Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

A A

Ilustrasi tangan menghitung struk belanja dengan kalkulator di atas meja kerja. [Foto: Pexels]

Daftar Isi
  1. Tiga Soal Bunga dan Inflasi
  2. Enam Belas Butir Jadi Satu Angka
  3. Dua Puluh Delapan Butir BriefCOPE
  4. Kotak yang Sama, Dua Arah Usia
  5. Kejanggalan Naskah

Kotak jawaban di layar itu cuma dua pilihan, Ya atau Tidak. Pertanyaannya singkat: dalam 12 bulan terakhir, apakah rumah tangga mengalami masalah berulang membayar tagihan? Sebanyak 2.035 orang dewasa di Swedia mengisinya lewat panel web Origo Group, selama empat pekan pada Oktober-November 2024, di tengah bunga dan inflasi yang sedang tinggi di negara itu.

Survei dibuka 2.679 orang, tuntas dikerjakan 2.035 di antaranya, usia 18 sampai 96 tahun, rata-rata 52 tahun. Setiap kotak wajib dicentang sebelum formulir bisa dikirim, sehingga tidak ada jawaban kosong satu pun yang tersisa di data akhir.

Kotak Ya-Tidak yang sama itu dibedah Elsa Willborg, Johanna Larsson, Jonas Berge, Sara Lindström, Anders Håkansson, Richard Ahlström, dan Henrik Levinsson dalam Psychological distress, financial literacy, loneliness, and coping in relation to financial difficulties: a cross-sectional study in Sweden, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 2124, tahun 2026. Tujuh nama itu menandatangani satu naskah yang membedah kotak centang yang sama dari empat sudut sekaligus.

Willborg, Larsson, Ahlström, dan Levinsson bekerja di Department of Psychology, Lund University. Berge dan Håkansson berafiliasi ke Skåne University Hospital, Malmö Addiction Center, sementara Lindström di Department of Psychiatry, Skåne University Hospital.

Tiga Soal Bunga dan Inflasi

Di sela pertanyaan tagihan, responden juga menghadapi tiga soal pilihan ganda tentang bunga majemuk, inflasi, dan diversifikasi risiko, metode ‘Big Three’ yang dirancang Lusardi dan Mitchell. Setiap soal punya opsi “Tidak tahu”, dihitung sebagai tidak melek keuangan.

Hanya 927 orang, 45,6 persen sampel, menjawab ketiganya benar. Soal bunga paling banyak terjawab benar, 87 persen. Soal inflasi 71 persen. Soal diversifikasi risiko paling sering meleset, hanya 59 persen yang benar, dan 112 orang bahkan tidak menjawab benar satu pun dari tiga soal itu.

Angka 46 persen ini lebih rendah dari studi-studi Swedia sebelumnya, yang biasanya mencatat 65 sampai 70 persen penduduk melek keuangan. Peneliti menduga panel web ini kebetulan menjaring lebih banyak orang yang memang sedang kesulitan keuangan.

Kotak Ya-Tidak tagihan sendiri terisi 484 kali Ya untuk 12 bulan lalu, 23,8 persen dari seluruh sampel, dan 1.551 kali Tidak. Untuk pertanyaan kekhawatiran dua bulan mendatang, kotak Ya terisi 416 kali, 20,4 persen, sisanya 1.619 orang menjawab Tidak. Dari 2.035 orang itu, 1.022 tercatat perempuan dan 998 laki-laki.

Enam Belas Butir Jadi Satu Angka

Di layar yang sama, responden juga menjawab GAD-7 untuk kecemasan dan PHQ-9 untuk gejala depresi, masing-masing empat pilihan jawaban dari “tidak pernah sama sekali” sampai “hampir setiap hari” selama 14 hari terakhir. Skor GAD-7 rata-rata 5,54, PHQ-9 rata-rata 6,83.

Kedua skala itu ternyata berkorelasi sangat tinggi, r=0,87, sehingga peneliti menggabungkan keenam belas butirnya lewat analisis faktor menjadi satu skor tunggal, konsistensi internalnya sangat tinggi, Cronbach’s α=0,96. Skor gabungan inilah yang dipakai sebagai penanda distres psikologis di seluruh model.

Kenaikan peluang kesulitan bayar tagihanDistres psikologis: 12 bulan lalu +99%, 2 bulan mendatang +120%; Kesepian: 12 bulan lalu +26%, 2 bulan mendatang +29%; Coping menghindar: 12 bulan lalu +27%, 2 bulan mendatang +34%.Kenaikan peluang kesulitan bayar tagihanKenaikan odds per satu SD skor, model regresi logistik penuh12 bulan lalu2 bulan mendatang20%40%60%80%100%120%0Distres psikologis99%120%Kesepian26%29%Coping menghindar27%34%Dikontrol gender, usia, dan pendapatan; N=2.020.
Sumber: Elsa Willborg, Johanna Larsson, Jonas Berge, Sara Lindström, Anders Håkansson, Richard Ahlström, dan Henrik Levinsson, Psychological distress, financial literacy, loneliness, and coping in relation to financial difficulties: a cross-sectional study in Sweden, BMC Public Health, 26(2124), 2026. Grafik: Cekricek.id

Distres psikologis inilah yang paling erat berkaitan dengan kotak Ya-Tidak tadi. Setiap kenaikan satu standar deviasi pada skor gabungan itu, peluang seseorang melaporkan kesulitan bayar tagihan 12 bulan lalu naik 99 persen, dan peluang mengkhawatirkan dua bulan mendatang naik 120 persen, setelah gender, usia, dan pendapatan dikendalikan.

Kedua model regresi itu sendiri terhitung kuat membedakan siapa yang mencentang Ya dan siapa yang mencentang Tidak. Model 12 bulan lalu punya AUC 0,84 dan Nagelkerke R kuadrat 0,37; model dua bulan mendatang AUC 0,85 dengan R kuadrat serupa, 0,37, dihitung dari 2.020 baris data setelah 15 orang di luar biner gender disisihkan.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Dua puluh butir lain di layar yang sama menyusun UCLA Loneliness Scale, mengukur kesepian dengan pilihan “Never” sampai “Always”. Skor rata-rata 44,42 dari rentang 20 sampai 78, dan skor ini berkorelasi 0,63 dengan skor distres psikologis tadi, dua kuesioner berbeda yang bergerak searah pada orang yang sama.

Setelah masuk model regresi bersama variabel lain, kesepian tetap berdiri sendiri. Tiap kenaikan satu poin skala menaikkan peluang kesulitan bayar tagihan 2 persen, setara 26 persen untuk kenaikan satu standar deviasi penuh pada model 12 bulan lalu, dan 29 persen pada model dua bulan mendatang.

Dua Puluh Delapan Butir BriefCOPE

Kuesioner terakhir, BriefCOPE, menanyakan 28 cara seseorang menghadapi masalah, dibagi tiga kelompok: problem-focused, emotion-focused, dan avoidant atau menghindar. Skor rata-rata coping menghindar 14,77 dari rentang 8 sampai 32, dan kelompok inilah yang konsisten muncul di kedua model regresi.

Tiap kenaikan satu poin skor coping menghindar menaikkan peluang kesulitan bayar tagihan 5 persen untuk 12 bulan lalu dan 6 persen untuk dua bulan mendatang, setara 27 dan 34 persen untuk kenaikan satu standar deviasi. Coping problem-focused dan emotion-focused, sebaliknya, tidak menunjukkan hubungan bermakna sama sekali di kedua model itu.

Peneliti sempat mengulang kedua model itu memakai GAD-7 dan PHQ-9 secara terpisah, bukan skor gabungan, sekadar mengecek apakah hasilnya berubah. Pola yang keluar tetap konsisten dengan model utama pada kedua kotak jawaban, kecemasan maupun gejala depresi sama-sama berkaitan positif dengan kesulitan bayar tagihan.

Dua pertanyaan, satu pola faktorDua pertanyaan, satu pola faktorDua pertanyaan, satu pola faktorOdds ratio (OR) dari model regresi logistik akhir, kedua variabel hasil12 bulan lalu2 bulan mendatang0,630,66Tidak melekkeuangan (OR)1,992,20Distres psikologis(OR/SD)1,021,02Kesepian(OR/poin)1,051,06Coping menghindar(OR/poin)tak bermaknatak bermaknaCopingproblem-focusedOR di atas 1 = peluang kesulitan naik; "tak bermakna" = rentangkepercayaan melewati 1.
Sumber: Elsa Willborg, Johanna Larsson, Jonas Berge, Sara Lindström, Anders Håkansson, Richard Ahlström, dan Henrik Levinsson, Psychological distress, financial literacy, loneliness, and coping in relation to financial difficulties: a cross-sectional study in Sweden, BMC Public Health, 26(2124), 2026. Grafik: Cekricek.id

“Literasi keuangan tampak sebagai salah satu dari beberapa faktor yang berkaitan dengan kesulitan keuangan yang dilaporkan sendiri, tetapi dengan sendirinya bukan penjelasan yang memadai atas kesulitan keuangan itu,” tulis Elsa Willborg dan Henrik Levinsson dalam naskahnya berbahasa Inggris. Kalimat aslinya berbunyi financial literacy appears to be one of several factors associated with self-reported financial difficulties, but in itself an insufficient explanation for financial difficulties, ditulis di bagian pembahasan setelah kedua model regresi selesai dihitung.

Baca juga Harga Rumah Diramal sebagai Rentang, Bukan Satu Angka

Kotak yang Sama, Dua Arah Usia

Model kesulitan bayar 12 bulan lalu dan model kekhawatiran dua bulan mendatang memakai kotak jawaban yang sama persis, tapi variabel usia bergerak berlawanan arah di keduanya. Pada kesulitan 12 bulan lalu, usia yang lebih tua justru menaikkan peluang, meski melengkung di usia sangat lanjut, sehingga peneliti memodelkan usia dua kali, sebagai angka biasa dan sebagai angka kuadrat, untuk menangkap lengkungan itu.

Pada kekhawatiran dua bulan mendatang, arahnya terbalik: makin tua usia responden, makin kecil peluang mereka mengkhawatirkan tagihan yang akan datang, dan kali ini bentuknya cukup lurus sehingga tidak perlu suku kuadrat. Gender juga berbeda peran di dua model itu, bermakna secara statistik pada kesulitan 12 bulan lalu tapi tidak pada kekhawatiran dua bulan mendatang, sementara pendapatan bulanan yang lebih tinggi konsisten menurunkan peluang kesulitan di kedua model.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Kejanggalan Naskah

Bagian metode menyebut skor faktor distres psikologis dihitung dengan metode regresi Thurstone dari analisis faktor eksploratori, tetapi tabel deskriptif utama (Tabel 2) tidak mencantumkan rata-rata atau simpangan baku skor faktor gabungan itu sendiri, hanya menampilkan angka GAD-7 dan PHQ-9 secara terpisah. Pembaca yang ingin mengecek langsung skala skor faktor yang dipakai di kedua model regresi tidak menemukan angka rujukannya di tabel itu.

Peneliti sendiri mengakui desain potong-lintang penelitian ini tidak bisa menyimpulkan arah hubungan. Kuesioner distres psikologis mengacu ke 14 hari terakhir, sementara pertanyaan tagihan mengacu ke 12 bulan lalu dan dua bulan mendatang, kerangka waktu yang tidak sepenuhnya sejajar. Status pernikahan dan diagnosis psikiatris juga tidak dikendalikan sebagai perancu dalam model manapun.

Kotak Ya-Tidak itu sendiri kini tersimpan sebagai 2.035 baris data, dijawab orang yang sama yang juga mencentang skala kecemasan, kesepian, dan cara mereka menghadapi masalah pada layar yang sama, sore atau malam hari, selama empat pekan musim gugur di Swedia. Angka-angka itu tidak lagi berbentuk kotak centang, tapi pola yang berulang: distres psikologis, kesepian, dan cara menghindar berjalan beriringan dengan tagihan yang sulit dibayar, terlepas dari berapa pun pendapatan yang tertulis di baris yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Kunjungan ke Ruang Biru dan Kesehatan Mental Lansia Jepang
Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria