- Balochistan: air dasar 69,9%, sanitasi dasar 66,1%, stunting 49,0%
- Gilgit-Baltistan: air dasar 88,4%, sanitasi dasar 97,9%, stunting 38,0%
- Tanpa fasilitas higiene, peluang berat badan kurang naik 1,66 kali, stunting 1,61 kali
- WASH terkait kuat dengan stunting dan berat badan kurang, tetapi tidak dengan wasting
Daftar Isi
Balochistan dan Gilgit-Baltistan sama-sama provinsi di Pakistan yang jauh dari Islamabad. Anak balita di keduanya tumbuh dengan nasib yang jauh berbeda, satu provinsi nyaris kehabisan air bersih dan jamban layak, satu lagi hampir menuntaskan keduanya.
Perbandingan itu muncul dari data yang dianalisis Fatima Nazir, Tahir Munir, dan Jai Das dalam Household water, sanitation, and hygiene access and its impact on nutritional outcomes in children under five: evidence from Pakistan, terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1871, tahun 2026. Ketiganya berafiliasi ke The Aga Khan University, Karachi.
Balochistan, Akses yang Tertinggal
Di Balochistan, hanya 69,9 persen rumah tangga punya akses air dasar, 66,1 persen punya sanitasi dasar, dan 41,3 persen punya fasilitas higiene dasar. Lebih dari separuh rumah tangga di provinsi ini, 50,6 persen, hanya punya fasilitas higiene terbatas, dan 12,8 persen sama sekali tidak punya layanan sanitasi. Dari 492 anak balita yang disurvei di sana, 49,0 persen mengalami stunting, 39,8 persen berat badan kurang, dan 21,5 persen wasting.
Angka-angka itu bukan yang terendah di seluruh Pakistan, tetapi ia menonjol karena tiga bentuk kekurangan gizi sekaligus tinggi di satu provinsi yang sama. Peneliti menyebut Balochistan, bersama FATA dan Sindh, sebagai wilayah dengan cakupan higiene dan sanitasi rumah tangga yang rendah, sejalan dengan prevalensi undernutrisi yang lebih tinggi.
Gilgit-Baltistan, Akses yang Nyaris Penuh
Gilgit-Baltistan berada di ujung yang lain. Sebanyak 88,4 persen rumah tangga di sana punya air dasar, dan sanitasi dasarnya nyaris universal, 97,9 persen, tertinggi di antara semua provinsi yang disurvei. Higiene dasarnya 61,6 persen, juga lebih tinggi dari Balochistan.
Dari 292 anak balita yang disurvei di Gilgit-Baltistan, 38,0 persen stunting, 11,6 persen berat badan kurang, dan hanya 1,0 persen wasting. Selisih wasting antara dua provinsi ini paling tajam, 21,5 persen berbanding 1,0 persen. Peneliti mencatat Gilgit-Baltistan, bersama Islamabad Capital Territory, sebagai provinsi yang memperlihatkan kombinasi layanan yang lebih baik dan hasil gizi yang lebih baik pula.
Kesamaan yang Tak Terelakkan
Di luar perbedaan akses, kedua provinsi ini diukur dengan cara yang sama. Data keduanya berasal dari Pakistan Demographic and Health Survey 2017-2018, satu survei nasional yang sama, dengan definisi WASH yang sama dari skala WHO/UNICEF Joint Monitoring Programme dan definisi gizi yang sama dari standar pertumbuhan WHO.
Stunting, wasting, dan underweight di Balochistan maupun Gilgit-Baltistan dihitung dari skor-z tinggi badan, berat badan terhadap tinggi, dan berat badan terhadap usia yang identik rumusnya. Faktor lain di luar WASH juga berlaku sama di kedua provinsi itu, dan di seluruh Pakistan.
Pendidikan ibu yang rendah menaikkan peluang anak berat badan kurang hingga 1,95 kali dan stunting hingga 2,10 kali. Kemiskinan rumah tangga kuintil terendah menaikkan peluang berat badan kurang 2,10 kali, stunting 1,87 kali, dan wasting 2,93 kali. Riwayat diare dua minggu terakhir menaikkan peluang berat badan kurang 1,30 kali. Ketiganya tidak spesifik provinsi mana pun.
Angka yang Membelah Keduanya
Yang membelah Balochistan dan Gilgit-Baltistan adalah akses WASH itu sendiri, dan hasilnya sejalan dengan model regresi logistik yang disesuaikan untuk seluruh 4.371 anak dalam penelitian ini. Rumah tangga tanpa layanan air punya peluang berat badan kurang 1,52 kali dan stunting 1,49 kali dibanding yang punya layanan dasar. Tanpa sanitasi dasar, peluang berat badan kurang naik 1,38 kali. Sanitasi belum layak menaikkan peluang stunting 1,30 kali.
Rumah tangga tanpa fasilitas higiene punya peluang berat badan kurang 1,66 kali dan stunting 1,61 kali, sedangkan higiene yang belum layak menaikkan peluang berat badan kurang 1,53 kali. Semua angka ini bertahan setelah usia anak, pendidikan ibu, dan kekayaan rumah tangga diperhitungkan, artinya akses WASH punya efek sendiri, di luar kemiskinan.
Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak
Stunting Menurut, Wasting Menolak
Persoalan berikutnya adalah dua bentuk kekurangan gizi tidak merespons WASH dengan cara yang sama. Stunting dan berat badan kurang, dua ukuran kekurangan gizi kronis yang terbentuk dalam waktu lama, konsisten naik ketika akses air, sanitasi, atau higiene memburuk.
Wasting, ukuran kekurangan gizi akut yang bisa muncul dalam hitungan minggu, tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan indikator WASH mana pun dalam model yang disesuaikan. Padahal secara deskriptif, wasting di Balochistan 21,5 persen dan di Gilgit-Baltistan hanya 1,0 persen, selisih paling lebar di antara tiga bentuk gizi kurang. Peneliti menjelaskan wasting biasanya dipicu guncangan jangka pendek, seperti kerawanan pangan musiman atau penyakit mendadak, bukan kekurangan WASH yang berlangsung lama seperti stunting dan berat badan kurang.
Fatima Nazir, Tahir Munir, dan Jai Das menuliskan kesimpulan itu secara eksplisit dalam naskah mereka. “Temuan ini menegaskan pengaruh yang berbeda dari akses rumah tangga terhadap layanan WASH pada bentuk kekurangan gizi kronis dibanding akut, menunjukkan bahwa meski WASH yang buruk terkait kuat dengan berat badan kurang dan stunting, pengaruhnya pada wasting kurang meyakinkan dalam model yang disesuaikan,” tulis mereka dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris, berbunyi these findings underscore the differential influence of household-level access to WASH services on chronic versus acute forms of undernutrition.
Faktor Lain yang Menyamai Keduanya
Di luar WASH, dua faktor lain berlaku merata pada anak-anak di Balochistan, Gilgit-Baltistan, dan provinsi lainnya, tanpa membedakan seberapa baik akses air dan sanitasi rumah tangga mereka. Bayi di bawah satu tahun punya peluang stunting 0,43 kali dan berat badan kurang 0,58 kali dibanding anak usia prasekolah, karena keduanya butuh waktu untuk terbentuk.
Sebaliknya, bayi punya peluang wasting 2,55 kali lebih tinggi, sejalan dengan sifat wasting yang akut dan cepat muncul. Ibu berusia muda, 15 sampai 24 tahun, punya anak dengan peluang berat badan kurang 1,50 kali dibanding ibu yang lebih tua, dan kelahiran kembar atau multipel menaikkan peluang itu 1,70 kali, dua faktor yang juga tidak terkait provinsi mana pun.
Rumah tangga berkepala perempuan justru punya peluang anak berat badan kurang 0,70 kali dibanding rumah tangga berkepala laki-laki. Peneliti mengaitkan pola ini dengan temuan serupa di Kenya, tempat rumah tangga berpenghasilan rendah berkepala perempuan memakai sumber daya lebih terarah pada anak. Namun mereka mencatat pola itu tidak konsisten lintas negara, karena di Ghana keuntungan serupa hanya tampak pada rumah tangga yang lebih kaya.
Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia
Penelitian ini bersifat potong lintang, sehingga hubungan antara akses WASH dan gizi anak tidak bisa dibaca sebagai sebab-akibat. Peneliti sendiri mengakui data ini tidak mencatat perilaku rumah tangga yang lebih rinci, seperti frekuensi cuci tangan, cara penyimpanan air, atau cara pembuangan tinja anak, semua yang bisa memengaruhi hasil gizi di luar kategori Basic, Limited, Unimproved, dan No Service yang mereka pakai.
Ada satu kejanggalan yang bisa diperiksa pembaca sendiri di bagian pembahasan. Rumah tangga berkepala perempuan dilaporkan berasosiasi dengan peluang berat badan kurang yang lebih rendah, sesuatu yang oleh penulisnya sendiri disebut berlawanan dengan anggapan umum bahwa rumah tangga semacam itu lebih rentan. Namun penjelasan yang mereka pakai, kasus Kenya dan Ghana, berasal dari studi tahun 1994 yang tidak membahas Pakistan maupun konteks WASH sama sekali, sehingga kaitan keduanya lebih bersifat analogi daripada bukti langsung.
Baca juga Seperenam Ruang Kuliah di Batam Diramal Kosong Terus
Yang tersisa dari perbandingan Balochistan dan Gilgit-Baltistan adalah dua potret rumah tangga yang diukur dengan alat yang sama, pada tahun yang sama, tetapi berdiri pada dua ujung akses WASH yang berbeda. Provinsi dengan air, sanitasi, dan higiene yang lebih lengkap mencatat gizi kurang yang lebih rendah pada dua dari tiga ukurannya, sementara wasting tetap menjadi soal yang tidak sepenuhnya terjawab oleh air dan sanitasi rumah tangga. Peneliti menutup naskahnya dengan menyarankan intervensi WASH yang dipadukan dengan program gizi dan pendidikan, ditargetkan pada provinsi yang akses layanan dasarnya masih paling tertinggal.















