Banyak Perempuan Korban Banjir Feni Bangladesh Cemas Sangat Berat

A A

Ilustrasi desa tergenang banjir dan perahu kayu berpenumpang di pedesaan Bangladesh [Foto: Frameofashik/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 42,89 persen perempuan masuk label kecemasan sangat berat menurut batas skor DASS-21.
  • Perempuan yang menilai wilayahnya tidak aman mencatat skor tekanan psikologis 6,49 poin lebih tinggi.
  • Perempuan yang puas dengan kehidupan sosialnya mencatat skor stres 3,17 poin lebih rendah.
  • Rumah tangga yang hartanya rusak justru mencatat skor lebih rendah pada keempat ukuran.
Daftar Isi
  1. Cara Mengukur Beban yang Tak Terlihat
  2. Kecemasan yang Menumpuk di Tingkat Tertinggi
  3. Rasa Tak Aman Sejalan dengan Skor Tinggi
  4. Sekolah dan Kepuasan pada Hubungan Sosial
  5. Harta Rusak, Skor Justru Lebih Rendah
  6. Batas Penjelasan dan Jalan yang Ditawarkan

Dugaan umum biasanya berkata begini: rumah yang hartanya rusak diterjang banjir akan menyimpan beban batin lebih berat. Survei terhadap perempuan korban banjir bandang 2025 di Feni, Bangladesh, justru menemukan pola yang berlawanan, dan para penelitinya sendiri menyebut sebagian temuan itu tidak sesuai dugaan. Perempuan dari rumah tangga yang hartanya rusak, atau penghasilannya terganggu, mencatat skor gejala yang lebih rendah, bukan lebih tinggi.

Pola yang terbalik itu hanya satu bagian dari gambaran yang lebih besar, dan bagian lainnya jauh lebih muram. Sekitar dua bulan setelah banjir, banyak perempuan di dua wilayah yang termasuk paling parah terdampak di Feni Sadar menunjukkan gejala kecemasan dan stres pada tingkat tertinggi alat ukurnya. Untuk memahami keduanya, yang perlu diurai lebih dulu adalah cara para peneliti membaca tekanan batin itu.

Penelitian ini ditulis oleh Md Mostafizur Rahman dari Departemen Manajemen Bencana dan Ketahanan, Bangladesh University of Professionals, Dhaka, dan rekan dari University of Chittagong, University of the Ryukyus di Okinawa, serta Rabdan Academy di Abu Dhabi. Laporan berjudul Exploring depression, anxiety, stress, and psychological distress among women following the 2025 flash flood: a cross-sectional study in Feni, Bangladesh itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 pada 2026.

Cara Mengukur Beban yang Tak Terlihat

Tekanan batin tidak bisa ditimbang seperti beras, sehingga para peneliti memakai dua kuesioner skrining yang sudah divalidasi dalam bahasa Bangla. Yang pertama, DASS-21, berisi 21 butir tentang gejala depresi, kecemasan, dan stres selama sepekan terakhir. Yang kedua, K10, berisi 10 butir tentang tekanan psikologis umum selama empat pekan terakhir. Keduanya menilai keparahan gejala, bukan mendiagnosis penyakit.

Survei tatap muka itu berlangsung pada September 2025, kira-kira dua bulan setelah banjir bandang, di Union Fazilpur dan Union Matabi. Sekitar 430 perempuan berusia 18 tahun ke atas didekati, dan 408 orang ikut serta, dengan usia rata-rata 34,93 tahun. Semuanya mengalami dampak langsung banjir, misalnya rumah tergenang, harta rusak, penghasilan terganggu, atau anggota keluarga mengungsi.

Sebagian besar responden sudah berkeluarga. Sebanyak 86,76 persen sudah menikah, 78,68 persen tidak punya penghasilan sendiri, dan 74,51 persen tinggal bersama sedikitnya satu anggota keluarga rentan, seperti anak, orang lanjut usia, atau orang dengan penyakit kronis. Lebih dari empat dari sepuluh, yakni 41,91 persen, menyatakan paling tidak puas dengan kehidupan sosial dan hubungan mereka.

Banjir 2025 pun bukan pengalaman pertama. Sebanyak 84,56 persen pernah mengalami banjir di wilayah itu sebelumnya. Pada banjir bandang 2025, 66,18 persen rumah tangga mengalami kerusakan harta, 58,82 persen penghasilannya terdampak, 39,46 persen responden jatuh sakit, dan 15,93 persen cedera. Sebanyak 21,57 persen punya anggota rumah tangga yang pindah karena banjir, dan tidak satu pun melaporkan anggota keluarga meninggal.

Kecemasan yang Menumpuk di Tingkat Tertinggi

Label berat dan sangat berat DASS-21Depresi: Berat 17,65, Sangat berat 17,40; Kecemasan: Berat 12,25, Sangat berat 42,89; Stres: Berat 7,84, Sangat berat 40,20.Label berat dan sangat berat DASS-21Persen dari 408 perempuan, label keparahan DASS-21BeratSangat berat0102030405017,6517,40Depresi12,2542,89Kecemasan7,8440,20StresTabel 3. Kategori skrining, bukan diagnosis klinis
Sumber: Md Mostafizur Rahman dan rekan, Exploring depression, anxiety, stress, and psychological distress among women following the 2025 flash flood: a cross-sectional study in Feni, Bangladesh, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Ketika jawaban kuesioner dijumlahkan, kecemasan menonjol paling tajam. Sebanyak 175 perempuan, atau 42,89 persen, masuk label kecemasan sangat berat menurut batas skor DASS-21, kira-kira empat dari setiap sepuluh responden. Hanya 17,16 persen yang kecemasannya tergolong normal. Stres menunjukkan pola serupa, dengan 40,20 persen pada label sangat berat dan 44,12 persen normal.

Untuk depresi, sebanyak 38,00 persen tergolong normal, 13,73 persen ringan, 13,24 persen sedang, 17,65 persen berat, dan 17,40 persen sangat berat. Dalam hitungan orang, 72 perempuan berada pada label berat dan 71 pada label sangat berat. Para peneliti menegaskan, kategori keparahan ini disajikan untuk menggambarkan sebaran gejala di dalam sampel dan tidak mewakili diagnosis klinis.

Baca juga Banjir Tallo Makassar: Ibu Hamil Jatuh, Tirah Baring Dua Bulan

Kuesioner K10 memberi sudut pandang kedua. Menurut kategorinya, 46,83 persen responden kemungkinan dalam keadaan sehat, 8,82 persen kemungkinan mengalami gangguan ringan, 18,37 persen kemungkinan gangguan sedang, dan 25,98 persen kemungkinan gangguan berat. Para peneliti menegaskan, istilah kemungkinan gangguan itu dipakai secara deskriptif dan tidak boleh dibaca sebagai diagnosis klinis. Meski begitu, mereka mencatat lebih dari separuh responden tergolong kemungkinan mengalami tekanan psikologis pada tingkat tertentu.

Persoalannya, tidak ada data kesehatan jiwa sebelum banjir dan tidak ada angka acuan penduduk setempat. Karena itu, angka-angka tadi menggambarkan beban gejala pada satu titik waktu sesudah bencana, bukan tambahan risiko yang semata-mata disebabkan banjir. Para peneliti menduga tingkat gejala yang tinggi itu mencerminkan tekanan pada fase akut sampai subakut.

Rasa Tak Aman Sejalan dengan Skor Tinggi

Untuk mencari faktor yang menyertai tinggi-rendahnya skor, para peneliti memakai regresi linear berganda, terpisah untuk depresi, kecemasan, stres, dan tekanan psikologis. Angka yang dihasilkan disebut koefisien beta, yakni selisih rata-rata skor gejala dibanding satu kelompok rujukan, dengan faktor lain dianggap tetap. Faktor-faktor itu dikelompokkan ke dalam empat ranah: sosiodemografis, kesehatan, sosial, dan banjir. Karena itu, yang dibaca adalah hubungan, bukan sebab.

Rasa tidak aman terhadap banjir mendatang menjadi salah satu faktor yang paling konsisten. Hampir separuh responden, 47,79 persen, menilai wilayah tempat tinggalnya tidak aman. Dibanding perempuan yang menilai wilayahnya cukup aman, skor mereka lebih tinggi 4,35 poin untuk depresi, 3,71 untuk kecemasan, 4,67 untuk stres, dan 6,49 untuk tekanan psikologis. Keempat selisih itu bermakna secara statistik dengan nilai p di bawah 0,001.

Ada pula selisih yang lebih kecil. Perempuan yang menilai wilayahnya aman juga mencatat skor stres dan tekanan psikologis sedikit lebih tinggi daripada kelompok cukup aman, masing-masing 1,97 dan 1,88 poin. Para peneliti menyebut selisih kecil itu mungkin muncul karena ukuran subkelompoknya kecil, hanya 52 orang, atau karena faktor perancu yang tersisa. Kelompok cukup aman, yang menjadi rujukan, berjumlah 161 orang.

Tempat tinggal juga membedakan angka. Perempuan di Union Matabi mencatat skor depresi 2,75 poin, stres 3,07 poin, dan tekanan psikologis 1,61 poin lebih tinggi daripada perempuan di Union Fazilpur. Menurut para peneliti, perbedaan itu mungkin mencerminkan beragamnya keparahan paparan banjir, akses layanan, atau dukungan sosial di kedua wilayah. Sebanyak 271 responden tinggal di Fazilpur dan 137 di Matabi.

Sekolah dan Kepuasan pada Hubungan Sosial

Pendidikan berkaitan dengan depresi. Dibanding perempuan berpendidikan di atas Secondary School Certificate (SSC), skor depresi perempuan tanpa pendidikan formal lebih tinggi 2,43 poin, dan yang berpendidikan di bawah SSC lebih tinggi 2,40 poin. Para peneliti mengaitkannya dengan terbatasnya akses informasi, sumber daya untuk bertahan, dan kesiapsiagaan. Sebanyak 58 responden, atau 14,22 persen, tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Kepuasan pada kehidupan sosial terhubung dengan keempat ukuran sekaligus. Dibanding kelompok paling tidak puas, perempuan yang puas mencatat skor depresi 1,44 poin lebih rendah, kecemasan 1,62, stres 3,17, dan tekanan psikologis 2,36. Pada delapan perempuan yang sangat puas, skor kecemasan bahkan 7,13 poin lebih rendah dan skor stres 4,30 poin lebih rendah.

Hubungan dengan depresi dan tekanan psikologis pada kelompok sangat puas tidak bermakna secara statistik. Para peneliti membaca keterkaitan yang kuat antara kepuasan sosial dan semua ukuran kesehatan jiwa itu sejalan dengan banyak bukti bahwa dukungan sosial meredam tekanan psikologis setelah bencana. Kelompok yang puas berjumlah 229 orang, sedangkan yang sangat puas hanya delapan orang.

Baca juga Cemas Radiasi Warga Fukushima Bertahan Tujuh Tahun Pascabencana

Pengalaman banjir sebelumnya juga berkaitan dengan skor. Perempuan yang pernah mengalami banjir sebelum 2025 mencatat skor kecemasan 1,54 poin dan stres 1,45 poin lebih rendah. Para peneliti menyebut kemungkinan adanya pembiasaan, kesiapsiagaan, atau cara bertahan yang terbentuk di komunitas yang berulang kali dilanda banjir, walau stres jangka panjang yang menumpuk mungkin tetap ada.

Harta Rusak, Skor Justru Lebih Rendah

Faktor yang terkait skor tekanan psikologis K10Penghasilan 30.001-50.000 BDT: Koefisien beta 8,63; Wilayah dirasa tidak aman: Koefisien beta 6,49; Anggota rumah tangga pindah: Koefisien beta 1,75; Rumah semi-pucca: Koefisien beta -2,03; Ada anggota keluarga rentan: Koefisien beta -2,06; Puas dengan kehidupan sosial: Koefisien beta -2,36; Harta benda rusak: Koefisien beta -2,99.Faktor yang terkait skor tekanan psikologisK10Selisih rata-rata skor terhadap kelompok rujukan, Model IV-4-22468100Penghasilan 30.001-50.000 BDT8,63Wilayah dirasa tidak aman6,49Anggota rumah tangga pindah1,75Rumah semi-pucca-2,03Ada anggota keluarga rentan-2,06Puas dengan kehidupan sosial-2,36Harta benda rusak-2,99Rujukan: 10.001-20.000 BDT, cukup aman, kacha, paling tidak puas
Sumber: Md Mostafizur Rahman dan rekan, Exploring depression, anxiety, stress, and psychological distress among women following the 2025 flash flood: a cross-sectional study in Feni, Bangladesh, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kini kembali ke pola terbalik di awal. Perempuan dari rumah tangga yang hartanya rusak mencatat skor lebih rendah pada keempat ukuran: 2,16 poin untuk depresi, 1,16 untuk kecemasan, 2,37 untuk stres, dan 2,99 untuk tekanan psikologis. Rumah tangga yang penghasilannya terdampak banjir juga mencatat skor depresi, stres, dan tekanan psikologis lebih rendah.

Arah penghasilan bulanan rumah tangga pun berlawanan dengan dugaan umum. Dibanding rumah tangga berpenghasilan 10.001 sampai 20.000 taka Bangladesh (BDT), rumah tangga berpenghasilan 30.001 sampai 50.000 BDT mencatat skor tekanan psikologis 8,63 poin lebih tinggi. Kelompok 20.001 sampai 30.000 BDT juga lebih tinggi, 4,06 poin. Pada kelompok 30.001 sampai 50.000 BDT, yang hanya berisi 25 rumah tangga, skor depresi, kecemasan, dan stres juga lebih tinggi.

Para peneliti menawarkan penjelasan, tetapi dengan hati-hati. Skor lebih tinggi pada rumah tangga yang relatif lebih mampu mungkin mencerminkan kerugian harta yang secara mutlak lebih besar, atau kecemasan yang lebih tinggi soal pemulihan. Skor lebih rendah pada rumah tangga yang kehilangan penghasilan atau harta mungkin mencerminkan kemiskinan menahun, sebab nafkah mereka memang sudah tidak stabil sebelum banjir datang.

Mereka sendiri menolak membaca pola itu sebagai perlindungan. “Asosiasi ini sebaiknya dipandang sebagai pemantik hipotesis, bukan efek pelindung,” tulis Md Mostafizur Rahman dan rekan dalam terjemahan bebas. Di sisi lain, anggota rumah tangga yang pindah karena banjir berkaitan dengan skor stres 2,41 poin dan tekanan psikologis 1,75 poin lebih tinggi.

Sejumlah faktor lain juga tercatat dalam model. Kehadiran anggota keluarga rentan berkaitan dengan skor stres 2,37 poin dan tekanan psikologis 2,06 poin lebih rendah. Rumah semi-pucca, yakni bangunan campuran, berkaitan dengan skor tekanan psikologis 2,03 poin lebih rendah dibanding rumah kacha yang bersifat sementara. Sementara itu, cedera akibat banjir tidak berkaitan bermakna dengan skor stres maupun tekanan psikologis.

Baca juga Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang

Batas Penjelasan dan Jalan yang Ditawarkan

Penjelasan itu berhenti pada beberapa batas yang diakui para peneliti. Desain potong lintang pada satu titik waktu tidak bisa menetapkan urutan waktu maupun sebab-akibat. Tanpa data kesehatan jiwa sebelum banjir, tidak dapat dipastikan apakah gejala itu baru muncul karena banjir atau sudah ada lalu diperberat olehnya. Semua jawaban juga berasal dari laporan diri yang rawan bias ingatan.

Pemilihan responden yang disengaja juga membuat hasilnya bersifat khas untuk dua union itu dan tidak mewakili populasi yang lebih luas. Regresi bertahap yang dipakai rawan menghasilkan model yang tidak stabil, dan sebagian temuan yang berlawanan dengan dugaan umum bisa jadi muncul dari perancu yang tersisa. Penelitian ini juga hanya mencakup perempuan.

Meski begitu, para peneliti tetap menyusun saran. Mereka mengusulkan layanan kesehatan jiwa yang mudah dijangkau di perdesaan dan peka trauma, pelatihan tenaga kesehatan setempat untuk mengenali tanda tekanan jiwa, serta program pendidikan kesiapsiagaan bencana. Jaringan dukungan sosial, perbaikan ketahanan rumah, bantuan nafkah, dan sistem peringatan dini banjir juga masuk daftar.

Para peneliti juga meminta kebijakan bencana yang peka gender dan riset jangka panjang yang memakai data awal kesehatan jiwa, pemilihan sampel berbasis peluang, dan pendekatan metode campuran. Menurut Md Mostafizur Rahman dan rekan, temuan ini “memberi sumbangan bagi riset kesehatan jiwa bencana dengan menunjukkan di mana tekanan itu terkumpul, alih-alih menegaskan mengapa ia terjadi.”

Dalam kesimpulannya, para peneliti mencatat skor gejala lebih tinggi pada perempuan berpendidikan lebih rendah, yang tinggal di wilayah lebih parah terdampak, yang kurang puas dengan hubungan sosialnya, dan yang menilai lingkungannya tidak aman dari banjir mendatang. Menurut mereka, pola itu menunjukkan tekanan psikologis berkumpul pada kelompok yang rentan secara struktural dan sosial, bukan bukti efek sebab-akibat langsung. Mereka juga menekankan pentingnya skrining, deteksi dini, dan dukungan kesehatan jiwa di wilayah rawan bencana, terutama bagi perempuan.

Bagikan

Baca Juga

Hampir Separuh Mahasiswa Universitas Ibadan Pernah Berjudi Daring
Hubungan Buruk dengan Pembimbing Seiring Cemas Mahasiswa Tiongkok
Kebiasaan Merokok Perempuan di Emirat Memuncak pada Usia 25-29
Bawahan Sedikit, Kepala Sekolah Swedia Lebih Jarang Bentrok Tugas
Warga Tepi Sungai Etiopia Nyaris Tak Kenal Penyakit Leptospirosis
Lansia Filipina Kurang Sekolah Lebih Sering Merasa Tak Sehat