan mencegah penyakit kronis terkait gaya hidup. Para penulis menilai skrining OSA bagi orang yang lewat program itu terdeteksi punya risiko gangguan kardiometabolik yang meningkat mungkin bermanfaat.

Enam Hari Kerja Seminggu, Lebih Jarang ke Ruang Periksa

Faktor pekerjaan bergerak ke arah sebaliknya. Pekerja yang konsisten bekerja enam hari atau lebih dalam seminggu memiliki rasio odds disesuaikan 0,761 untuk berkonsultasi, lebih rendah dibanding yang di kedua pemeriksaan bekerja kurang dari itu. Pada analisis yang membaca tiap titik pemeriksaan, rasio odds disesuaikannya 0,746, juga bermakna secara statistik. Dalam analisis satu faktor, rasio odds pola yang menetap itu 0,707.

Para penulis mengaitkannya dengan penelitian berbasis kuesioner dari Korea Selatan dan Amerika Serikat yang melaporkan jam kerja panjang dan keterbatasan waktu sebagai penghalang memanfaatkan layanan kesehatan. Atas dasar itu, mereka menilai prakarsa di tempat kerja yang secara aktif memudahkan pekerja berjam kerja panjang untuk berkonsultasi soal OSA mungkin diperlukan.

Jenis pekerjaan memberi cerita yang berbeda. Dalam analisis satu faktor, pekerja yang menetap sebagai kerah putih memiliki rasio odds 1,377, tetapi hubungan itu tidak lagi bermakna setelah faktor lain diperhitungkan. Para penulis menyebut pekerja kerah biru lebih sering bekerja malam, dan perbedaan jadwal kerja, termasuk jumlah hari kerja, mungkin mengaburkan hubungan tersendiri antara jenis pekerjaan dan kecenderungan berkonsultasi.

Baca juga Bergerak Petang Hari, Pekerja Jepang Lebih Jarang Murung Esoknya

Risiko Tinggi Baru Menonjol pada Tahap Pengobatan

Skala ABC baru menunjukkan hubungan yang bermakna di tahap berikutnya. Dari 417 pekerja yang berkonsultasi, 26 orang memulai terapi CPAP, yakni terapi tekanan udara positif berkelanjutan. Pekerja berisiko tinggi memiliki rasio odds kasar 5,621 untuk memulai terapi itu, sedangkan pekerja yang mendengkur dan/atau mengalami henti napas yang disaksikan memiliki rasio odds kasar 4,276.

Di Jepang, terapi CPAP ditanggung asuransi bagi pasien OSA sedang sampai berat, yang umumnya ditandai indeks apnea-hipopnea 20 atau lebih. Karena itu, menurut para penulis, banyak pekerja berisiko tinggi yang memulai CPAP kemungkinan memang mengidap OSA yang bermakna secara klinis, dan temuan ini mendukung pemakaian skala ABC sesuai tujuannya. Skala itu memang sejak awal dikembangkan untuk menyaring OSA yang setidaknya tergolong sedang.

Siapa yang memulai terapi CPAPRisiko tinggi OSA: Rasio odds 5,621; Dengkur dan/atau henti napas disaksikan: Rasio odds 4,276; Penyakit penyerta: Rasio odds 1,859; Kantuk siang subjektif: Rasio odds 1,372; Kerja 6 hari atau lebih per minggu: Rasio odds 1,120; Tinggal sendiri: Rasio odds 1,049; Pekerja kerah putih: Rasio odds 0,804; Lelah subjektif: Rasio odds 0,744.Siapa yang memulai terapi CPAPRasio odds kasar memulai CPAP di antara 417 pekerja yangberkonsultasi1234560Risiko tinggi OSA5,621Dengkur dan/atau henti napas disaksikan4,276Penyakit penyerta1,859Kantuk siang subjektif1,372Kerja 6 hari atau lebih per minggu1,120Tinggal sendiri1,049Pekerja kerah putih0,804Lelah subjektif0,744Hanya 26 orang memulai CPAP; bermakna: risiko tinggi dan dengkur(Tabel 4)
Sumber: Kazuki Tsumuraya dan rekan, Factors predicting consultation for obstructive sleep apnea among Japanese male workers in the construction and civil engineering sector: a longitudinal study using annual medical check-up data, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Lalu mengapa risiko tinggi tidak berdiri sendiri pada tahap konsultasi? Para penulis menduga hilangnya kemaknaan dalam model yang memperhitungkan banyak faktor sekaligus bisa mencerminkan pengaruh dengkur atau henti napas yang disaksikan serta penyakit penyerta. Skala ABC juga hanya punya kepekaan sedang, 70 persen, dan spesifisitas 66 persen, serta bukan alat diagnosis, sehingga sebagian pekerja bisa salah digolongkan.

“Secara keseluruhan, hasil ini menyiratkan bahwa perilaku berkonsultasi mungkin tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh status risiko semata,” tulis Tsumuraya dan rekan dalam laporan berbahasa Inggris itu, sebagaimana diterjemahkan. Mereka menegaskan bahwa ketiadaan hubungan tersendiri itu tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa risiko OSA, atau keberadaan OSA itu sendiri, tidak berkaitan dengan perilaku berkonsultasi.

Batas Data Klaim dan Satu Tahun Pengamatan

Para penulis mencatat sejumlah keterbatasan. Perempuan tidak diteliti, sehingga faktor yang berkaitan dengan perilaku berkonsultasi pada pekerja perempuan tidak bisa dinilai. Pengamatan hanya berlangsung satu tahun dengan dua titik pemeriksaan, sehingga tidak diketahui berapa lama perubahan kondisi kerja atau kesehatan harus bertahan untuk memengaruhi keputusan berkonsultasi. Analisis CPAP pun hanya memakai model satu faktor karena sedikitnya peserta yang memulai terapi itu.

Indeks apnea-hipopnea tidak diukur langsung, sehingga tidak diketahui berapa banyak yang akhirnya didiagnosis OSA dan seberapa berat penyakitnya. Data klaim terapi alat oral juga tidak tersedia, dan perilaku berkonsultasi diukur dengan indikator gabungan sehingga jenis tes tiap peserta tidak bisa dipilah. Faktor seperti kerja sif, jabatan, status sosial ekonomi, keleluasaan cuti berbayar, dan jarak ke layanan kedokteran tidur tidak terukur, padahal menurut para penulis faktor-faktor itu bisa sangat memengaruhi perilaku mencari pertolongan.

Dalam ringkasannya, para penulis menulis bahwa “perubahan jangka pendek pada gejala atau penyakit penyerta dalam diri seseorang maupun risiko OSA yang tinggi tidak mendorong pencarian pertolongan, yang menegaskan perlunya skrining proaktif dan rujukan yang dipermudah.” Mereka menyarankan strategi yang mendorong diagnosis dini, termasuk memadukan cara deteksi dini ke dalam pemeriksaan kesehatan yang sudah ada dan prakarsa tempat kerja yang mendorong konsultasi tepat waktu.

Bagikan

Baca Juga

Pengapuran Lutut Diidap Lebih dari Separuh Lansia Thailand
Lebih dari Sepertiga Pekerja Pabrik Tepung Goma Kena Darah Tinggi
Ahli Gizi Indonesia: Konsultasi Gizi Online Sulit Mengukur Tubuh
Berat Lahir Bayi Sri Lanka Naik Seiring Indeks Massa Tubuh Ibu
Fasilitas Kesehatan Desa Kenya Wajib Tunggu Izin untuk Beli Obat
Diabetes di Rwanda Lebih Sering Ditemukan di Kota daripada Desa