Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

A A

Petugas medis memeriksa kadar gula darah pasien dengan lancet [Foto: Pexels]

  • Studi pada 447 penyandang diabetes tipe 2 di Sakon Nakhon, Thailand, Juni 2025
  • Usia lebih tua berkaitan dengan perilaku preventif mata lebih rendah, perempuan lebih tinggi
  • Lama diabetes, pengetahuan, dan efikasi diri berkaitan dengan perilaku preventif ginjal
  • Pengetahuan diabetes menurunkan gejala neuropati, sementara komorbiditas dan distres menaikkannya
Daftar Isi
  1. Perempuan Berusia 61 Tahun Mendominasi
  2. Usia Menghalangi, Gender Membedakan
  3. Pankaew Tantirattanakulchai Menyoroti Ginjal
  4. Komorbiditas dan Distres Menaikkan Gejala
  5. Batas yang Diakui Peneliti
  6. Kader Kesehatan Desa Disebut Sebagai Jalan Keluar

Nitikorn Phoosuwan dan enam koleganya mendatangi tiga distrik di Provinsi Sakon Nakhon, Thailand timur laut, sepanjang Juni 2025. Mereka membawa kuesioner untuk 447 penyandang diabetes tipe 2 yang tinggal di sana, ingin tahu siapa yang rajin memeriksakan diri dan siapa yang mulai merasakan kesemutan di kaki.

Penelitian ini ditulis Nanda Win, Natthida Phoosuwan, Junjira Phasom, Pakorn Pusuwan, Sandeep Poddar, Pankaew Tantirattanakulchai, dan Nitikorn Phoosuwan, berjudul Factors Associated with Preventive Behaviors for Microvascular Complications and Self-Reported Neuropathy Symptoms among Community-Dwelling Individuals with Type 2 Diabetes in Thailand, dimuat di BMC Public Health, 2026. Nitikorn Phoosuwan sebagai penulis koresponden berafiliasi dengan Thammasat University di Thailand dan Uppsala University di Swedia.

Nitikorn Phoosuwan dan tim memilih Sakon Nakhon bukan tanpa alasan. Provinsi di timur laut Thailand ini tercatat sebagai salah satu dari sepuluh provinsi termiskin di negara itu, dengan sekitar 80.405 penduduknya terdaftar sebagai penyandang diabetes tipe 2. Warga di sana bergantung pada Puskesmas Kecamatan untuk kunjungan medis rutin, sementara pemeriksaan mata atau ginjal yang lebih rinci mengharuskan mereka menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit provinsi.

Junjira Phasom, yang bertugas di Sakon Nakhon Hospital, bersama Natthida Phoosuwan meminta izin ke direktur tiga Puskesmas Kecamatan sebelum mendatangi daftar pasien diabetes di klinik masing-masing. Dari daftar itu, peserta dipilih dengan cara lotre bertingkat: distrik dulu, lalu Puskesmas, baru nama pasien. Total 447 orang terpilih, hasil perhitungan sampel dari rumus Wayne dengan margin eror 0,05, yang kemudian ditambah 20% untuk mengantisipasi data yang hilang.

Potret Peserta Diabetes di Sakon NakhonPotret Peserta Diabetes di Sakon NakhonPotret Peserta Diabetes di Sakon NakhonStudi lintas-seksi di Provinsi Sakon Nakhon, Thailand, Juni 202561tahunusia rata-rata,kisaran 20-8877,2%perempuan345 dari 447peserta11,8tahunrata-rata lamamenyandang71,8%punyakomorbiditas321 pesertaJalan risetnyaSampel bertingkat di 3distrikKuesioner baku 20 menitRegresi linier berganda
Sumber: Nanda Win, Natthida Phoosuwan, Junjira Phasom, Pakorn Pusuwan, Sandeep Poddar, Pankaew Tantirattanakulchai, dan Nitikorn Phoosuwan, Factors Associated with Preventive Behaviors for Microvascular Complications and Self-Reported Neuropathy Symptoms among Community-Dwelling Individuals with Type 2 Diabetes in Thailand, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Perempuan Berusia 61 Tahun Mendominasi

Sebagian besar peserta yang ditemui tim Nitikorn Phoosuwan adalah perempuan, 345 orang atau 77,2% dari total, dengan usia rata-rata 61,07 tahun. Sebanyak 73,2% peserta berstatus menikah, dan 81,2% hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar atau lebih rendah. Rata-rata mereka sudah hidup dengan diabetes selama 11,80 tahun, dengan rentang terpanjang mencapai 58 tahun.

Pakorn Pusuwan, yang menangani bagian pengetahuan diabetes dalam kuesioner, mencatat skor pengetahuan rata-rata peserta hanya 6,47 dari skala penilaian yang dipakai. Sebanyak 71,8% peserta juga mengaku punya penyakit penyerta lain selain diabetes. Angka-angka ini, menurut Nitikorn Phoosuwan dan rekan, menggambarkan populasi yang secara literasi kesehatan masih tertinggal dibanding standar layanan diabetes modern.

Data lain yang dikumpulkan Nanda Win dan tim menunjukkan gambaran yang lebih lengkap. Sebanyak 89,9% peserta masih berstatus bekerja meski rata-rata sudah berusia 61 tahun, sementara 93,7% bukan perokok dan 77,2% bukan peminum alkohol. Skor efikasi diri peserta rata-rata 55,28, dan skor distres diabetes rata-rata 26,73, keduanya diukur memakai kuesioner baku yang sudah diterjemahkan ke bahasa Thailand dan diuji keandalannya sebelum dipakai di lapangan.

Baca juga Ketika Kepercayaan pada Dokter Dalam Negeri Retak

Usia Menghalangi, Gender Membedakan

Sandeep Poddar, yang membantu analisis statistik dari Lincoln University College di Malaysia, menemukan pola yang konsisten pada perilaku preventif mata. Usia yang lebih tua berhubungan dengan skor perilaku preventif mata yang lebih rendah, sementara perempuan justru menunjukkan skor lebih tinggi dibanding laki-laki. Kedua hubungan itu tetap bertahan setelah dikontrol lewat regresi berganda.

“This finding suggests that prolonged exposure to the disease may enhance patients’ experience, awareness, and interaction with healthcare services, thereby contributing to better self-care behaviors, including regular screening and monitoring for kidney complications”, tulis Nanda Win, Nitikorn Phoosuwan, dan rekan-rekan dalam bahasa Inggris pada bagian pembahasan naskah. Kalimatnya berarti: paparan diabetes yang berkepanjangan mungkin memperkaya pengalaman, kesadaran, dan interaksi pasien dengan layanan kesehatan, sehingga ikut mendorong perilaku swarawat yang lebih baik, termasuk pemantauan rutin untuk komplikasi ginjal.

Pankaew Tantirattanakulchai Menyoroti Ginjal

Untuk perilaku preventif ginjal, Pankaew Tantirattanakulchai dari Mahidol University ikut menganalisis tiga faktor yang muncul konsisten: lama menyandang diabetes, skor pengetahuan diabetes, dan skor efikasi diri. Ketiganya berhubungan positif, artinya semakin lama seseorang hidup dengan diabetes, semakin tahu tentang penyakitnya, dan semakin percaya diri mengelola dirinya sendiri, semakin rajin pula ia menjalani skrining ginjal.

Namun tim menemukan sesuatu yang tampak berlawanan dengan pengetahuan klinis umum. Durasi diabetes yang lebih panjang biasanya justru dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal yang progresif pada literatur medis lain, bukan perilaku pencegahan yang lebih baik. Nitikorn Phoosuwan dan tim menjelaskan, perbedaan ini terjadi karena yang mereka ukur adalah perilaku pasien, bukan kondisi fisiologis ginjalnya secara langsung.

Baca juga Tiga Tahun Tanpa Perubahan, Lalu Berobat ke Malaysia

Komorbiditas dan Distres Menaikkan Gejala

Pada bagian gejala neuropati yang dilaporkan sendiri oleh peserta, Junjira Phasom dan tim menemukan pola berbeda lagi. Peserta dengan penyakit penyerta lain melaporkan gejala neuropati lebih banyak, begitu pula peserta dengan skor distres diabetes yang lebih tinggi. Sebaliknya, peserta dengan skor pengetahuan diabetes yang lebih tinggi justru melaporkan gejala neuropati yang lebih sedikit.

Tiga faktor yang berkaitan dengan gejala neuropatiKomorbiditas: Beta terstandar +0,101; Pengetahuan diabetes: Beta terstandar −0,218; Distres diabetes: Beta terstandar +0,201.Tiga faktor yang berkaitan dengan gejalaneuropatiKoefisien beta terstandar pada gejala neuropati yang dilaporkan sendiri−0,2−0,10,10,20Komorbiditas+0,101Pengetahuan diabetes−0,218Distres diabetes+0,201Angka positif berarti berkaitan dengan gejala lebih banyak, angkanegatif berarti gejala lebih sedikit.
Sumber: Nanda Win, Natthida Phoosuwan, Junjira Phasom, Pakorn Pusuwan, Sandeep Poddar, Pankaew Tantirattanakulchai, dan Nitikorn Phoosuwan, Factors Associated with Preventive Behaviors for Microvascular Complications and Self-Reported Neuropathy Symptoms among Community-Dwelling Individuals with Type 2 Diabetes in Thailand, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Junjira Phasom mencatat, angka-angka itu menunjukkan arah yang berlawanan secara jelas. Komorbiditas berkaitan dengan kenaikan gejala sebesar 0,101 poin beta terstandar, distres diabetes menaikkannya 0,201 poin, sementara pengetahuan diabetes justru menurunkan gejala sebesar 0,218 poin. Ketiganya signifikan secara statistik, dengan pengetahuan dan distres bahkan mencapai taraf signifikansi tertinggi dalam penelitian ini.

“The findings highlight the multifactorial nature of diabetes self-management, encompassing demographic, clinical, and psychosocial determinants”, tulis Nanda Win, Nitikorn Phoosuwan, dan tim peneliti yang sama dalam bahasa Inggris di awal bagian pembahasan. Artinya, pengelolaan diri diabetes dibentuk oleh banyak faktor sekaligus, mulai dari data kependudukan, kondisi klinis, hingga kondisi psikososial peserta.

Natthida Phoosuwan menimbang dua kemungkinan penjelasan untuk kaitan antara distres dan gejala neuropati. Bisa jadi beban psikologis yang tinggi membuat peserta lebih peka merasakan dan melaporkan gejala fisik. Namun bisa juga sebaliknya, gejala neuropati yang mengganggu justru yang memperberat beban psikologis peserta sehari-hari. Naskah ini tidak bisa memastikan mana yang lebih dulu terjadi.

Batas yang Diakui Peneliti

Nitikorn Phoosuwan dan tim mengakui desain cross-sectional dalam studi ini membuat mereka tidak bisa menyimpulkan hubungan sebab-akibat antarvariabel yang diukur. Pengukuran gejala neuropati juga sepenuhnya bergantung pada laporan diri peserta, sehingga berpotensi bias, entah karena lupa, malu, atau sekadar tidak menyadari gejalanya sendiri.

Ada pula kejanggalan kecil pada naskah Nitikorn Phoosuwan dan tim yang bisa diperiksa pembaca sendiri. Di tabel hasil regresi berganda, koefisien beta untuk usia dan gender pada perilaku preventif mata ditulis -0,92 dan 0,99, padahal di teks pembahasan serta tabel regresi sederhana untuk variabel yang sama, angkanya konsisten ditulis -0,092 dan 0,099. Selisih sepuluh kali lipat ini tampak seperti kesalahan penulisan tanda desimal pada tabel akhir, bukan perbedaan hasil analisis yang sesungguhnya.

Nitikorn Phoosuwan dan tim juga mencatat, penelitian ini hanya melibatkan peserta yang mampu membaca dan menjawab kuesioner berbahasa Thailand, sehingga penyandang diabetes dengan gangguan mental atau yang sedang menjalani pengobatan psikiatri tidak diikutsertakan. Pilihan ini membuat gambaran yang mereka peroleh mewakili penyandang diabetes yang relatif masih mandiri secara kognitif, bukan seluruh populasi penyandang diabetes di provinsi itu.

Baca juga Tiga Peran Penyuluh Pertanian Padang Masih Setengah Jalan

Kader Kesehatan Desa Disebut Sebagai Jalan Keluar

Menutup naskahnya, Nitikorn Phoosuwan dan tim menyarankan agar Puskesmas Kecamatan di wilayah seperti Sakon Nakhon dibekali skrining kesehatan mental singkat, dengan bantuan kader kesehatan desa untuk kunjungan rumah. Mereka juga menyebut layanan skrining bergerak, seperti fotografi fundus mata keliling dan tes mikroalbuminuria terdesentralisasi, sebagai cara menjangkau warga di wilayah pedesaan yang sulit mengakses rumah sakit provinsi.

Tujuh nama yang tercantum sebagai penulis naskah ini, dari Nanda Win sampai Nitikorn Phoosuwan, sama-sama menandatangani simpulan bahwa perilaku preventif diabetes bukan sekadar soal biomedis. Data dari 447 warga Sakon Nakhon yang mereka kumpulkan menunjukkan bahwa pengetahuan, kepercayaan diri, dan kondisi psikologis peserta ikut menentukan siapa yang akan memeriksakan mata dan ginjalnya lebih dulu, dan siapa yang baru menyadari ada yang salah setelah kakinya mulai kesemutan.

Nitikorn Phoosuwan menutup kunjungannya ke tiga distrik itu dengan catatan yang sama seperti saat ia memulainya. Penyandang diabetes di provinsi termiskin sekalipun bisa mencegah komplikasi, asal pengetahuan dan dukungan psikologisnya ikut diperhatikan, bukan hanya kadar gula darahnya.

Bagikan

Baca Juga

Pasien Stroke yang Makan Sehat Malah Rentan Multimorbiditas
Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Praktik Cegah Mpox Tinggi di Sarawak, Pengetahuan Tertinggal