Limah Menanam Padi, Rumah Betang Ensaid Panjang Bertahan

A A

Lumbung kecil di tengah kebun agroforestri suku Dayak di Ketapang, Kalimantan Barat. [Foto: Wibowo Djatmiko/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Daftar Isi
  1. Limah Mengolah Sawah Baru
  2. Berburu Setiap Hari
  3. Empat Pasa di Depan Betang
  4. Warisan Pak Heri
  5. Keterbatasan Kajian
  6. Kejanggalan Naskah

Limah dipercaya mengolah lahan sawah milik bersama sejak pandemi Covid-19 melanda Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Ia memilih padi sebagai tanaman utama, karena menurutnya padi adalah sumber kehidupan bagi rumah betang tempat ia dan tetangganya tinggal turun-temurun.

Kerja Limah dan tetangganya di rumah betang Ensaid Panjang ditulis Albertus, mahasiswa Program Magister Ilmu Sosial Universitas Tanjungpura, dalam artikel Ketahanan Pangan Masyarakat dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Masyarakat Adat Dayak Desa Di Rumah Betang Ensaid Panjang Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang), dimuat JPASDEV volume 3 nomor 2, tahun 2022. Naskah itu menempatkan Limah dan tetangganya sebagai subjek utama, bukan sekadar responden yang dihitung angkanya.

Limah Mengolah Sawah Baru

Warga rumah betang Ensaid Panjang adalah bagian dari suku Dayak De’sa, salah satu dari ratusan sub-suku Dayak besar di Kalimantan Barat, di samping Iban, Kanayatn, dan Apokayan. Mereka tinggal di rumah panjang bernama rumah Betang, sepanjang 116 meter dengan 18 pintu, tempat warga biasa menenun dan menganyam kain, tikar rotan, dan bubu.

Sebelum pandemi, warga rumah betang Ensaid Panjang tidak membuka lahan sawah karena kebutuhan pangan sudah mudah dipenuhi dengan uang tunai. Situasi berubah ketika Covid-19 muncul; Limah dan tetangganya bersama-sama membuka lahan yang sebelumnya tak terpikirkan untuk digarap, memanfaatkan tanah luas di sekitar rumah betang yang juga dialiri sungai.

“Saya limah dipercaya untuk mengolah lahan sawah selama pandemi. Adapun tanaman yang saya prioritaskan adalah padi, karena padi merupakan sumber kehidupan sehingga selama pandemi kami lebih banyak menghasilkan padi dari biasanya,” kata Limah, dikutip dalam wawancara penelitian Albertus.

Limah menambahkan, ia dan warga lain sepakat tidak membeli makanan dari luar desa selama pandemi berlangsung, demi mencegah penularan Covid-19 masuk lewat orang yang keluar-masuk kampung. Sawah yang mereka garap bisa dipanen dua kali setahun, lebih sering dari ladang kering biasa, dan drainasenya lebih mudah dibuat karena tanahnya dekat aliran sungai.

Ketua adat, pak Bintang, menjelaskan keputusan membuka sawah itu muncul dari kebersamaan warga menghadapi ancaman krisis pangan. “Kita memang tidak terpikir untuk membuka lahan sawah sebelum pandemi ini muncul. Karena kita masih menjunjung tinggi aktivitas berladang tetapi dengan situasi pandemic kemarin kita semua tergerak Bersama-sama untuk membuka lahan sawah sebagai penambah pangan,” ujarnya.

Berburu Setiap Hari

Selain membuka sawah, warga rumah betang Ensaid Panjang menambah luas lahan ladang dan kebun seluas 2,3 hektare selama pandemi. Setiap keluarga dilibatkan mengolah lahan hutan dan pertanian, dari pembibitan sampai panen, untuk memperbanyak hasil pangan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sistem tebas-tebang-bakar dipakai warga untuk mengurangi kadar asam tanah sekaligus menambah kesuburannya, karena dianggap paling cocok untuk tanah Kalimantan.

Berburu juga dijalankan setiap hari selama pandemi, sesuatu yang sudah dilakukan warga sejak ratusan tahun silam namun diintensifkan saat wabah datang demi ketercukupan pangan lokal di rumah betang. Pak Bintang, yang juga berladang turun-temurun, mengaku tidak khawatir kekurangan pangan karena pengetahuan berladang itu sudah diwariskan leluhurnya sejak lama, dan kepala adat menghimbau warga hemat serta tidak konsumtif selama pandemi.

“Berladang ini merupakan sumber kehidupan bagi kami sejak ratusan tahun silam. Muncul pandemi ini tidak membuat kami khawatir untuk kekurangan pangan karena kami memiliki pengetahuan untuk berladang sehingga pangan masyarakat kami ini terjaga. Puji tuhan selama 2 tahun kami tidak bergantungan pangan terutama beras kepada pihak luar,” kata pak Bintang.

Lumbung Padi Ensaid Panjang, Dulu dan Saat PandemiLumbung Padi Ensaid Panjang, Dulu dan Saat PandemiLumbung Padi Ensaid Panjang, Dulu dan SaatPandemiJurokng disederhanakan jadi PasaDuluSaat Pandemi1 unit4 unitJumlah lumbung200x500 cm200x200 cmUkuran perlumbung2 m1 mTinggi dari tanahPerubahan ukuran dan jumlah lumbung terjadi saat pandemi Covid-19,menurut koordinator rumah lumbung.
Sumber: Albertus, Ketahanan Pangan Masyarakat dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Masyarakat Adat Dayak Desa Di Rumah Betang Ensaid Panjang Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang), JPASDEV, 3(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Pak Herman, seorang peladang senior di kampung itu, mengenang kebiasaan sebelum pandemi berbeda jauh. Warga waktu itu lebih banyak menoreh karet, lalu hasil noreh dibelikan beras untuk makan sehari-hari, bukan menanam padi sendiri, sehingga ketergantungan pada pihak luar desa jauh lebih besar dibanding sekarang.

“Sebelum adanya kemunculan virus ini masyarakat lebih dominan untuk menorah dan hasil noreh nya itu mereka belikan beras untuk konsumsi. Pandemi ini banyak mengajarkan kami betapa penting nya saling bahu membahu menghadapi wabah ini sehingga kami menemukan beberapa cara untuk mengatasi dan saya rindu terhadap suasana kebersamaan itu,” kata pak Herman.

Pak Bintang menambahkan, perkebunan karet warga juga berubah pengelolaannya selama pandemi. Sebelum wabah, hasil karet dinikmati sendiri oleh tiap pemilik lahan sehingga menimbulkan kesenjangan ekonomi; saat pandemi, warga sepakat mengolahnya bersama agar hasilnya terbagi rata dan tidak memicu masalah sosial di rumah betang.

Bagi pak Bintang dan warga lain, berladang bukan sekadar cara mencari makan. Naskah mencatat aktivitas itu juga menjaga ikatan spiritual petani dengan tanah dan leluhurnya, karena “jiwa-jiwa” padi diyakini ditimang, dihormati, dan didoakan kepada Sang Pencipta agar tumbuh subur dan menghasilkan, sebuah keyakinan yang menurut naskah tetap dipegang warga meski pandemi memaksa mereka mengubah cara bertani.

Baca juga Petani Sedulur Sikep di Pati Mulai Memakai Pupuk Kimia

Empat Pasa di Depan Betang

Warga rumah betang Ensaid Panjang menyimpan hasil panen di rumah lumbung, yang sejak dulu disebut Jurokng. Pak Jackson, dipercaya sebagai koordinator rumah lumbung selama pandemi, menceritakan bentuk lumbung berubah drastis dibanding sebelumnya, setelah lima tahun sebelum pandemi lumbung lama nyaris tak terpakai dan sempat rapuh karena stok pangan lebih banyak disimpan di area rumah betang sendiri, bukan di lumbung.

“Dulu kita hanya memilki satu rumah lumbung yang menyerupai kapal dan tinggi 2 meter dari permukaan tanah serta berukuran 200x500 cm lebih besar dari yang sekarang kami punya. Dulu rumah lumbung sebutannya itu jurokng dan diletakan dekat kami berladang tetapi seiring perkembangan kami menyederhanakan,” tutur pak Jackson.

Lumbung yang disederhanakan itu kini disebut Pasa, dibangun berjumlah empat di sekitar rumah betang. Ukurannya 200x200 cm dengan tinggi 100 cm dari permukaan tanah, sengaja diletakkan di depan rumah betang agar mudah dijangkau warga saat mengambil atau menyimpan pangan, berbeda dari lumbung lama yang dulu ditaruh dekat area ladang.

“Passa ini berukuran 200x200 cm dan tinggi dari permukaan tanah itu 100 cm. pass aini kami buat pada saat pandemi berlangsung untuk mempertahanakan dan ketercukupan pangan kami dirumah betang ini,” kata pak Jackson, menambahkan lumbung itu jadi faktor penting ketahanan pangan desa menghadapi pandemi.

Selama pandemi, isi lumbung yang dijaga pak Jackson bukan cuma padi dan gabah, tapi juga sayuran, maram, sahang, sawi kampung, burung tangkapan hidup, dan hasil buruan yang diasin lalu digantung di dalamnya. Setiap kali panen, petani diwajibkan menyerahkan sebagian hasilnya untuk disimpan bersama di lumbung, sebuah aturan yang disepakati seluruh anggota agar stok tidak habis saat musim paceklik tiba.

Isi Lumbung Warga Desa Ensaid PanjangPadi: per panen +1.800 kg; Gabah: per panen +800 kg; Sahang: per panen +180 kg; Maram: per panen +80 kg.Isi Lumbung Warga Desa Ensaid PanjangIsi rumah lumbung, Tabel 2 (kg)500 kg1.000 kg1.500 kg0Padi+1.800 kgGabah+800 kgSahang+180 kgMaram+80 kgHasil buruan tidak disertakan karena naskah menyebutnya kondisional,tanpa angka tetap.
Sumber: Albertus, Ketahanan Pangan Masyarakat dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Masyarakat Adat Dayak Desa Di Rumah Betang Ensaid Panjang Desa Ensaid Panjang Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang), JPASDEV, 3(2), 2022. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Petani Porang Ngrayun Menanam Tanpa Menyebut Etika

Warisan Pak Heri

Pak Heri, kepala Desa Ensaid Panjang, menilai sistem lumbung dan ladang yang dijaga warga bukan sesuatu yang baru dibuat karena pandemi, melainkan warisan lama yang kembali diaktifkan. Satu lumbung bisa menampung 2 ton padi, dan seluruh sistem itu, menurutnya, sudah cukup untuk ketahanan pangan 33 kepala keluarga dalam satu kali panen per tahun.

“sebelum pemerintah mengenal istilah ketahanan pangan, sistem ini sudah terbangun di masyarakat adat. masyarakat adat atau hukum adat di berbagai wilayah khususnya di Ensaid Panjang, kabupaten Sintang, provinsi Kalimantan Barat ini sudah berladang sejak ratusan tahun yang lalu,” kata pak Heri.

Pak Heri menambahkan, warga memiliki pengetahuan menyimpan pangan agar tahan lama tanpa bahan pengawet kimia, cukup dengan menjemur padi di bawah sinar matahari pagi sampai sore untuk menghilangkan kotoran dan jamur. Cara itulah yang membuat padi di lumbung bisa bertahan puluhan tahun, dengan satu lumbung dibangun setinggi satu meter dari tanah agar terhindar dari serangan hama seperti tikus.

Baca juga Separuh Petani Kopi Pargarutan Berpendapatan Sejuta

Keterbatasan Kajian

Penelitian Albertus merupakan studi kasus satu komunitas adat, yaitu Dayak De’sa di rumah betang Ensaid Panjang, sehingga temuan soal strategi ketahanan pangan ini tidak bisa digeneralisasi untuk masyarakat adat Dayak secara umum, apalagi Indonesia. Kampung lain di Kalimantan Barat bisa saja punya cara berbeda menghadapi ancaman pangan yang sama.

Data digali dari sembilan responden yang dipilih lewat purposive sampling, jumlah yang terbatas dan bergantung pada penilaian peneliti dalam menentukan siapa yang dianggap paling memahami ketahanan pangan di kampung tersebut. Nama-nama seperti Limah, pak Bintang, pak Jackson, dan pak Heri mewakili sebagian kecil dari sembilan responden itu.

Kejanggalan Naskah

Naskah mengutip pak Bintang dua kali sebagai ketua adat, soal makna berladang dan soal keputusan membuka sawah bersama. Belakangan, naskah juga mengutip bapak Herman Bintang, disebut pula sebagai ketua adat Ensaid Panjang, untuk cerita berbeda soal kegiatan warga selama pandemi di rumah betang, termasuk menenun, mematung, dan melantunkan bekana pada malam hari.

Di bagian lain, ada pula pak Herman yang diperkenalkan terpisah sebagai peladang senior, dengan kutipan soal menoreh karet dan kerinduan pada suasana kebersamaan. Naskah tidak menjelaskan apakah pak Bintang, bapak Herman Bintang, dan pak Herman merujuk pada satu orang yang sama atau tiga orang berbeda, sementara peran yang dilekatkan padanya tidak sama.

Limah, yang membuka cerita ini dengan keputusannya mengolah sawah demi padi warga rumah betang, mewakili apa yang oleh Albertus dicatat sebagai pola berulang di Ensaid Panjang: pengetahuan lama tentang pangan yang tidak diciptakan saat pandemi datang, hanya dihidupkan kembali oleh orang-orang yang masih mengingatnya. Sawah yang ia rawat, seperti lumbung yang dijaga pak Jackson, tetap berdiri di rumah betang itu setelah pandemi mereda.

Bagikan

Baca Juga

Tanah Ulayat Kayu Tanam Bergeser Jadi Milik Pribadi
Jenazah di Bawah Taru Menyan Menjaga Identitas Trunyan
Kelambut, Perahu Kayu yang Bersuara bagi Suku Sentani
Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Di Baduy, Bersekolah Haram tapi Toleransi ke Luar Wajib
Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili