- Dari 1.450 orang yang menjawab, Fukasawa dan Kawakami menyaring 422 warga yang skor kecemasannya terhadap radiasi masih tergolong tinggi.
- Lebih dari separuh, 51,4 persen, merasakan ketakutan atau kecemasan hebat segera setelah kecelakaan.
- Seorang responden menulis bahwa cemasnya berkurang karena sayur dan beras diperiksa radiasinya sebelum dijual.
- Seorang responden menulis bahwa orang di sekitarnya sudah tidak peduli lagi pada radiasi, sehingga ia pun mulai tidak peduli.
Daftar Isi
Maiko Fukasawa membaca ratusan jawaban tertulis dari warga Prefektur Fukushima yang masih mencemaskan radiasi tujuh tahun setelah kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir pada Maret 2011. Peneliti Health Promotion Center, Fukushima Medical University, itu ingin tahu satu hal sederhana: mengapa rasa cemas itu tidak kunjung pergi, dan menurut siapa lagi kalau bukan menurut warga yang merasakannya sendiri.
Fukasawa menuliskan temuannya bersama Maki Umeda Taniguchi, Tsuyoshi Akiyama, Naoko Horikoshi, Seiji Yasumura, Hirooki Yabe, Yuriko Suzuki, Evelyn J. Bromet, dan Norito Kawakami dalam Subjective reasoning for persistent worry about radiation seven years after the Fukushima nuclear disaster: a qualitative analysis, yang terbit di BMC Public Health, volume 26 nomor artikel 832, tahun 2026.
Rekan-rekan Fukasawa datang dari beberapa lembaga. Umeda Taniguchi bernaung di Institute of Science Tokyo, Horikoshi dan Yasumura di Radiation Medical Science Center for the Fukushima Health Management Survey, Yabe di Fukushima Medical University School of Medicine, Suzuki di National Center of Neurology and Psychiatry, Bromet di Stony Brook University di Amerika Serikat, dan Kawakami di University of Tokyo.
Fukasawa memilah warga yang masih cemas
Bahan yang dibaca Fukasawa berasal dari survei pos kepada warga 49 municipalitas di Prefektur Fukushima, di luar zona terlarang yang ditetapkan pemerintah Jepang, pada November 2017 sampai Januari 2018. Dari 1.450 orang yang menjawab, Fukasawa dan Kawakami menyaring 422 warga yang skor kecemasannya terhadap radiasi masih tergolong tinggi.
Warga itu lalu ditanya apakah cemas mereka soal efek radiasi bagi kesehatan berkurang, tetap, atau bertambah dibanding saat kecelakaan. Menurut catatan Fukasawa, 52 orang menjawab turun, 151 agak turun, 179 tidak berubah, 31 agak naik, dan 9 naik. Ia lalu mengelompokkan mereka menjadi tiga, yakni kelompok turun 203 orang, tetap 179 orang, dan naik 40 orang.
Sebagian besar warga yang disaring Fukasawa menuliskan alasannya di kolom kosong kuesioner. Sebanyak 35 orang atau 87,5 persen dari kelompok naik, 141 orang atau 78,8 persen dari kelompok tetap, dan 163 orang atau 80,3 persen dari kelompok turun mengisi kolom itu. Uraian itulah yang dipilah Fukasawa, Maki Umeda Taniguchi, dan rekan-rekannya menjadi alasan-alasan yang bisa dibandingkan antarkelompok.
Fukasawa juga mencatat latar peserta. Sebanyak 28,9 persen pernah kehilangan rumah atau harta, 20,1 persen kehilangan pekerjaan atau terpaksa libur sementara, dan 20,6 persen pernah mengungsi. Lebih dari separuh, 51,4 persen, merasakan ketakutan atau kecemasan hebat segera setelah kecelakaan. Menurut Fukasawa, kelompok yang cemasnya naik lebih banyak diisi warga berpendidikan tinggi.
Baca juga Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Fukasawa membaca kelompok yang cemasnya naik
Pada kelompok yang cemasnya bertambah, Fukasawa menemukan satu kategori yang tidak muncul di kelompok lain: cemas naik justru karena pengetahuan dan informasi bertambah. Kategori ini mencakup 13,3 persen dari 45 unit uraian kelompok itu. Seorang responden menulis, “Setiap kali saya mendapat berbagai informasi, kecemasan saya malah bertambah.” Kutipan itu di naskah tertulis dalam bahasa Inggris.
Fukasawa dan rekan-rekannya membaca pola itu dengan hati-hati. “Meskipun jumlah orang dalam kelompok cemas naik kecil, sebagian tampaknya mengumpulkan informasi sendiri dan memperbesar kecemasan mereka dengan menyerap informasi yang sejalan dengan kecemasan itu,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Penelitian terdahulu yang mereka rujuk mencatat hal serupa pada orang yang mencari informasi langsung dari situs web, media sosial, teman, atau kerabat.
Kesehatan yang dirasakan saat ini menjadi isi kecemasan terbesar di kelompok itu, yakni 20,0 persen unit uraian. Menurut Fukasawa, sebagian warga mengaitkan masalah kesehatan yang muncul setelah kecelakaan dengan radiasi. Seorang responden menulis tentang kanker paru yang ia derita tahun itu dan masih ia obati, lalu menambahkan bahwa ia kadang berpikir penyakit itu sebagian mungkin akibat efek radiasi.
Warga dalam kelompok itu juga menyebut sifat radiasi itu sendiri. Fukasawa mencatat 8,9 persen uraian menyebut banyak hal tentang radiasi yang belum diketahui, 8,9 persen mencemaskan paparan terus-menerus, dan 4,4 persen menyebut radiasi tak terlihat. Seorang warga menulis bahwa televisi melaporkan dosis radiasi setiap hari, dosis itu tidak berubah selama enam tahun, dan ia bertanya-tanya apakah dirinya baik-baik saja.
Ada pula uraian yang menyangkut anak. Fukasawa mencatat 4,4 persen uraian kelompok naik menyebut bertambahnya kanker tiroid dan 2,2 persen menyebut hasil pemeriksaan tiroid. Seorang responden menulis bahwa hasil pemeriksaan tiroid putrinya yang berusia 20 tahun dalam Fukushima Health Survey menambah kecemasannya. Responden lain menulis ia cemas apakah anak-anaknya kelak akan mengalami diskriminasi saat melanjutkan sekolah atau mencari kerja.
Fukasawa mendengar keadaan yang tidak berubah
Kelompok terbesar, 179 warga yang cemasnya tidak berubah, bercerita lain kepada Fukasawa. Mereka lebih banyak mencemaskan kesehatan masa depan, terutama kesehatan anak dan orang muda, yang mencakup 7,8 persen dari 166 unit uraian. Seorang responden menulis bahwa ia melahirkan setelah kecelakaan nuklir, sehingga ia takut ada efek buruk pada anaknya.
Alasan yang menurut Fukasawa khas bagi kelompok ini adalah keadaan yang tidak berubah sejak bencana, sebanyak 5,4 persen, dan pembangkit nuklir yang masih berdiri, 4,2 persen. Seorang responden menulis singkat bahwa tidak ada yang berubah. Responden lain menulis bahwa perasaannya tidak akan berubah selama pembangkit nuklir masih ada, karena pembangkit nuklir juga ada di luar Fukushima.
Fukasawa juga mencatat keluhan soal alam di sekitar permukiman. Seorang responden menulis bahwa kawasan tempat tinggal sudah didekontaminasi, tetapi gunung dan sungai belum, sehingga warga masih tidak bisa makan rebung, jamur, daging beruang dan babi hutan, serta ikan sungai. Kekhawatiran soal kontaminasi air dan makanan mencakup 3,6 persen uraian kelompok ini.
Informasi juga muncul di kelompok ini, tetapi dalam bentuk lain. Menurut Fukasawa, warga menyebut informasi yang terbatas, 1,2 persen, dan ketidakpercayaan pada informasi, 3,0 persen. Seorang responden menulis bahwa hasil survei selalu dilaporkan tanpa masalah, sehingga ia merasa sesuatu disembunyikan. Responden lain menyebut TEPCO, Tokyo Electric Power Co., Inc., tampak tidak mengungkap semuanya.
Fukasawa dan rekan-rekannya mengaitkan temuan ini dengan kepercayaan pada pemerintah. “Ketidakpercayaan pada pemerintah tampaknya ikut mendorong ketidakpercayaan pada informasi menenangkan yang tersedia untuk publik,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris. Kekecewaan atau ketidakpercayaan pada respons pascabencana muncul di kelompok tetap dan kelompok naik, masing-masing 3,6 persen dan 4,4 persen.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Fukasawa menemukan waktu dan dekontaminasi
Di kelompok yang cemasnya turun, Fukasawa membaca 175 unit uraian dari 152 warga. Banyak dari mereka menyebut waktu: waktu berlalu, cemas memudar, terbiasa, dan ingatan kabur. Seorang responden menulis bahwa orang di sekitarnya sudah tidak peduli lagi pada radiasi, sehingga ia pun mulai tidak peduli. Responden lain menulis singkat bahwa ia makin mati rasa.
Warga kelompok ini juga menyebut langkah pemerintah. Fukasawa mencatat 11 unit uraian tentang pemeriksaan pangan, lima tentang dekontaminasi, dan 10 tentang radiasi yang menurun. Seorang responden menulis bahwa cemasnya berkurang karena sayur dan beras diperiksa radiasinya sebelum dijual. Responden lain menulis bahwa lewat pemantauan terus-menerus, warga kembali bisa makan jamur liar dan ikan.
Berita pun disebut warga kelompok ini, menurut catatan Fukasawa. Sebanyak 10 unit uraian menyebut berita yang makin jarang. Seorang responden menulis bahwa karena berita tentang pembangkit nuklir Fukushima berkurang, ia merasa radiasi juga berkurang. Ada pula yang menyiasati sendiri, dari mengukur radiasi air dan sayur, memilih makanan, sampai berusaha mengalihkan pikiran.
Fukasawa dan rekan-rekannya lalu menyandingkan dua kelompok itu. “Sementara mereka yang cemasnya turun tampak memusatkan perhatian pada kemajuan proses pemulihan setelah kecelakaan pembangkit nuklir, mereka yang cemasnya tidak berubah tampak memusatkan perhatian pada sisi yang mandek dari proses ini dan tidak menyadari bahwa keadaan telah membaik,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris.
Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan
Fukasawa dan Kawakami menimbang arti temuan
Dari seluruh uraian itu, Fukasawa dan rekan-rekannya menarik kesimpulan tentang peran informasi. “Temuan kami menunjukkan bahwa tersedianya pengetahuan dan informasi tentang radiasi serta efek kecelakaan pembangkit nuklir di masyarakat tidak selalu ikut menurunkan kecemasan,” tulis mereka dalam kalimat yang aslinya berbahasa Inggris.
Menurut Fukasawa, pada saat survei berlangsung laporan resmi yang merangkum pengetahuan ilmiah sudah terbit dan menyatakan efek kesehatan yang merugikan akibat kecelakaan tidak teramati dan tidak diperkirakan. Fukasawa, Kawakami, dan rekan-rekannya mengusulkan dukungan jangka panjang yang disesuaikan per orang, misalnya pemantauan lewat survei berkelanjutan dan pelatihan tentang kecemasan radiasi bagi petugas pendamping warga.
Fukasawa dan rekan-rekannya mengakui batas studi ini. Peserta dipilih dengan batas skor yang tidak punya dasar empiris, hanya warga yang masih cemas pada 2017 dan 2018 yang ikut, dan kategori yang muncul belum tentu jenuh. Ruang tulis 4 kali 18 sentimeter pun bisa membatasi uraian, sehingga mereka menyebut wawancara mendalam masih diperlukan.
Fukasawa meninggalkan beberapa selisih
Pembaca yang teliti bisa memeriksa beberapa hal di naskah Fukasawa. Peserta disebut berada di tertil pertama, padahal yang diambil adalah skor tertinggi, 16 ke atas, yakni 423 dari 1.300 warga. Abstrak juga menyebut 152 warga kelompok turun, 74,9 persen, memberi alasan, sementara bagian hasil menyebut 163 orang, 80,3 persen, dengan 11 orang kemudian dikeluarkan.
Nama kategori di naskah Fukasawa juga tidak seragam. Tabel 2 menulis ketidakpercayaan pada informasi, sedangkan Tabel 4 menulis ketidakpercayaan pada informasi yang dipublikasikan. Selain itu, pembahasan menyebut banyak warga kelompok naik mengeluhkan kesehatan saat ini, padahal angkanya 9 dari 45 unit uraian. Di kelompok tetap, jawaban tanpa alasan khusus dan tidak tahu justru mencapai 56 dari 166 unit.
Maiko Fukasawa memulai dengan kolom kosong di kuesioner dan pertanyaan mengapa cemas radiasi bertahan. Jawaban yang ia kumpulkan dari warga Fukushima tidak seragam. Ada yang cemasnya surut bersama waktu dan pemeriksaan pangan, ada yang tertahan oleh pembangkit yang masih berdiri, dan ada yang justru makin cemas setiap kali membaca informasi baru.















