- Pekerja sif malam tidak teratur menanggung risiko 1,21 kali pekerja siang, atau 21 persen lebih tinggi.
- Orang berpola tidur buruk menanggung risiko 1,28 kali orang berpola tidur sehat.
- Mereka yang menjawab pasti orang malam menanggung risiko rinitis alergi 27 persen lebih tinggi daripada yang menjawab pasti orang pagi.
- Para penulis menyatakan rancangan pengamatan seperti ini tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.
Daftar Isi
- Sif Malam Tidak Teratur, Giliran Kerja yang Sesekali Masuk Malam
- Sif Malam Tetap, Jadwal yang Selalu Malam dan Tidak Berkaitan Jelas
- Pola Tidur Sehat, Nilai Empat atau Lima dari Lima Kebiasaan
- Kronotipe Malam, Sebutan bagi Orang yang Merasa Dirinya Orang Malam
- Partikel HDL Kecil, Perantara yang Menjelaskan 1,59 Persen Kaitan
- Risiko Lebih Tinggi, Kaitan yang Belum Tentu Sebab
Gangguan sirkadian adalah sebutan para peneliti untuk irama harian tubuh yang kacau, misalnya karena orang bekerja pada jam yang biasanya dipakai untuk tidur atau karena tidurnya sendiri buruk. Di tengah masyarakat masa kini, kerja sif malam dan gangguan tidur makin lazim. Sepuluh peneliti dari Guangzhou bertanya apakah kekacauan itu sampai ke hidung, dalam rupa rinitis alergi, yaitu peradangan hidung karena alergi.
Jawabannya mereka tulis dalam artikel Unhealthy sleep patterns and irregular night shift work are associated with increased risk of allergic rhinitis: a large prospective cohort study, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Penulisnya Wen Lyu, Yihui Wen, Lin Chen, Zixuan Huang, Changhui Chen, Jiaqi Liao, Huimin Chen, Wenbin Lei, Rui Xu, dan Hang Li dari Sun Yat-sen University. Bahannya UK Biobank, kumpulan data kesehatan lebih dari 500.000 warga Britania Raya berusia 37 sampai 73 tahun.
Rinitis alergi bukan penyakit langka. Menurut rujukan yang dipakai Lyu dan rekan-rekannya, penyakit ini mengenai sekitar 10 sampai 40 persen penduduk dunia, menurunkan mutu hidup, dan membebani orang, keluarga, serta masyarakat. Pengobatan yang ada, tulis mereka, kerap mahal, hasilnya kurang memuaskan, dan jarang dipatuhi pasien. Karena itu mereka mencari faktor risiko yang bisa diubah, terutama yang menyangkut gaya hidup.
Sif Malam Tidak Teratur, Giliran Kerja yang Sesekali Masuk Malam
Kerja sif, dalam pengertian UK Biobank, ialah jadwal kerja di luar jam kerja siang yang lazim, pukul sembilan pagi sampai lima sore. Sif malam lebih sempit lagi. Maksudnya jadwal yang membuat orang bekerja sepanjang jam tidur yang wajar, misalnya dari tengah malam sampai pukul enam pagi.
Dari dua pertanyaan tentang pekerjaan utama, 256.945 peserta yang bekerja dibagi menjadi empat golongan. Pekerja siang berjumlah 212.541 orang. Sebanyak 21.748 orang bekerja sif tetapi tidak pernah atau jarang masuk malam. Lalu 16.225 orang menjalani sif tidak teratur yang mencakup malam, dan 6.431 orang bekerja sif malam tetap.
Selama masa pemantauan dengan nilai tengah 13,70 tahun, tercatat 1.800 kasus baru rinitis alergi di catatan rawat inap rumah sakit. Pekerja sif malam tidak teratur menanggung risiko 1,21 kali pekerja siang, atau 21 persen lebih tinggi. Angka itu sudah memperhitungkan umur, jenis kelamin, berat badan, rokok, alkohol, pendidikan, serta riwayat asma, alergi, dan eksim.
Setiap angka semacam itu datang bersama rentang kepercayaan, yaitu kisaran tempat nilai sebenarnya diperkirakan berada. Untuk sif malam tidak teratur, rentangnya 1,01 sampai 1,45. Seluruhnya berada di atas angka satu, angka yang berarti sama dengan pekerja siang. Itulah sebabnya para penulis menyebut kaitan ini nyata, walau ujung bawahnya nyaris menyentuh garis.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Sif Malam Tetap, Jadwal yang Selalu Malam dan Tidak Berkaitan Jelas
Bedanya begini. Pada pekerja sif malam tetap, angkanya 0,91 dengan rentang 0,66 sampai 1,25. Pada pekerja sif yang tidak pernah atau jarang masuk malam, angkanya 0,95 dengan rentang 0,80 sampai 1,13. Kedua rentang itu melintasi angka satu, sehingga para penulis menyatakan tidak ada bukti yang jelas tentang kaitan.
Mudah menyangka bahwa makin sering orang bekerja malam, makin besar risikonya. Data ini tidak berkata demikian. “Tidak adanya kaitan dengan sif malam tetap mungkin mencerminkan penyesuaian sirkadian dari waktu ke waktu,” tulis Wen Lyu, peneliti Departemen Otorinolaringologi First Affiliated Hospital, Sun Yat-sen University, bersama sembilan rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Penyesuaian semacam itu, menurut rujukan yang mereka kutip, dalam beberapa keadaan dikaitkan dengan respons peradangan yang lebih rendah. Para penulis tidak mengukurnya sendiri. Mereka menawarkannya sebagai kemungkinan, bukan sebagai temuan.
Para pekerja sif dalam data ini juga berbeda dari pekerja siang dalam hal lain. Lebih banyak di antara mereka yang laki-laki, berat badannya lebih tinggi, pendidikannya lebih rendah, dan lebih banyak yang masih merokok. Pada awal pencatatan, alergi dan eksim justru lebih jarang dijumpai pada mereka.
Pola Tidur Sehat, Nilai Empat atau Lima dari Lima Kebiasaan
Pola tidur dalam naskah ini bukan satu ukuran, melainkan gabungan lima kebiasaan. Kelimanya ialah lama tidur, insomnia, mendengkur, kantuk pada siang hari, dan kronotipe, yaitu kecenderungan seseorang menjadi orang pagi atau orang malam. Tiap kebiasaan yang tergolong sehat diberi nilai satu, yang tidak sehat nilai nol. Jumlahnya berkisar dari nol sampai lima.
Nilai empat ke atas disebut pola tidur sehat, nilai dua sampai tiga pola menengah, dan nilai satu ke bawah pola buruk. Dari 374.672 peserta, 217.983 orang masuk golongan sehat dan 147.635 orang golongan menengah. Golongan buruk jauh lebih kecil, 9.054 orang.
Selama pemantauan dengan nilai tengah 13,64 tahun, muncul 2.673 kasus baru rinitis alergi. Kaitannya bertingkat. Setiap turun satu golongan, dari sehat ke menengah atau dari menengah ke buruk, risikonya naik 16 persen, dengan rentang 1,08 sampai 1,25. Orang berpola tidur buruk menanggung risiko 1,28 kali orang berpola tidur sehat.
Kurva yang digambar para penulis memperlihatkan hal serupa dari waktu ke waktu. Pada golongan tidur buruk, risiko menumpuk lebih tinggi dan lebih cepat dibanding golongan menengah dan sehat. Golongan tidur tidak sehat sejak awal juga berbeda. Berat badannya lebih tinggi, lebih banyak yang merokok, dan lebih banyak yang sudah mengidap asma, alergi, dan eksim.
Baca juga PM2.5 Chiang Mai Telan Biaya Pernapasan Sampai 460 Ribu Dolar
Kronotipe Malam, Sebutan bagi Orang yang Merasa Dirinya Orang Malam
Kronotipe ditanyakan langsung kepada peserta. Mereka yang menjawab pasti orang malam menanggung risiko rinitis alergi 27 persen lebih tinggi daripada yang menjawab pasti orang pagi. Dari lima kebiasaan yang diperiksa, inilah angka terbesar. Rentang kepercayaannya 1,11 sampai 1,46.
Tidur pendek, enam jam atau kurang, berkaitan dengan risiko 12 persen lebih tinggi dibanding tidur tujuh sampai delapan jam. Tidur panjang, sembilan jam atau lebih, menghasilkan angka yang sama, 1,12, tetapi rentangnya 0,97 sampai 1,29 sehingga kaitannya tidak jelas. Hubungan lama tidur dengan risiko, tulis para penulis, tidak berupa garis lurus.
Insomnia memperlihatkan tangga. Peserta yang kadang-kadang sulit tidur menanggung risiko 15 persen lebih tinggi daripada yang tidak pernah atau jarang mengalaminya. Pada yang biasanya sulit tidur, angkanya 23 persen. Mendengkur berkaitan dengan risiko 1,10 kali dibanding tidak mendengkur. Satu kebiasaan tidak ikut: kantuk pada siang hari tidak berkaitan dengan rinitis alergi.
Lalu bagaimana bila sif dan tidur digabung? Di antara 215.869 peserta yang datanya lengkap untuk keduanya, risiko tertinggi ada pada pekerja sif malam tidak teratur yang pola tidurnya tidak sehat, 1,35 kali pekerja siang yang tidurnya sehat. Pekerja siang yang tidurnya tidak sehat mencatat 1,12 kali. Pekerja sif malam tidak teratur yang tidurnya sehat mencatat 1,10, dengan rentang yang melintasi angka satu.
Angka 1,35 itu tidak berarti kedua hal saling memperkuat. Pengujian para penulis tidak menemukan interaksi secara keseluruhan antara sif dan pola tidur. Mereka menduga jumlah peserta di tiap subkelompok terlalu kecil untuk menangkap interaksi yang rumit. Golongan ini tetap mereka nilai perlu mendapat perhatian khusus dalam praktik klinis dan kesehatan kerja.
Satu subkelompok menonjol. Pada peserta dengan indeks massa tubuh 30 atau lebih, ukuran yang oleh para penulis disebut obesitas, pola tidur buruk berkaitan dengan risiko 1,44 kali pola tidur sehat. Penjelasan yang mereka tawarkan: obesitas ditandai peradangan menahun pada jaringan lemak, yang mungkin bekerja bersama gangguan sirkadian dan memperkuat respons alergi.
Partikel HDL Kecil, Perantara yang Menjelaskan 1,59 Persen Kaitan
HDL adalah singkatan dari high-density lipoprotein, lipoprotein berkerapatan tinggi. Para penulis memeriksa apakah zat-zat hasil metabolisme di dalam plasma darah, termasuk lipoprotein, asam lemak, dan asam amino, menjadi perantara antara tidur dan hidung. Data itu tersedia untuk 186.299 peserta.
Sebanyak 22 zat berkaitan dengan pola tidur sekaligus dengan risiko rinitis alergi. Dua puluh di antaranya searah dan diuji lebih jauh, lalu 16 terbukti menjadi perantara. Yang terkuat ialah kadar partikel HDL berukuran kecil. Maksudnya, tidur yang memburuk berjalan seiring naiknya kadar partikel itu, dan kadar yang naik berjalan seiring naiknya risiko.
Terkuat tidak berarti besar. Partikel HDL kecil hanya menjelaskan 1,59 persen dari kaitan pola tidur dengan rinitis alergi, dengan rentang 0,12 sampai 5,28 persen. Para penulis sendiri menyebut sumbangannya sederhana. Mereka menulis bahwa jalur kekebalan dan metabolisme lain juga terlibat.
Mengapa partikel itu disebut? Menurut rujukan dalam naskah, fungsi HDL sangat bergantung pada ukuran dan susunan partikelnya, dan HDL kecil kerap bersifat memicu peradangan ketika metabolisme terganggu. Dugaan para penulis: gangguan tidur mendorong peradangan menahun, mengubah metabolisme HDL, lalu partikel kecil yang menumpuk memperparah peradangan alergi.
Dugaan serupa mereka ajukan untuk kronotipe malam dan tidur pendek. Keduanya mungkin membuat irama tubuh tidak selaras dan tidur terputus-putus, lalu mengganggu pengaturan kekebalan. Kajian percobaan yang mereka rujuk menunjukkan gangguan tidur dapat memicu peradangan ringan di seluruh tubuh. Pada mencit, gangguan sirkadian memperkuat peradangan saluran napas.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Risiko Lebih Tinggi, Kaitan yang Belum Tentu Sebab
Di sinilah istilah risiko perlu dibatasi. Para penulis menyatakan rancangan pengamatan seperti ini tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat. Jadwal sif dan kebiasaan tidur dilaporkan sendiri oleh peserta, dan hanya sekali pada awal, sehingga perubahan sesudahnya tidak terekam. Riwayat kerja seumur hidup dan pekerjaan kedua juga tidak tersedia.
Batas lain menyangkut siapa pesertanya. Tingkat respons UK Biobank hanya sekitar 5 persen, dan sebagian besar pesertanya berkulit putih, 94,7 persen pada analisis sif. Para penulis meminta kehati-hatian sebelum hasil ini diterapkan pada kelompok etnis lain. Faktor pengganggu yang tidak terukur, tulis mereka, masih mungkin tersisa.
Beberapa hal kecil di naskah bisa diperiksa pembaca. Judul bagian hasil memakai kata meningkatkan risiko, padahal bagian keterbatasan menolak kesimpulan sebab-akibat. Daftar singkatan memuat ANOVA, yang tidak dipakai di badan naskah. Pernyataan tidak adanya konflik kepentingan muncul dua kali. Sampel plasma disebut diambil pada pemeriksaan awal antara April 2007 dan Desember 2020, sedangkan perekrutan berlangsung 2006 sampai 2010.
Jadi gangguan sirkadian dalam naskah ini punya batas yang jelas. Ia tercatat pada sif malam yang tidak teratur, bukan pada sif malam tetap, dan pada tidur yang pendek, sulit, atau bergeser ke malam, bukan pada kantuk siang hari. Untuk semua itu, yang ditemukan adalah kaitan dengan rinitis alergi. Jalur sebab-akibatnya, tulis para penulis, masih menunggu kajian tentang mekanismenya.













